Abi & Nadine : Part 11

Author : Audria Pohan

 

WRITER (POV)

Abi berdiri dipojok ruangan yang nyaris tanpa cahaya. Dari kejauhan dia melihat cahaya kekuningan jatuh tepat diatas seseorang yang sedang duduk membelakanginya tepat ditengah ruangan. Dengan langkah kaki berat dan hampir terseok dia berusaha menghampiri orang itu. 

Dari arah depan terdengar suara langkah serta benda yang diseret perlahan. Perlahan tapi pasti sosok itu muncul perlahan terpapar bias cahaya temaram.

Abi melihat dengan jelas sebuah besi panjang dengan diameter yang terbilang kecil itu diayunkan menghantam kepala orang yang kini dia sadari tengah terikat pada kursi. Orang itu tidak bergeming. kerasnya hantaman besi membuatnya terhuyung lalu jatuh. Darah mengalir deras dari kepala orang itu.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Teriak Abi. Yakin sekali dia berteriak sekencang yang dia bisa. Namun sosok itu tak bergeming dan kembali mengayunkan besi itu kini ke bagian tubuh lain.

"Hentikan!" Teriak Abi lagi. Namun orang itu masih tidak bergeming. Reflek Abi berlari untuk menghentikan orang itu. 

"WHAT?!" Abi nampak tidak peraya. Dia meraba tubuhnya. Mustahil dia menembus orang yang dari tadi masih melayangkan besi memukuli orang yang sudah tak lagi berdaya.

Tubuh Abi gemetar luar biasa. Kakinya tak lagi mampu menopang badannya. "Tolong hentikan." Rintihnya dengan air mata yang mengalir. "Aku mohon."

"TOLONG HENTIKAN!!!"

Abi Dia terbangun dari tidurnya. Mimpi mengerikan itu datang lagi. Tiga hari yang lalu dia memimpikan hal yang sama. Semakin keras dia berusaha mengingat semakin membuat kepalanya sakit.

"Mimpi buruk lagi bro?" Tanya Novan dari balik pintu. Suara teriakan Abi membangunkannya. "Mimpi apa sih yang bisa bikin lo keringet dingin dan teriak malem-malem?" Kini dia hampiri tempat tidur sahabatnya itu.

"Gue liat diri gue disekap bro. Seseorang mukul kepala gue badan gue pake besi."

Mata Novan melebar. "Apa lo liat pelakunya?"

Abi menggeleng. "Hanya sosok hitam."

Novan menepuk-nepuk bahu Abi. "Semua akan baik-baik aja bro. Kalo lo ada inget sesuatu, ada kilasan-kilasan apapun kabarin gue."

"Jadi yang gue mimpiin barusan itu kemungkinan adalah ingatan masa lalu gue saat disekap?"

"Iya mungkin. Itu kunci dari teka-teki yang terjadi selama ini. Lo adalah saksi mata satu-satunya. Jadi, kalo lo ada kilasan apapun, kasih tau gue."

"Wa-wait. Maksudnya apa? Bukannya pelaku udah ketangkep? Tapi kalo gue adalah saksi mata sedangkan gue ngga inget apa-apa, itu berarti pelakunya masih belum ketangkep?"

Novan terdiam. Dia seperti memikirkan sesuatu. "Ya, pelakunya masih bebas."

 

****

 

WRITER (POV)

Wisnu menunggu kedatangan Nadine sambil menikmati secangkor kopi pahit kesukaannya. Hari ini adalah hari penandatangan kontrak. 

30 menit berselang dari waktu yang dijanjikan, Nadine tak kunjung tiba. Sesaat terbesit pemikiran bahwa Nadine berubah pikiran. Namun buru-buru dia tepis pikiran itu. Mengubahnya menjadi sebuah pemikiran positif. Terlebih apa yang dia tawarkan pada Nadine sangat menggiurkan, hanya orang bodoh yang menolaknya. Dia yakin Nadine pasti datang dan dia tidak akan melepaskan kesempatan emas ini.

Tubuhnya mendadak sigap saat seseorang memasuki ruangan dan guratan kekecewaan langsung terlihat diwajah orientalnya kala Abi memasuki ruangan, bukan Nadine.

"Dia belum dateng?" Ucap Abi berjalan perlahan mendekati meja kerja Wisnu.

"As you see. Tumben kemari. Ada apa?"

"Lo serius ngajak Nadine join?" Abi kembali menanyakan sesuatu yang dia sendiri tahu jawabannya. "Gue udah baca kontraknya. Kok lebih banyak plus di dia daripada gue. Pertama kenapa dia harus ikut kemanapun gue show? Kedua, feenya apa ngga kebesaran? Dan yang ketiga, kenapa gue harus promote line clothnya? Itukan ilegal. Harusnya dia bayar gue. Ga biasanya rules kita begitu. Yang gue tau, siapa pun yang jadi stylish gue ga boleh promosiin apapun, apapun dibadan gue."

"Rules bisa aja berubah. Tergantung tujuannya. Pertama, ga semua show Nadine harus ikut. Gue masih berperan apakah Nadine harus incharge atau ngga di show lo itu. Ke dua, fee Nadine udah sesuai dengan kepopuleran namanya sekarang. Memangnya lo belum tau?" Wisnu mengambil beberapa majalah, mencari sebuah halaman di masing-masing majalah fashion ternama dan memberikan satu per satu pada Abi. "Dia udah dibicarakan bahkan sebelum dia mulai line clothingnya. Ketiga, sebagai designer Nadine akan rancang baju khusus buat lo. Jadi wajar dong lo promote. Bukannya biasanya begitu? Lagipula sekarang dia temen deket lo kan? Masa itungan sama temen sendiri."

Ucapan Wisnu terdengar ketus. Dia kesal karena dari kemarin Abi terus menolak Nadine untuk masuk kedalam teamnya.

"Dia bukan temen gue. Kami ngga sedeket itu."

"Lo kenapa sih sebenernya? Baru kali ini lo bawel banget. Biasanya lo nurut-nurut aja gue kasih stylish. Kenapa?"

"Gue gak suka dia." Jawab Abi tegas.

"Gimana bisa lo narik kesimpulan secepat itu? Dia aja belum kerja sama lo." Wisnu ngga kalah serius. Dia membenci kalimat Abi yang dinilainya terlalu kekanakan.

 

***

 

NADINE (POV)

Aku mendengarnya.

Percakapan mereka aku bisa mendengarnya dengan jelas. Udara menyebarkan frekuensi suara melalui celah pintu yang tak tertutup rapat.

Kalimat terakhir Abi membuat hatiku perih. Sebegitunyakah dia tidak menyukaiku? Tidak, maksudku, apakah dia ngga bisa menyukaiku?

"Ini bukan masalah kerjaan. Dia itu obses sama gue. Lo tau apa yang dia bilang? Dia bilang dia akan bikin gue jatuh cinta sama dia. Kan gila! Mana ada cewek kayak gitu. Dia obses sama gue, bro. Lama-lama bisa saiko tu orang."

Ya Tuhan, ucapannya.

Dadaku sesak. Mataku sudah mulai memanas. Harga diriku. Seperti itukah pemikiran dia yang sebenarnya tentangku?

Kuputuskan untuk membuka pintu. Masuk perlahan, menitrupsi percakapan mereka. Kak Wisnu tersikap sementara Abi terus saja mengoceh. Dia tidak tahu aku sudah berdiri dibelakangnya.

"Ternyata seperti itu."

Kucoba untuk tersenyum saat dia berbalik kearahku. Kedua bolamatanya melebar. Terkejut atau marah? entahlah.

"Aku memang tergila-gila padamu tapi maaf aku bukan obses ataupun seorang saiko, Bi. Aku hanya seseorang yang opurtunis. Apakah ada yang salah dengan itu? Aku menerima pekerjaan ini bukan untuk membebanimu, aku sedang menjalankan bisnis. Karna kita sama-sama pebisnis kamu pasti paham maksudku. Kita sama-sama saling membutuhkan."

"Apa?" Abi terkejut.

"Aku menarik kata-kataku. Aku janji ngga akan mendekatimu. Aku hanya akan membuatkan baju-baju khusus untuk show kamu dan kamu bantu aku untuk promosi. Hanya bisnis itu yang akan kita jalani. Kita akan menjadi rekan bisnis tanpa ada niat tersembunyi. Itukan yang kamu mau? Jadi Gimana? Deal?"

Dia menggeleng pelan, tersenyum kecil, kemudian berdiri dan menatapku dalam diam. Tatapan mata tajam itu seakan menghujam jantungku bertubi-tubi. Rasa perih ini dua kali lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Matanya sudah berbicara jelas supaya aku menjauh dari kehidupannya.

Dia pergi tanpa berkata apapun. Melewatiku seperti tak dianggap. Aku sudah ditolak. Seharusnya aku pergi saja tadi. Ngga usah masuk, mengubah fakta menjadi kebohongan menyakitkan demi mempertahankan ego. Hanya rekan bisnis pantatmu! Jelas-jelas aku mengharapkan kebih dari itu.

"Kenapa kamu segitunya membenciku, Bi?"

"Apa itu perlu alasan? Gue hanya ga suka ketenangan gue diusik sama orang asing."

BRAK! Pintu terbanting keras.

Kakiku terpaku. Jujur, aku gemetar. Kalimatnya sukses membuatku bungkam. 

"Si brengsek satu itu bener-bener! Tolong maafin dia yaa, Nad. Aku akan terus membujuknya. Dia hanya butuh waktu untuk berfikir. Bersabarlah."

"Berhentilah membujuknya. Aku mohon. Aku akan bekerja kalau dia yang memintanya langsung. Aku rasa itu yang terbaik. Terimakasih atas kesempatanya, kak. Aku pamit dulu."

 

***

 

Berdiri didepan teras menunggu hujan berhenti sendirian. Sesekali aku melihat beberapa penyanyi keluar masuk. Dari 5 orang penyanyi yang hilir mudik, aku tidak melihat Abi. Apakah dia menghilang secepat itu padahal sela kami keluar tidak lama? Setidaknya aku ingin bisa melihatnya langsung sekali lagi sebelum bertemu dengannya menjadi sangat sulit.

"Nadine? Kamu ngapain disini?" Suara itu bikin aku menoleh terkejut. Aku melihat Risa berjalan perlahan menghampiriku.

"Nggg..." Aku bingung menjawab apa. "Bertemu Kak Wisnu. Kamu?"

"Aku mau jemput Abi. Kita mau makan siang bareng. Kamu mau ikut?"

"Ngga usahlah ngapain juga sih. Kita aja."

Itu suara Abi. Menoleh saja aku ngga berani. Tapi ucapannya, kenapa harus seketus itu? Membuatku harus menahan nafas beberapa detik. Mencoba menahan perih.

"Aku pergi dulu ya. Bye." Ucapku sebelum semua menjadi semakin buruk. Menerobos hujan lebih baik dari pada harus terjebak diantara mereka karna terlalu menyakitkan. Aku menjauh darinya. Ternyata nyaliku tak cukup kuat untuk bisa berada didekatnya walau sebenarnya aku ingin terus melihatnya.

Sambil berteduh dibawah pohon, aku memerhatikannya dari kejauhan. Kulihat dia membukakan pintu mobil sembari memayungi Risa bak seorang putri. Lelaki itu tersenyum menahan tawa. Dia nampak begitu bahagia saat bersama Risa. Berbeda sekali saat bersamaku.

Kini aku menyadari dan aku meyakini bahwa Abi mencintai Risa.

Mobil itu melaju perlahan, semakin mendekat dan melewatiku begitu saja. Padahal aku berusaha untuk tersenyum, bahkan melambai seperti orang bodoh saat Abi melihatku. Berharap dia notice akan keberadaanku. Namun lagi-lagi, aku harus menelan mentah-mentah harapan itu. Berdiri sendirian dibawah pohon yang tak bisa melindungiku dari hujan tanpa ada seorangpun yang peduli.

Aku menangis. Menangis karena ini sangat menyedihkan dan juga menyakitkan.

 

***

 

Dengan badan yang basah kuyup, aku berjalan memasuki store. Beberapa karyawan langsung menghampiriku, menanyakan apa yang terjadi. Kujawab dengan sebuah senyuman kemudian bergegas menuju ruanganku.

"Astaga Nadine! Kamu kok bisa basah kuyup begini?!"

Tian ada diruanganku. Dia langsung menghampiri. Memerhatikanku mengecek kondisiku. "Ada apa? Kenapa bisa begini sih?!" tanyanya. Antara cemas dan marah.

"Hanya lupa bawa payung. Kamu ada apa kesini?"

Dia menghela nafas. "Kamu mandi dulu aja takutnya sakit. Setelah itu kita makan mi rebus. Aku ingin makan mi rebus diwarteg deket sini. Kayaknya enak."

Aku menahan tawa. Sarannya untuk makan mi rebus memang sulit buat ditolak. Tanpa banyak bantah aku segera mengambil beberapa helai pakaian. "Keluar." Ucapku padanya. Dia menurut.

"Jangan lupa kunci pintu. Takutnya aku khilaf."

Tian keluar sambil cekikikan. Buru-buru kukunci pintu. Dasar sinting!

Aku siap duapuluh menit kemudian. Setelah sempat bermelow-melow dibawah shower aku menghampirinya dengan pakaian training serta jaket olahraga. Entah kenapa hari ini rasanya dingin sekali. Kubiarkan rambut basahku menjuntai acak-acakan.

"Yuk!" sapaku begitu berdiri dibelakangnya.

 

***

 

Kami berjalan perlahan menyusuri trotoar basah. Udara lembab serta langit mendung menemani perjalan kami. Pikiranku masih berkecamuk seputar Abi. Memikirkan bagaimana selanjutnya.

"Gimana tadi Nad? Kamu udah sign kontraknya?" Tian membuka pembicaraan.

Aku hanya tersenyum simpul. Mengingat kembali kejadian tadi rasanya menyedihkan. "Aku menolaknya. Aku ingin Abi sendiri yang memintaku untuk bekerja dengannya."

"Kenapa? Dia menolak bekerjasama denganmu?"

Kujawab dengan anggukan. "Dia ngga menykaiku karena aku tergila-gila padanya."

Tian menghentikan langkah kakinya. "Kalau aku memintamu untuk menjadi stylishku bagaimana? Kamu mau?"

"Ih stylish apaan? Kamu udah stylish banget kayak gini masa butuh orang lain."

"Selama orang lainnya kamu mah aku pasti butuh terus."

Entah kenapa aku tertawa mendengarnya. Ini konyol tapi aku senang. Ternyata ada seseorang yang menginginkanku untuk berada disisinya. Aku berjalan mendekatinya sambil terus menatap kedua mata coklat itu. "Kenapa kamu masih menyukaiku? 5 tahun berlalu. Aku bahkan ngga bisa mengingatmu. Tapi, kenapa kamu disni?"

Kulihat dia tersenyum. Mengusek-usek rambutku yang setengah kering.

"Karena aku tergila-gila padamu."

"Apa?"

"Aku mencintaimu, Nadine."

Bibirku kelu. Dia bersungguh-sungguh. Matanya menatapku langsung dan aku tidak menemukan kebohongan ataupun niat jahat didalamnya.

"Kenapa? Bagaimana bisa? Apa menariknya aku?"

Tian tersenyum. "Gimana bisa kamu ngga menyadari bahwa kamu itu menarik? Untuk saat ini percayalah, aku bukan orang jahat. Jujur aku memang sedikit posesif. Tapi ngga saiko dan ngga mungkin menyakiti orang yang aku cintai."

Ya Tuhan, tidak bisakah aku menyukai orang didepanku ini saja?

 

*****

 

Mangok ayam jago berisi mi rebus lengkap dengan telor dan sayur dihidangkan didepan kami. Ga ada yang bisa mengalahkan makanan satu ini di saat mendung ataupun hujan.  

Kami ngobrol banyak hal. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenalnya. Dengan gamblang dia menceritakan banyak hal tentang dirinya. Namun langsung tertutup saat kutanyakan soal masalalu kami. Dia tetap bungkam soal itu.

Jujur aku sangat penasaran dengan masalalu kami. Apakah dia benar-benar sesaiko itu? Apalagi kalau liat dia saat ini, rasanya mustahil dia sejahat itu. Dia orang yang asik tanpa harus sok asik. Dia bisa mencairkan suasana, mengimbangiku yang agak pendiam.

"Tian." Panggilku saat kami menunggu hujan didepan halte. Hujan yang sangat deras mengurungkan niat kami untuk kembali ke store. "Aku penasaran. Setelah 5 tahun, kenapa kamu baru menemuiku sekarang? Kenapa ngga 2 atau 3 tahun lalu setelah kamu bebas?"

Dia terkekeh. Entah apa yang ada dipikirannya.

"Aku mengenalmu 5 tahun lalu, setahun kemudian aku masuk penjara, dua tahun kemudian aku bebas. Setelah bebas aku fokus memperbaiki diri. Aku mulai bisnis ini dan dua tahun setelahnya aku kembali mencarimu. Itu semua karna sekarang aku merasa mampu. Aku punya kepercayaan diri lebih untuk deketin kamu dan kepercayaan diri tingkat maksimal untuk bersaing dengan seseorang. Aku udah pernah bilang, kan. Aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu."

"Kalau kamu memang berbeda dari yang dulu, tapi kenapa kamu harus ngancam mereka? Bikin mereka uring-uringan. Khawatir berlebihan. Kalau seperti itu, bukankah kamu masih sama seperti dulu?"

"Karna aku ngga mau kamu ke disturb sama yang lain. Apalagi sama mereka berdua. Aku berharap kamu hanya fokus sama aku. Tapi, sepertinya ngga mungkin. Aku harus tetap berhadapan dengan mereka berdua."

"Kenapa kamu beranggapan seperti itu?"

" Aku sudah bilang kan, aku sedikit posesif tapi bukan saiko. Saat ini aku sedang belajar mengendalikan rasa posesifku. Jujur, aku takut kehilanganmu lagi." Tian maju selangkah membuat jarak kami menjadi sangat dekat. Dia menatapku. Membuatku salah tingkah. Mundur satu langkah mungkin lebih baik.

Kini dia buka payung yang sejak tadi dia bawa dan dengan cepat menarikku masuk kedalam lingkaran payung yang terbilang kecil itu. Jarak kami saaangat dekat jauh lebih dekat dari sebelumnya. Entah kenapa aku jadi deg-degan sendiri.

"Aku sampai lupa kapan terakhir kali kita sedekat ini."

Dia mengamati wajahku.

Ya Tuhan, ingin mundur tapi ngga bisa karna tangannya merengkuh pinggangku dengan kuat.

"Aku mohon jangan pergi ya, Nad. Jangan berusaha untuk menghindariku. Karna aku ingin kita bisa sama-sama lagi."

"Apa?" Aku tercengang. "Sama-sama lagi? Apa maksudnya? Apa dulu kitaaaa..."

"Pacaran? Yaaa, mungkin bisa dibilang kita dulu sedekat itu."

"Apa?"

Dia tersenyum. "Ayo kita kembali. Ujannya udah ngga sederes tadi."

 

*****

 

WRITER (POV)

Abi dan Risa makan disebuah cafe berkonsep industrial dibilangan Jakarta Selatan. Risa terus saja mengoceh, menceritakan hari-harinya dengan semangat sambil melahap steak didepannya. Sementara Abi hanya merespon dengan senyuman kecil namun pikirannya melayang saat Nadine yang basah kuyup tersenyum dan melambai kearahnya. Ingatan itu terus berputar diotaknya seperti potongan film.

"Abi! Kamu dengerin cerita aku ngga sih?"

"Hah? Denger kok." dia tersentak. Kemudian mencoba memotong steak kemudian urung karena steaknya sudah berupa potongan kecil.

"Bohong! Kamu pasti lagi mikirin sesuatu ya? Coba aku tebak. Kamu pasti lagi mikirin Nadine."

"Ah gila! Ngapain gue mikirin dia." Abi ambil segelas air putih meminumnya.

"Kamu suka ya sama dia?"

"Ngga." Nyaris saja dia keselek air. "Lo kan tau siapa yang gue suka. Harus gue bilang lagi?"

"Iya. Siapa yang kamu suka?"

Abi terdiam sesaat. Entah kenapa kali ini dia sulit sekali menjawabnya. "Seorang Risa yang gue suka."

Jawaban terakhir itu disambut sebuah senyuman kecil diwajah Risa. Jelas sekali dia puas mendengar jawaban itu.

"Oh iya. Tumben lo ngga ngajak Juna. Kemana dia?" Tanya Abi. Dia lahap daging terakhir dipiringnya.

Risa mengangguk. "Katanya ada operasi. Jadi ngga bisa ikut."

 

*****

 

Nadine dan Tian masuk beriringan ke dalam store yang sedetik kemudian seorang karyawan datang menghampirinya, mengatakan bahwa Nadine kedatangan tamu yang sedang menunggu diruangannya.

Sementara Nadine pergi menemui tamunya, Tian memutuskan untuk melihat-lihat pakaian yang tergantung. Beberapa model jaket dia coba. Sebelum akhirnya dia membeli 2 buah bomber jaket dengan warna yang sama namun ukurannya berbeda.

"Masnya Lukitian kan yaa? Saya follow mas di IG." Ucap si mbak kasir umur sekitar 20-an. Tian meresponnya dengan sebuah senyuman. "Ternyata bener cakepan aslinya ya. Hihihi. Tadi juga dokter yang sering nongol di TV cakepan liat langsung."

Tian langsung terbelalak. "Dokter? Dokter Juna? Dia disini?"

"Iya mas. Lagi diatas nunggu mba Nadine."

Ngga pake mikir panjang Tian langsung berlari naik keatas.

 

*****

 

NADINE (POV)

Kenapa dia bisa ada disni? Berjalan menghampiriku yang diam mematung diambang pintu. Aku terkejut dengan kedatangannya. Akhir-akhir ini dia sering mengunjungiku. Kenapa?

"Padahal tadi aku mau ajak kamu makan siang. Ngga taunya kamu malah makan duluan. Telepon kamu juga ngga diangkat."

"Ah hapeku lagi dicas. Maaf mas mungkin lain waktu."

"Aku kecewa. Jadi kamu juga ngga mau nemenin aku makan nih?"

"Bu bukannya gitu..."

Aku bingung harus bagaimana. Suasana awkward ini membuatku ngga nyaman.

Suara derapan langkah yang lari menaiki anak tangga terdengar sayup-sayup sebelum semakin lama semakin jelas. Entah kenapa, bukannya lega aku malah cemas. Aku takut mereka bertemu. Tapi kurasa ngga mungkin. Semua terlambat. Tian sudah berdiri didekatku. Nafasnya terengah. Matanya menyipit sinis melihat Mas Juna. Dengan cepat mas Juna berdiri didepanku. Berdiri bak pion yang melindungiku.

"Ngapain lo disini?" Ucap Mas Juna dingin.

Kuperhatikan ekspresi Tian yang sudah bisa mengontrol nafas dan juga ekspresinya. Dia tersenyum. Sebuah senyuman sinis. "Apa lo udah mulai menyadari sesuatu?"

"Maksud lo apa?"

"Tanpa harus gue jelasin lo sendiri tau apa maksud gue. Apa gue harus buka didepan orangnya langsung?"

Tidak ada jawaban dari Mas Juna. Sebenernya apa sih maksud pembicaraan mereka? Buka? Apa yang harus dibuka?

"Tingkat sok ide lo itu ketinggian, bro!"

Lagi-lagi Tian tersenyum sinis. 

"Dia ngajak aku makan siang, Tian. Hanya itu." Buru-buru kujelaskan biar ngga ada perselisihan.

"See?!" Mas Juna nampak sangat kesal. Dia masih berusaha menutupiku yang berusaha keluar dari pertahanannya. Dia tidak membiarkanku 'terlihat' oleh Tian.

"Hahahaha!!" Tian tertawa seolah tidak percaya. Mungkin lebih tepatnya tertawa meremehkan. "Sepertinya akan semakin menarik. Well, gue hanya berharap semoga semua belum terlambat saat lo menyadarinya ya bro."

Tian berjalan mendekati Mas Juna. "Kita akan menjadi saingan. Make it fair play, ok?" Ucapnya seraya menepuk-nepuk bahu mas Juna. "Aku pulang ya Nad. Sampai ketemu lagi. Bye!"

Kami berdua masih terdiam. Bisa dibilang kami shock. Sama-sama berusaha mencerna kata-kata Tian. Sampai akhirnya aku mengerti satu hal.

Mungkinkah mas Juna menyukaiku? Apa dia menyesal?

Ah, rasanya ngga mungkin.

"Cowok edan! Kamu ngapain sih masih berurusan dengan dia?" Dumelnya. Kupasang ekspresi malas menjawab kemudian berjalan menuruni tangga. 

"Jadi, mau aku temenin makan ngga?"

 

*****

 

Ya, disinilah kami.
Di foodcourt sebuah mall.

Jam makan siang memang sudan lewat, namun masih cukup ramai dengan karyawan yang makan. Agak kesal saat kami mau membeli makanan bahkan saat sedang makan, ada aja orang-orang yang meminta foto bareng dengan Mas Juna. rata-rata ibu-ibu. Yaa wajar saja, mengingat mas Juna adalah dedeman ibu-ibu lewat acaranya bersama Risa.

"Dokter Juna ngga dengan Dokter Risa?" Tanya salah satu ibu-ibu.

"Ngga bu, kebetulan hari ini saya dengan adik saya aja."

Aku terkekeh. Hal yang sudah biasa terjadi dengan jawaban yang masih sama pula. Dia ngga berubah. Aku masih seperti adik baginya. Tapi berkat jawaban itu pula, mereka ngga banyak tanya.

"Tadi saya liat Abi dan Risa. Sempet foto bareng juga. Sepertinya mereka mau nonton. Saya kira kalian semua janjian disini."

Kami saling berpandangan.

Ya Tuhan dari sekian banyak mall, kenapa kita semua bisa ada ditempat yang sama?

 

To be continue....

_____________________________

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved