Abi & Nadine : Part 7

Author : Audria Pohan

 

WRITER (POV)

Abi dan Risa nampak asik bermain PS. Kadang mereka tertawa, saling tempeleng, bahkan bersiasat agar salah satu dari mereka kalah. Well, suasana yang akrab dan hangat menyelimuti mereka. Seolah pengakuan itu ngga pernah ada.

Telepon Risa berbunyi, dia pause permainan dan langsung mengangkatnya. Wajahnya mendadak serius dan hati-hati sambil sesekali melirik kearah Abi.

"Halo mas." Jawabnya dengan suara pelan.
"Kamu lagi apa?" Sebuah suara yang tak lain adalah Juna menyapa diseberang sana. Lagi-lagi Risa melirik Abi. 
"Main game mas."
"Main game sama siapa? Ini udah malem looh. Bukannya tidur."
Dia makin gelagapan. Bingung harus menjawab apa.
"Ada sodara aku main kerumah. Kamu lagi apa mas?"

Abi terkekeh mendengar jawabannya. Antara percaya dan tidak tapi itu tarjadi. Tak lama telepon pun berakhir setelah Juna mengatakan dia ingin tidur lebih awal.

"Kenapa lo ga bilang terus terang aja kalo lagi sama gue?" Tanya Abi to the point. "Toh kita ngga ngapai-ngapain."

"Aku punya alasan sendiri, Bi."

Keheningan menyesapi mereka sebelum akhirnya deringan telepon Abi terdengar. Dia ambil ponsel yang tergeletak tak jauh darinya.

Telepon dari Nadine.
Namanya tertera dilayar ponsel.

Tanpa ragu Abi ignore panggilan itu dan kembali melanjutkan permainan.

Diujung telepon Nadine merasa kecewa. 
Lagi-lagi teleponnya ditolak. 
Sedih? Sudah pasti. 
Kini dia pijit pelipisnya sambil terus memikirkan cara untuk mendekati Abi sebelum sebuah gedoran keras mengagetkannya. Membuat sekujur badannya kaku seketika.

 

****

 

NADINE (POV)

Lantai bawah sudah sangat gelap ketika aku berjalan perlahan menuruni tangga. Sial, sesaat aku menyesali keputusanku untuk ngga naro cctv didepan karena ternyata itu penting juga.

Gedoran itu terdengar lagi. "Nadine. Aku tau kamu didalam. Cepat keluar aku ingin bicara." Seseorang memanggil namaku. Seorang laki-laki.

Kini ku urungkan niatku dan kembali keatas. 
Jantung berdebar kencang. Kakiku mendadak lemas. Ya Tuhan, siapa sih laki-laki itu? Ngapain juga malam-malam kesini? Asli yaaa dia sukses bikin aku ketakutan.

Suara handphone mengagetkanku. Sungguh rasanya seperti bermain dalam film thriller. Bunyi sedikit aja langsung paraniod.

Kini kuhampiri meja, mengambil ponsel. 
Aku terpaku setelah melihat nama Mas Juna tertera dilayar. Mencoba beranikan diri untuk mengangkatnya.

"Halo?" Sapaku.
"Nad, aku ada dibawah. Kamu ga bakalan tega ngebiarin aku kedinginan tengah malem didepan store kamu kan?
"Mas Juna ada didepan?"
"Iya. Aku ingin ketemu kamu Nad. Please?"
"Oh oke."

Telepon pun ditutup. 
Speachless. Aku ngga nyangka dia akan menghampiriku kesini setelah sms pertanyaannya 1 jam yang lalu.

Kamu dimana, Nad?

 

*****

 

WRITER (POV)

Nadine membuka pintu store dan mendapati Juna berdiri didepannya. Badannya yang tinggi membuat Nadine harus mendongak.

"Ada apa mas kesini?" Tanya Nadine langsung tanpa ucapan 'hi' sedikitpun.

Kejadian itu cepat dan membuat Nadine terbengong sepersekian detik sebelum akhirnya dia sadar bahwa Juna sedang memeluknya. Dia meronta berusaha melepaskan diri namun pelukan Juna sangat erat membuatnya sulit bergerak.

"Belum pernah aku sekangen ini sama kamu, Nad." Ucapnya lirih. Kalimat itu berhasil membuat jantung Nadine berdetak cepat.

"Kenapa?" Nadine nampak kualahan walau hanya untuk sekedar bersuara.

Juna semakin mempererat pelukannya. "Entahlah. Aku juga ngga tau. Yang aku tahu aku merindukanmu"

Dari kejauhan, Tian terpaku melihat mereka berdua. Kemarahanpun nampak disaat Juna memeluk wanita yang membuatnya tergila-gila. Batinnya berkecamuk. Raganya ingin sekali menghampiri mereka dan langsung nonjok pria itu, tapi syukurlah logikanya masih berjalan.

Dia capture momment langka itu dengan kamera ponselnya lalu berpindah memotret mobil mazda cx5 berwarna putih dari kejauhan. Mengambil diam-diam nomor polisi mobil Juna.

"Ternyata banyak cowok disekeliling kamu ya Nad." Ucapnya seraya mengotak-ngatik handphone. "Berarti banyak juga yang harus gue singkirin."

Kini dia mendekatkan ponselnya ke telinga. "Bro, gue boleh minta tolong ya. Barusan gue kirim foto plat mobil, tolong dicek tu mobil punya siapa... mobil itu ngikutin tunangan gue sampe ke rumahnya. Sip bro. Thanks yaa. Btw kalo sampe lo bisa dapet namanya, gw ajak lo dan keluarga lo buat makan dihotel mewah. Lo tinggal tunjuk gue yang bayar. Sip. Thankyou."

Seandainya dia bisa melihat muka pria yang memeluk Nadine, dia tidak harus melakukan pemborosan seperti itu. Tapi, bagi Tian, informasi yang berhubungan dengan Nadine jauh lebih berharga dibanding uang yang harus dia keluarkan.

******

Rasa rindu Juna pada Nadine dirasa belum cukup bila hanya dengan sebuah pelukan. Semenjak kejadian malam itu, tak ada satupun sms Nadine dikirimkan padanya. Padahal dia sangat menanti sapaan ataupun cacian darinya. Juna sangat merindukan sosok perempuan dalam dekapannya. Dia rindu kekonyolan, kebodohan, bahkan nyinyirannya. Dia rindu semua yang ada pada Nadine.

"Maaf." Ucapnya, kemudian dia lepaskan pelukannya. "Aku tau ini egois tapi... aku mohon Nad, jangan diemin aku seperti ini. Bisakah kita balik kayak dulu lagi? Please..."

Ngga ada tanggapan dari orang didepannya. Nadine hanya menatap Juna.

"Pukul, tampar, tonjok, apapun Nad. Asal itu bikin kamu ngga dingin ke aku."

 

*****

 

NADINE (POV)

Mendengar kalimat Mas Juna membuatku ingin menancapkan pisau didadanya biar dia tau gimana rasanya sesak, perih, dan sakit didadaku ini. Setidaknya berempatilah padaku walau sedikit. Memintaku untuk tidak bersikap dingin padanya? Lucu sekali.

Dalam diam dia menatapku penuh harap. Mengharapkan sebuah jawaban positif yang ingin dia dengar. "Aku hanya butuh waktu untuk mengembalikannya seperti semula. Bukankah itu hal yang wajar? Untuk saat ini mustahil aku bisa seperti dulu mas. Jadi tolong, jangan mencariku, jangan menghubungiku, apalagi muncul dihadapanku seperti ini. Itu akan menyulitkanku. Bisakah mas memberikanku waktu untuk menghapus perasaanku ke mas? Melupakan semuanya, lalu memulainya dari awal? Sebagai adik atau sahabat yang sesungguhnya."

"Aku ngga bisa..."

"Apa?!"

 "Akh! Kepalaku!" Keluh mas Juna. Dia pijati kepalanya. Badannya terhuyung nyris jatuh sebelum aku memegangnya.

"Mas kenapa?! Pusing?" 

"Vertigoku sepertinya kumat." Dia mengerang kesakitan.

 

Tanpa basa-basi aku membopongnya menuju ruanganku. 

Ini bukanlah kali pertama mas Juna mengeluhkan vertigonya. Bukan pertama kali bagikupun untuk menanganinya. Kurebahkan dia diatas sofa, memberikan beberapa bantal agar kepalanya jauh lebih tinggi. Kini ku ambil handuk kecil dilemari sudut ruangan kemudian menyeka keringatnya.

"Maaf merepotkanmu."

"Ngga kok. Mas istirahat aja dulu disini sampai sakit kepalanya hilang. Aku akan kembali bekerja. Kalau ada apa-apa mas bisa panggil aku."

Ketika vertigo mas Juna kumat, dia hanya minta untuk berbaring tanpa minum obat apapun. Mengingat dia adalah seorang dokter, alahkah baiknya kalau aku mengikuti.

 

30 menit berselang, aku bisa mendengar dengkuran Kuhembuskan nafas perlahan. Dia tertidur pulas. Kini kututup laptop didepanku kemudian berjalan menghampiri lemari kecil dipojok ruangan. Mengambil sebuah selimut kecil untuk menutupi tubuh mas Juna.

Well kukira adegan ini hanya akan terjadi di drama saja. Ternyata tidak. Wajah polosnya bikin aku betah untuk terus menatapnya. Kuamati mulai dari kening, alis, mata, hidung, dan... bibir. Khayalanku mulai liar sebelum akhirnya ingatan saat Abi menciumku muncul tiba-tiba. Membuatku terlonjak.

 

*****

 

ABI (POV)

Memandangi wajah Risa yang tertidur seperti vitamin buatku. Untunglah aku bukan lelaki "jahat". Tapi bagaimanapun, aku tetap seorang pria. Kubiarkan dia tertidur lelap dikamarku. 

Kurebahkan diriku disofa, menyalakan tv, mengonta-ganti chanel. Otot dan tubuhku terus mengganti chanel, tapi otakku memikirkan hal lain. Bayangan wajah Nadine saat kami berbicara dilobi terlihat jelas seperti cuplikan film. Aku bahkan bisa mendengarkan apa yang kuucapkan padanya.

"Lagi apa ya dia sekarang?"

Jujur, aku juga mengkhawatirkannya. Mencoba untuk masa bodoh tapi kok rasanya sulit. Aku terus memikirkannya. Apakah dia akan baik-baik saja? Hanya saja, ini sudah menjadi pilihanku. Aku memilih Risa. Aku akan sangat menyesal bila dia terluka. Karena Nadine akan dilindungi oleh banyak orang disekelilingnya. Tidak dengan Risa.

"Sepatu siapa tuh didepan? Lo selundupin cewek yaa?!"

Suara kunyuk satu itu mengagetkanku. Dia masuk nyaris tanpa suara kemudan muncul didepanku dengan suara yang menggelegar. 

"Wiiiih udah jadi lelaki rupanya. Hahaha... Gue pergi aja kali ya. Daripada ganggu."

"Iya mending lo pergi." Ucapku ketus mengacuhkannya dengan mengganti-ganti chanel tv.

"Huwidiiih. Ketus bener. Siapa ceweknya? Cakep gak? Nemu dimana?"

"Heh cumi, itu Risa. Sembarangan lo kalo ngomong."

Perubahan ekspresi nampak jelas diwajah Novan. "Risa? Ngapain dia dimari?"

Aku mengangkat bahu. "Dia nelpon katanya pengen main."

Novan terkekeh. "Main pantatmu main."

"Eh Van, gue udah bilang kalau gue cinta sama dia."

"Whaaat!! Serius lo bro? Pasti ditolak."

Aku mengangguk. "Plong banget sih bro. Rasanya kayak sembelit yang akhirnya keluar juga. Hahaha."

"Perumpamaan lo ga enak banget, nyet!"

Aku terkekeh. "Ga ada yang mau gue sembunyiin lagi. Mungkin karna udah siap mental gue ga sedih-sedih amat ditolak. Aneh ya?."

"Baguslah. Seharusnya lo ngomong dari dulu biar cepet move on. Eh ngomong-ngomong Nadine apa kabar?"

"Ngapain nanya-nanya dia? Naksir?"

Entah kenapa pertanyaan itu membuatku sedikit terusik.

"Siapa sih cowok yang ga naksir sama dia." 

"Gue." Jawabku singkat.

Novan tertawa pelan. "Yakin? Belum aja kali." Aku terdiam. Novan menghembuskan nafas panjang. "Sebenernya Nadine itu cinta pertama gue."

"What?!" Aku terkejut bukan main. Entah kenapa aku merasa insecure.

"Well, gue naksir dia waktu SMA. Dia salah satu cewek populer disekolah. Cantik, pinter, baik. Hampir semua cowok ngantri buat jadi pacarnya, termasuk gue. Hahahaha. Dulu gue cupu, ga punya apa-apa, ga punya sesuatu yang bisa gue banggain. Makanya gue ga pede. Tapi gue rasa keadaan sedikit berbeda sekarang."

"Apa?" Suaraku pelan nyaris tak terdengar. Aku seperti tidak percaya dengan apa yang ku dengar barusan. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini selanjutnya dan aku tidak mau mendengarnya.

"Kalau gue deketin Nadine, apa lo ga papa?"

"Apa?" Suaraku nyaris hilang.

"Kalau gue deketin Nadine, apa persahabatan kita akan rusak? Seperti dulu."

Baru kali ini aku melihat Novan sangat serius. Matanya menatapku tajam. Seakan menunggu reaksiku. Satu sisi aku malas berselisih hanya karna perempuan, tapi disisi lain aku tak suka mendengarnya.

"Kenapa diem? Bingung? Ga suka kalau gue deketin Nadine?"

"Terserah." Jawabku akhirnya lalu kembali gonta-ganti chanel.

"Gue anggap itu lampu ijo." Ucapnya kemudian menepuk bahuku lalu pergi menuju kamarnya.

"Fokus Bi fokus." Kuyakinkan diriku. Risa, adalah orang yang harus kulindungi. Bukan yang lain.

 

*****

 

NADINE (POV)

Kubuka mata perlahan saat cahaya matahari menusuk mataku. Masih setengah buram tapi aku bisa melihat Mas Juna duduk manis mengamatiku. Sadar-sadar aku sudah rebahan disofa padahal semalam aku tidur dilantai.

"Kok aku bisa disini?" Tanyaku langsung. Sedangkan dia hanya tersenyum. Aaaahhh siall tidurku pasti jelek.

"Siap-siap gih. Nanti kesiangan. Aku anterin."

 

*****

 

Thanks God, aku sampai 30 menit sebelum waktu yang dijanjikan ketika mobil mas Juna berhenti didepan lobby office. Kulepaskan seatbelt dan langsung turun setelah mengucapkan terimakasih.

Banyak hal aneh saat dimobil tadi. Entah kenapa Mas Juna sedikit lebih bawel dari biasanya. Dia menanyakan banyak hal. Kepo bukan main dengan segala macam urusanku. Bahkan hingga ke detail. Argh! Aku sampai kesulitan sendiri menjawab pertanyaannya. Dia seperti polisi yang mengintrogasi penjahat.

Kakiku melangkah masuk kedalam kantor yang luar biasa nyaman. Dari masuk resepsionis hingga ruang tunggu pun senyaman berada dirumah. Terlihat hijau, bersih, dan wangi. Ya Tuhan, kalau model kantornya begini sih aku bakalan betah.

"Pak Luki keukeuh sekali ingin mba yang bikin setelan untuknya." Ucap seorang perempuan yang kutahu bernama Ega. Dari situ juga aku tahu, nama perusahaan dan pemiliknya ternyata sama. Akan tetapi, ini aneh. Luki yang kutahu adalah seorang sekretaris bukan pemilik perusahaan.

"Mba, apa ada 2 nama Luki disini?" tanyaku sebelum dia keluar ruangan.

"Hanya ada satu Luki dikantor ini mba. Dan dia adalah CEO."

Aku terdiam. Lagi-lagi berusaha mencerna keganjalan. Masih teringat jelas ucapan pegawaiku kalau sekretarisnya datang ke butik dan meninggalkan nomor teleponnya. Sekretaris itu bernama Luki. Dan dia seorang laki-laki, ditelepon pun dia seorang laki-laki. Tapi kenapa ketika datang, sekretarisnya adalah seorang prempuan?

Argghhhh! itu membuatku gila. Biarkan sajalah.

Sepuluh menit berselang. Mba Ega kembali dan mengatakan bahwa Pak Luki sudah menunggu diruangannya. Sambil berjalan menuju ruangannya, aku mendengar beberapa karyawan solah mengatakan sesuatu sambil melihat ke arahku. Samar-samar aku mendengar 'wah, bener mirip kayak difoto.'

"Silakan Mba." Ucap Mba Ega seraya membuka pintu.

Mataku langsung dihadapkan pada seorang laki-laki tinggi berbadan ramping yang menghadap kearah jendela. Kesan pertama yang luar biasa. Imagenya nampak keren dengan siluetnya itu. Layaknya cowok charming dari negri gingseng yang ada di drama.

"Hai, saya Nadine dari The Label." ucapku seraya berjalan menghampirinya.

Kakiku mendadak beku saat dia berbalik dan menunjukan senyumnya padaku. Seharusnya, aku tidak pernah datang kesini seandainya saja aku tahu kalau si saiko itulah yang mencariku. Ya, seharusnya aku mewaspadai hal ini. Dan sekarang, aku masuk kedalam perangkapnya dengan mudah.

Aku langsung teringat kalimat Ari, teriak atau lari bila bertemu dengannya. Tapi sekarang aku harus bagaimana? Sangat sulit untuk lari atau teriak minta tolong. Tuhan, aku pasti baik-baik saja kan? Duuuh bagaimana ini?

Pikiranku kacau seiring langkah kakinya yang semakin dekat.

"Hai, aku Luki."

Aku terdiam menatap tangannya yang menjulur kepadaku.

Bagaimana ini Nadine?

Kuputuskan untuk membalas uluran salam perkenalannya itu. Sambil berharap semoga Tuhan selalu melindungiku.

Bila di deskripsikan, dia bukanlah orang yang menyeramkan. Secara fisik dia menarik. Mungkin kalau aku tidak tau siapa dia, aku akan terpesona.

Agak sulit terlihat biasa-biasa saja didepannya. Rasa was-was selalu ada. Tapi, sejauh ini dia masih profesional. Kecuali permintaanya untuk mengubah panggilan 'pak' menjadi namanya saja.

"Luki atau Tian. Terserah." Ucapnya saat itu. Dia juga bilang ngga mau menggunakan bahasa formal. Tapi lebih kepada gue elo atau aku kamu. Bukan saya dan Anda.

Dia mendengarkan apapun penjelasan dan pendapatku saat ku sodorkan soal trend suit terkini keluaran Chanel, louis vuitton, dan gucci. Kami nyambung, maksudnya dalam urusan fashion. Dia tahu apa yang dia mau. Bahkan sampai pada pemilihan bahan.

Hampir sejam berlalu sejak kami berdiskusi, kuberikan hasil sketsaku padanya, namun dia tak bergeming. Sepertinya dia melamun. Tapi masa iya dia melamun dengan mata yang terus mengikuti pergerakan bola mataku? Dia terus-terusan menatapku meski sudah kuberikan lambaian tangan didepan matanya. Hiiiy asli ngeri juga.

"Luki." panggilku bahkan sampai membuat jentikan keras. Dia tersentak kemudian meminta maaf. "Sudah selesai, ini gambarannya. Aku pikir dari pembicaraan kita tadi, suit ini yang langsung terlintas diotak dan akan cocok dikamu."

Dia mengamati sketsaku.

(untuk gambaran readers aku masukin ilustrasi foto dari sketsa yang Nadine maksud

(untuk gambaran readers aku masukin ilustrasi foto dari sketsa yang Nadine maksud. Kurang lebih seperti inilah kalau di realkan. hihihi)

"Kamu orangnya santai, jas yang terlalu formal kurang mencerminkan kepribadian kamu. You're still young, so I play with pattern. You're tall and slim, aku rasa dengan daleman hitam turtle neck akan lebih terpop-up kelebihan kamu dan balik lagi biar ga keliatan formal tapi tetep berkelas. Sesederhana itu sih."

Dia terdiam. Masih mengamati. Jujur inilah yang paling deg-degan bagi seorang desainer. Menunggu keputusan klien. Senyumku merekah saat dia mengatakan sangat menyukai desain itu. Namun, senyum itu lenyap seketika saat dia mengajakku untuk bertemu kembali sambil membawa contoh bahan yang sesuai.

"Jadi gimana? Apa kita bisa bertemu sabtu nanti? Aku akan mentraktirmu."

Ya Tuhan, Kali ini apa yang harus aku lakukan?

 

*****

 

WRITER (POV)

Bagi Abi, siaran pagi-pagi disalah satu acara musik stasiun tv itu sangat menyebalkan. Tapi mau tidak mau harus dilakukann. Stylenya hari ini pun santai sekali. Kaos putih dengan jaket jeans serta topi tanpa make up.

Kakinya tak henti menghentak lantai. Gemas karna nunggu giliran manggung. Entah kenapa hari ini moodnya ga ada sama sekali.

Dia putuskan untuk keluar ruang tunggu. Yaa jalan-jalan sedikit harusnya membantu melepaskan penat dan ngantuk.

"Ga ada reaksi apa-apa bro? Flat gitu?"

Langkah kakinya terhenti begitu mendengar suara Wisnu. Dia pasang kuping baik-baik. Menguping dari balik tembok lorong.

"Kayaknya harus hardcore deh. Gini deh, lo tetep peranin peran lo. Tar gue pikirin gimana nextnya. Oke bro. Thanks."

"Siapa tuh. Panggilan casting ya? Kok lo ga nawarin gue?" Abi tiba-tiba muncul, bikin Wisnu kaget sendiri.

"Web series yang kemaren, lo mau ambil ga? Kalo ngga gue kasih yang lain."

"Ga ada apa yang nawarin gue main film kek, theater kek, drama apa kek yang panjangan dikit. Ini web series. Ngeledek gue lo."

"Huanjer sombong banget ni manusia satu. Eh cumi, lo tau ga nilai kontrak lo berapa kalo main di web ntu?"

Abi geleng-geleng. "1.5 milyar." Mendengar angka itu Abi terbelalak. "Tapi masih nego sih. Tapi coba lo bayangin berapa yang lo dapet nyet. Langsung lunas tuh apartment. Lagi pula banyak benefitnya nih, pertama lo comeback bareng Hana. Fans lo berdua pasti menggila. Kedua lo jadi salah satu brand ambasnya prodak kecantikan terbesar di Indo. Ketiga, skripnya bagus. Keempat kontrak hanya 6 bulan. Kelima, kalo lo mau recording soundtracknya itu berarti duit lo nambah lagi. Gila kan?! Kalo gue jadi lo, gue ambil. Ga pake mikir."

Abi manggut-manggut. Membenarkan apa yang Wisnu bilang. Kepalanya mulai mengkalkulasi.

"I'm in." Ucapnya mantap.

"Gitu doong kan cakep. Sisanya gue yang urus. Gue cabs dulu ya."

Wisnu pergi tepat saat bunyi manja si line terdengar dari hp Abi. Matanya langsung terbelalak saat membaca pesan tersebut. Pesan dari Nadine.

Bi, kamu sibuk? Sekarang aku lagi sama si saiko itu. Aku harus gimanaa? Telepon aku, please.

"Argh! Gilaaaa!" Abi mengumpat. "Kok bisa sih?!"

 

*****

 

Nadine berusaha mengulur waktu untuk menjawab pertanyaan Luki. Entah kenapa Abi yang langsung terlintas dikepalanya. Mungkin tidak ada salahnya meminta pertolongannya. Meski dia tahu, dia akan kecewa. Tapi, jauh dilubuk hatinya yang paling dalam dia berharap padanya.

LINE!

Suara itu membuat Nadine sigap seketika. Dia baca pesan dari Abi. Sebuah pesan yang membuatnya ingin menangis.

Maaf Nadine, gue lagi on air. Mungkin lo bisa hubungin Ari atau lari dari sana. Maaf gue ga bisa bantu lo.

"Jahat. Padahal dia udah janji." ucapnya dalam hati. Sebuah senyum getir menghiasi wajahnya. Dia terluka? Sudah pasti. Jawaban itu diluar ekspektasinya.

"Jadi gimana? Apa meeting kamu bisa diundur?" Luki kembali bertanya. Baru Nadine hendak menjawab, teleponnya berbunyi. Sebuah telepon dari Ari. Buru-buru Nadine menjawab dan sedikit menjauh.

"Mba dimana?" Tanya Ari to the point. Nadanya terdengar antusias.

"Ya? Jadi gimana?" tanya Nadine berbisik. Dia tidak mau menceritakan soal Luki/Tian pada adiknya. Karena dia tau betul, Ari pasti akan langsung datang dan membuat keributan.

"Mba hari sabtu free ga? Kita ada meeting dengan talent soal web series itu. Script reading sih. Jadi mba bisa sekalian ukur artis-artisnya. Mas Abi join loh mba. "

"Apa? Oh gituu yaaa. Oke."

Nadine menutup telepon. "Maaf tapi kayaknya aku ga bisa. Bener-bener ga bisa. Tadi dia telepon. Gimana kalau asisten aku yang sementara handle?"

"Ngga. Aku maunya sama kamu."

Nadine kicep. Batinnya menjerit. Sepertinya dia ngga bisa melepaskan diri sekarang. Dia sudah benar-benar terperangkap. "Oke. Mungkin setelah pekerjaanku selesai aku akan menghubungimu."

 

*****

 

NADINE (POV)

Hari sabtu langit mendung.
Entah aku harus excited atau ngga aku juga ngga tau. Hari ini aku akan bertemu dengan Abi. Bukankah seharusnya aku senang? Tapi, setelah line terakhirnya aku seperti hilang harapan. Jujur aku ingin sekali mendekatinya, bahkan aku ngga malu untuk mengejarnya. Akan tetapi, bila aku terus-terusan diperlakukan seperti itu, apakah aku bisa bertahan? Mungkin perasaanku belum terlalu dalam padanya, hanya saja rasa sakit ini selalu muncul saat dia tidak menganggapku. Seakan-akan aku benar-benar jatuh cinta padanya.

Setelah line itu aku ngga pernah menghubunginya lagi. Begitupun dia yang ngga menghubungiku walau hanya untuk bertanya 'apakah aku baik-baik saja?' Dia tidak mencemaskanku.

Hei Nadine sadarlah. Apa yang lo harepin sih?

Satu per satu artis papan atas itu datang. Yap mereka datang sesuai plot waktu yang dijanjikan. Dari jadwal yang kupegang, Abi dan Hana akan datang jam 4 sore.

Benar saja, tepat pukul 4 Hana sudah tiba. Sebelum masuk ke ruang reading Hana harus melewatiku dulu. Maksudnya harus diukur dulu.

Hana kurus dan tinggi. Beda denganku yang agak berdaging ini. Aku heran, emang dia ngga makan apa?

"Onni. Aku mau dibikin baju macam apa sih?" Ucapnya. Pertanyaan yang sama yang dilontarkan beberapa artis sebelumnya.

"The goddess in white. Like a wedding dress but not."

"AH OPPA!!" Ucapnya dengan nada manja layaknya cewek korea didrama kalo lagi manggil oppa. Dia langsung menghampiri orang yang baru saja datang. Saat aku berbalik. Abi berdiri diambang pintu lalu sedetik kemudian Hana udah nempel padanya.

"Oppa udah dateng. Makasih ya oppa, udah mau ikut diweb series ini. Aku seneng."

Abi hanya tersenyum. "Iyaaaa sama-samaa." Dia acak-acak rambut Hana.

"Hya onni, aku udah selesaikan? Kalau udah aku pergi dulu. Annyong oppa."

Kini hanya tinggal aku dan Abi. Entah kenapa aku sedih melihatnya.

"Berdiri disini. Aku akan ukur badan kamu."

Dia menurut. Berjalan perlahan sembari melepas kacamatanya.

"Kamu ga perlu lepas kacamata."

"Gue sengaja."

"Kenapa?"

"Karna gue ga mau liat lo."

Tanganku gemetar. Dadaku bak dihantam sesuatu yang keras. Sakit dan sesak. Ucapannya sudah keterlaluan.

Aku terkekeh. "Yailah! Ngga usah segitunya juga kali, Bi."

Dia diam. Kulanjutkan kembali mengukur badannya. Menahan perih dan ingin menangis.

Tuhan aku belum benar-benar jatuh cinta padanya tapi kenapa sesakit ini?

"Salah aku apa sih Bi? Aku minta maaf kalau aku ada salah." Kuturunkan harga diriku untuk meminta maaf padanya walau aku merasa tak ada salah apapun padanya.

"Kesalahan lo adalah masuk ke dalam kehidupan gue. Membahayakan orang-orang disekitar gue."

"Membahayakan orang-orang disekitar kamu? Kenapa? Apa karna Tian? Apa karena Risa ikut diteror dengan dia?"

Abi diam. Kemungkinan besar jawabannya adalah benar. Ingatanku kembali pada saat Abi sedang menunggu lift hotel. Diam-diam aku mengikutinya bersembunyi dibalik tembok. Aku melihatnya tersenyum sendiri nyaris tertawa. Entah apa yang dia bayangkan tapi aku senang melihatnya sebelum sebuat telepon mengubah ekspresi diwajahnya. Risa sedang dibuntuti oleh seseorang dan itu membuat Abi khawatir setengah mati. Hanya sejauh itu yang ku tahu.

"Sekarang aku mengerti. Kamu lebih memilih melindungi orang yang lama kamu kenal seperti Risa. Daripada harus melindungi orang asing sepertiku." Kutarik nafas perlahan. Mencoba mengontrol emosi dan airmata yang mungkin saja akan menetes. "Tapi ucapan kamu keterlaluan Bi. Karna aku juga punya hati."

Keadaan semakin hening. Abi benar-benar ngga bergeming. "Sudah selesai. Kamu boleh pergi." Ucapku sembari merapikan perlalatan. Sedangkan dia, langsung pergi.

Dalam diam aku menatap punggungnya hingga tak nampak lagi. Kupukul dadaku berulang-ulang. Namun sakitnya tak kunjung hilang. Sekarang aku harus bagaimana?

 

To be continue...

 

_______________________

 

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved