Abi & Nadine : Part 4

Author : Audria Pohan

 

Risa (POV)

Sejujurnya aku masih sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin tahu lebih banyak. Sayang, Abi menyuruh kami semua untuk pergi.

Batin jelas menolak untuk pergi, namun apa daya keadaan tidak menyenangkan itu memang harus segera diselesaikan.

Ketika Abi sedang berbincang serius dengan kedua orangtua Nadine, aku memisahkan diri. Diam-diam kembali ketempat itu. Mencuri dengar percakapan mereka (Juna & Nadine) dari balik tembok.

Aku terkejut mendengar pembicaraan mereka berdua. Apa yang mereka alami, terjadi juga kepadaku. Jelas sekali aku tahu soal perasaan Abi. Hanya saja, aku menyangkalnya. Berpura-pura tidak tahu.

Aku ingin dia selalu berada didekatku. Aku tidak mau kehilangannya. Apakah itu salah?

"Makasih atas jawabanmu, Mas. Aku pergi dulu."

Itu suara Nadine. Buru-buru aku bersembunyi.

Begitu dia keluar, aku langsung menghampiri Juna.

"Are you ok?" tanyaku dengan wajah cemas. Karena kulihat wajahnya pucat pasi.

"No." Jawabnya pelan namun tegas. "Maaf Risa, Masalah ini belum selesai. Aku harus mengejar Nadine. Maaf ya."

Juna langsung pergi tanpa menoleh sedikitpun. Tanpa pikir panjang aku langsung mengikutinya. Langkah kaki kami terhenti begitu melihat Abi menarik Nadine masuk kedalam pelukannya.

Terkejut? Ya, sudah pasti.

Aku gak habis fikir saja, sejak kapan mereka bisa langsung sedekat itu padahal baru kemarin mereka bertemu?

Aneh.

Kurasakan sesuatu yang aneh.

Aku merasakan sesuatu akan diambil dariku.

Dan aku tidak suka itu.

 

*****

 

ABI (POV)

Kenapa mereka melihatku seperti itu?

Pandangan mereka membuatku merasa tidak nyaman.

Kulepaskan pelukanku. Kini kupegang wajah Nadine dengan kedua tanganku. Menghapus airmatanya. Sebelum akhirnya aku tertawa.

"Kok kamu ketawa?" tanyanya dengan wajah kebingungan.

"Asli lo jelek banget." Kucoba menahan tawa. "Mata bengep, idung meler, kantong mata udah kayak apaan tau."

"Bangke lo!" Dia mengumpat tapi terdengar lucu.

"Eh Nad, Juna ada dibelakang. Lagi ngeliatin kita. Gimana kalo kita pergi aja?"

Dengan cepat dia mengangguk. Tanpa perlu banyak bicara lagi, kami pun pergi.

 

*****

 

WRITER (POV)

Rasanya aneh bila taman yang biasanya ramai, malam ini justru nampak begitu sepi. Seolah-olah mengerti betul bahwa ada seseorang yang membutuhkan ketenangan ditempat itu melebihi siapa pun yang berada disana.

Nadine duduk termenung pada salah satu anak tangga yang ada ditaman itu. Matanya menerawang jauh, menatap hampa sebuah cahaya kekuningan diseberangnya. Pikirannya bekecamuk. Mengingat-ingat sebuah masa lalu yang begitu indah namun sekarang terasa begitu menyakitkan. Dalam diam dan tanpa ekspresi apapun, sungai kecil mengalir deras diwajah manisnya.

Sebuah suara langkah terdengar sayup, berjalan menghampiri dari arah belakang. Dia menoleh dan sudut matanya menangkap sepasang sepatu Doc. Mart yang dikenalnya dengan baik lalu kembali melengos.

"Kenapa mencintai seseorang harus menyakitkan seperti ini?"

Abi menyodorkan coklat tepat didepan wajah Nadine dan kemudian duduk disampingnya. Nadine menerima coklat itu, membukanya dan langsung memakannya.

"Ga ada cinta yang manis melulu. Coklat yang manis aja kadang masih ada pait-paitnya. Lo paham kan maksud gue?"

Nadine mengangguk. "Aku tau ujungnya akan seperti ini. Tapi kenapa aku masih tetap terluka?" Dia tertawa. Membodohi dirinya sendiri. "Konyol."

Abi terdiam. Tidak menanggapi apapun.

"Bi, makasih ya kamu hadir disaat yang tepat." Kini mata Nadine menatap lurus kearah Abi. Mengamati wajahnya dengan teliti. "Bisa duduk berdua disini, ngobrol bareng, bahkan dipeluk sama idola sendiri. Rasanya kayak mimpi."

Kini Abi menoleh kearah Nadine setelah dari tadi matanya menerawang melihat kearah lain.

"Kenapa? Kenapa kamu baik banget sama aku padahal diawal kita ketemu kamu jelas-jelas menganggap aku musuh? Mau lihat aku aja ngga."

 

Abi terdiam. Ingatannya kembali pada saat dia sedang bersama kedua orangtua Nadine.

"Ibu titip Nadine ya Abi. Tolong temani dia. Ibu sadar bahwa ibu sudah keterlaluan, tapi ibu rasa ini yang terbaik buat dia. Seharusnya ibu sudah melakukannya dari dulu."

Abi mengangguk. "Bu." Panggilnya ragu. "Maaf kalau saya lancang, bolehkah saya tahu apa salah Juna sampai ibu segitu membencinya?"

"Ini terlalu rumit, Abi. Coba kamu tanyakan langsung pada Nadine. Mungkin Nadine akan bercerita." Ibu tersenyum. "Sekali lagi, tolong jaga Nadine ya."

 

Kembali kemasa kini.

Abi masih terdiam menatap Nadine. Otaknya berfikir, apakah sebaiknya dia menanyakan pertanyaan terbesarnya itu padanya atau tidak.

"Entahlah. Mungkin karena gue pernah berada diposisi lo. Jadi gw tau betul gimana rasanya."

Abi memutuskan untuk menunda pertanyaan itu hingga momen yang tepat.

Kedua alis Nadine terangkat. "Yang bener? Ternyata seorang Abi bisa ditolak juga? Wooow, aku cemburu. Siapa perempuan bodoh yang udah nolak kamu itu?"

"Ra-ha-si-a"

"Oh aku tahu! Pasti Risa kan?"

"Ah gila lo! Ngga lah bukan!" Abi menyangkal tapi tetap terlihat santai. Padahal dia tau betul jawaban Nadine jauh dari kata salah. "Kenapa lo bisa mikir dia?"

"Ya habis yang saat ini kisahnya 'setipe' sama aku ya hanya kamu dan Risa."

"Heh, memangnya 'sahabat' gue itu cuma Risa doang?!"

"Iya juga sih." Nadine manggut-manggut. "Jadi siapa?" Nadine masih usaha nyari tahu.

"Ah au ah! Gue mau cabut. Mau ikut gak lo?"

Dengan cepat nadine menganguk.

 

*****

 

NADINE (POV)

"Lagi?!" ucapku tak percaya saat mobilnya terparkir ditempat yang tidak asing.

Club itu lagi. Why? why? why?

"Whyyyyy?? Why you bring me here?"

Dia hanya tersenyum. Memperlihatkan kedua lesing pipinya. Mematikan mesin. melepas seatbelt, kemudian turun. Aku cemberut. Menatap kesal kearahnya yang kini sudah berada tepat didepan mobil. Menungguku untuk turun.

"Okei kita liat siapa yang bakalan kesulitan disini."

 

****

 

Writer (POV)

Kali ini atmosfir meja bundar nampak kelabu. Masing-masing menatap hampa gelas kosong didepan mereka.

Kenapa dengan mereka? Itulah yang ada dibenak Nadine. Dia perhatikan ke lima orang itu secara bergantian.

"Ada sesuatu yang ngga ngenakin yaa?" Tanya Nadine. Mereka -kecuali Abi, langsung menoleh kearahnya. Well, suasana club itu masih cukup tenang, sehingga suara Nadine terdengar dengan jelas.

"Gue gagal dapet peran psikopat itu. Padahal gue udah diet mati-matian. Sh*t banget lah pokoknya." Keluh salah satu dari sikembar. Anya.

"Kontrak gue ga diperpanjang bro gara-gara gosip sialan itu!! T*i tuh cewek! Gw nyentuh dia aja ngga pake ngaku-ngaku bunting ama gue!" Kali ini salah satu 'pasangan homo' itu berbicara. Banyu. Cowok berbadan atletis berwajah oriental dengan kulit kecoklatan. Percayalah, dia sangat seksi.

"Lo kali yang ga sadar udah gituin tuh cewek." Abi menimpal. Dia terkekeh sendiri.

"Eh cumi semabok-maboknya gw, gw masih bisa ngontrol. Nih yaa walaupun gw keliatan badboy & playboy kelas kakap, tapi gw menghargai wanita brooo. Pantang gw ML sebelum nikah."

Semuanya bertepuk tangan.

"Ini nih, yang langka." Seru 'pasangan homo' nya. Andika. Cowok kurus berwajah cantik. Kalau dilihat lihat dia mirip aktor korea Park Bo Gum. "Lo ga mau sama dia Nad? Umur 30 masih perjaka, mapan, tampan, dominan! Gw denger lo lagi patah hati. Cocok nih!"

Nadine terkejut.

"Sori Nadine juga pilih-pilih." Celetukan Abi bikin Banyu kesal. Dengan cepat tangannya nempeleng kepala Abi.

Mereka pun sibuk saling nampol. Dan tingkah mereka membuat teman-temannya tertawa termasuk Nadine.

"Nih minum, Nad." Si rival Abi, Caka memberikan segelas minuman. Ragu-ragu Nadine menerima gelas itu.

 

*****

 

NADINE (POV)

Damn!
Hanya nerima gelas dan berakting minum ga papa kali yaa. Daripada dibilang ga bisa bersosialisasi. Lagi pula kalau gue bisa temenan sama mereka kan lumayan juga. Koneksi gue bisa makin luas. Dan bisnis gue juga bisa berjalan lancar. Well, namanya juga usaha.

Berlandaskan pemikiran itu aku mendekatkan gelas itu kebibirku. Pura-pura minum.

Baru mau ku tenggak, Abi merampas gelas itu dari tanganku dan langsung meminumnya sampai habis. Kulihat dia merenyit. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Memijit pelipisnya.

"Aduh mampus gue!" Caka tepok jidat.
"Cak, jangan bilang itu murni." Sikembar yang satunya menimpal. Shasha Menatap ngeri kearah Abi.
"Murni Sha."
"Adoooooooh!! Panjang nih urusan." Semuanya tepok jidat.

Nadine pelanga pelongo melihat reaksi teman-temannya yang sibuk saling menyuruh satu sama lain. "Kenapa yaa kok kalian kayaknya gimanaaaa gituuuu?? Ada yang salah kah?"

"Kasih Abi minuman murni itu suatu kesalahan besar." Andika menjawab.
"Kenapa?" Nadine penasaran.
"Aduuuh kepala gue." Abi buka suara.
"Wah mulai nih mulai." Banyu bersiap kabur tetapi masih menunggu reaksi Abi.

Jujur aku cemas melihat kondisinya. Dia terus saja memijat pelipisnya sambil sesekali mengerang. 
"Abi, kamu ga papa kan?" Tanyaku. Kudekatkan wajahku untuk melihat kondisinya. Ya, dia nampak kualahan. Wajahnya sudah memerah. Apakah dia beneran mabuk? Aku tidak percaya.
"Abi..." panggilku. Dia menoleh. Aktifitas memijat pelipisnya langsung terhenti. Dia menatapku lekat-lekat. Seolah mengamati. 
"Kamu ga papa kan? Coba liat jari aku. Ini ada berapa?"
Kuangkat ke lima jariku. Melambai-lambai didepan wajahnya. Matanya mengikuti kemana arah lambaianku sebelum akhirnya dia menangkap tanganku.
"Bodoh. Itu ada li-ma." Jawabnya dengan suara parau.
Fiuh syukurlah sengganya dia masih sadar.

Namun kali ini sangat cepat bahkan aku sendiri nyaris tidak menyadarinya. Dia mengunci kepalaku dengan keduatangannya dan langsung menciumku tepat dibibir.

Jantungku berdebar tidak karuan, mungkin sekarang sudah lepas dari tempatnya melompat entah kemana. Kucoba lepaskan diri namun tidak bisa. Semakin aku memberontak semakin dia melumat bibirku.

"Nikmatin aja Nad. Percuma, lo ga bisa lepas sampe dia yang lepasin. Nikmatin aja, tapi jangan pake felling." Itu suara Anya. Aku makin melotot mendengarnya. Ini gilaaa!!

"Close your eyes, Nad. And let it flow. Kalau ngga lo yang tersiksa." Itu suara Banyu. "Dia hanya nyium kok ga pake grepe-grepe."

Whaaaat theee heeeellllll!!!

Okey, sepertinya saran mereka benar. Semakin aku membrontak Abi semakin ganas. Kututup mataku, mengikuti irama bibirnya. Kurasakan cengkraman tangannya melonggar, meski bibirnya tidak menjauh semilipun.

Ini gawar. Semakin lama kami berciuman, semakin terlena aku dibuatnya.

Kubuka mataku saat Abi menjauhkan bibirnya. Dia tersenyum, bahkan mengusap bibirku sebelum akhirnya dia terjatuh. Maaf mungkin tertidur atau pingsan?

"Heh Abi bangun lo!!" Ku keplak kepalanya. Dia hanya mengerang dan malah mengeplak balik. "Heeeeh lo mau mati yaaa!!" Pekikku. Kulintirkan tanganku dilehernya. Dia sempat terbatuk batuk. "Sembarangan nyium orang!! Balikin ciuman pertama gueeee!!!" 
"Eh eh eh eh!! Nad lo mau bunuh anak orang " Caka menarikku. Menjauhanku dari Abi.
"Maklumin aja dia emang gitu kalo mabok. Jangankan elo, kita semua pernah kena. Cuma cara nangkisnya aja yang beda. Hahahaha!"
"Whaaaatt??!!" 
Mereka makin tertawa keras.
"Coba cek hape." Perintah Dika.
Kubuka hapeku. Ada satu sms masuk. "Alamat siapa ini?"
"Maaf repotin yaa. Tolong anter dia ke apartementnya. Kita cabut duluan. Byee!!"
Whaaaat theee... belum sempat berucap apa-apa mereka sudah hilang.
Kuhela nafas panjang. "Argghhhhhhh. Seperinya gue yang mengalami kesulitan."

 

****

 

WRITER (POV)

Didepan club. Sembari menunggu mobil mereka diambil. Andika melipat keduatangannya didepan dada dan Berdiri seolah pemimpin grup.
"5 tahun gue temanan sama dia baru kali ini gw liat dia begitu."
"Kita semua cumi." Banyu menimpal.
"Biasanya dia cuma ngoceh, joged-joged, ngelantur, muntah-muntah."
"Eh kayaknya pernah deh sekali." Shasha mencoba mengingat. "2 atau 3 tahun yang lalu gue lupa. Dia lakuin hal itu juga."
"Ah masa? Sama siapa?" Caka penasaran.
"Risa."

 

****

 

NADINE (POV)

Nightmare.
Baru kali ini aku ngurusin orang mabok dan itu sangat menyebalkan. Tidak henti-hentinya dia mengoceh, menyanyi, tertawa, menangis, bahkan muntah. Astaga!! Hei sadarlah Nadine, seharusnya kau merasa senang. Ini kesempatan langka.

Tapi, nyatakah ini Tuhan? Karena ini terasa seperti mimpi.

Sekarang aku sudah berdiri didepan pintu apartmentnya. Ingin menjerit histeris tapi kutahan. Aaahhhh, jantungku berdegup kencang. Aku sangat excited untuk masuk unitnya. But, I have to stay cool. Jangan norak dan malu-maluin.

"Wow. Kunci pintunya canggih banget. Mirip di drama korea yang biasa gue tonton. Tapi ini kan pake pin. Berapa ya pinnya..."

"SINI BIAR GUE AJA YANG BUKA!!" Abi jalan sempoyongan. Menekan tombol-tombol angka itu dan pintu pun terbuka. Dia langsung masuk, sementara aku mengikutinya dari belakang.

Aku tercengang melihat isi unitnya. Seharusnya aku tidak berekspektasi tinggi membayangkan interiornya sehebat didrama korea. Bisa dibilang unitnya cukup luas dengan 2 kamar, interiornya tidak jelek, minimalis dominasi warma hitam dan putih, cuma sayang.... BERANTAKAN. Sampah, baju, piring, makanan, berserakan dimana-mana. Iyuuuuhhh.

"Astaga manusia macam apa yang tinggal ditempat begini. Ih!"

"SELAMAT DATANGGG DI ISTANAKUU!" Dia mulai berceloteh. Jalannya masih sempoyongan.

"Istana pantatmu! Ini bantar gebang bukan istana!." Aku berjalan mendekat, berusaha untuk membopongnya.

Kurebahkan dia diatas sofa panjang minimalis. Mengambil beberapa cushion dan meletakannya dibawah kepala Abi. Kini kulepaskkan sepatu yang dikenakannya, dan melepas kacamatanya. Setelah kurasa cukup, kupandangi wajahnya dalam diam.

Ya ini seperti mimpi. Melihatnya tertidur.

Ini seperti di drama, tapi ini kenyataan. Tuhan, Engkau maha baik. Terimakasih atas kesempatan ini.

Dalam diam aku berfikir.

Bagaimana selanjutnya? Aku harus bagaimana terhadapmu? Haruskah aku tetap memanfaatkanmu kembali setelah aku tau bagaimana perasaan Mas Juna yang sebenarnya? Ataukah aku harus maju untuk mendapatkanmu saja? Tapi kalau aku berusaha untuk mendapatkanmu, apakah ini hanya pelampiasan? Arrghhh!!

"Siapa yang peduli soal itu. Gak bisa milikin Juna bukan berarti aku ga bisa milikin kamu, benar kan Abi? Gimana pun caranya. Aku... ga mau kamu lepas semudah itu."

Well, mungkin itu terdengar sangat obsess. Tapi sungguh, aku ngga mau melepas Abi. Sekarang yang harus dipikirkan adalah caranya. Apakah aku harus berpura-pura menjadi wanita lemah dan rapuh dihadapannya? Atau wanita tegar kuat yang menginspirasi? Oh, Mungkin jadi wanita blak-blakan yang mengatakan dengan bangga kalau aku menyukainya bisa juga untuk dicoba. Ah yasudahlah! Nanti dipikiran kembali. Yang pasti aku harus merapikan bantar gebang ini terlebih dahulu. Bisa-bisanya dia tinggal ditempat penuh sampah seperti ini.

Sekitar 1.5 jam aku merapikan unit itu. Mulai dari mengambil sampah, membuangnya. Melipat pakaian, kaos kali, & sepatu yang berserakan. Menyapu, mengepel, mencuci dan terakhir memvacum seluruh ruangan.

"Muka boleh ganteng tapi joroknya minta ampun."

Kulihat jam. Sudah pukul 11.00 malam. Saatnya aku pulang. Kutaruh vacum ditempat semula.

"Much better!!" Ucapku bangga melihat hasil yang super bersih.

Kini kuhampiri Abi yang masih tertidur. Kupandangi dia untuk mengusir rasa lelahku.
Tanpa sadar tanganku merapikan rambut pomadenya yang sedikit keluar. Ya Tuhan, dia tampan maksimal.

"Mau sampai kapan lo pandangin gue terus."

Aku terlonjak, nyaris terjatuh. Dia mengagetkanku. Tiba-tiba membuka matanya dan mengucapkan kalimat itu. Siaaaall!! Aku tertangkap basah telah membelai rambutnya. Tuhan ceburkan aku ke kolam sekaraaaang!!!

"Ka kamu udah bangun?" Ucapku gelagapan.
Dia mencoba duduk sambil terus memegangi kepalanya.

"Anjir pusing banget kepala gue." Dia menoleh kearahku. "Lo bisa diem ga sih?! Jangan muter-muter. Bikin pusing aja!"

Aku terpaku. Muter-muter gimana. Wong pantat masih nempel dilantai. Fix. Dia masih mabuk.

"Aku pulang dulu yaa. Kamu istirahat. Aku udah beli obat, ada diatas meja. Jangan lupa diminum."

Baru hendak mengambil tas, tanganku dipegang olehnya. Dia menarikku untuk duduk disampingnya.

Dia menyipitkan matanya yang masih merah. Berusaha menatapku.

"Lupain Juna. Gue akan bikin hidup lo lebih berwarna. Jadi... gimana kalo kita pacaran? Lo maukan jadi pacar gue?"

Oh my God!!
Ya Tuhan. Kakiku lemas mendengarnya.
Jantungkuu. Dimana jantungkuuu???!! ????
Dia bercanda pasti bercanda.

"Jawab. Kok diem."
"Aku rasa ini pengaruh minuman."
"Gue ga mabooook!! Gue serius.."

Aku mendengus. 
Membodohi diriku sendiri.
Jelas-jelas dia mabok. Kenapa juga aku harus merasakan jantungan dan lemas-lemas. Sial. 
Tapi seandainya saja itu sungguhan dan dengan sadar dia mengucapkan demikian.

"Woy Abi I'm...." 
Kini suara tak dikenal masuk kedalam unit. Dia tersentak begitu melihatku. Begitupun denganku.

"home." Ucapnya sedetik kemudian.
Kini laki-laki itu berjakan mendekat. Matanya tidak lepas menatapku.

"Oh. Lo udah balik Van." Abi berdiri. Berjalan sempoyongan kearah si Van-van itu. "Kenalin room mate gue. Namanya Novan. Dia sahabat gue."

Fiuh. Aku bernafas lega setelah mendengar kata sahabat keluar dari mulutnya. Karena jujur, sesaat aku mengira dia adalah pasangan gay-nya. Habis si Novan itu terus memandangku. Kupikir dia cemburu.

"Lo pasti udah kenal kan, Van. Lo udah sering ketemu kok. Namanya..."

"Nadine." Novan memotong kalimat. "Ya gue sering ketemu dengan dia."

Lagi-lagi matanya tidak lepas dariku. Kini Dia mengulurkan tangannya padaku. "Novan." Ujarnya.

"Apaaa kita pernah ketemu?" Tanyaku ragu seraya menyambut uluran tangannya.

Dia mengangguk diiringi sebuah senyuman. "Sering. Tapi mungkin kamu lupa." Keadaan hening sejenak.

"Ga boleh flirting-flirting." Abi mulai lagi. Dia melambaikan jari telunjuknya didepan wajah Novan. "Dia untukku bukan untukmu. Dia milikku bukan milikmu. Pergilah kamu.. shuuu shuuuu. Shuuu."

Tuhan dia mulai bernyanyi.

"Aku rebahin dia dulu ya dikamar. Tapi please kamu jangan balik dulu. Ada yang mau diobrolin."

"Tapi ini udah malem. Aku harus pulang."

"Kalo gitu gue anterin. Bahaya cewek balik jam segini. Tunggu yaa, ga lama kok."

Dan kemudian Novan membawa Abi kekamarnya.

 

****

 

WRITER (POV)
Sebuah mobil HR-V berwarna hitam melaju cukup pelan untuk ukuran jalan di jalan tol yang sudah sepi. Keheningan sempat menyelimuti seperempat perjalanan mereka sebelum akhirnya Novan memulai percakapan.

"Lo beneran ngga inget gue?" Tanyanya melihat Nadine sepintas lalu kembali fokus ke jalan.

"Maaf gue ngga inget."

"Waaah kejamnyaa. Kita satu angkatan loh Nad waktu SMA dulu. Lo anak IPS, gue IPA. Dulu 
Gue cupu sih. Cewek populer kayak lo pasti ga notice. Hahaha."

"Apaan sih. Gue ga populer koook." Nadine tersipu malu.

"Lagi-lagi merendah. Cewek berprestasi, juara umum, baik, manis, jago olahraga, rajin ibadah. Siapa sih yang ngga kenal sama lo."

Nadine hanya tersenyum malu campur bangga. Well, mereka terlibat percakapan basa-basi seputar pekerjaan mereka. Yang saat itu Nadine notice adalah Novan bekerja disalah satu perusahaan ojek online yang lagi naik daun. Dia seorang VP Tech Department. Memiliki 8 anak buah untuk mengerjakan aplikasi tersebut. Diumurnya yang masih sangat muda pencapaiannya luar biasa. Mapan, tampang lumayan, dan..... jomblo.

"Kok kalian bisa tinggal bareng?" Tanya Nadine. Novan batuk batuk. Seperti tersedak sesuatu.

"Lo ga berfikir gue gay kan? Karna gue 100% cowok tulen."

"Sempet sih. Hahahaha."

"Sial lo Nad. Si Abi itu udh kayak ade gue sendiri. Itu apartementnya dia. Kadang gue dateng buat main atau sekedar numpang tidur. Ga ada yang spesial sih."

Nadine manggut-manggut.

"Gimana kalian bisa bertemu lagi? Oh, iya gue inget. Lo berdua dijodohin yaa. Hahaha!"

"Kok lo tau sih?"

"Si Abi cerita. Dia minta wejangan dulu sebelum ketemu sama lo."

Nadine coba untuk mengulik soal Abi dari Novan. Terlebih soal apa yang Abi bicarakan tentangnya. Sayang, Novan memilih menyimpannya rapat-rapat.

Hanya 15 menit perjalanan dari apartement Abi kerumahnya. Dia tidak menyangka kalau ternyata tempat tinggal mereka sedekat itu.

Mobil sudah terhenti sempurna didepan rumah Nadine. Dia lepaskan seatbelt. Mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya keluar dari mobil.

Diluar runah, adiknya Ari sudah menunggu. Perlahan dia hampiri mobil itu dan sedikit mengintip dari balik kaca yang terbuka hanya untuk sekedar berterimakasih karena sudah mengantarkan kakaknya pulang.

Ari terkejut melihat orang yang berada didalam. Dia berfikir orang itu adalah Abi, sayangnya bukan.

Menanggapi keterkejutan Ari, Novan hanya melambai padanya lalu mengisyaratkan agar mereka masuk terlebih dahulu. Tanpa banyak babibu, dan setelah mengucapkan terimakasih, mereka berdua masuk kedalam rumah.

Begitu mereka tidak terlihat, Novan langsung mengambil handphone untuk menelepon seseorang.

"Bro gue ganggu gak? Lo ga lagi ndusel-ndusel sama bini kan?" Tembak Novan tanpa kata pembukaan ketika telepon diangkat.

"Kagak! Belom! Ada apa, Van? Kayaknya penting banget." Suara diseberang menjawab.

"Eh Nu, lo udah ketemu dia belum?"

"Dia siapa?"

"Nadine."

 

***

 

WRITER (POV)

Ari memerhatikan mobil HR-V itu dari balik jendela karena tak kunjung pergi sementara Nadine sudah duduk cantik di sofa. Melepaskan sepatu hak bertalinya.

"Mba, kok bisa pulang dianter dia? Mas Abinya mana?" Tanya Ari begitu mobil HR-V itu pergi.

"Abi mendadak ada urusan." Nadine terpaksa berbohong. Ga mungkin kan dia bilang kalo Abi hangover. "Kok kamu belum tidur?"

"Nungguin mba lah. Mba ga papa kan?" Ari bertanya cemas.

"Ga mungkin mba ga papa de. Ancur banget rasanya. Untung ada Abi. Pelipur lara." Nadine nyengir lebar. Dia tidak mau terlihat menyedihkan didepan adiknya.

"Syukurlah. Setidaknya dia bisa diandelin." Keadaan hening sejenak. "Mba, mba ngga marah sama ibu kan? Karna ibu ga ada niat jahat sama sekali." Nadine mendengarkan. "Jujur aku juga kaget kalau mba masih berhubungan dengan Juna."

"Kamu masih membencinya?"

"Mengingat apa yang udah mereka lakuin ke kita, aku rasa ga ada alesan untuk ga membencinya. Keluarganya yang udah bikin kita seperti ini. Keluarganya yang udah bikin bapak seperti sekarang. Aku ga bisa mengampuni mereka." Ari berucap dengan mata yang membara. Kebencian terlihat jelas dimatanya.

"Tapi mereka ga sepenuhnya salah de. Mba aja yang ga tau diri udah mencintai anak mereka. Jadi, yang sebenernya salah itu mba. Mba yang udah bikin kita semua dalam kesulitan."

"Perasaan tuh ga bisa disalahkan mba. Mereka terlalu naif, terlalu sombong."

Nadine menghela nafas. Kemudian tersenyum getir. "Mba ga mau mengingat masa lalu de. Jangan bahas itu yaaa."

"Iya mba." Cowok berwajah manis itu langsung menurut. "By the way mba, mba inget ga soal projek kantor aku yang aku ceritain?" Nadine bertanya melalui ekspresinya "Itu loooh projek web series brand kecantikan itu."

"Ooooohhhh yang kamu excited banget ngerjainnya itu yaa. Yang ada personil girlband koreanya itu. Duh siapa sih namanya...." Nadine berusaha mengingat.

"Hana." Mata Ari berbinar menyebut namanya. Sementara Nadine manggut-manggut. "Projeknya goal dong mba!! Kliennya setuju." Dia makin bersemangat. Wajar dia bersemangat karena dia adalah fans beratnya.

Sedikit intermezo. Hana adalah salah satu member dari girlband populer asal Korea Selatan. Dia merupakan warga negara Indonesia yang memenangkan audisi untuk trainee di Korea dan debut disana.

Nadine tersenyum senang. Dia acak-acak rambut adikknya sebagai salah satu bentuk ucapan selamat. "Good jooob!!"

"Eitz, berita bagus lainnya adalah...." Ari menahan kalimatnya. Seolah mengumumkan pemenang kuis. "Mba dipilih buat jadi fashion stylishnya."

 

*****

 

NADINE (POV)

SERIUSAN!!!
Adikku ga lagi bercanda kan?? Ya Tuhan, Engkau maha baik. Bukankah karirku berjalan dengan sangat mulus? Setidaknya melalui projek ini aku semakin bisa memperluas koneksi. ????

"Ini beneran?" Aku masih tidak percaya. Seringai lebar menghiasi wajahku.

"Ya iyalah masa bohong. Mereka suka sama proposal yang waktu itu mba kasih."

"Woaaahhh. Makasih yaaa. Hihihi."

"Makasih apaan sih mba. Itu karena mba memang bagus. Apalagi dengan harga segitu. Kita mah seneng banget. Hahahaha" ???? Ari berucap singkat.

"Pokoknya nanti mba traktir makan enak."
"Beneran yaa. Ditunggu loh."

Nadine mengangguk mantap.

 

*****

 

ABI (POV)

Cahaya matahari pagi sungguh menyebalkan. Mengganggu tidurku saja. Cahaya itu bagaikan bom yang meledak kala kita tertidur lelap. Sialan, siapa yang membuka horden kamarku.

Kulihat langit-langit berputar saat aku membuka mata. Efek samping minuman itu masih tetinggal. Kucoba menutup mata dan membukanya kembali, namun sama saja.

"Nih lo minum." Novan melemparkan obat padaku. "Dari Nadine."

"Nadine?" Kucoba mengingat. "Nadine kesini?"
"Iyaaa. Dia juga yang rapiin unit lo. Coba aja lo liat sendiri."

Dengan sigap aku bergegas. Kubuka pintu kamar dan... terperangah. Ku coba mengingat kembali apa yang terjadi. Otakku berpikir meskipun kepala masih cenat cenut. Hal terakhir yang kuingat adalah saat aku meminum minuman Nadine. Setelahnya, aku tidak mengingatnya sama sekali.

Tapi tunggu.
Ada sedikit ulasan flashback dalam ingatanku saat memasuki unit. Jelas sekali aku melihat ada seorang perempuan ikut masuk bersamaku. Dan itu bukan Nadine. Melainkan Risa. Aku ingat betapa Risa menceramahiku dan mengatakan unitku ini adalah bantar gebang.

"Bukannya Risa ya bro? Tanyaku pada Novan. Hanya untuk meyakinkan.

"Gilaaaa mabok lo tuh bener-bener deh. Kasian Nadine. Eh sambel roa, gue sendiri yang nganterin ke rumah dia. Kan lo sendiri yang ngenalin."

Sudah bisa kusimpulkan. 
Lagi-lagi aku berhalusinasi soal Risa.
Sialnya dikala aku mabuk pun sosoknya ngga bisa hilang.

"Coba deh lo inget-inget lagi? Gue mau gawe dulu. Bye honey." Goda Novan dia hendak mencium pipiku namun kutepis mentah-mentah.

"Bae bae lo cumi!" Sungutku.

Suasana ruangan benar-benar senyap setelah Novan pergi. Sementara aku berdiam diri mencoba mengingat kembali apa yang terjadi. Namun tetap saja nihil.

"Line." Suara imut dari hapeku terdengar.

Kurogoh saku celanaku dan melihat layar. "Sh*t line event." Kutaruh kembali ketempat semula.

Aku masih berdiam diri. Sungguh tidak ada yang bisa kuingat.

"Line." Suara imut itu lagi. Ku ignore aja. Palingan juga promo.
"Line..line..line...line."
Ebuset. Oke saatnya ngecek.

Well, dari sikunyuk Andika.

Halooo. Selamat siang donjuan. Gimana semalem? Panas ga? ????

Mataku sontak melebar.

"Panas pantatmu."

Sepertinya ga terjadi apa-apa yaa. Yaah sayang banget padahal pembukaannya udah hot ????

"Hot apanya yang hot?!" Aku penasaran hingga nyaris gila. Memangnya apa sih yang udah kulakukan. Baru kali ini aku berdebar-debar melebihi saat aku naik keatas panggung. Aarrggh! Aku bersumpah ga akan minum alkohol lagi.

RA-HA-SI-A. Hahahaha.
Lo tanya aja sendiri sama Nadine.
Gw live dulu ya. Bhay!!

Sikunyuk satu itu bener-bener.
Arggh!! Nanya langsung sama Nadine? Gilaa! Nggak-nggak! Ngga mungkinlaaah. "Nad lo semalem gw apain yaa? Atau Nad, semalem gw...." arrggh au ah!

Aku benar-benar tidak waras. Mencoba mengingat-ingat sebelum suara si imut line nenyadarkanku.

Astaga! Ini dari Nadine.

Hai Abi.
Udah bangun kah? Gimana keadaan kamu? Ga papa kan?

Dari bahasanya, dia nampak cemas.
Buru-buru ku ketik balasannya.

"Iya. Lumayan. Masih pening sedikit."

Ga lama balasan kembali masuk.

Aku ada taro obat di meja. Kamu minum obat itu aja. Siapa tau baikan.

"Iya. Makasih. Makasih juga udah rapiin unit gue."

Sama-sama ????

 

*****

 

NADINE (POV)

Aku terpaku melihat layar handphoneku. Tuhaaaaaaannn aku chat dengan Abi. Astagaa rasanya ingin menjerit kegirangan. Lagi-lagi ini seperti mimpi. Diseberang sana ada Abiii. Kyaaaaaa!!!

Oke cukup! Hentikan tindakan keremajaanmu itu. Malu sama umur. Tapi kenapa dia balesnya pendek-pendek yaa?

"Line"

Si pemalas itu memanggil. Pop-up chat dari Abi.

Sore ini ada waktu? Gue mau ketemu. Bisa?

"Arrrrrghhhhhhhh!!" Kali ini tak bisa kubendung lagi kegiranganku. Tak peduli lagi dengan pelanggan dan karyawan yang terlonjak melihat kearahku.

Buru-buru kuketik balasan. "Bisalaaah."

Eh tunggu! Kayaknya mure amat diajakin keluar langsung mau.

Kuhapus dan mulai mengetik kembali.

"Hmmm... aku bisanya jam 5 soalnya ada yang harus aku urus dulu. Is that okay? Kamu ada jadwal kah jam segitu?"

Sent.

Ada. 
Ketemu lo.
Jam 5 dipacific place. Jangan telat.

Aku mencibir. Yang seharusnya ngomong gitu tuh siapa? Heleh!

 

*****

 

WRITER (POV)

Disebuah agency periklanan yang berada didaerah kemang. Ari sibuk menyiapkan beberapa berkas. Mengeprint dokumen kemudian memasukannya kedalam amplop coklat.

Hari ini dia akan bertemu dengan Hana dan managernya untuk membicarakan kontrak & sedikit perubahan konsep (karna revisian klien).

Dia nampak begitu manis. Kulitnya yang kecoklatan dengan postur badan cukup tegap dan tinggi dibalut busana kemeja maroon, celana cino serta Nike kesayangannya. Rambutnya yang dibiarkan berantakan ga mengurangi kemanisannya.

"Bro udah siap belom?" Seorang laki-laki gembul berwajah oriental menghampiri.

"Sip. Cus."

"Duileeeeh. Yang mau ketemu idola ganteng banget hari ini. Hahaha" suara seorang perempuan dari kubik depannya meledek. "Biasanya juga kaos sama celana pendek."

"Kampret. Inikan meeting masa iya gue pake baju begitu"

"Iya deh iyaaaa." Cewek itu nyengir lalu kembali bekerja.

Ari senyum simpul. "Gue cabut ya. Bye."

 

*****

 

NADINE (POV)

Aku termanggu melihat jam. Baru jam 15.30.
Rasanya lama sekali menunggu hingga jam 16.00.

Aku sengaja ingin dateng telat. Toh pasti dia juga telat kayak kemaren.

Arrrghhh!! Bodo amatlah. Jalan aja sekarang. Rasa ingin ketemu Abi lebih besar dari yang kukira. Biarin deh gue yang nunggu. Toh gue juga udah biasa menunggu.

Buru-buru kumasukan handphone ke tas. Aku berpamitan dengan salah seorang karyawan sebelum pergi. Kutitipkan butikku padanya.

Aku tersontak melihat dia ada didepanku. Berdiri seperti patung. Menatapku dengan ekspresi bersalah. Dia orang yang tidak ingin kutemui. Dia, orang yang paling aku hindari. Mas Juna.

"Nad kita harus bicara."

Mendengar suaranya sudah bikin hatiku nelangsa. Adegan kemarin selalu saja berputar. Membuka perih itu lagi. Kenapa dia muncul disaat aku bisa melupakannya.

"Maaf mas mungkin lain waktu. Aku ada janji." Aku pergi begitu saja melewati dia.

Aku terkejut begitu dia menarik tanganku. "Kita harus bicara dan aku memaksa." Kalimat itu tegas sekali. Tapi tidak membuatku takut.

"Aku ada janji mas. Aku ga boleh telat."

"Janji? Dengan siapa?" Dia kencangkan genggamannya pada lenganku. Membuatku kesakitan.

"Bukan urusan mas." Ucapku sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.

"Dengan siapa?" Dia bertanya sekali lagi dengan nada geram.

"Mas Juna sakit!" Nadaku meninggi. "Dengan Abi! Puas?!"

Kini dia lepaskan genggamannya. Yakin sekali aku melihat lenganku memerah.

"Aku anterin kamu kesana. Kita bicara dimobil."

Aku menolak namun dia memaksa. Menarikku untuk masuk kedalam mobilnya.

WRITER (POV)

Ari bersama 2 rekannya sudah tiba disebuah restaurant didalam pacific place. Mereka tiba 30 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Kalau dipikir-pikir Hana pasti sangat menghargai waktu mengingat masa traineenya di korea yang sangat menuntut kedisiplinan. Dan itu terbukti.

Hana datang bersama seorang managernya 5 menit sebelum waktu janjian. Dia begitu cantik dengan busana kasualnya menggunakan kaos putih, celana jeans, dan long vest tidak ketinggalan kacamata minus yang bertengger manis diwajahnya. Rambutnya dia biarkan terurai. Make-upnya pun natural. Namun entah kenapa diamata ke tiga cowok didepannya dia cantik sempurna.

"Hai aku Hana." Dia mengulurkan tangan. Memperkenalkan diri pada masing-masing mereka. Sementara managernya menatap heran kearah Hana.

 

*****

 

HANA (POV)

Penampilan standar untuk ketemu orang standar sekali-sekali ga papa kali yaa. Lagipula mana ada cowok yang bisa ngalahin Abi Oppa yang super keren itu.

Aku dengar dari manager gendut disampingku ini mereka mau memberikan naskah dan membicarakan konsep padaku secara langsung sekaligus tanda tangan kontrak. Sejujurnya aku malas ikut. Tapi, berhubung ini projek pertamaku setelah setahun vacum karena harus comeback di Korea. Jadi ga papalah ikut.

Aku melangkah memasuki restaurant dan melihat 3 orang laki-laki sedang duduk bercanda gurau. Mereka tertawa bersama-sama. Namun hanya satu yang menarik perhatianku. Cowok berkemeja maroon.

OMO! Siapa diaa?? Cowok manis itu. He is too sweet.

Candaan mereka terhenti begitu melihatku datang menghampiri meja dan langsung berdiri menyambutku.

"Hai aku Hana." Tanpa basa-basi dan sebenarnya ini bukan kebiasaanku tetapi kuulurkan tanganku padanya terlebih dahulu. Mengajaknya berkenalan. Dia, the cute one.

"Ari." Ucapnya seraya memyambut tanganku.

 

*****

 

ABI (POV)

Jam 5 dan dia belum datang. Sial, kemana lagi tu anak. Bisa-bisanya dia membiarkanku menunggu disini. Arrghh...ini pasti gara-gara rasa penasaran luar biasa. Tapi, kalau dia datang apa yang harus aku bicarakan?

Dia datang 15 menit kemudian. Mencari keberadaanku dan tersenyum begitu melihatku. Seiring langkahnya yang semakin mendekat, aku semakin lupa kata-kata yang sudah kupersiapkan sebelumnya.

"Maaf aku telat." Ucapnya seraya menarik kursi didepanku. "Iiihhh jangan bete gitu dong. Aku kan udah minta maaf."

"Akh!" Kurasakan nyeri dikepalaku. Rasanya seperti tersengat lebah. Sedetik kemudian menghilang namun cenat cenutnya masih berasa. Kubuka topi yang kukenakan dan mulai memijat pelipisku.

"Kamu kenapa Bi?" Nadanya terdengar cemas. Dia pindah duduk disampingku. "Ada yang sakit kah?"

"Ga papa. Palingan efek semalem."

Semalem?
Aku terhenyak sendiri mendengarnya. Jadi teringat niat awalku.

"Nad." Kuberanikan diri melihatnya. "Soal semalem." Kutahan kalimatku karna dia nampak tegang. "Guee... minta maaf yaa."

"Kamu inget semua?"

Aku menggeleng. Dia mendendengus. "Kalau gitu ga usah minta maaf. Minta maaf setelah kamu inget." Ucapnya ketus. Yakin sekali aku melakukan kesalahan besar.

"Mungkin lo bisa kasih tau gue."

 

*****

 

NADINE (POV)

Kasih tau lo?
Ngasih tau sama aja bikin malu diri sendiri.
Ciuman pertama gue direbut sama orang yang ga sadar kalo dia udah nyium gue.

Kalau dia ngga inget semua, berarti dia ngga inget juga soal pernyataan dia kemarin. Kini kutatap dia dalam-dalam. Haruskah aku memanfaatkan situasi ini?

"Sebenernya...kita udah jadian semalem."

"WHAT?!!" Dia terkejut luar biasa. "Lo bercanda."

Aku menggeleng.

"Lupain Juna. Gue akan bikin hidup lo lebih berwarna. Jadi... gimana kalo kita pacaran? Lo maukan jadi pacar gue?" Ku ulang kalimatnya malam itu dan kulihat matanya melebar. "Itu yang kamu bilang. Dan aku jawab iya."

"God! Lo nanggepin itu dengan serius?"

"Kenapa? Kenapa aku ga boleh menanggapinya dengan serius? Kamu nembak ya aku terima."

"Comeon Nadine. Gue lagi mabok. Kalau sadar gue ga bakal ngomong begitu."

Entah kenapa hatiku terasa perih mendengar kalimatnya. 'Kalau sadar gue ga bakal ngomong begitu.' Konyol. Nadine Nadine. Lo ngarep apa sih?

Aku tertawa perih. Lebih tepatnya menertawakan diriku sendiri.

"Bercanda kok. Hahahaha."

"Ha-ha-ha." Dia tertawa garing. Ada keterkejutan didalam ketawanya itu "Sialan lo Nad. Gue kirain beneran."

Aku hanya tersenyum menatap lurus kematanya. Melihat sosok tampan didepanku yang selama ini hanya bisa kulihat ditelevisi. Apa yang sebenarnya aku harapkan darinya? Melihatnya sedekat ini membuatku tersadar. Kami tidak mungkin bisa bersama.

Apa yang dibanggakan dariku? Aku hanya perempuan biasa, dandanan cuek ga ada feminimnya sama sekali, kulitpun masih kalah bagus dengan kulitnya, otak pas pasan. Bila dikatagorikan cantik dari skala 1 sampai 5. Mungkin aku 3.

Ya, bila dilihat-lihat ga ada satupum tipe wanita favoritnya ada dalam diriku. Jadi kesempatanku untuk mendapatkannya masih NOL.

"Abi. Apa aku masih punya kesempatan untuk deketin kamu? Kenal kamu lebih jauh?"

"Apa?"

"Kamu mau kan jadi pacarku?"

___________________________________

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved