Abi & Nadine : Part 8

Author : Audria Pohan

 

NADINE (POV)

Ini menyakitkan, sangat menyakitkan. 
Dalam diam, dari balik celah pintu aku melihat Abi berkelakar didepan mereka. Membuat satu ruangan tertawa. Membuatku iri. Seandainya dia bisa seperti itu didepanku pasti akan sangat menyenangkan.

Aku ngga bisa memiliki seseorang yang ada didepan mata. Ngga mas Juna, ngga juga Abi. Padahal, kalau boleh kege-eran aku yakin bisa meluluhkannya kalau seandainya saja dia sedikit lebih ramah.

Akan tetapi, kalau mau ditarik kebelakang, Tianlah penyebab perubahan sikap Abi. Kalau saja ngga ada Tian, maksudku, kalau saja Tian ngga membuntuti Risa, Abi pasti ngga akan seperti ini. Dia pasti akan melindungiku.

Mungkin ini bukanlah saat dimana aku hanya bisa berpura-pura ngga tau siapa Tian sebenernya. Meskipun ini bisa saja membahayakan diriku, alangkah baiknya kalau aku mencoba mengorek sesuatu darinya.

Kukeluarkan hape dari saku celana untuk menghubungi Tian. Ngga perlu menunggu lama, teleponku langsung diangkat.

"Hai, Ki." Sapaku setelah mendengar sapaan diujung sana.
"Hai Nad. Sorry tar aku telepon balik ya. Aku lagi meeting."
"Oh. Oke."

*****

WRITER (POV)

Tian menutup teleponnya dengan senyum kecil nampak diwajah pucatnya. Setelah memasukan hape kesaku celana, Matanya langsung berubah tajam menatap orang didepannya.

"Seorang dokter terkenal sepertimu seharusnya bisa menjaga sikap. Benarkan, Dokter Juna?"

Tian membuka pembicaraan. Pertanyaannya membuat Juna mengerutkan alis. Mereka berada dalam satu ruangan dengan bau obat-obatan bercampur dengan karbol yang cukup menyengat. Ruangan serba putih itu seakan memantulkan tiap ekspresi mereka dengan jelas.

"Apa maksud Anda?" Juna bersuara. Pembawannya yang tenang membuatnya ngga menyadari bahaya didepannya. Dia menghadapi Tian layaknya pasien.

"Kalau pacar Anda yang terkenal itu tau apa yang Anda lakukan semalam. Kira-kira gimana ya perasaannya?"

Rahang Juna mengeras. Dengan isyarat dia menyuruh suster yang standby diruangannya untuk keluar.

"Maksud lo apa?" Ga ada lagi nada ramah tamah yang terdengar..

Tian mengeluarkan sebuah foto saat Juna memeluk Nadine. Foto itu bikin Juna terbelalak. Dia rampas foto itu dan melihatnya dengan seksama. Meyakinkan apakah itu asli dia atau bukan.

"Siapa sih lo sebenernya? Paparazi? Wartawan? Haters? Oh, pemeras?" Juna masih berucap dengan Nada pelan, santai, namun tegas. "Gue ga suka yang berbelit-belit. Mau lo apa? Uang?"

"Ckckck." Tian terkekeh. "Uang? Uang gue jauh lebih banyak daripada yang lo kira. Gue hanya ga habis pikir, seorang cowok yang udah punya pacar bisa-bisanya dateng nyamperin cewek lain malem-malem dan make acara meluk-meluk. Bahkan menginap. Huaaaahh itu mencurigakan. Apa lo suka sama cewek itu?" Akhirnyaa Tian bersuara.

Juna poker face. Kini dia condongkan badannya. Mengamati wajah Tian. "Kalo bukan uang yang lo mau terus apa? Lo mau laporin ini ke Risa? Atau memgangkat ini di media? Bikin heboh 1 Indonesia? Tapi satu hal yang harus lo tau, Nadine udah seperti adik buat gue. Paham?"

Tian geleng-geleng. "Apa boleh gue begitu? Melaporkan ke Risa? Angkat ini ke media? Bikin heboh 1 Indonesia?" Kini balik Tian yang menyondongkan badan. Mengamati wajah Juna yang membeku. "Kebimbangan hati lo hanya akan menyakiti Risa dan Nadine. Sadarlah Dokter Juna."

Juna tertawa remeh. "Sepertinya lo ngefans berat sama cewek gue saudara... Luki." Ucapnya seraya melihat nama dari data yang dia pegang.

"Ckckckck! Salah." Tian berdiri pindah duduk diatas tempat tidur pasien. "Sebaliknya. Gue fans Nadine nomor 1. Gue ga suka liat lo deket-deket sama dia."

"Apa?" Kini kesabaran Juna sudah habis. Dengan sigap dia remas sweater biru dongker yang Tian kenakan. "Heh! Siapa lo sebenernya?! Mau lo apa?! Hah?!"

Sebuah senyuman terukir pada wajah Tian. "Pergi dari kehidupan Nadine. Itu yang gue mau."

"Kalo gue ga mau, lo mau apa hah?! Gue ga akan ngebiarin cowok gila kayak lo deket-deket dengan Nadine!"

"Wah wah wah. Disini lo bertindak sebagai siapanya Nadine?" Dengan paksa Tian menghempaskan cengkraman tangan Juna. "Ayahnya? Kakaknya? Sahabat? Atau seseorang yang mencintai Nadine diam-diam?"

"Sakit lo. Seharusnya lo temuin psikiater." Juna kembali duduk dikursinya.

"Hahahahaha! Come on Juna, orang awam pun ngerti. Hanya dengan sekali liat." Kini Tian sudah ada diambang pintu. "Coba pikirkan baik-baik selagi gue masih memberikan kesempatan daripada lo nyesel."

"Sepertinya lo akan langsung berhadapan dengan gue. Karna gue... ngga akan menjauh sesentipun dari Nadine. Dan gue ga takut dengan ancaman lo itu."

"Kalo lo bener-bener sayang sama cewek lo, jaga dia baik-baik sebelum dia terluka. Mengerti?" Tian tersenyum sinis lalu pergi.

"Tunggu." Cegah Juna sebelum Tian benar-benar pergi. "Nih." Dia lemparkan dokumen kesehatan Tian didepan mejanya. "Lo harus tetep bayar."

Tian mendengus. Ucapan itu terdengar konyol. Dengan cepat Tian ambil berkasnya lalu pergi.

Dalam diam Juna mencerna kembali kata-kata Tian. 'Disini lo bertindak sebagai siapa? Ayahnya? Kakaknya? Sahabat? Atau seseorang yang mencintai Nadine diam-diam?'

"Lo salah Luki. Gue adalah orang yang pernah mencintainya. Iya. Pernah mencintainya."

Tanpa pikir panjang dia langsung menelepon Nadine. Sebuah sapaan membuat jantungnya berdesir. Tidak bisa dipungkiri, baru tadi pagi mereka bertemu kini dia sudah merindukannya.

"Nad, kamu sibuk?"

*****

NADINE (POV)

Aku terkejut saat menerima telepon dari mas Juna. Ini aneh saaaaaangat aneh. Dia menelponku jam segini? Ditengah jam prakteknya? Hoaaahh pasti ada sesuatu yang sangat penting.

"Ngga terlalu mas. Ada apa? Ada sesuatu kah?"
"Nope. By the way nanti malam kamu ada acara ga? Kita makan yuk. Aku yang traktir."
Lagi? Dia minta ketemu lagi. Kenapa?
"Mas kayaknya untuk hari ini aku ngga bisa. Aku ada janji sama klien. Maaf."
"Gituu. Oke ga papa. Next time aja. Eh ngomong-ngomong Nad, apa kamu familiar dengan yang namanya Luki?"

Whaaaaat the heeeelllllll! Duniaku bak bumi yang kehilangan gravitasi. Kenapa sih dia selalu mengusik kehidupanku? Mengusik orang-orang terdekatku.

"Dasar cowok gila satu itu bener-bener deh." Umpatku. Aaah dia membuatku gila. "Dia ngomong apa aja mas?"

"Dia minta aku jauhin kamu. Kalau ngga aku... ah entahlah dia serius atau ngga aku juga ngga tau. Tapi kayaknya di tergila-gila sama kamu."

Aku hanya bisa melongo. Cara Tian sungguh frontal dan pengecut. Pengecut karena menggunakan ancaman. "Kayaknya gue harus bener-bener bikin perhitungan sama dia." Aku menggumam. "Mas nanti aku telepon lagi ya. Bye."

Kututup teleponnya meskipun orang diseberang melarang. Gak pake mikir dua kali aku langsung nelepon Tian.

"Luki. Lagi dimana?" Tembakku langsung begitu telpon diangkat. Padahal belum ada sapaan dari seberang. Yang kudengar hanya suara tawa tertahan. "Kenapa ketawa?" Tanyaku galak.

"Hahahaha! Lucu aja. Kenapa aku ngga boleh ketawa?"

"Tapi apa yang lucu?!" Suaraku naik seperempat oktaf alhasil dia malah makin tertawa keras.

"Aaah aku merindukan hal seperti ini. Ini mirip seperti dulu."

"Apa?" Suaraku tertahan. Dengan cepat dia mengalihkan pembicaraan.

"Kenapa nelpon? Kerjaan udah selesai? Kita jadi ketemu?" Dia bertanya antusias.

"Iya. Dimana kita bisa bertemu?"

Kututup telepon setelah dia memberitahukan tempatnya. Terpaku sesaat. Mata hampa menatap lantai yang lumayan kotor. Kalimatnya terngiang-ngiang. Membuatku bertanya-tanya, bagaimana hubungan kami yang sebenarnya? Apakah benar apa yang orang-orang sekitarku bilang mengenainya? Atau aku harus bertanya langsung padanya? Bertanya soal kepingan puzzleku yang hilang. Aku yakin, dia pasti mengetahuinya.

"Lo mau pergi?" Suara khas itu membuat jantungku berdegup kencang. Aku celingak-celinguk. Mencari adakah orang lain selain diriku? Namun yang kudapatkan hanya kami berdua. "Lo mau pergi?" Aku mengangguk. "Kemana?"

"Menemui seseorang. Klien."

"Siapa? Klien itu siapa namanya?"

Aku merasakan kepedihan kembali memuncak didalam dadaku. Tolong, behentilah untuk sok peduli Abi. Karena itu akan menyakitkan. "Dengan siapa aku bertemu itu bukan urusanmu." Ucapan ketusku itu membuatnya terdiam. Kuputuskan untuk pergi. Berjalan cepat melewatinya.

"GUE TANYA LO MAU KETEMU DENGAN SIAPA?!"

Langkah kakiku terhenti. Suara bentakan menggelegar dilorong ini. Aku berbalik. "Kenapa? Kenapa lo harus peduli?"

"Kenapa?! Lo masih nanya kenpa?" Dia berjalan cepat kearahku. Wajahnya nampak begitu kesal. Membuatku menciut. "GUE SURUH LO MENGHINDARI DIA TAPI KENAPA LO MALAH NYAMPERIN DIA?! Lo gila ya?"

"Ngga. Aku ngga gila. Aku hanya merasa ini harus dihentikan."

"Apa?"

"Aku ngga bisa berpura-pura ngga mengenalnya. Aku ngga bisa membiarkan orang-orang terdekatku terancam karena dia. Aku ngga bisa menerima kalau kamu lebih memilih Risa dibandingkan aku hanya karena dia." Aku terkekeh, Entah kenapa ini terdengar konyol. "Aku tau dia meneror Risa, karena dia juga meneror Mas Juna. Aku yakin dia pasti meneror kamu juga. Aku ngga mau hal itu terjadi lagi. Aku ngga mau kehilangan orang-orang yang aku sayang hanya karena dia." ucapku dengan berapi-api. Entah kenapa aku merasa muak.

Abi terdiam. Matanya lurus menatapku. Entah apa yang dia cari disana. Tapi yang kukatakan barusan adalah jujur.

"Aku masih belum menyerah terhadapmu, Abi. Jadi kalau masalah ini udah clear, please ijinin aku buat deketin kamu." Tidak ada jawaban apapun darinya. Aku merasa ini lebih baik dibandingkan harus mendengar kata-kata penolakan dari mulutnya yang malah bisa bikin semangat menurun. "Aku pergi."

*****

Disebuah cafe dibilangan Jakarta Pusat.

Ngga perlu menunggu lama. Dia datang 10 menit kemudian. Wajahnya nampak sumeringah. Langkahnya pun mantap dan penuh percaya diri. Badannya yang tinggi ramping dengan balutan stripe t-shirt lengan gulung serta celana jeans. Ngga ketinggalan style rambut pomad yg super kekinian. Dia berhasil membuat mata cewek melirik padanya. Termasuk diriku. Awalnya aku kira dia orang lain ternyata memang dia. Luki yang kulihat saat ini berbeda dengan yang kutemui dikantor.

"Udah dari tadi ya?" Ucapnya seraya duduk didepanku. "Loh kamu belum pesen apa pun?"

"Udah kok. Cuma belum dateng aja. Kamu pesen aja dulu."

Ngga banyak bantah dia langsung melihat-lihat menu. Saat dia sibuk memilih menu makanan, aku sibuk dengan pemikiranku sendiri. Soal apa yang harus aku katakan dan dari mana aku harus memulainya?

"Ada yang mau disampaikan?" Tanyanya dengan mata terus melihat buku menu. Aku menggeleng. "Tapi sepertinya ada yang mau ditanyakan? Tanyain aja. Nanti aku jawab."

"Mau sampai kapan berpura-pura menjadi klienku, Tian?"

Kini dia tutup buku menu tersebut dan beralih melihatku. Sebuah senyuman nampak diwajahnya. Jujur aku merinding. Dalam sekejap tatapannya berubah. Tidak, maksudku ekspresi wajahnya berubah.

"Sepertinya kamu sudah mengetahui siapa aku. Apa yang mereka katakan soal aku? Bukan, maksudku, apa yang sudah Ari katakan?"

Aku terdiam. Berusaha tenang walau sebenarnya gelisah bukan main. "Apa yang mereka katakan atau apa yang Ari katakan itu bukan masalah."

"Kalau memang itu bukan masalah lalu kenapa kamu permasalahkan?"

"Tindakanmu mengancam orang-orang terdekatku itu yang menjadi masalahku. Ini hanya antara kita. Jadi jangan libatkan orang lain. Aku mohon."

Dia tersenyum sinis. "Mereka lebih menggelikan daripada aku. Kamu tau kenapa? Karena mereka membohongi perasaan mereka yang sebenarnya. Kita tinggal nunggu waktu aja siapa yang akan menyadarinnya duluan."

"Maksud kamu apa sih?"

"Nadine kamu tuh terlalu naif. Mereka bilang cinta, tapi cintanya berubah. Itu bukan cinta namanya karena cinta itu ga patut berubah. Contohnya cinta aku ke kamu. Itu ngga pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Dari hidup bebas, dipenjara, hingga bebas lagi. Perasaan aku ngga berubah."

Ya Tuhan. Apakah barusan aku mendengar pengakuan cinta? Tapi pengakuan kali ini agakanya membuat tubuhku merinding. Dia mengerikan.

"Apapun teori kamu terserah. Tapi please jangan ganggu orang terdekatku. Jangan sakiti mereka. Jangan lukai mereka."

"Ayo kita pulang, Nad!."

Tanganku tiba-tiba ditarik membuatku reflek berdiri.

Tuhan ini nyata atau hanya imajinasiki saja. Jantungku berdebar saat melihat Abi berdiri didekatku. Dan semakin berdebar-debar saat melihat Tian ikut berdiri menghadang kami.

"Lo pikir lo bisa bawa pergi dia seenaknya?" nada Tian terdengar geram. Matanya ngga bisa berbohong.

"Lo pikir lo punya hak buat nahan dia disini? Sadarlah bung, dia bukan milik lo."

"Dan dia juga bukan milik lo."

Abi terkekeh. Baru dia mau mengucapkan sesuatu, aku memotongnya.

"Seandainya kamu ngga memakai cara ancaman itu, mungkin saja aku bisa tertarik padamu, Tian."

"Apa?" Abi dan Tian bertanya berbarengan dengan 2 nada yang berbeda. Satu dengan keterkejutan dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya, yang satunya lagi dengan tanda tanya besar dan sedikit harapan.

"Ayo kita pergi Nad. Jangan sampe lo ikutan gila." Ucap Abi lalu berlalu sembil menarik tanganku.

"Tunggu." Suara Tian menghentikan langkah kami. Abi berbalik. Bak pion dia melindungiku. Genggaman tangannya ngga lepas sedetik pun. Kini mereka kembali berhadapan.

"Gue akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik gue. Ingat itu baik-baik Abi."

 

To be continue...

 

_______________________

 

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved