Abi & Nadine : Part 9

Authpr : Audria Pohan

 

NADINE (POV)

"Gue akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik gue. Ingat itu baik-baik Abi."

Badan yang sama-sama tinggi itu saling berhadapan. Kilatan kebencian Tian terhadap Abi terlihat jelas dari tatapan matanya.

Tapi, apa maksud ucapan Tian barusan? Sebuah kalimat ancaman atau peringatan? Lagipula, apa yang seharusnya menjadi milik Tian dan apa yang sudah direbut darinya?

Argh! Saking banyaknya pertanyaan membuat otakku mau pecah.

Kulirik Abi.
Dia diam namun matanya menyipit. Menatap tajam orang didepannya sebelum sebuah seringai terlihat.

"Ayo pergi." Ucapnya singkat seraya menarikku pergi meninggalkan Tian yang terpaku.

"ELO UDAH GILA YA?! Mau cari mati? HAH?!" Abi membentakku. Saat kami sudah berada diparkiran.

"Kamu yang gila! Kamu yang mau cari mati! Kamu ngga akan tau apa yang bakalan Tian lakuin kan?"

Dia diam. Melotot kepadaku menyuruhku masuk kedalam mobil.

Sepanjang perjalanan dia hanya diam. Sesekali mengehembuskan nafas panjang. Apa yang dia pikirkan aku ingin mengetahuinya.

"Kamu menyesal?" Tanyaku akhirnya.
"Menyesal kenapa?"
"Menyesal karena datang."
"Ngga sama sekali."

Jawaban itu membuatku terdiam. Lagi-lagi berfikir dan bertanya-tanya.

"Kenapa kamu datang? Padahal kamu bilang sendiri kamu mau melindungi orang yang udah lama kamu kenal, dibandingkan orang yang baru kamu kenal. Kenapa... kamu datang?"

"Entahlah. Apa itu penting?"

"Iya. Itu penting. Kenapa kamu datang? Kamu berubah pikiran?"

"Ngga. Gue ngga berubah pikiran. Hanya saja mulai sekarang, gue akan melindungi orang yang udah lama gue kenal lebih dari sebelumnya."

Kalimat itu kenapa begitu menyakitkan?
Rasanya sesak.

Kuhembuskan nafas perlahan. Mencoba menetralkan sakit hati, maksudku rasa perih aneh didalam dadaku.

"Haaaaah lebih baik kamu ngga usah datang kalau alasannya seperti itu." Aku terkekeh. Menertawakan diri. Menyadari betapa bodohnya aku mengharapkan jawaban lain.

"Tolong berhenti Bi. Turunin aku dihalte depan situ."

Kurasa, menjauh darinya adalah hal yang tepat. Setidaknya untuk saat ini.

"Kenapa? Lo marah? Kecewa? Makanya lo mau turun."

"Hahahahaha. Ngga kook. Aku ada janji sama temen di Sency. Jam 7 sih janjiannya tapi ga papa bisa muter-muter dulu."

"Gitu."

Tanpa pikir panjang dia menepi. Hazard pun dipasang.

"Thanks ya Bi. Bener-bener makasih banget. Oh iya, kalau nanti kamu tahu aku menemui Tian. Please, jangan tiba-tiba dateng kayak tadi. Jangan dateng kalau alasannya masih sama. Lagi pula, aku punya alasan sendiri kenapa aku menemuinya. Jadi, jangan ikut campur."

"Oke. Just take care of your self, Nadine."

Kubalas dengan sebuah senyuman sebelum akhirnya keluar. Tanpa basa-basi ataupun membuka jendela, dia pergi. Ya, dia pergi meninggalkan rasa perih ini, lagi.

 

*****

 

WRITER (POV)

Abi berjalan lesu memasuki sebuah ruangan. Ruangan dimana segerombolan artis, aktor, model, dan penyanyi itu berkumpul.

"Lemes amat kayak tisu toilet kena aer. Kenapa lo?" Celetuk Andika. "Abis berantem sama Nadine?" Pertanyaan candaan itu berhasil membuat Abi menoleh galak. Tatapan matanya seolah berkata 'dari mana lo tau?'

"Cieee... napa serius amat bro. Udahlah ga usah dipikirin." Kini Anya menimpal. "Gak lama juga baekan. Biasalah cewek emang begitu. Atau lo yg cari perkara?"

Abi melotot. Ucapan kedua temannya itu sok tau melebihi cenayang gila dikomplek rumahnya. Malas menanggapi, Abi memilih menenggak sekaleng cola nganggur didepannya.

"Jadi lo belom jadian? Ckckck gue kira lo berdua udah jadian setelah ciuman maut lo itu."

Semburan air cola mendarat sempurna diwajah Banyu. Kata ciuman membuat Abi tersedak. Dia terbatuk-batuk nyaris bengek.

"Barusan lo bilang ciuman? Gue? Dengan siapa?"

"Ckckckckck. Ternyata gue jauh lebih baik dari kunyuk satu ini." Banyu menatap jijik kearah Abi. Well, anggap saja dia bercanda. Dia lap seluruh wajahnya dengan tissue.

"Banyu gue serius. Gue nyium siapa?"

"Nadinelah, nyet. Sapa lagi." Banyu menyipitkan mata. Berusaha menangkap reaksi Abi yang nampak shock berat. "Begh dasar cumi rawa! Pake kagak inget segala. Kasian bener si Nadine, dicipok sama cowok yang ga inget pernah nyipok dia. Ckckck. Pray for Nadine."

"Wait, lo semua pasti mau ngerjain gue." Abi masih berusaha menolak ucapan temannya. Sebelum sebuah foto iseng yg diambil Inge -kembaran Anya, membungkam mulutnya. Reflek dia mengambil handphone itu sambil sesekali ngezoomin buat memastikan itu benar dia & Nadine.

"Anjir, kok bisa." Abi terperangah.

"Sembah sungkem lo sama Nadine. Btw emang dia ga ngomong apa-apa?" Inge mengambil kembali hpnya sementara Abi hanya menggeleng.

"Mana ada sih cewek yang mau ngasih tau duluan. Apalagi si cunguk satu ini gak inget apa-apa." Caka akhirnya bersuara setelah diem aja dari tadi. "Saran gue, pura-pura aja lo gak inget. Meskipun lo udah tau. Daripada awkward."

 

***

 

NADINE (POV)

"Ngga. Gue ngga berubah pikiran. Hanya saja mulai sekarang, gue akan melindungi orang yang udah lama gue kenal lebih dari sebelumnya."

Kata-kata itu terus terngiang. Aku ingat semua intonasi juga ekspresinya. Kalimat itu sukses membuat goresan kecil dihatiku.

Aaaah Nadine. Apa sih yang sebenernya lo harepin? Abi jatuh cinta sama lo gitu? Jangan ngimpi! Memangnya lo siapa? Realistislah jadi orang!

Aku bercermin.
Kalau dibandingkan Risa, aku kalah telak. Kalau ditanya minder? Ya, aku minder. Seandainya aku adalah dia yang memiliki segalanya. Mungkin aku bisa lebih bahagia tanpa harus bekerja terlalu keras untuk menghidupi keluargaku. Kehilangan masa mudaku. Karna saat muda, yang aku tahu cuma satu. Kerja, kerja, kerja.

Astagaa!! Nadine istigfar. Gak ada gunanya membanding-bandingkan diri sendiri dan orang lain. Ya Tuhan, ampuni hamba.

Kini kututup keran kemudian memastikan kembali kalau riasan wajahku baik-baik saja lalu pergi.

Sendirian dimall bukanlah hal pertama buatku. Keluar masuk toko, galau mau makan apa, pergi ke theater ga tau mau nonton apa. Saking seringnya aku jadi sudah terbiasa.

Saat kuhubungi Tata dia sedang deadline. Sedih sekali mengingat temanku hanya Tata seorang. Kalau kutelepon Ari, mungkin dia sibuk dengan webseries itu.

Ya ampun! Saat Abi menemuiku bukannya dia sedang reading? Terus reading dia gimana?

Kucoba menelpon Ari. Nada sambung itu layaknya bom waktu. "Kenapa mba?" Suara Ari terdengar. Setelah kulontarkan beberapa pertanyaan basa-basi busuk, aku pun mulai masuk ke inti pertanyaan.

"Abi, tadi apa dia pergi kesuatu tempat? Maksudnya dia bisa selesaiin readingnya dengan baik kan?"

"Dia kabur." Nafasku tertahan mendengarnya. "Dia kabur buat nemuin mba yang nyari mati dengan nemuin Tian."

What the heeellllll!! Ari tau! Jadi si Abi bilang sama Ari?!

"Aku akan ngomong serius sama mba. Aku tunggu dirumah."

Telepon dimatikan. Aku kenal adikku dengan baik. Kalimat dan nada bicaranya, ah aku pasti habis dirumah. Gimana dong ini? Si Abi tuh bener-bener deh! Ngapain sih dia pake bilang-bilang segala. 

Aku terlonjak saat seseorang menepuk bahuku. Reflek aku berbalik dan mendapati seorang pria tionghoa berbadan tinggi dan atletis berdiri dibelakangku. Kurasa dia artis. Seperti pernah melihatnya entah dimana.

"Mungkin kamu lupa." Ucapnya diimbangi dengan senyuman ramah rupawan. "Saya Wisnu, managernya Abi."

Astaga. Benar juga. Pantas seperti pernah melihatnya. Kubalas uluran tangannya. Ya, kali ini aku ingat. Dia yang ngga lepasin tanganku saat launching butik.

Well aku sempat kegeeran. Kupikir dia tertarik padaku sebelum aku melihat sebuah cincin melingkar dijari manisnya. Kurasa dia sudah menikah mungkin sudah memiliki anak mengingat pampers bayi dikresek yang dia bawa.

"Ga nyangka ketemu disini. Sama Abi jugakah?"

Aku menggeleng.

"Wah kebetulan. Ada yang mau saya bicarakan. Kamu ada waktu? Mungkin kita bisa ngobrol di starbucks."

OMG! Kira-kira apa yang akan dia bicarakan yaa? Ah pasti omelan-omelan soal insiden sore tadi. Ih si Abi bener-bener deh bikin rumit.

"Gimana lineclothnya? Lancar?" Dia membuka pembicaraan setelah meletakan segelas coklat panas dimeja.

Kubalas dengan anggukan. "Sangat baik. Ini semua juga berkat Abi. Kedatangannya sangat membantu. Hahaha!"

"Hahaha! Benarkah?"

Lagi-lagi aku mengangguk.

"Well, langsung aja ya Nad. Aku bukan tipe basa-basi. Gimana kalau kamu kerja dengan kami sebagai personal stylistnya Abi?"

Tunggu. Apa aku ngga salah dengar?

"Jadi begini. Mulai minggu depan, personal stylistnya Abi akan cuti hamil. So, aku mau rekrut kamu untuk menggantikan posisi dia. Hanya 3 bulan."

"Kenapa saya kak?" Ucapku terbata. Jujur aku shock. "Saya kan ga bisa fulltime. Takutnya keteteran."

"No no no. Ini ga fulltime. Kamu kerja saat diperlukan. Misal acara on air dan beberapa acara off airnya aja. Off air on airnya pun beberapa. Paling dalam sebulan bisa 5 sampai 7 event."

"Saya masih ngga paham mas."

"Oke jadi gini, jobdesk kamu adalah stylingin Abi head to toe. Tiap awal bulan aku akan kirim list event apa yang mengharuskan Abi untuk distyling. So, kamu harus menyiapkan kebutuhannya dari kepala sampai kaki. Kamu bisa pinjem barang kebeberapa designer, huge brand, ataauuuuu... Kamu buatkan beberapa outfit rancanganmu dan pakaikan itu pada Abi. Its all up to you."

Aku seperti mendapatkan angin surga. "Tunggu. Itu berarti, kalau saya pakaikan Label pada Abi maka Label bisa semakin dikenal luas."

"Tepat sekali! Selain itu kamu juga akan dibayar perbulan diluar dari Label yang support outfitnya Abi. You got the money and you got the promotion for free. So, how Nad? Menarikkan?"

Wah gilaaaa!! Ini sih menarik bukan main. Kapan lagi bisa dapet promosi low cost dibadan seleb sekaliber Abi. Try to be realistic. Pertama, aku akan terlibat langsung dengan Abi. Itu berarti aku punya alasan untuk mendekatinya. Kedua, Label akan semakin dikenal orang banyak. Apalagi Abi suka ngetagin outfit yang dia pake di IGnya. Ketiga, a lot of money, money, & money.

"I'll give you this opportunity. You wanna take it or leave it?" Wisnu bertanya kembali.

"Of course I'll take it. Hahahaha!!"

 

*****

 

WRITER (POV)

Abi melihat jam tangannya. Wajahnya gelisah. Seakan menimbang-nimbang. Jarum jam menunjukan pukul 19.37 WIB. Entah kenapa diotaknya teringat Nadine.

Seharusnya dia masih di sency. Batinnya.

"Samperin aja udeeh. Daripada galau." Nyinyir si Andika. Dia tenggak beer. "Lo tuh gampang banget ditebak. Asli."

"Masa sih?" Pertanyaan itu dijawab anggukan serempak dari gengnya. Kini Abi ngga ngebantah apapun kata Andika. "Kalo gitu gue cabs duluan ya."

Didalam mobil, Abi menelepon Nadine namun ga kunjung diangkat. Berkali-kali dia telepon ngga diangkat sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi. Urusan Nadine masih disana atau tidak itu bukan masalah.

"Halo. Lo masih di sency?" Tembak Abi langsung begitu telepon diangkat. Jalanan cukup bersahabat ngga terlalu macet.

"Masih. Kenapa Bi?"

"Udah selesai ketemuannya?"

"Belum ini aku lagi ngobrol dengan kak Wisnu."

"Hah?! Ngapain dia disitu?"

"Hanya membicarakan ini dan itu."

"Jangan kemana-mana gue kesana."

 

*****

 

NADINE (POV)

Speachless. 
Itu yang kurasaakan saat Abi menutup teleponnya. Dia akan kesini. Menyusulku. Ya Tuhan, kali ini apa lagi. Apa dia akan menggores hatiku dengan kata-katanya?

"Pasti Abi. Kenapa? Dia mau kesini?"

"I-iya."

"Ya udah kita tingguin aja."

30 menit berlalu. Selama itupula kami membicarakan banyak hal. Salah satunya membahas Felicia, anak dari kak Wisnu. Si balita gemuk berumur satu tahun itu sangat menggemaskan. Pipinya setembem tomat dengan mata sipit. Rasanya ingin kubanting saking gemasnya.

"Dia paling betah kalo digendong Abi. Kadang suka ngga mau lepas. Hahaha." Ceritanya penuh semangat sembari menunjukan sebuah video. Bukti bahwa apa yg dikatakannya benar.

"Ngobrolin apa sih? Seru amat." Tiba-tiba Abi sudah berada disampingku. Dia seret sebuah kursi lalu duduk.

"Si Feli." Kak Wisnu menarik kembali hapenya. "Biasalah papa muda bangga punya anak. Ngomong-ngomong tumben, ada apaan lo kemari? Lo nyariin gue apa Nadine?"

"Nadinelah. Ngapain juga gue nyariin lo."

Aku tertegun. Reflek menoleh kearah Abi. Dengan santainya dia menyeruput minuman Kak Wisnu sementara otakku mencoba menafsirkan ucapannya.

Dia mencariku. Tapi untuk apa? Bukankah saat dimobil tadi sudah seperti ucapan perpisahan bahwa kita ngga akan ketemu lagi. Tapi kenapa sekarang dia ada disini?

"Wah kebetulan banget. Sekalian aja deh ya gue mau kenalin pesonal stylist lo yang baru buat 3 bulan kedepan."

"Whaaatt?!!" Abi kaget bukan main. "Elo Nad?!"

"Yup! Nah lo berdua pdkt dulu yaa. Gue tinggal. Oh iya Nad, lusa lo ke kantor ya. Jangan lupa."

Aku mengangguk. 
Tanpa perlu banyak basa basi lagi, dia pergi 
Kini Abi pindah duduk didepanku. "Lo serius?"

"Ya iyalah serius. Masa aku mau sia-siain kesempatan bagus depan mata."

Abi terdiam. "Pokoknya gue ga mau."

"Kenapa? Apa karena itu aku? Apa karena itu Nadine makanya kamu ngga mau?" Ucapanku membuatnya bungkam. "Apa kamu takut dia akan terluka? Apa kamu melindungi orang yang udah lama kamu kenal lebih lebih dari sebelumnya kalau aku terima side job itu?"

"Iya gue takut dia terluka. Dan gue akan lebih, lebih, lebih, lebih, dan lebih melindunginya daripada sebelumnya. Gue akan berusaha semampu gue buat ngelindungin dia."

Lagi-lagi seperti ada yang mengiris hatiku. Jawaban itu, aku membencinya.

"Nad, kalo lo kerja sama gue, gue ga bisa jadi temen lo. Kita hanya bisa jadi rekan kerja thats it."

Kali ini giliranku terdiam. "Ngga masalah. Karna aku juga ga mau jadi teman kamu. Aku pernah bilang kan Bi, kalau aku belum menyerah terhadapmu. Aku akan bikin kamu tertarik padaku. Karena itu aku ngga mau kita berteman."

"Oke. Kita lihat seberapa kuat lo bertahan."

 

To be continue...

 

_______________________

 

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved