Abi & Nadine : Part 10

Author : Audria Pohan

 

NADINE (POV)

"Oke. Kita lihat seberapa kuat lo bertahan." Ucapannya terdengar begitu tegas.

Dalam hati aku berharap Abi ngga akan mengeluarkan sebuah kalimat yang membuatku menahan nafas serta menahan perih yang mendadak menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya.

"Gue kasih tau lo dari awal. Kalau lo pikir dengan menjadi personal stylist gue, gue akan jatuh cinta sama lo, lo salah Nad. Ini bukan drama atau novel roman picisan. Gue profesional enough buat itu. Tapi, kalo lo tetep bersikeras dengan niat lo itu, terserah. Cuman ya siap-siap aja patah hati, karna yang seperti ini ga cuma sekali terjadi dalam hidup gue. Lo, akan bernasib sama dengan yang lainnya."

Apakah aku baru saja ditolak?
Kalimat penolakan itu rasanya sama seperti penolakan mas Juna. Sakitnya, sesaknya, putus asanya. Semua sama.

Lidahku kelu. Sulit berucap. 
Mengontrol ekspresi wajah supaya ngga terlihat menyedihkan ternyata sulit juga. 
Tatapan matanya menusuk. Sebuah anti pati.

"Aku ngga akan mundur." Kuputuskan untuk melanjutkan meski tau salah satu konsekuensinya. Setidaknya, aku bisa membuat Label lebih besar lagi. "Lusa aku akan sign kontrak. Kita akan sering bertemu, Abi."

Abi tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya. "Oke." Dia beranjak. "Gue pergi."

"Tunggu. Kenapa kamu kesini?" Pertanyaanku membuat langkahnya terhenti.

"Tadinya gue mau ngajak lo nonton. Tapi, gue ga pernah nonton berdua dengan personal stylist gue."

Lagi-lagi kalimat menohok keluar dari mulutnya. Mataku mulai berair. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?

Lamunanku buyar saat sebuah telepon masuk. Aku sempat bingung. Angkat atau ngga. Karna ini telepon dari Tian.

"Ya? Kenapa?" Suaraku terdengar lemah. Sulit untuk keluar.
"Bisakah kita ketemu? Ada yang perlu aku luruskan."
"Aku lelah. Aku mau tidur."
"Pembohong. Aku melihatmu sedang duduk. Coba lihat kebelakang."

Terlonjak, kaget, reflek memutar badanku. Ternyata benar saja. Dia berdiri beberapa meter dibelakangku.

Dia mematikan teleponnya. Berjalan cepat menghampiriku kemudian menarik tanganku.

"Ayo kita makan. Aku tau kamu belum makan dari tadi."

Tunggu dulu. Bagaimana dia tau aku belum makan? Jangan-jangan....

"Kamu ngikutin ya?" Tanyaku sambil berusaha mengimbangi langkah kakinya yang lebar.

"Iya."

What the... Apa-apaan ini?! Dia ngga ngebantah sama sekali. Sejak kapan dia membuntutiku? Ya ampun dia mengerikan.

Kini kami sudah berada direstaurant paling mahal yang ada didalam mall. Dia duduk membolak-balik menu.

"Aku tau kamu bukan tipe cewek yang jaim buat makan malem karna takut gendut. Jadi, pesen aja apapun yang kamu mau." Ucapnya dengan mata terus menatap menu. "Yang paling mahal juga ngga papa."

"Kenapa kamu buntutin aku?"

"Pesen aja dulu. Aku akan cerita setelah kita pesan makan."

Tanpa harus berdebat, aku buru-buru pilih menu. Apa yang pertama kali kulihat, aku memesannya. Begitu kami selesai memesan, Tian dengan santai menatapku sambil tersenyum. "Pertemuan kita tadi tertunda karna penyanyi itu. Well, karna kamu udah tau siapa aku, so apa yang mau kamu tanyain?"

"Entahlah. Aku ngga tau. Saking banyaknya aku ngga tau harus mulai dari mana."

Tian tersenyum. "Cerita kita panjang. Tapi, satu hal yang kamu harus percaya dan ketahui. Luka dikepala kamu itu, bukan aku pelakunya."

"Apa?" Suaraku nyaris tak keluar.

"Aku yakin Ari pasti cerita kalau aku dalang dibalik kekacauan yang terjadi. Kamu boleh percaya yang dia katakan, tapi untuk yang satu itu tolong percayalah padaku. Karna aku ngga mungkin melukai kamu Nad."

Ya Tuhan...
Ini apa lagi? Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu? Ini membuatku bingung.

"Kalau bukan kamu, terus siapa? Kamu tau siapa pelakunya?"

Tian menggeleng. "Aku hanya berada diwaktu dan tempat yang salah."

"Apa maksud kamu?"

"Nad, ada hal yang perlu dan ngga perlu untuk kamu ketahui."

"Kenapa? Kenapa aku ngga boleh tau?"

"Karna kamu sudah baik seperti ini. Jangan mengingat apapun tentang masalalumu. Kita mulai lagi dari awal. Ya?"

Tunggu dulu! Apakah aku sedang ada didalam sebuah drama? Dialog itu mirip seperti drama korea yang kutonton. Aku hilang ingatan 5 tahun lalu, dan orang didepanku ini mengetahui sesuatu. Sesuatu yang mungkin Ari pun tidak mengetahuinya.

"Jangan coba mengorek informasi apapun dariku. Karna aku ngga akan ngasih tau apapun. Apapun." Buru-buru dia menambahkan. Mungkin setelah melihat ekspresi telisik dariku. "Oke aku akan kasih dua hal yang harus kamu tau dari masalalumu." Aku memasang kuping. Menatap matanya. "Pertama, bukan aku pelakunya dan kamu harus-harus percaya itu. Yang kedua...." dia menahan kalimatnya. Membuatku ngga sabar menunggu. "Aku mencintai kamu. Tulus dan sungguh-sungguh. Ngga berubah dari dulu sampai detik ini. Kamu harus lebih percaya lagi untuk hal yang satu itu."

Sebuah senyuman manis menutup kalimatnya dan sukses membuat wajahku memanas. Kalimat pengakuan blak-blakannya itu bikin aku salah tingkah lagi.

"Kamu pernah bilang, kalau kamu mungkin bisa menyukaiku bila aku ngga pakai ancaman. Kamu ingat kan?"

Ya, aku ingat kalimat itu. Kalimat yang secara sadar aku ucapkan karna memang benar adanya.

"Kasih aku kesempatan untuk mendekatimu dengan cara yang lebih baik, Nad. Aku janji ga ada yang ditutupin. Aku yang mendekatimu sekarang adalah aku yang sebenarnya. Tian yang sudah lebih dewasa."

Tatapan matanya sungguh-sungguh. Aku ngga melihat kebohongan sedikit pun. Tapi aku harus tetap berhati-hati. Tian adalah psyco, mungkin ini hanya salah satu siasatnya.

"Mulai minggu depan aku akan bekerja sebagai personal stylistnya Abi selama 3 bulan."

Dia tertawa cukup keras. Kalimatku seperti lelucon baginya. "Lagi-lagi dia." Gumamnya. "Dari sekian banya pria, kenapa harus dia? Kamu menyukainya?"

"Memangnya gue kenapa?"

Suara Abi membuat nafasku tertahan. Tiba-tiba dia seret kursi dan duduk diantara kami.

"Kok lo ngga jawab pertanyaan dia, Nad? Lo suka sama gue?"

Ngapain dia disini? Bukannya tadi dia udah pulang?

 

*****

 

ABI (POV)

Entah apa yang membuatku berada disini. Tubuhku seakan dikontrol oleh sesuatu. Sesuatu yang ngga bisa kutolak.

Kejadiannya begitu cepat.
Setelah aku pergi -cukup jauh dari tempatnya duduk, aku melihatnya dari kejauhan sebelum akhirnya Tian datang dan menyeretnya pergi.

Rasanya ingin ngga memedulikannya, tapi disinilah aku sekarang.

"Jawab dong, Nad." Aku cengengesan. Antara girang menggodanya atau merasa menang diatas Tian. "Jawab dengan jujur. Lo suka sama gue?"

Kulihat Nadine diam. Wajahnya tertunduk. Mungkin karna malu. Sementara Tian melotot kearahku.

"Memangnya gue kenapa?" Tanyaku pada Tian. "Kenapa kalo Nadine kerja sama gue? Lo ada masalah?"

Tatapan matanya dingin ditambah seringai khasnya dia. "Apakah alasan kamu mau kerja sama dia itu karna kamu mau lebih dekat dengan penyanyi ini?"

Tian beralih menatap Nadine. Menunggu sebuah jawaban.

"Iya. Kamu benar. Aku ingin lebih dekat dengan dia. Ingin lebih mengenalnya. Aku penasaran dan aku tertarik padanya. Mungkin aku menyukainya. Bukan sebagai fans tapi sebagai seorang perempuan. Apa itu menjawab pertanyaan kalian?"

Aku menelan ludah melihat keseriusan Nadine. Ini salah. Seharusnya tidak seperti ini. Dia ngga boleh menyukaiku.

"Hahahaha. Ini menarik." Tian tertawa. "Aku menyukai kamu, kamu menyukai si penyanyi ini, tapi si penyanyi ini menyukai orang lain. Dia berusaha meluluhkan orang itu, kamu ingin meluluhkannya, bagitupun aku yang ingin meluluhkanmu. Ckckckck... rumit juga yaaa.." Si gila satu itu malah tepuk tangan. "Apa sekarang kita lagi syuting? Kamera mana kamera?"

 

*****

 

NADINE (POV)

Ada seseorang yang Abi suka.
Kenapa aku ngga suka mengetahui hal itu?
Siapa dia? Mungkinkah Risa?
Ya Tuhan, hatiku menciut mendengarnya. Terlebih Abi ngga menyangkalnya sama sekali.

1 jam berlalu.
Rasanya seperti satu tahun.
Mereka berdua saling sinis satu sama lain. Seperti musuh bebuyutan. Ada saja yang mereka berdua debatkan. Maaf, mungkin lebih tepatnya menyombongkan diri salah satu isi perdebatan mereka.

Ngomongin mobillah, rumahlah, investasilah, bisnis ina inu lah, cabang sana-sinilah, bahkan penghasilan mereka sebulan. Astagaaa... rasanya ingin banting meja. Sepertinya mereka beradu siapa yang paling hebat dari segi finansial. Untung aku bukan cewek matre. Kalau aku matre, pasti aku lahap kalian berdua.

"Gue yakin lo pasti ga bakalan ngasih gue buat nganterin Nadine. Jadi kali ini gue biarin. Tapi nextnya, ga akan ada." Ucap Tian setelah mobilnya datang. Kami berdua hanya bisa diam melihatnya pergi.

"Siapa cewek beruntung yang kamu sukain, Bi?" Akhirnya kutanyakan juga. Rasa penasaran ini begitu memuncak. "Risa?"

Dengan santai dia hanya melirikku. Padahal aku menahan rasa perih saat menanyakannya. Dan sepertinya dia tidak peduli.

"Hanya seseorang. Lo ngga perlu tau."

Kuatur nafasku. Berusaha setenang mungkin. Tapi rasa sakit dihatiku sulit tersamarkan. Dia ngga mengelak menyukai seseorang. Tapi lagi-lagi itu seperti kalimat penolakan bagiku. Dan itu menyakitkan.

 

******

 

NADINE (POV)

"Makasih ya, Bi. Maaf ngerepotin." Ucapku saat BMW putih itu sudah terparkir manis didepan rumah.

"Nggalah. Kan gue sendiri yang maksa lo naik."

Benar juga. Dia yang ngotot ingin mengantarku. Mungkin karna dia khawatir kalau Tian akan berbuat sesuatu. Aku yakin sesungguhnya dia peduli padaku, hanya saja....

"Nad," cegahnya sebelum aku turun. "ngga jadi. Lupakan."

Apa-apaan sih dia. Bikin deg-degan aja!

BUK! BUK!

Suara gedoran itu membuatku dan Abi terlonjak. Si Ari tuh bener-bener ya!

"Kamu mau bikin mba mati muda ya?!" Omelku begitu turun dari mobil. Dia malah tertawa.

"Aku seneng mba ngga kenapa-napa. Mas Abi, thanks ya. Ngga tau deh kalo ngga ada Mas."

"Kamu berlebihan tau ngga. Tian nice. Gantle. Sweet. Sopan." Kulihat Ari melotot. "Lagi pula dia bilang, mba boleh percaya semua kata-kata kamu kecuali satu hal."

"Apa itu?" Wajah Ari berubah serius luar biasa.

"Bukan dia yang mencelakai mba. Ada orang lain disana. Dia hanya berada diwaktu dan tempat yang salah."

"Wah wah wah! Apa-apaan ini?!" Ari kesal. Dia seperti ingin melampiaskan sesuatu namun tertahan. "Psyco itu sendiri yang mengakui perbuatannya mba. Dia sendiri yang ngaku dipersidangan. Bukti-bukti mengarah ke dia."

"Kenapa mba ngga tau soal persidangan itu? Kenapa mba ngga jadi saksi atau apalah?"

"Karna mba hilang ingatan. Ngga ada yang bisa diharapkan dari kesaksian mba."

Aku terdiam. Bodoh juga menyanyakan hal itu. Kalau sudah seperti ini, aku harus percaya pada siapa?

"Mba, kita berkali-kali pindah rumah itu untuk melindungi mba dari dia. Dia psyco yang selalu ngikutin mba kemana pun mba pergi. Bapak bahkan pernah mengusirnya karna mba lari ketakutan masuk kedalam rumah. Dia saiko mba, dia akan lakuin apapun supaya mba luluh. Aku yakin, ngga lama lagi dia akan tau rumah ini. Jadi please mba, jangan bertindak bodoh dengan masuk perangkapnya."

Benarkah aku masuk perangkapnya? Apakah yang Ari katakan itu benar kalau Tian semengerikan itu? Tapi, Tian yang kulihat belakangan ini ngga seperti yang Ari katakan. Yaaa walau sisi ngikutinnya itu bener tapi saat aku melihat matanya, dia tidak sedang berbohong.

"Ayo kita bicarakan ini didalam." Ucpanya. "Mas sekali lagi thanks ya."

 

****

 

ABI (POV)

Tunggu-tunggu! Kalian berdua ngga mau melanjutkan disini saja biar aku bisa mendengarnya. Aku penasaran. Sangat penasaran. Semakin banyak teka-teki yang aku belum tahu jawabannya. Pertama soal Juna sekarang Tian.

Ya Tuhan, Nadine kenapa lo rumit banget sih?

"Sepertinya lo tau apa yang ngga gue tau. Tolong ceritain ke gue, Abi."

Lagi-lagi aku nyaris jantungan. Seseorang dengan cepat sudah duduk menggantikan Nadine. Bersyukur dia orang yang kukenal. Bayangkan saja kalau bukan. Sial, ternyata langsung mengunci pintu itu baik juga.

"Kok lo bisa disini, Juna?"

"Tadi pagi ada orang yang datengin gue. Dia aneh. Mengancam gue buat jauhin Nadine, kalau ngga Risa... lupain. Gue rasa itu orang yang sama dengan yang mereka perdebatkan barusan. Dan gue yakin lo pasti tau hal itu."

Sudah pasti Tian gila. Dia sampe bela-belain nyamperin Juna?! Ckckck... Jadi ini salah satu alasan Nadine nekad nemuin dia -tentu saja selain alasan dia ingin dekat denganku. Tapi, kenapa Juna bisa ada disini? Bukankah seharusnya dia disamping Risa kalau dia tau pacarnya lagi ga aman ?

Ah sudahlah. Kusimpan itu nanti. Sebaiknya aku ceritakan saja apa yang aku tahu. Mulai dari Tian yang saiko itu bertemu dengan kami di theater hingga detik ini.

"Nadine hilang ingatan?"

Kalimat itu diluar ekspektasiku. Juna sama sekali ngga mengetahui kalau Nadine hilang ingatan. Bagaimana bisa dia ngga mengetahui hal sepenting itu? Oh iya, aku lupa bukankah dia bermusuhan dengan keluarga Nadine.

"Kok lo bisa ngga tau apa-apa? Nadine ngga pernah cerita soal hilang ingatannya itu?"

Dia menggeleng. "Sepertinya semua itu terjadi saat gue kuliah di Amrik. Jadi ngga ada satu hal pun yang gue tau baik itu soal si saiko dan juga soal hilang ingatannya Nadine." Dia masih dengan shocknya.

Kini semua masuk akal. Lima tahun lalu saat dia kuliah di luar negri. Disana pula Juna dan Risa bertemu.

"Jun, mungkin bukan Nadine yang harus lo cemasin tapi Risa. Disini ada Ari dan gue yang jagain Nadine. Sedangkan Risa? Harapannya hanya lo. Gue ga punya hak buat jagain dia lebih dari lo jagain dia."

 

*****

 

WRITER (POV)

Nadine duduk manis dikasurnya sementara Ari duduk tidak jauh darinya. Kesal karena mbanya itu masih saja keukeuh kalau Tian ngga seburuk yang dia ceritakan.

"Mba tau apa penyesalan terbesar aku?" Ucap Ari dengan wajah serius sedangkan Nadine menjawabnya dengan gelengan kepala. "Seandainya aku bisa gantiin posisi mba saat itu. Posisi dimana mba harus hidupin kami bertiga. Cari uang pontang-panting buat biayain aku sekolah, berobat bapak, dan modal usaha ibu. Mba bahkan ngga bisa kuliah karna itu."

"Udahlah Ri. Itukan dulu. Sekarang kita jauh lebih baik. Lagi pula sekarang mba kan udah sarjana. Kamu juga. Kita punya kerjaan yang baik."

Ari terdiam. "Seandainya saat itu aku ngga diserempet mobil, dan mba ngga gantiin aku untuk ikut event itu. Mba pasti ngga akan ketemu dengan Tian."

"Apa?" Suara Nadine tertahan. Sebuah puzzle teka-teki kembali ditemukan. Yakin sekali puzzle itu adalah memori yang terlupakan.

"Aku diserempet mobil dua hari sebelum persiapan event itu. Tangan aku retak dan kaki aku keseleo. Mba menggantikan aku selama 2 bulan dan disitulah mba ketemu Tian. Dia headku dievent tersebut. Itu berarti, dia head mba."

Nadine bingung mau berkomentar apa. Dia berusaha mengingat namun nihil. Masih banyak puzzle yang harus dia temukan untuk bisa memahami semuanya.

Kenapa ngga aku ngga bisa mengingat apapun.

"Karena itulah, lebih baik mba menjauh dari dia. Aku tau dia. Dan aku harap mba ngga berusaha mencari tau apapun soal masa lalu mba. Karena mba sudah lebih baik seperti ini."

"Ucapanmu mirip dengan yang Tian ucapkan. Dia bilang kalau mba lebih baik ngga mengingat apapun dan memulainya dari awal."

"Kalau soal itu aku sependapat. Lebih baik mba ngga usah mencoba mengingat apa pun yang terjadi 5 tahun lalu. Kalau memang ada orang dari masa lalu mba datang dan kalau dia berbahaya aku akan kasih tau mba. Seperti halnya Tian."

"Tapi kalau ada seseorang dari masalalu mba dan dia ngga berbahaya itu berarti kamuuu...."

"Aku akan diam. Biarkan dia masuk kembali kedalam kehidupan mba sebagai orang baru."

"Okeeeii. Tapi, apakah sekarang orang itu ada?"

 

****

 

NADINE (POV)

Ari hanya tersenyum. Kemudian pergi. Dia sama sekali ngga menjawab. Apa maksud dari senyumnya itu? Jadi sekarang orang itu ada atau ngga? Arrgh!! Dia benar-benar menyebalkan. Sok misterius.

Dari kejauhan kupandangi poster Abi dan berfikir untuk menggantinya dengan yang baru. Mungkin aku bisa minta ke Kak Wisnu lalu langsung minta tanda tangan Abi. Bukankah hal itu sangat mudah mengingat sekarang aku sudah mengenal mereka?

Jujur aku masih sulit untuk membaca Abi. Dia berubah-ubah. Kadang ucapannya menyakitkan, membenciku seketika, tapi kemudian peduli dan menghawatirkan aku seakan-akan ada harapan yang membuatku besar kepala. Kalau seandainya, tadi aku menolak menjadi stylishnya apakah kami bisa menjadi lebih dekat? Tapi apakah dia benar-benar menjaga jarak ke stylishnya atau orang-orang yang kerja untuknya? Sepertinya ngga mungkin. Misalnya aja Kak Wisnu, mereka terlihat sangat dekat. Begitupun dengan beberapa makeup artist yang sering dia posting di instagram. Kenapa hanya stylish yang didiskriminasi? Apa karna stylishnya adalah aku?

Ah sudahlah, kita lihat saja nanti. Intinya aku percaya apa yang aku lihat. Dia dekat dengan semua teamnya. Dia pasti bisa dekat denganku juga. Karna aku akan jadi teamnya. Ya, aku harus percaya itu.

LiNE! LINE!

Kurogoh tas mencari handphone. Suara line yang bertubi-tubi bikin telinga gerah.

Ih bener-bener deh si Tata. Dia mengirimkan pesan yang annoying.

NADINEEEEEEEEEEE!!!

Gila lo yaa gercep banget!

Gue gak nyangka lo seserius itu?!

GILA!

GILA!

GILAAAA!

SIGANTENG TIAN JUGA LO APAIN SIIIIIIIHHHH?!!!!!!

GILAAA!!

LO BIKIN DUA ORANG RIBUT?!!

KOK BISA?!!

AJARIN GUE DOOONG!!!

Itu bunyi pesannya. Coba bayangkan saja. Satu-satu kalimat yang diakhiri tanda seru itu dikirim satu per satu padaku dalam waktu bersamaan. Total 11 pesan dan 5 foto plus 1 video.

"FAAAAAAAAAKKKKKK!!!!!" reflek teriak tertahan. Kulihat video saat Abi dan Tian berhadapan. Apa yang mereka berdua ucapkan memang ngga kedengaran tapi aku tau betul apa dialognya. Ya Tuhaaaaann. Foto-foto itu juga, foto saat aku berbicara berdua dengan Abi, juga dengan Tian saat di restaurant, dan beberapa foto kami beriga. Bagaimana bisaaa?!!

Tanpa ragu aku langsung menelpon Tata.

"Lo dapet dari mana foto-foto ntu?"

"Yah ampun cyiiinn lo harus follow lambe- lambe di instagram. Jadi lo update soal begini-beginian. BTW itu beneran? Adegan layaknya drama korea itu?"

"Iyaaaa bener."

"Wah wah wah. Asli yaa, ini udah viral loh di internet. Ga lama lagi lo pasti masuk infotaiment mpok. Btw kok lo bisa kenal sama Tian siiiihhh?? Iiiiiiiihhhhh gue kan ngefans banget sama diaaa. Curang banget sih looooo!! Kenapa ngga bilang-bilang kalo lo kenal sama dia?!"

"Lo ngefans sama dia?" tanyaku tidak percaya. Entah aku harus bagaimana? "Memangnya dia terkenal juga yaa?"

"Ih lo tuh ya cupu banget! Gak update alias kurang kekinian. Dia itu selebgram. Postingannya cool-cool banget. Inspiring. Setaralah sama Keenan Pearce dan Ernanda Putra. Tapi dia lebih kece lagi karna dia punya perusahaan properti dan masih single! Kyaaaa! Udah ganteng tajir melintir pula. Masalalunya rada pait sih, tapi itu yang bikin dia makin......"

Aku skip. Suara Tata ngga lagi terdengar ditelingaku. Fakta yang baru saja kuketahui membuatku bungkam dan berfikir. Kira-kira fakta apa lagi yang akan mengejutkanku.

"Pokoknya lo utang cerita sama gue! Bye gue mau lanjut deadline!"

Telepon pun ditutup.

Antara percaya dan tidak percaya kucoba membuka instagram. Memastikan bahwa apa yang Tata katakan itu benar. Perlahan tapi pasti aku coba mengetik namanya. Luki. Astaga, ternyata ngga sulit mencari namanya. Profilenya langsung berada diatas. Baiklah, ga ada salahnya kepo.

What the heeeelllllll!!! Followersnya 354k dan satu foto likesnya lumayan. Bisa nembus 20k. Foto-fotonya juga menarik. Wiihhhh seharusnya dia jadi model aja. Waahh jadi begini yaa kehidupannya. Oooohh dia banyak berbagi ke yang ngga mampu. Iya sih feedsnya inspiring juga. Menarik buat difollow.

Hush! Nadine! Wake up!

Nyaris saja aku terpana dengan feeds-feedsnya. Dengan harta yang terbilang banyak, dia cukup sederhana. Ngga banyak gaya. Sekarang aku mengerti, kenapa cewek-cewek dicafe tadi menoleh kearahnya. Mungkin diantara mereka ada yang menjadi followersnya. Jadi memang aku yang kudet dengan hal beginian.

Jempolku terus menscroll foto demi foto. Membuka random foto yang menarik perhatianku. Membaca captionnya.

"NADINE GOB**K!!"

Faaaaaakk!!! Fotonya ke like. Anjir-anjir-anjir! gimana ini?!! Argghhh!! Nadine lo tolol bangeeettt!! Shit, mana yang ke like foto-foto bawah. Arggghhh!!! Ketahuan stalkingin! Faaaaakk!!!! Tolong semen gue idup iduuuuuuup!!!! Pleaaaaseeeee helpp meeeeee!

Hiks... nasi sudah menjadi bubur. Aku ngga mungkin menarik like secara tiba-tiba. Mau gimanapun pasti ketahuan.

Damn!

Bener aja!! Ngga lama setelah insiden like itu. Dia memposting sebuah postingan baru. Postingannya sangat sederhana, hanya sebuah kalimat dengan latar putih.

Hey Stalker.

Kalimat itu cukup menohok dan bikin malu 7 turunan. Siaaaalll... masukan aku ke mulut ikan cupang!!!

"Hei hei heii! Yang stalker itu siapa?" Ucapku pada handphone. Rasanya ingin kubanting handphone itu.

Puf!

Ngga lama setelah postingan tersebut, sebuah notif masuk.

Tianluki started following you.

Spechless. Aku hanya bisa pasrah. Bingung, malu, campur aduk.

 

****

 

TIAN (POV)

Aku terlonjak saat membuka sebuah notif yang masuk ke dalam handphone. Foto profile itu...

Dinenasuprapto liked your photo.

Tanpa ragu aku membuka profilenya dan benar saja, itu Nadine. Pantas aku ngga bisa menemukan dia. Nama akunnya ngga terbayangkan diotakku. But finally aku bisa menemukan akun instagramnya setelah sekian lama mencari.

Ngga bisa dipungkiri aku senang. Tertawa lepas adalah hal yang pertama kulakukan. Kecerobohannya membawa berkah untukku. Saat ini dia pasti lagi kalang kabut. Mungkin kukerjai sedikit ngga masalah. Hahaha. Seandainya aku bisa melihat wajah paniknya pasti menyenangkan.

Well, follow dia sama dengan hukum wajib.

Kini aku mulai stalking. Ah itu sih udah biasa. Aku ahlinya stalkingin orang apalagi Nadine.

What thee?! Ngapain dia posting foto sama si kunyuk itu? Mana deket banget lagi! Captionnya? Ih norak banget! Ditagin ke si kunyuk pula. Waiit liat siapa yang ngelike. Hahahaha si kunyuk ngga ngelike. Wait, si kunyuk juga ngga ngefolback. Wih sombong banget dia! Mending lo follow gue Nad. Ga bakalan gue cuekin. Tapi kok Nadine ngga folback gue yaa?

Hal yang kulakukan hanya menscroll. Membuka fotonya satu persatu. Dia manis saaangat manis. Aku ngga bosan melihatnya. Semakin kebawah aku semakin ingin masuk kedalam kehidupannya. Bisa berada disampingnya adalah tujuanku saat ini. Aku akan menempati posisiku kembali sebelum semua kekacauan itu terjadi. Sebelum manusia tak diundang itu masuk kedalam kehidupan kita. Aku pasti merebut posisi itu kembali, Nadine. Pasti.

To be continue....

_____________________________

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved