Abi & Nadine : Part 5

Author : Audria Pohan

 

HANA (POV)

Aku membaca script dengan teliti. Mencoba meresapi karakter. Mencoba memahami jalan pikirannya. Sebenernya cerita drama web ini standar. Tapi castingnya pasti bisa mendompleng cerita biasa menjadi luar biasa. Bayangkan saja, untuk ukuran web series mereka memasangkan Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Raisa dan Keenan Pearce. Acha Septriasa dan Dwi Sasono. BCL dan suaminya. Lalu, bagaimana denganku. Siapa pasangan mainku?? Kenapa disini ga ditulis?

"Siapa lawan mainku?" Tanyaku langsung.
"Kami masih dalam tahap negosiasi dengan managmentnya Abi. Ternyata cukup sulit untuk membujuknya bermain didrama ini."

Mataku berbinar. "Jadi aku dipasangkan lagi dengan Abi Oppa?? Sungguh??"

Mereka bertiga mengangguk. "Maunya sih begitu. Balik lagi, sulit mendapatkannya."

"Tenang saja. Aku akan membantu kalian. Abi oppa, serahkan saja dia padaku. Aku akan memberi kabar pada kalian 2 hari dari sekarang." Kulihat mata mereka berbinar, kecuali Ari. Kenapa dengan dia? Seharusnya dia merasa senang.

"Kamu." Ucapku pada Ari. "Kenapa ada yang salah?"

Dia segera menggeleng. "Tidak. Terimakasih sudah mau membantu. Aku akan sangat menunggu kabar baiknya."

"Baiklah. Sekarang aku mau ke toilet."

Manager segera berdiri bersiap menemaniku. "Koko tunggu saja disini berbincanglah soal bisnis dengan mereka berdua." Ucapku pada Ko Alvin. Managerku. "Kau!" Kini kutunjuk Ari. "Kau saja yang menemaniku."

Dia terperangah. Sepertinya tidak percaya dengan ajakanku. "Kau yang menemaniku. Cepat!"

Tanpa pikir panjang, dia langsung mengikutiku. Dia diam tak bersuara. Berjalan 10 langkah dibelakangku. Sial. Baru kali ini aku merasa tidak dianggap. Padahal aku sengaja 'menculiknya'.

"Heh kau" ucapku dalam bahasa korea. Aku berbalik kearahnya. Dan sepertinya dia terkejut. "Kamu kayak penguntit tau gak? Jalanlah berdampingan. Kalau mau jalan dibelakangku pun jangan sejauh itu. Aneh sekali."

Kini dia mendekat. Perlahan tapi pasti terus mendekat hingga berhenti tepat didepanku.

Tuhan, ternyata dia tinggi juga. Aku sampai harus dongak agar bisa melihatnya. Omooo. Dilihat dari dekat dia makin manis.

Hei Hana sadarlah apa yang kau pikirkan.

"Maaf. Aku hanya ngga mau kamu kena gosip karna aku jalan disamping kamu."

Oh my God. Dia memikirkanku sampai sebegitunya. Padahal aku sendiri ga kepikiran sama sekali.

"Bener juga. Oke. Jalanlah tiga langkah dibelakangku."

Benar saja dia mengikuti perintahku. "Tunggu disini. Awasi. Jangan sampai ada pria yang masuk kedalam toilet. Mengerti?" Dia mengangguk.

Didalam toilet, aku bercermin. Merapikan penampilanku. Menambah bedak, blush on, dan lipstik.

"Aaaah seharusnya aku tetap dandan maksimal. Pakai pakaian maksimal. Makeupku. Aishhh. Pucat sekali. Bajuku kali ini juga kurang seksi. Ahhhh! Dia mana tertarik dengan pakaian tertutup seperti ini." Kutampar pelan tepat diwajahku. "Hana kau pasti sudah gila! Tapi dia cute sekali." Aku nyerocos sendiri dalam bahasa korea.

Setelah kurasa puas dengan makeupku aku pun keluar. Begitu keluar entah kenapa DIA TERLIHAT KEREN SEKALI!! Ya Tuhan. Padahal dia hanya bersandar ditembok menghadap ke toilet wanita dan langsung tersenyum begitu melihatku.

"Sudah selesai?" Ucapnya begitu aku berdiri didekatnya yang ku jawab dengan sebuah anggukan kecil. Kini dia mengisyaratkanku untuk jalan duluan dengan gerakan tangannya.

Kudengar bunyi telepon dari arah belakang.

"Halo." Ari menjawab telepon itu. Diam diam aku menguping.

"Ingetlah. Mana mungkin gue lupa. Kenapa? Hah, Serius lo? Disini? Oke, thanks infonya bro."

"Siapa?" Tanyaku. Sedetik kemudian aku menyesal menanyakan itu.

"Teman. Dia ngabarin sesuatu." Dia menjawab pertanyaanku tapi matanya terus melihat layar hpnya. Dan makin terkejut saat dia menerima sebuah foto. Aku coba mengintip foto sedikit. Sebuah foto seorang laki-laki dari kejauhan. Memandang kearah seseorang. Bisa dibilang mengamati.

"Hana ini urgent banget. Kamu ga papa kan balik ke resto sendiri?"

What the hell. Berani-beraninya dia meninggalkanku sendiri. "Ga mau. Aku ikut aja. Sepenting apa sih?"

"Oke." Dia langsung menggandeng tanganku dan menyeretku hingga depan resto.

"Sekarang kamu udah sampe. Aku pergi dulu sebentar. Urgent." Tanpa babibu dia langsung pergi.

"Hyaa!" Teriakku. Dia masih ga ngegubris. Seurgent apa sih urusannya? Bikin penasaran saja.

 

*****

 

ARI (POV)

Seseorang yang meneror Kakakku sudah bebas dan dia berada di tempat ini. Di mall ini sedang mengamati kakakku. Aku tahu dari sahabatku yang bekerja digedung ini. Dia melihat orang itu. Si Saiko. Tian.

Bukti ini jelas. Dari posturnya bahkan tatapan matanya. Dia seperti akan menerkam kakakku. Aku tidak boleh membiarkan mimpi buruk itu terulang kembali.

"Gue bersumpah akan balikin lo ke penjara kalo lo berani deketin kakak gue." Ucapku tegas begitu berdiri tepat dibelakangnya.

Dia berbalik. Terkejut melihatku kemudian tersenyum. Senyum itu. Senyum licik penuh dendam.

"Waaah sudah lama yaa, calon adik ipar. Apa kabar, Ari?"

Dia berubah. Sangat berubah. Setelan jas yang dikenakannya serta rambut pomadnya. Jelas sekali taraf hidupnya meningkat. Tapi bagaimana bisa?

"Gak sudi gue punya kakak ipar saiko kayak lo!"

"Hahahaha. Saiko." Dia tertawa. Tertawa penuh kemunafikan. "Disekitar lo ada yang lebih 'saiko' daripada gue. 2 tahun gue dipenjara atas kesalahan yang sama sekali ngga gue lakuin. Apa menurut lo gue akan diem aja? Sorry bro."

"Sekali lagi gue peringatin! Jangan pernah deketin kakak gue lagi. Kalo gue liat ada lecet ditubuh kakak gue, gue akan kirim lo langsung ke Cipinang."

Dia terdiam kemudian tersenyum.

"Ari Ari. Sekarang lo udah besar yaa. Udah berani buat lindungin kakak lo. Udah jadi laki sekarang." Dia terkekeh. "Well, coba lo liat gue sekarang. Gue bukan cowok 3 tahun lalu yang lo kenal. Sekarang gue mapan, tajir, gue punya semuanya. Gue bisa beliin apapun yang lo mau. Mobil sport lo tinggal tunjuk. Gue bayar mobil itu buat lo. Sekarang, gue punya kantor di Kasablanka. LT Group. Property, perminyakan, dan batubara, itu semua punya gue. Kalau lo ngga percaya, lo bisa mampir lihat sendiri."

Aku terdiam. Mustahil.
Kini dia mengetik sesuatu dihandphonenya. Tak lama dia perlihatkan apa yang dicarinya padaku.

Kubaca judul sebuah artikel online mengenai dirinya.

10 pengusaha muda under 40 dengan kekayaan yang melimpah.

Bohong.
Aku melihat namanya tertulis disitu dan dia diurutan ke-9.

"Terkejut? Kok bisa? Hanya dalam kurun waktu 2 tahun? Mustahil bukan?" Dia berucap bangga. "Seorang mantan napi tiba-tiba jadi milyarder. Awalnya gue kira mustahil. Tapi Ga ada yang mustahil didunia ini bro. Termasuk milikin Nadine. Dia motivasi gue. Dia alasan gue bisa berdiri di titik ini."

Aku masih terdiam. Mendengarkan.
Dia tidak berubah sama sekali. Masih terobsesi pada kakakku.

Kini dia mendekat. "Gue bukan lagi gue yang dulu." Dia menepuk-nepuk bahuku. "Salam buat mbamu ya. Cepat atau lambat gue akan bertemu dia."

Kujauhkan tangannya dari bahuku. "Apa lo pikir kakak gue bakalan silau sama harta lo? Lo saiko dan akan seterusnya begitu."

Giginya gemertak. Yakin sekali dia kesal padaku.

"Inget ini baik-baik. Sedikit aja lo deketin kakak gue apalagi sampe bikin dia terluka. Gue bakal bikin lo cacat seumur hidup lo. Paham?"

Dia malah tertawa.

"Untung lo calon adik ipar gue. Gue akan bersabar buat lo. Tapi, gue ga janji kalo gue bisa bersabar dengan penyanyi itu. See you calon ipar."

Dia tersenyum. Tapi senyumnya memiliki seribu makna yang aku sendiri tidak mengetahuinya.

"Argh! Brengsek! Seharusnya tu orang dipenjara seumur hidup! Atau masukin kerumah sakit jiwa sekalian."

Aku terdiam sesaat didepan restoran itu. Kulihat kakakku dari kejauhan. Dia sedang berbincang dengan Mas Abi. Sepertinya membicarakan hal serius.

"Mbaa mba. Kenapa orang-orang dari masa lalu lo dateng disaat bersamaan sih?"

 

*****

 

ABI (POV)

"Kamu mau kan jadi pacarku?"

Aku seperti kejatuhan granat yang siap meledak. Kagetnya minta ampun. Si Nadine sakit, gila apa gimana sih? Bisa-bisanya dan mudah sekali dia mengatakan hal itu dan menunggu reaksiku dengan sabar.

Tapi, haruskah aku mengiyakannya? Mungkin bukan hal buruk kalau kami berpacaran. Lagi pula kata-kata Novan terus terngiang diotaku.

Membuka hati untuk orang lain. Apa membuka hati untuk Nadine adalah keputusan yang tepat? Mungkin dia hanya mencari pelampiasan. Atau aku bisa berpacaran dengannya untuk membuat Risa kehilangan diriku. Untuk membuatnya sadar akan pentingnya diriku. Sial! Bukankah memang itu niat awalku dekat dengan Nadine? Lalu kenapa aku harus berfikir sangat keras seperti ini. Kalau menjawab 'iya' aku yakin semua tujuan awalku bisa terlaksana. Tapiii, apa iya aku sejahat itu untuk memanfaatkan Nadine dan membuatnya terluka?

"Nad..." sial aku bingung harus memulai darimana. "Kayaknya lo terlalu terburu-buru mengatakan itu. Apa ada sesuatu yang mendorong lo mengatakan itu? Apa Juna dateng lagi nemuin lo?"

Dia mengangguk lemah. Sudah kuduga pasti ada pemicunya. "Dia ngomong apa sama lo?"

 

*****

 

NADINE (POV)

Aku terhenyak Abi bisa menebaknya dengan tepat. Apakah kelihatan? Apakah aku ga bisa berakting senatural mungkin? Tuhan, apakah aku harus menceritakan yang sebenarnya?

"Tadi, sebelum berangkat Mas Juna datang ke butikku. Dia mau membicarakan sesuatu." Kuputuskan untuk memceritakan kegundahanku.

"Membicarakan apa?"

"Entahlah aku bingung. Saat itu otakku sulit sekali mencerna. Mungkin terlalu shock. Tapi ada satu hal yang kutangkap."

"Apa itu?"

"Dia bilang dia pernah menyukaiku. Dulu. Dulu sekali." Aku terdiam beberapa saat. Kulihat mata Abi melebar. "Kenapa dia harus memberitahuku hal itu, padahal dia tau dan sadar betul saat ini hatinya ada diperempuan lain? Kenapa dia membicarakan perasaannya dimasa lalu padahal dia tau saat ini aku menyukainya? Ini... aneh dan menyebalkan. Kalau dia mau nolak aku ya bilang aja langsung ga usah cerita kalo dia pernah suka. Dia ga tau apa kalau itu nyakitin?"

"Mungkin dia punya alasan sendiri kenapa mengatakan itu. Mungkin karna lo shock jadi ga bisa mencerna alasan yang sebenarnya. Kadang logika kalah sama perasaan."

Apa yang Abi bilang benar. Aku merasa aku hilang fokus setelah dia mengatakan pernah menyukaiku. Mungkin aku butuh waktu untuk mencernanya dengan baik. Mencoba mengingat-ingat kalimatnya.

"Iya. Mungkin Bi."

 

*****

 

ABI (POV)

Juna berani terus terang soal perasaannya yang dulu dia punya terhadap Nadine. Mungkinkah dia benar-benar ngga memiliki perasaan apapun terhadap Nadine saat ini? Ah masa sih? Lalu reaksinya kemarin apa?

Kalau dia benar-benar menolak Nadine -padahal tanpa perlu menjawab pun kita semua tau jawabannya, tapi kenapa dia melotot kearahku saat Nadine kuseret pergi?

Aku yakin sekali kalau dia masih menyukai Nadine jauh dilubuk hatinya yang paling dalam. Hanya saja dia belum menyadarinya karena Risa.

Tunggu, kalau dia merasa cemburu dengan kedekatanku dan Nadine, bukankah ini peluang? Peluang buat rebut Risa dari dia. Peluang untuk membuatnya menyadari perasaannya juga membuat Risa -mungkin, menyadari bahwa aku penting dihidupnya.

Haruskah aku menjadikan Nadine pacar bohongan?

Yailah Biiii, terlalu sinetron. Drama. Lo ngga mau kan terlibat cinta yang rumit sama Nadine? Awalnya pura-pura eh ga taunya malah cinta beneran. Terlalu picisan. Aku harus memikirkan cara lain yang ngga boleh terlalu menyolok. Tapi apaaaa?

"Eh kita nonton yuk Bi!" Aku reflek menoleh kearahnya. "Aku mau nonton London Has Fallen tapi ga ada temen."

 

*****

 

WRITER (POV)

Abi melihat sekeliling cinema. Matanya berputar mengamati situasi sedangkan Nadine masih menunggu cemilan. Dia coba memaksimalkan topinya. Karena seandainya saja topi hitamnya itu bisa menutupi seluruh wajahnya, dia pasti sudah melakukannya.

Cukup riskan baginya berada ditempat umum apalagi kalau dengan cewek. Bisa-bisa besok pagi wartawan infotaiment sudah berada didepan rumah dan kantor labelnya untuk meminta konfirmasi. Dia ingat betul ketika fotonya bersama Risa tersebar. Kejadiannya pun sama, ketika mereka berdua lagi nonton. Besok paginya wartawan sudah berada didepan rumahnya. Membuat kegaduhan. Sejak saat itu dia memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tuanya dengan pindah ke apartment.

"Harusnya sih aman." Ucapnya.

"Apanya yang aman?" Nadine bertanya sambil celingak celinguk. Dia datang dengan membawa 2 minuman dan satu popcorn ukuran sedang yang dihampit antara perut dan tangan. Dengan sigap Abi mengambil 2 minuman dari tangan Nadine. Karna jelas sekali Nadine agak kualahan membawanya.

"Udah dapet tiketnya?"

Nadine mengangguk senang. "Jam 19.15. Masih ada 10 menit lagi. Kita duduk disana kali yaa."

Abi tidak banyak membantah. Dia mengikuti kemana Nadine pergi.

Dari kejauhan, ada seorang pria berjas rapi mengamati mereka berdua. Ujung bibirnya terangkat, membentuk satu seringai sinis. Dia seruput minuman yang dibelinya.

Kekesalan terlihat dalam ekspresi diamnya. Ingatan flashback beberapa saat yang lalu menjadi dasar kekesalannya. Sebuah memori ketika Nadine yang jelas-jelas menatapnya saat mengantri membeli cemilan malah langsung melengos tanpa memperlihatkan ekspresi apapun. Apapun! Entah itu terkejut, marah, atau takut. Padahal cowok berjas itu ikut mengantre tepat dibelakangnya.

"Sepertinya kamu melupakanku, Nadine. Tapi cepat atau lambat aku akan bikin kamu ingat siapa aku. Aku, Tian. Calon suamimu."

 

*****

 

NADINE (POV)

Jantungku tak berhenti berdegup kencang sejak Abi mengiyakan ajakanku. Tuhan, sungguhkah hanya dia yang bisa mengalihkan pikiranku dari Mas Juna? Karena saat aku berada disampingnya aku benar-benar bisa melupakan Mas Juna. Dan, ini sungguh seperti mimpi. Awalnya aku tidak percaya kalau aku bisa nonton berdua dengan Abi. Sejak antri membeli tiket aku tak berhenti mencubit lenganku, bahkan sering kali menoleh kearahnya hanya untuk memastikan dia nyata atau hanya ilusiku saja. Tapi dia terus berdiri ditempatnya, mengamati sekitar.

"Makasih ya Bi. Udah iya-in ajakan aku." Kubuka pembicaraan yang hanya dibalas dengan senyuman berlesungnya itu. "Aku boleh minta foto bareng ngga? Hehehe maaf ya ngelunjak."

Dia hanya mengangguk. Dengan sigap aku langsung siapkan camphone dan kami pun berpose dengan 4 gaya yang berbeda. "Thankyouuuu..." aku tak bisa menyembunyikan rasa senangku. Setidaknya, dengan foto ini, saat aku membuka mata, dia nyata.

Aku tersenyum sendiri melihat hasil fotonya.

"Sejak kapan lo ngefans sama gue, Nad?" Abi akhirnya menanyakan sesuatu padaku.

"Entahlah. Aku ngga bisa mengingatnya. Ibu bilang sih sejak awal kamu debut." Dia memandangku penuh tanya. "Coba kamu lihat ini." Aku membelakanginya untuk menunjukan sebuah bekas jahitan dibelakang kepalaku. "5 tahun yang lalu aku kecelakaan. Katanya terjatuh dari tangga dan kepala belakangku ini terbentur. Dokter bilang aku beruntung bisa selamat. Tapi gara-gara ini aku kehilangan memori permanen. Untungnya hanya beberapa tahun kebelakang jadi aku masih tau siapa aku, siapa keluarga aku, dan siapa teman-teman aku."

 

*****

 

ABI (POV)

Ya aku melihatnya. Sebuah luka dengan jahitan yang cukup banyak. Yakin sekali dia terluka sangat parah.

Aku pun memiliki luka yang sama. Tepat disebelah kanan kepalaku. Luka dengan jahitan yang menyerupai Nadine. Hanya saja tidak separah dia.

Bekas jahitan ini karena ulah seorang haters. Dia menculikku dan memukul kepalaku dengan balok. Berita itu sudah muncul dibanyak media. Karena hal itu pula konserku batal. Pelakunya sudah dipenjara, hanya saja aku tidak diperbolehkan untuk melihat pelakunya dengan alasan keselamatanku.

Kini kurapikan kembali rambut hitamnya agar menutupi bekas jahitan. Aku hanya bisa menepuk bahunya. Semoga dia bisa mengerti maksudku.

"Kadang aku ngerasa ini semua kayak mimpi, Bi." Kini Nadine sudah berbalik menghadapku. "Dimana suatu hari nanti aku akan terbangun."

"Maksudnya?"

Bukannya menjawab dia malah menyentuh wajahku lalu tersenyum. Hanya saja entah kenapa aku merasa senyum itu mengisyaratkan kesedihan.

 

*****

 

NADINE (POV)

Tuhan, maafkan kemarukan hamba-Mu ini. Aku ingin sekali memiliki orang didepanku ini. Seseorang yang dekat tapi terasa saaaaangat jauh.

Secara sadar aku mendekatkan jemariku pada wajahnya. Dia sempat tersentak tapi tidak menolak. Aku hanya diam, tersenyum kearahnya.

Dia dekat dan dia nyata. Dia duduk didepanku dan aku bisa merasakan kulitnya. Ya, hanya disampingnya aku bisa merasakan debaran aneh dan bisa melupakan semua masalahku, aka. Mas Juna.

Fix Nad, kamu harus bikin Abi jadi milikmu gimanapun caranya.

"Kalian juga disini?"

Suara itu bikin ototku menegang serta memberikan reflek kasar dari orang didepanku. Abi tepiskan tanganku mentah-mentah kemudian berdiri. Suara Risa membuatnya sigap seketika. Entah ini hanya perasaanku saja atau dia memang ngga mau ketahuan. Tapi kurasa Abi menyukai Risa. Ya Tuhan, kenapa hatiku kembali mencelos?

Aku berdiri perlahan. Mempersiapkan mental sebelum berbalik kearah mereka. Ya, mereka. Mas Juna dan Risa.

"Kalian nonton juga? Nonton apa?"

"Conjuring." Jawabku seraya membalikan badan.
Benar saja, mas Juna ada disamping Risa sambil menggandeng tangannya. Aku benci melihatnya.

Jujur, Aku tidak kaget dengan keberadaan mereka, karena mas Juna janjian nonton disini dengan Risa. Aku mendengar percakapan mereka di telepon saat mas Juna mengantarku. Hanya saja kupikir mereka akan nonton yang malam.

"Sama dong. Nonton yang jam berapa?" Yakin sekali Risa mencoba mencairkan kekakuan yang ada.

"Sekarang." Aku terkejut, Abi menarik bahuku masuk kedalam rangkulannya. "Ayo. Theaternya udah dibuka." ucapnya seraya menggiringku menuju theater.

 

******

 

RISA (POV)

Kami melihat mereka pergi begitu saja tanpa basa-basi. Abi, ga biasanya dia seperti itu. Entah kenapa dia jadi dingin.

Kini kulihat orang disampingku. Matanya masih belum lepas dari mereka berdua.

"Apa masalah kamu dan Nadine sudah clear Mas?"

"Entahlah. Yang aku tahu, kami ngga mungkin bisa sedekat dulu."

Aku menghela nafas. Jujur, inilah yang aku takutkan. Hancurnya persahabatan hanya karena cinta. Aku ngga mau kehilangan Abi. Tapi, dengan sikap dinginnya itu bukankah aku sudah kehilangannya?

 

*****

 

ABI (POV)

Kami sudah duduk dikursi kami. Kulihat Nadine, dia sibuk mengetik sms sambil mengunyah popcorn. Lucu sekali melihat dia berusaha mengunyah dengan mulut penuh popcorn. Mirip tupai. Hahaha.

Kulihat sekeliling. Syukurlah penontonnya tidak terlalu banyak. Tapi, tunggu, ada seorang pria berjas yang melihat kearahku sambil berjalan menuju kursinya. Matanya tak lepas melihat kearahku. Ngeri juga diliatin seperti itu. Jangan-jangan gay.

Reflek ujung mataku mengikuti gerakannya dan dia masuk raw dibelakangku. Shit, dia duduk tepat dibelakang Nadine.

Aku menoleh sepintas, wajahnya tidak asing tatkala sebuah seringai nampak diwajahnya. Senyumnya mengerikan.

"Maaf mas itu bangku kami." Sekelompok anak muda datang. Memberikanku ruang untuk bernafas. Buru-buru kusembunyikan wajahku sebelum salah satu dari mereka mengenaliku

"Oh sorry sorry." Suaranya terdengar dari arah belakang. Mungkin sekarang dia sudah menuju kursi yang sebenarnya.

Lampu sudah dipadamkan. Tapi cahaya masih nampak dari orang disebelahku. "Nad filmnya udah mau mulai loh."

"Oh iya Bi. Sebentar." Dia masih serius mengetik.

"Linean sama siapa sih?" Astaga. Kenapa juga aku harus tau. Itukan bukan urusanku.

"Ari. Dia bawel banget dari tadi." Dia berucap gemas sambil mengetik.

"Ya udaah lo bilang aja lagi nonton, tar sms lagi. Silaw tau."

Ujung mataku menangkap seseorang duduk disamping Nadine. Seorang pria berjas. Loh, bukankah dia orang yang dibelakangku tadi? Dia melihat kearahku dengan seringainya itu. Hiiiiiy, apa sih maunya?

"Iyaa maaf." Ucapan Nadine seperti angin lalu. Seringai orang itu menghilang seiring cahaya handphone Nadine yang padam.

Adegan sudah dimulai.
Sementara para aktor asik berlakon, otakku tak henti memikirkan orang disebelah Nadine. Dia nampak tidak asing.

Oh! Astaga! Bukankah dia orang yang tadi ada diresto? Ya aku ingat sekali dia terus melihat kearah kami. Tunggu, dia juga ikut mengantri tiket dan makanan tepat dibelakang Nadine. Ya, dia sudah mengawasi kami sejak tadi.

"Tukeran tempat Nad." Bisikku pada Nadine.

"Kenapa?"

"Tuker tempat."

Tanpa banyak bantah akhirnya dia menuruti permintaanku

"Bisa gue liat tiket lo." Ucapku tanpa basa basi pada orang itu. Dia terkejut. "Gue hanya mau memastikan lo duduk ditempat yang benar."

Seringai kembali terlihat. Kini dia keluarkan tiketnya. Ternyata benar. Dia duduk dibangku itu dan dia dia adalah seorang stalker. Entah dia mengikutiku atau Nadine. Tapi yang jelas, dia mengerikan.

Kukembalikan tiket itu padanya tanpa banyak kata-kata. Kurang lebih 10 menit aku mencoba untuk menikmati film namun nihil. Hatiku ngga tenang.

"Nad, kita cabut." Kugenggam tangannya dan menyeretnya keluar theater. Masa bodoh dengan pria berjas yang melihat kearah kami.

"Gue janji kita akan nonton film ini lagi dan gue yang bayar." Ucapku saat sudah berada diluar.

"Iyaa tapi kenapa tiba-tiba, Bi?"

"Lo ngga sadar ada orang freak yang stalkingin kita dari tadi?" Nadaku meninggi.

"Stalker?"

"Iya. Terlalu bahaya. Lebih baik kita cabut sekarang. Gue anter lo pulang."

Handphoneku berbunyi. Sebuah sms masuk.

Mas Abi, gue Ari adiknya Nadine.
Gue boleh minta tolong sama lo mas. 
Jangan anterin Mba Nadine balik kerumah.
Call gue kalo lo udh kelar nonton. Thanks.

Tanpa pikir panjang aku langsung meneleponnya sambil berjalan menuju parkiran. Menggenggam Nadine agar tidak terlepas.

"Halo Ri. Gue harus anterin kemana kalo bukan kerumah?"

"Anter ke xxxhotel. Gue ninggalin 2 akses disana. Roomnya nanti gue sms. Lo bisa masuk bergantian. Gue udah standby di room. Lo hanya perlu make sure ga ada yang ngikutin lo mas."

"Apa ini ada hubungannya dengan pria berjas itu?"

"Kok lo tau?!" Ari terkejut bukan main.

"Dia ngikutin gue dan Nadine dari awal gue makan sampe dibioskop ini."

"Ah sinting tuh orang!" Ari mengumpat kesal. "Gue titip kakak gue ya. Pastiin dia ngga ngikutin lo sampe kesini."

"Oke."

Baru kali ini ada stalker yang frontal seperti dia. Sekarang aku tau yang dia incar bukanlah aku, tapi Nadine. Dan itu berarti dia dalam bahaya.

 

*****

 

WRITER (POV)

Mobil Abi sudah terparkir sempurna. Mereka tiba dengan selamat meskipun Abi sempat was was dengan mobil yang 'mengikutinya'. Padahal itu cuma perasaannya aja. Si penguntit tidak terlihat sama sekali.

Mereka berdua terdiam. Keawkwardan sangat terlihat diantara mereka.
Hotel adalah tempat yang sensitif. Meskipun mereka ga ada niat apapun tapi tetap saja orang mana peduli. Terlebih Abi adalah seorang publik figure. Bisa kacau dunianya kalau sampai hal ini tersebar.

"Aku yang akan ambil aksesnya." Ucap Nadine. Dia langsung turun dari mobil. Tak lama dia kembali memberikan akses itu kepada Abi.

"Aku naik duluan. Aku kabarin kamu kalau udah dikamar ya."

"Oh. Iya. Oke." Suara Abi terdengar makin awkward. Kata kamar membuat mereka berdua bergidik ngeri. "Hati-hati ya Nad. Takutnya lo diculik."

Nadine tersenyum menaha tawa. "Iyaaa... See you."

 

*****

 

NADINE (POV)

Kamar 510.
Kuketuk pintu, sedetik kemudian pintu langsung terbuka. Ari sudah ada didepan mataku.

"Mba ngga papa kan? Ga dilecetin kan?" Ucapnya seraya mengecek kondisi badanku.

"Kamu lebay deh. Kenapa sih kok kayaknya 911 stuation banget?"

"Emang iya. Mas Abi mana?"

"Nanti nyusul. Eh cerita dong ada apaan sih? Abi ngga mau cerita."

"Nanti nunggu mas Abi ya."

Abi datang 10 menit kemudian. Dia masuk dan langsung membuka topi serta jaketnya. Kini dia hanya mengenakan kaos putih polos dengan rambutnya yang turun tanpa polesan pomad sama sekali. Dia tetap charming meski tanpa pulasan makeup dan gaya berkelasnya itu. Yap inilah salah satu bentuk off dutynya Abi. Jujur, aku ingin melihat lebih banyak lagi.

"Jadi Nadine bakal stay disini? Sendirian?" Dia membuka pembicaraan setelah duduk manis diatas kasur.

"Ngga. Gue juga stay disini kok mas." Ucap Ari. "Aku udah bawa bajunya mba. Kita stay disini 3 hari. Aku juga udah bilang sama ibu dan bapak kalau mba disini."

Aku hanya mengangguk. "De sebenernya dia siapa sih? Kok kamu sampe segininya?"

"Namanya Tian mba. Dia yang udah ninggalin bekas jaitan dikepala mba."

Aku menganga. Ini bertolak belakang dari apa yang kuketahui selama ini.

"Serius?! Jadi jaitan dikepala Nadine itu ulah dia?" Abi terkejut.

"Mas Abi udah tau soal jaitan dikepala Mba Nadine?" Ari terdengar exited. Karena matanya berbinar.

Abi mengangguk. "Nadine sempet cerita tadi."

"Oooh." Mood Ari mendadak turun. Kini dia berikan handphonenya padaku dengan foto seorang pria dilayar. "Kalau mba lihat dia berarti mba harus ekstra hati-hati. Teriak atau menghindar terserah mba. Mungkin mba lupa, tapi memang dia yang ninggalin bekas jahitan dikepala mba dan bikin mba koma selama seminggu."

"Jadi ini bukan karena jatoh?" Aku mengklarifikasi.

"Bukan. Itu hanya cerita yang kita bikin supaya mba ngga shock pasca koma. Tapi aku rasa mba sudah seharusnya tau apa yang sebenarnya terjadi." Keadaan hening. "Sore tadi aku bertemu dengannya. Dan aku rasa dia ngga berubah. Dia masih terobsesi pada mba. Dia tipe orang yang bisa melakukan apapun. Termasuk mencelakai orang lain. Mas Abi juga berhati-hatilah. Bisa saja dia mengincar mas karna kedekatan kalian."

Ini gila!! 
Apakah itu berarti semua orang terdekatku dalam bahaya? Termasuk Tata, Mas Juna, keluargaku, dan Abi?

 

*****

 

ABI (POV)

Terperangah mendengarkan cerita Ari.
Ngga nyangka kalau Nadine memiliki kisah seperti itu. Dikejar-kejar denga psyco yang terobsesi padanya. Sangat mengerikan mengingat dia adalah seorang perempuan. Tidak adakah seseorang yang melindunginya saat itu? Pacar? Sahabat? Juna?!

"Makasih buat hari ini yaa. Kamu udah jadi ksatria berkuda putih buat aku. Hihihi." Ucapnya didepan pintu kamar seraya mengantarkanku.

Kutatap dia dalam diam.
Dia aneh. Bukankah seharusnya dia merasa cemas atau bahkan takut? Tapi ini malah tersenyum lebar seperti itu seolah tidak ada masalah.

"Eh, Bi."

"Ya?"

"Kitaaa. Maksudnya aku bolehkan nemuin kamu atau mungkin hubungin kamu kalau situasi ini sudah terkendali? Karna aku rasa lebih baik kita ngga usah bertemu dulu untuk sementara waktu. Ini untuk keselamatanmu juga."

Ucapannya membuatku terdiam. Berfikir apakah aku harus mengiyakan atau menolak. 

Jujur, disatu sisi aku merasa takut akan terkena imbas dari permasalahan ini. Rasanya ingin melarikan diri dan menjauh sejauh mungkin dari Nadine. Menjaga jarak dengannya. Haruskah aku begitu? Dan bukankah saat ini dia punya seorang adik pemberani yang bisa melindinginya? Dia tidak memerlukan diriku.

Tapi kenapa, kenapa dia membuatku berada diposisi sulit seperti ini? Kenapa dia bisa membuatku bimbang untuk mengambil keputusan? Haruskah gue disampingnya atau malah pergi menjauh dari dia? Toh sebenernya gue kan ga deket-deket amat sama Nadine! Tapiiii... 

Arrgghhh Abi lo kenapa sih sebenernya?!

"Nad," Kuambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "dia udah liat kita makan bareng, nonton bareng, bahkan gandengan tangan." Kuraih sebelah tangannya menggenggamnya. "Apa mungkin dia ngga mikir ada sesuatu diantara kita? Mungkin orang awam akan menganggap kita pacaran."

Nadine diam. Menatapku penuh tanya. "Iya juga sih." Suaranya lemah. Raut wajahnya berubah. Seolah memikirkan sesuatu.

"Gue udah terlanjur masuk dalam kehidupan lo Nad. Jadi menurut gue ga ngaruh gue ada dideket lo atau gue jauh dari lo toh ujung-ujungnya dia tetep ngincer gue."

"Tapi kan Bi, kalo kamu ga berkeliaran disekeliling aku kamu akan aman."

"Who care. Pokoknya kita hadepin sama-sama ya. Kalo lo liat dia langsung telepon gue atau Ari. Oh apa perlu gue sewa bodyguard buat lo?"

Dia tertawa. "Ga usah lebay pake sewa bodyguard segala."

"Atau mau belajar kungfu?"

"Hahahaha. Ga usaaah. Aku bisa jurus judo."

"Oh."

"Pulang gih udah malem."

"Iyaaa. Lo hati-hati yaa, Nad."

"Kamu juga hati-hati ya. Kabarin kalau udah sampe."

Aku pergi. Melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. Disela menunggu lift aku kembali mengingat saat pamitan tadi. Lucu. Membuatku menahan tawa. Tingkah kami seperti orang pacaran saja. Aku yakin, sekarang dia pasti menunggu kabar dariku dan karena itu aku harus mengabarinya.

Teleponku berdering. Kurogoh saku celanaku untuk mengambil Iphone 6 ku. 

Nama Risa yang tertera dilayar membuatku terpaku sesaat sebelum akhirnya mengswipe layar untuk menjawab.

"Ya, Ris? Kenapa?"

"Abi aku baru sampai rumah."

"Oke. Lalu?"

"Ada cowok yang ngikutin mobil aku dari awal aku keluar mall." Kudengar suara Risa bergetar. "Sekarang dia lagi berdiri didepan rumah aku, Bi. Aku harus gimana? Aku takuutt. Dia terus ngeliatin rumah ini."

"APA?! Lo udah ngunci rumahkan? Semua pintu udah lo kunci kan?"

"Udaaaaah." Kudengar isakan pelan diseberang sana. "Aku takuut Biii."

"Gue kesana sekarang!"

 

To be continue...

 

_______________________

 

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved