Abi & Nadine : Part 6

Author : Audria Pohan

 

WRITER (POV)

Abi memacu mobil BMWnya dengan kecepatam tinggi. Buku-buku tangannya memutih seiring semakin dalam pedal gas yang diinjaknya. Pikirannya berkecamuk. Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Risa? Apa yang diinginkannya dari Risa?

BUK!!

Dia limpahkan kekesalannya pada stir dan semakin memacu gasnya. Beberapa mobil dia salip layaknya pembalap F1. Jarum speedometernya merujuk ke angka 120 km/jam. Dia tidak peduli sudah melanggar batas kecepatan di jalan tol. Karena bila dia tidak cepat, seseorang mungkin dalam bahaya.

Kini mobilnya sudah terparkir sempurna didepan rumah Risa. Dengan gesit dia matikan mesin, melepas seatbelt, mencabut kuncinya, lalu keluar dari mobil dan menguncinya.

Dia amati sekeliling jalanan. 
Sepi. Tidak ada orang. Didepan rumah Risa juga tidak ada satupun mobil yang parkir.

Mungkin dia sudah pergi. Pikirnya.

Buru-buru dia menuju gerbang rumah. Membuka gembok dengan kunci duplikat yang diberikan Risa. Badannya kaku seketika ketika dia mendengar suara langkah sepatu pantofel berjalan pelan kearahnya.

 

ABI (POV)

Suara langkah itu semakin mendekat seiring jantungku yang berdebar cepat.

"Ternyata bener dugaan gue." Suara seorang pria terdengar dari arah belakang. Dengan cepat aku berbalik. Brengsek. Benar saja. Si psyco berdiri sempurna 10 langkah didepanku dengan seringai sinis menghiasi wajahnya. "Elo yang dia hubungin, bukan pacarnya."

"Sebenernya mau lo apa sih?"

"Lo cepet tanggep juga ya." Dia berjalan mendekat. Maju dua langkah kedepan. "Pilihan lo cuma dua. Take care your precious bestfriend or leave Nadine alone."

"Kenapa lo harus libatin Risa dimasalah ini?!" Suaraku meninggi.

"Choose, Nadine atau Risa?" Dia masih dengan tenang memasukan kedua tangan kedalam saku celananya.

"Lo ga ada hubungan emosi apapun dengan Nadine kan? Jadi, apa yang membuat lo susah buat kasih jawaban kalo lo sendiri tau dimana sebenernya hati lo berlabuh?" Seringai sinis itu nampak lagi.

Lagi-lagi aku terhimpit. Apa yang psyco bilang itu ada benarnya juga. Saat ini, siapakah yang lebih penting dan siapakah yang paling ingin kulindungi?

Seharusnya itu jawaban yang mudah.

"Jadi, siapa yang lo pilih?" 

 

NADINE (POV)

Kenapa dia lama sekali. Hampir 2 jam berlalu tapi ga ada kabar. Apakah terjadi sesuatu padanya? Tuhaan... tolong lindungi dia.

Kucoba untuk menelponnya kembali namun masih ga diangkat. Apa jangan-jangan dia bertemu dengan psyco itu? Abiiiii please kabarin sesuatuuuu.

Kali ini aku kirim line. Harap-harap cemas menunggu balasannya. Sayang, setengah jam berlalu tapi tak ada satupun balasan darinya.

Apakah dia langsung tidur? Tapi dia sudah berjanji akan mengabariku. Apakah dia berubah pikiran? Aduuuh Abiiii kamu dimanaa siih?

 

ABI (POV)

Memandangi Risa yang tertidur pulas membuatku tenang. Genggaman tangan ini ngga lepas sejak awal aku memasuki rumahnya. Dia ketakutan. Sangat ketakutan. Sekujur tubuhnya gemetar matanya sedikit sembab karna nangis.

"Kenapa kamu meneleponku bukannya menelpon Juna? Kenapa, Risa?" Tanyaku padanya walaupun aku tahu dia tidak akan menjawab.

Sial, aku jadi teringat kata si psyco itu. 
"Kalau gue jadi lo, gue akan nanyain langsung ke dia. Kenapa lo nelepon gue? Kenapa lo hanya ngabarin ini ke gue? Memang lo ga penasaran dengan jawabannya?"

"Ya gue ingin denger jawabannya."

Handphoneku bergetar. 
Telepon dari Nadine entah yang sudah keberapakalinya dan sebanyak itu pula aku tidak menggubrisnya dan juga dengan pesan-pesan itu.

10 missed call. 24 line. Tertera dilayar hapeku dan itu semua dari Nadine.

Maaf Nad, gue memilih Risa. Karena dia adalah orang yang paling ingin gue lindungin. Gue ga mau dia terluka. Maaf, Nadine.

 

NADINE (POV)

Hatiku tidak bisa berhenti mencemaskannya. Apakah dia sudah sampai atau belum? Satu balasan saja itu sudah lebih dari cukup. Aku mohon Bi kasih aku kabar.

"Line." Suara pemalas itu terdengar. Astaga ini dari Abi!! Akhirnyaaa! Thanks God!

Gue udah sampe. Sori baru ngabarin.

Buru-buru aku membalas. Syukurlah. Kamu bikin aku cemas bukan main tau ga?! Ada sesuatukah?

15 menit berlalu tak ada balasan.
Dia hanya membacanya.

Entahlah, kenapa perasaanku tidak enak.
Aku merasa seperti akan ditinggalkan.

 

****

 

Ya.

Seminggu berselang tanpa ada kabar apapun darinya. Mungkin dia terlalu sibuk atau dia sedang menghindariku? Kutanyakan kabar, sedang apa, apakah sibuk, kamu sudah makan, apa kegiatan minggu ini, bisakah kita bertemu, dan masih banyak lainnya tapi dia tidak merespon. Ya Tuhan, entah kenapa aku merasakan perih dan sesak mengepul menjadi satu didalam dada dikala semua line yang kukirim bertuliskan read namun tidak ada satupun yang dibalas.

"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Abi?"

Apakah hanya akan seperti ini saja? Aku bahkan belum memulai apapun.

Kutaruh handphone diatas meja. Memijat pelipis. Belakangan ini kepalaku terasa sangat berat. Entahlah, mungkin karena masalah beberapa hari belakangan. Terlebih soal stalker itu. Tapi untunglah dia sudah tidak menampakan wajahnya. Seharusnya situasi sudah terkendali.

Satu minggu belakangan ini aku sibuk mempromosikan brandku. Berusaha mengontek beberapa selebritis entah itu untuk endorse atau aku mensupport outfit manggung mereka. Believe it or not, penjualanku meningkat only in one week. Either itu online, bazzar, ataupun store. Aku cukup mendapatkan keuntungan. Yap setidaknya aku harus bersyukur bisnisku berjalan lancar meskipun tidak dengan urusan percintaanku.

Menyebalkan. Hentikan melow dihatimu Nad!
Apakah kamu mau kehilangan Abi juga?
Ngga! Aku ngga boleh ngelepasin dia dengan mudah!

Batinku bergejolak.

Kini kumasukan hapeku kedalam tas dan berlalu keluar store mencegat sebuah taksi. Berangkat menuju apartment Abi.

Aku harus menemuinya bila dia tidak mau menemuiku. Aku harus mendekatinya bila dia tidak mau mendekatiku. Aku harus berusaha untuknya, meski dia ngga berusaha apapun untukku. Setidaknya aku sudah berusaha.

Lo harus lebih agresif Nadine. Jangan nyerah gitu aja sampe lo bener-bener mutusin buat nyerah.

Taksi sudah berhenti dilobby sebuah apartment mewah dibilangan Jakarta Utara. Setelah membayar taksi aku langsung menghampiri resepsionis.

Ya, aku harus melalui resepsionis terlebih dahulu karena aku tidak memiliki akses langsung ke unitnya.

"Maaf mba, Mas Abi ngga ninggalin note apapun." ucap si rsepsionis setelah memeriksa sebuah buku.

"Saya temennya mas. Masa saya harus bikin janji dulu sih kalau mau ke unitnya."

"Maaf mba. Mungkin mba bisa duduk disana. Soalnya banyak yang seperti mba."

Aku kebingungan. Apa maksudnya 'banyak yang seperti mba'. Begitu aku menoleh, ternyata banyak yang menunggu Abi dan rata-rata anak muda, ada pula ibu-ibu.

Sialan! Dikata gue fansnya apa? Eh tunggu, gue kan memang fansnya. Tapi gue kan beda!

"Tolong banget mas. Paling ngga mas tolong kasih tauin aja ada Nadine dibawah. Yaa plis plis plis." Pintaku memelas.

Entah mungkin karna wajah memelasku akhirnya dia mengiyakan permintaanku.

Dia pergi ke sebuah telepon yang menempel ditembok. Dia tekan nomor dan voila suara Abi terdengar menyapa dari sebrang sana.

"Maaf mas mengganggu. Ada yang nyariin namanya..."

"Siapapun dia bilang..."

"Ini aku Bi. Nadine." Aku langsung memotong kalimatnya. Menggeser posisi si mas. "Bisa kita bertemu?"

"Gue lagi capek Nad."

Kulihat mas resepsionis memberitahuku cara mematikan koneksi bila sudah selesai berbicara dengan Abi lalu pergi memberikan kami privacy.

"Hanya sebentaaaar aja Bi. Ya?" Pintaku memelas.

Tut.

Dia memutuskan koneksinya.

Sepertinya dia benar-benar menghindariku. Ya Tuhan, rasa perih itu datang lagi. Sekarang aku harus bagaimana? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Entah kenapa, aku merindukannya.

Dengan langkah lemah aku duduk dibangku lobby sambil berharap Abi akan turun menyapa para fansnya termasuk menyapaku.

Cahaya jingga sudah mulai nampak dilangit yang cerah. Perlahan warna itu memudar berubah menjadi gelap. Satu persatu dari fansnya pergi membawa kekecewaan karena sang idola tak kunjung turun.

Kini hanya tinggal aku yang menunggu seperti orang tolol. Pikiran dan ragaku memerintahkanku untuk pulang, tapi tidak dengan hatiku. Aku merasa yakin dia pasti turun. Iya, dia pasti turun.

Jarum jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Berarti sudah 6 jam aku menunggu disini. Aku menepuk dada berharap bisa nenyamarkan rasa sesak dan perih ini.

"Abi aku udah dilobby nih."

Suara itu, aku kenal suara itu.
Itu suara Risa. Kulihat dia duduk disalah satu kursi tidak jauh dari resepsionis. Apa yang dilakukannya disini?  Menemui Abi? Kalau iya, itu berarti Abi akan turun untuk menjemputnya.

Benar saja, tidak sampai 10 menit Abi sudah turun. Berjalan kearah Risa. Buru-buru aku mendekati mereka.

"Aku bawain kamu makanan. Pasti belum makan dari siang kan?" Risa angkat bungkus MCD didepan wajah Abi.

"Hai." Sapaku pada mereka berdua yang sama-sama terlonjak mendengar suaraku.

"Kok lo masih disini?" Abi heran melihat keberadaanku. Tatapannya padaku seakan melihat parasit.

"Aku nungguin kamu turun. Bisa kita bicara? Sebentaar aja." Suaraku mendadak lemah setelah menerima tatapan 'anti' darinya.

"Ris, lo naik duluan ya. Nih aksesnya."

Tanpa banyak bantah Risa menurut.

Kini Abi duduk disebuah sofa dan aku mengikutinya.

"Apa yang mau lo bicarain, Nad?"

Aku gugup. Bingung harus memulai dari mana. Aku senang bisa melihatnya namun aku sedih dengan sikap dinginnya.

"Kamuuu... menghindariku?" Tanyaku. Kurasa to the point adalah hal yang tepat.

"Gue ingin mengakhiri apa yang terjadi diantara kita 2 minggu belakangan ini. Termasuk comblangan itu. Sori Nad, gue menolak buat dicomblangin."

Hatiku seperti dihantam sesuatu. Perih. "Kenapa? Kita kan bisa temenan, Bi. Gak harus jadian kok. Bisa temenan aja aku udah seneng."

Bohong! Jelas aku mengharapkan lebih dari itu!

"Berteman pun rasanya ga bisa, Nad. Lo tau kenapa? Karna gue lebih memilih Risa. Gue lebih memilih melindungi orang yang udah lama gue kenal daripada lo."

Aku terperangah. "Maksudnya, Bi."

"Pokoknya, jangan pernah nyari gue lagi, jangan coba buat hubungin gue lagi. Ngertikan? Please Nad, jangan bikin gue dalam kesulitan."

Dia langsung pergi setelah mengucapkan kalimat pedas itu. Meninggalkanku seorang diri yang terpaku disofa. Meninggalkanku dengan hati yang terluka. 

Ngga ada satupun yang bisa aku milikin. Ngga Mas Juna, ngga juga Abi.

Risa, kamu beruntung ya. Kamu punya segalanya. Kecantikan, kepintaran, karir, kemapanan, dan juga dua pria yang paling aku inginkan didunia ini. Mereka semua memilihmu. Membuatku iri.

Aku terkekeh.
Tuhan. Ini ngga adil.
Tanpa sadar airmataku menetes.

 

ABI (POV)

Aku mengaduk ice cream yang Risa bawa tanpa ada rasa nafsu untuk memakannya. Ucapanku pada Nadine barusan sungguh menggangguku. Sepertinya aku terlalu kasar.

"Mikirin apa sih, Bi?" Suara Risa menarikku dari lamunan.

"Ngga kok. Ngga mikirin apa-apa."

"Kamu berantem ya sama Nadine?"

Kuberikan sebuah senyuman kecil. "Gue... ngga bisa ikutin comblangan lo Ris. Sorry."

"Kenapa?"

Aku terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.

"Karena gue sukanya sama lo. Gue sayang sama lo, Ris. Bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai laki-laki."

Kulihat Risa terperangah. Sudah pasti dia terkejut. "Abi, kamu taukan aku..."

"Iya. Gue tau kok. Gue hanya mau jujur soal perasaan gue sama lo. Setelah ini gue harap kita masih bisa kayak dulu. Karna gue ga mau kita ada jarak seperti Juna dan Nadine sekarang."

Keadaan mendadak hening.

"Makasih ya Bi. Dan... maaf."

Kubalas hanya dengan senyuman kecil. "Kita tanding PS yuk. Yang kalah beliin sepatu minimal 2 juta."

"Ebuset 2 juta minimal?! Eh tapi oke deh. Siapa takut! Aku lagi ngincer Valentino. Jadi bersiaplah Bi. Hahaha!"

Ya, aku ngga akan menyesali keputusanku ini. Karena berada disamping Risa adalah hal yang paling aku inginkan didunia. Meski hanya menjadi sahabat. 

 

NADINE (POV)

Kesunyian menghampiri saat memasuki ruang kerjaku. Kulempar badan pada sebuah sofa panjang berwarna cerah. Sepertinya malam ini aku akan tidur disini. Aku malas pulang. Aku ingin sendiri. Mencerna kembali kata-kata Abi. 

Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal. Aku penasaran, kenapa dia bilang lebih memilih melindungi Risa daripada aku? Apakah ini ada hubungannya dengan stalker itu? Apa mungkin stalker itu menganggu Risa?

Tok tok tok!

"Ya?" Ucapku.

"Maaf mba saya pulang duluan yaa." Ucap salah seorang pegawaiku.

"Oke. Hati-hati. Makasih yaa."

"Iya mba. Saya permisi." Ucapnya lalu menutup pintu. "Oh iya mba. Tadi ada orang yang nyariin mba. Nah dia mau dibikinin setelan jas. Dia minta mba dateng kekantornya besok pagi. Mba bisa ngga?"

"Kenapa dia ga dateng lagi aja kesini?"

"Kata sekretarisnya jadwal dia padet mba. Dan dia butuh setelan buat acara apa tuh yaa tadi namanya... saya lupa. Award award gituu deh pokoknya dan butuh cepat. Kayaknya sih kliennya bonafit mba. Lumayan, sayang kalo ngga diambil. Siapa tau bisa jadi klien tetap. Hihihi."

Aku tersenyum mendengar penjelasannya yang terbilang bersemangat untuk ukuran jam 10 malam.

"Oke. Aku akan coba."

"Kalau gitu mba harus telepon sekretarisnya dulu. Nomernya saya taruh dimeja mba." Kujawab hanya dengan anggukan. "Permisi mba." Pamitnya.

Kini kuhampiri meja, mengambil nomor dan langsung menelponnya. Tak lama telepon diangkat.

"Halo." Suara seorang laki-laki menyapa diseberang sana.

"Halo dengan Mas Luki? Ini dengan Nadine fashion designernya Label. Tadi mas kesini mencari saya ya?"

"Oh iya Nad, betul tadi aku sempat mampir. Gimana, besok pagi bisa? Sekitar jam 10 soalnya dia bisanya jam segitu. Jadwalnya full banget."

"It's oke. Saya akan disana sebelum jam 10."

Telepon pun ditutup. Terakhir dia bilang akan mengirimkan alamat kantornya via sms. Dan benar saja, ngga lama sms masuk.

"Luki Group?" Astaga jadi Luki itu nama perusahaan?! Aku pikir nama orang. Sial, salah sebut dong tadi. Bikin malu aja. ????

By the way ini kantor daerahnya ga salah? Ga ada yang mau lebih macet lagi? Kantornya didaerah Kasablanka dan jam 10 gue harus udah disana? Terus gue harus jalan jam berapaaaaa? ????

 

WRITER (POV)

Tian memandang layar ponselnya.
Sebuah senyuman nampak diwajahnya. Tak bisa dipungkiri dia lagi senang karena sudah memegang nomor Nadine. Nomor yang dicarinya setelah sekian lama.

"Aku ga sabar menunggu besok, Nadine." Ucapnya pada ponsel itu. Kini dia masukan ponselnya kedalam saku celana, lalu kembali memandangi indahnya hamparan perkotaan sambil meminum kopi.

Tok tok tok.

Tian menoleh. Seorang perempuan yang tak laIn adalah sekretarisnya langsung memasuki ruangan.

"Maaf Pak Luki, saya akan reminder kembali jadwal untuk besok. Mulai jam 10 pagi sampai jam 1 siang ada tinjau lokasi sekalian perundingan pembebasan lahan di Bekasi. Jam 3 ada meeting dengan..."

"Ega." Potong Tian. Sekretarisnya langsung diam. "Kosongin jadwal saya dari jam 10 sampai jam 2. Dan tolong bilang Aldo, wakili saya ke Bekasi."

"Baik Pak."

"Oke, sekarang kamu pulang aja. Saya akan baca sendiri jadwalnya. Ga baik perempuan pulang terlalu malam. Oh iya, Minta pak Silo antarkan kamu ke rumah pake mobil kantor ya. Saya mau bawa mobil sendiri."

"Baik pak. Akan saya sampaikan. kalau begitu, saya permisi pulang duluan."

Tian hanya membalas dengan sebuah senyuman. Setelah sekretarisnya pergi, dia duduk disingasananya sembari membuka laptop.

Beberapa foto Abi dan Nadine langsung terpop-up dilayar. 
Kini dia buka sebuah video mereka saat berbicara dilobby. Rekaman itu berjalan cukup lama dari awal Abi berbincang hingga pergi meninggalkan Nadine. Semua terekam kecuali isi pembicaraan mereka.

"Sepertinya penyanyi itu memegang ucapannya."

Handphone Tian bergetar. Langsung saja dia angkat. "Ya. Ada kabar apa?"

"Dia sendirian ditokonya bos. Baru aja karyawannya balik." Suara seorang laki-laki terdengar.

"Dia sendirian?"

"Iya bos sendirian."

"Oke. Thanks infonya. Lo bisa balik. Oh, besok lo off ya."

Suara riang terdengar dari ujung telepon. Wajar saja dia senang, karena sudah seminggu belakangan dia terus mengamati Nadine tanpa libur.

Telepon pun ditutup. 

Tian memutar-mutar ponselnya. Berfikir. 

"Haruskah aku ke sana sekarang, Nadine?" Ucapnya pada sebuah foto disudut meja. Foto Nadine yang sedang terawa. 

Tanpa perlu banyak pertimbangan, dia langsung memakai jaket, mengambil kunci mobil dilaci, lalu bergegas pergi menuju store Nadine.

 

To be continue...

 

_______________________

 

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved