FINAL REVELATION | PART 2

Author : Nia Destari

 

Kalimat itu tidak membuatku berhenti membaca kertas itu. Warna usang dari kertas itu lebih menarik daripada kata jangan. Aku terus membaca laporan pembunuhan itu. Sungguh aku tidak berani melihat foto yang terlampir. Sangat mengenaskan. Kedua kakinya teramputasi dan tubuhnya habis terbakar. Aku benar-benar baru mengetahui luka bakar 100% aslinya tanpa direka. Mengerikan.

Nama : Lee Donghae

Usia : 26 tahun

Hasil autopsi : Luka bakar 100% diseluruh tubuh, kedua kaki teramputasi, ditemukannya beberapa virus tetanus yang belum terangkat, kulit kepala robek 20 jahitan

Deskripsi kejadian : Ditemukan dirumah korban, Mokpo, tanggal 26 Juni 1987 pada pukul 18.21 KST dalam keadaan wafat. Rumah tersebut kosong. Tidak ada siapa pun. Namun akhirnya kami menemukan salah satu saksi, Lee Hyukjae, yang merupakan teman baiknya dan juga sepupu korban. Saksi mengatakan bahwa kedua orangtua korban sudah lama meninggal karena kecelakaan pesawat yang ditumpangi. Selama ini korban hanya tinggal sendiri di rumahnya semenjak kedua orangtuanya wafat. Saksi sering datang kerumah korban hanya untuk menemani. Tapi saksi mengatakan ketika pukul 17.00 KST korban dalam keadaan baik-baik saja. Karena dalam keadaan baik-baik saja, sang saksi pulang kerumah, meninggalkan korban dirumahnya. Dan ketika kami menyelidiki rumah korban, saksi datang 10 menit setelah kedatangan kami. Ia mengatakan ia tidak melihat siapa pun memasuki rumah itu. Kami juga tidak dapat jejak kemana tersangka pergi. Tidak ada sidik jari dimana pun. Jejak kaki juga tidak ada.

Tersangka : Belum ditemukan.

Inspektur : Choi Yoondae

Siwon merampas kertas yang kubaca. Emosinya memuncak. Tapi ia cukup bisa meredam emosinya tersebut. Suasana menjadi hening. Kyuhyun dan wanita itu melihat kearahku. Trouble maker? Oh bukan. Tidak mungkin aku membuat kekacauan di kantor seorang inspektur. Siwon merapikan berkas-berkas itu dan memasukkannya ke dalam lemari yang ada dibelakangnya.

“Aku penasaran—“

“Lupakan tentang semua yang kau baca Jiyon-ssi.”

“Kau Yong Jiyon?” tanya perempuan itu sambil tersenyum. Ia mendekatiku lalu tersenyum sok akrab, “Aku Song Victoria. Senang bisa berkenalan denganmu secara langsung. Aku sudah mendengar kehebatanmu dari Kyuhyun dan Siwon.” Ia mengulurkan tangannya.

Kyuhyun menyengir. Memangnya ini lucu?! Aku hanya bisa membalas uluran tangannya lalu menjabat tangannya.

“Kudengar kau memang tertarik dengan hal-hal yang berbau um…misteri? Ah kebetulan sekali. Aku baru mendapat predikat detektif wanita termuda di China. Mungkin aku bisa membantumu?”

“Tidak perlu.” Aku mencoba tersenyum sangat manis kepada Victoria, “Sudah ada Kyuhyun yang membantuku.”

“Ya! Tapi aku butuh seseorang untuk menganalisis masalah!” Kyuhyun mengamuk.

“Ya! Aku bisa membantumu!” Entah mengapa aku merasa marah mendengar Kyuhyun tak sependapat denganku.

“Bagaimana kalau aku membantumu menguak kasus yang baru saja kau baca?” Tawar Victoria.

Sial. Tawarannya sangat menggiurkan. Lagipula dia sudah di cap sebagai detektif di China.

“Jangan!” Siwon membentak, “Sudah kubilang. Jangan selidiki masalah itu.”

“Wae?” Kyuhyun menyuarakan pikiranku.

“Tidak. Kalau kalian menyelidiki kasus itu, kalian tidak akan pulang.”

“Maksudnya—“

“Lebih dari berpuluh-puluh orang menyelidiki kasus ini dan berujung pada kematian.”

Hening. “jangan bercanda, Choi Siwon,” Kataku.

“Aku tidak bercanda. Kau kira ini dongeng horror untuk menakuti anak-anak—“

“Kami memang bukan anak-anak.”

“Dan ini memang bukan dongeng horror agar kalian tidak menyelidiki kasus ini. Ayahku meninggal ketika sedang menyelidiki kasus ini. Inspektur pengganti ayahku juga meninggal ketika sedang menyelidiki kasus ini. Banyak laporan kehilangan anggota keluarga hingga pembunuhan yang menyangkut dengan cerita Lee Donghae tersebut.”

“Intinya, kalau kami menyelidiki kasus itu kami akan—mati?”

Siwon mengangguk.

“Ahahaha. Kurasa ini lelucon yang seru. Aku ingin membuktikannya.”

Siwon melengos, memutar bola matanya.

“Siapa yang ingin ikut denganku?” Tanyaku sambil melihat kearah Kyuhyun dan Victoria. Mereka diam, “Tidak ada yang mau ikut denganku?”

“Aku ikut.” Victoria mengangkat tangannya terlebih dahulu.

“Aku juga.” Kyuhyun berkata dengan linglung.

Aku berbalik badan, melihat keadaan Siwon. Ia mendengus.

“Kami akan buktikan kalau kami tidak akan … mati.”

**

Kyuhyun mengarahkan mobilnya menuju Banpo-dong, lebih tepatnya menuju Perpustakaan Nasional Korea. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Yang terpenting mulai hari ini kami akan menyelidiki kasus itu. Aku yakin aku bisa membekuk siapa pelakunya. Tidak, kami tidak akan mati. Aku bisa menerawang kalau kami tidak akan mati.

Kyuhyun memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang kosong. Kami keluar dari mobilnya dan langsung masuk saja ke dalam perpustakaan itu.

“Ah! Rasanya sudah lama sekali aku tidak kesini!” Victoria menggumam. Ia mempercepat langkahnya daripada kami.

Kyuhyun tersenyum sendiri. Aneh. Apa dia jatuh cinta kepada Victoria? Entah mengapa ada sebagian kecil dari diriku yang memberontak, sangat kecil. Apa Kyuhyun merupakan seorang PRIA yang benar-benar akan jatuh cinta pada pandangan pertama? Hell, itu adalah kebohongan belaka! Dan sampai saat ini aku belum juga menemukan kebenaran dibalik fakta jatuh cinta ketika melihat mata lawan jenis selama 3.7 detik! Aku sering menatap Kyuhyun lebih dari 3.7 detik tapi sampai sekarang aku belum juga jatuh cinta padanya.

“Kau—jatuh cinta pada pandangan pertama?”

Kyuhyun terkekeh lalu mengendikkan bahunya sambil memajukan bibir bawahnya.

“Jawab saja.”

“Coba kau terawang.” Ia memberhentikan langkahnya, seperti memberikan telepati kepadaku. Tapi aku sedang tidak bisa konsentrasi karena aku sedang tidak bisa mengontrol diriku hari ini. Ahh jinjja, “Dia akan menjadi istriku atau tidak?” Ia kembali terkekeh lalu berlari mengejar Victoria.

Sebagian kecil dari diriku itu mulai besar, memberontak dan memberontak. Apa ini namanya ... cemburu?

“Hei! Tunggu aku!” Percuma saja aku berlari, toh kaki mereka yang panjang akan duluan sampai daripada kakiku yang pendek ini.

**

“Jadi kau indigo?!” Victoria menutup mulutnya setelah mengatakan itu. Hampir semua mata memandangi kami. Untung saja suaranya tidak terlalu besar. “Omo, kalau begini kita tidak perlu menelaah secara berkepanjangan. Kau cukup membayangkan tahun kejadian dan lihat siapa pelakunya.”

“Tidak semudah itu.” Aku menegaskan bisikanku, “Semua memang harus ada alasannya untuk menganggap seseorang itu pelakunya. Dan yang harus aku lakukan memang memutar kejadian tahun itu. Tapi aku harus menyusun alasan yang jelas untuk memperkuat dugaanku. Ingat, dimana ada asap pasti ada api. Tidak mungkin Lee Donghae meninggal membakar dirinya sendiri.”

Kyuhyun terdiam. Sepertinya ia memikirkan sesuatu. Ia berjalan, entah kemana. Victoria ikut memikirkan sesuatu. Tidak, aku benar-benar tidak bisa menerima telepati yang masuk ke dalam otakku. Aku sedang tak berada di dalam kontrol diriku. Aku mencoba ikut dalam pemikiran mereka. Memikirkan bagaimana caraku bisa mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.

Kyuhyun membuka buku yang ia pegang dengan tergesa-gesa lalu duduk dihadapanku, “Retrokognision.”

Aku mengerutkan alisku. Victoria melongokkan kepalanya melihat apa yang sedang Kyuhyun lihat.

“Retrokognision dimana seorang indigo bisa membuat atau memprediksi masa lampau. Membuat peristiwa maksudnya bisa menggambarkan peristiwa lampau yang sedang ia lihat.”

“Aku tak pernah tahu aku punya kemampuan seperti itu.”

“Seorang indigo juga bisa mengembarai dimensi waktu. Dimensi waktu itu seperti tangga spiral yang harus dilalui. Orang indigo cukup berkonsentrasi atau membayangkan sesuatu yang terjadi di tahun yang akan dilihatnya.”

Hening. Kyuhyun melanjutkan membacanya.

“Tapi disini tidak diberitahukan kau bisa hidup di masa lampau atau tidak. Kau hanya bisa melihat situasi masa itu.”

“Ya! Ini buku tahun abad ke 20. Lama sekali. Memangnya penulisnya ini indigo?” Victoria mulai mengeluarkan pertanyaannya.

Kyuhyun mengendikkan bahunya sambil memajukan bibir bawahnya.

“Aiss aku lahir tahun 1989, dan aku tidak tahu bagaimana keadaan Mokpo di tahun 1987.”

Semua ikut berfikir karena ucapanku tadi. Kyuhyun memainkan jari lencirnya diatas meja. Membuat suara berisik. Aku tidak bisa berkonsentrasi secara penuh kalau begini. Dan tiba-tiba saja Victoria menarikku kearah ruangan khusus komputer dan internet. Semua pengunjung perpustakaan ini selain dimanjakan dengan fasilitas buku yang lengkap, juga bisa merasakan berselancar di dunia maya sesuka hatinya disini.

Vict—sepertinya aku harus memulai memanggilnya seperti ini agar terdengar simple—menekan tombol power on CPU dan komputer itu. Setelah menunggu kurang lebih satu menit, tampilan windows sudah terlihat. Ia segera membuka program searching, lalu menuliskan Mokpo 1987. Beberapa pemandangan Mokpo terpampang dilayar computer. Kebanyakan foto Mokpo masa kini.

“Aiss apa search engine-nya tidak berfungsi?!” gumam Vict.

“Entahlah. Sepertinya search engine ini tidak mengerti maksud kita.”

Vict mengubah keywordnya. Mokpo tahun 1987. Dan sekarang yang terpampang adalah keadaan Seoul tahun 1987. Ada apa ini?! Apa search engine ini benar-benar rusak? Hell. Apa mungkin penemu search engine ini belum mengupgrade program buatannya? Aku ingin sekali membanting komputer yang ada dihadapanku sekarang. Vict menghapus keywordnya.

“Kau ingat nama korbannya bukan?” Vict bertanya.

Aku mengangguk, “Lee Donghae.”

Dengan sigap Vict mulai menuliskan keywordnya lagi, Pembunuhan Lee Donghae di Mokpo tahun 1987. Great! Banyak artikel yang membahas kasus tersebut. Dan penulis artikel itu rata-rata memang dari Mokpo. Vict membuka satu persatu artikel tersebut. Artikel pertama sama dengan apa yang kubaca, dan aku baru tahu kalau itu memang blog kepolisian Mokpo. Artikel kedua, kurasa blogger yang memiliki blog ini hobynya copy paste artikel buatan orang lain. Artikel ini sama persis dengan artikel pertama. Artikel ketiga. Mengejutkan.

Gambaran rumah yang sangat besar, namun aku sudah tahu kalau isinya tidak ada orang. Megah tapi terlihat sepi. Tidak berguna.

Rumah diatas adalah rumah temanku, Lee Donghae. Dia sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Aku mengambil foto itu tepat ketika istriku meninggal. Well, aku tidak akan memfitnah siapa pun yang membuang nyawa istriku. Tapi aku percaya bahwa ia dibunuh oleh ‘pembunuh’ Donghae. Peregang nyawa tak berotak.

26 Juni 1987, tepat 10 tahun yang lalu, Donghae ditemukan tewas di rumahnya dalam keadaan mengenaskan. Tubuhnya hangus terbakar. Sebelum ia meninggal, ia juga pernah mengalami tetanus yang mengakibatkan kakinya harus diamputasi. 2 sekaligus. Belum lagi kecelakaan yang menyebabkan ia harus mendapat 20 jahitan di kepalanya. Kondisi itu sudah cukup mengenaskan. Tapi ia tetap berjuang mempertahankan perusahaan milik keluarga besarnya yang mulai menurun. Untung saja ada Hyukjae yang bisa membantunya. Aku merasa tidak dipentingkan lagi ketika seperti itu. Aku merasa lemah. Hyukjae dengan hati nuraninya ia membantu Donghae yang mengalami masa sulitnya. Sedangkan aku, aku hanya bisa menikahi gadis yang kucintai, Yoon Jaemi, dan aku baru tahu kalau Donghae dan Hyukjae juga mencintai Jaemi. Jaemi gadis yang sangat manis, ceria, dan ramah. Tidak salah kalau kami semua mencintainya. Tapi ada satu rasa penyesalan yang terbersit dihatiku. Kalau saja Donghae menikahi Jaemi, pasti hidupnya akan lebih bahagia. Aku tahu mereka berdua saling mencintai. Aku tahu itu. Tapi mengapa Jaemi menerimaku?

Aku tidak tahu kronologi kasus pembunuhan Lee Donghae secara menyeluruh. Seingatku sekitar pukul 16.20 Donghae memanggilku dan Hyukjae ke rumahnya. Kami banyak bercerita, terutama tentang kenangan persahabatan kami. Dan berakhir ketika Donghae memerintahkanku untuk menjaga Jaemi dengan baik. Setelah itu aku pulang karena feelingku tidak enak. Dan ternyata benar, sesuatu telah terjadi. Jaemi hampir saja melahirkan tanpa ditolong. Anak pertama kami akan segera lahir. Ah, aku fikir aku akan menjadi ayah yang paling bertanggungjawab. Anak pertama kami lahir pukul 17.54 KST. Aku sangat bahagia bisa mendengar tangisan yang keluar dari mulut anakku.

Tidak. Kebahagiaanku direnggut begitu saja. Sekitar pukul 18.45 KST aku mendapat kabar dari pihak kepolisian kalau Donghae sudah terbunuh, dalam kondisi mengenaskan. Dilema antara melihat jenazah sahabat atau menjaga istri yang baru melahirkan. Jaemi sedari tadi menangis. Aku tidak mengerti apa yang ia tangiskan. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian sedangkan eonni[1]-nya belum datang dari Seoul. Kuputuskan untuk menjaga Jaemi saja.

Beberapa hari kemudian, Jaemi pulang dari rumah sakit. Dan setelah membawa pulang Jaemi, aku menyempatkan ke kantor polisi yang menyelidiki kasus Donghae. Kantor polisi sedang berduka, inspektur penyelidik kasus Donghae wafat dalam keadaan tertembak pistol sendiri. Aku pikir ini sangat lucu, ternyata setelah ditelaah, inspektur itu wafat dalam keadaan dibunuh. Aku meminta dokumen kasus Donghae, hanya untuk melihat bagaimana keadaan terakhirnya. Tidak, lebih baik aku tidak melihat. Aku ingin menangis sekarang juga melihat sahabatku hangus seperti itu. Setelah sampai dirumah, aku bercerita tentang kasus Donghae. Jaemi tidak terkejut. Sepertinya ia sudah tahu. Ia marah. Sangat marah. Ia bilang ia akan berjanji membekuk pelakunya. Ia membenci pelakunya. Lalu anak kami—kami belum sempat memberinya nama sampai aku menitipkannya—menangis sangat keras setelah Jaemi mengatakan akan membekuk pembunuh itu. Aku rasa ada ikatan batin yang terjadi pada anakku. Aku juga merasakan hal yang sama.

Beberapa hari kemudian setelah kasus Donghae mulai tenggelam, aku mendapati Jaemi tidak sedang bersama anak kami. Dia tidak dirumah. Aku tidak tahu ia kemana. Ia menghilang secara tiba-tiba. Aku langsung menuju kantor polisi untuk melaporkan, tapi hasilnya nihil karena aku tidak tahu jejak-jejak kepergian Jaemi, yang aku punya hanya foto Jaemi di roll film kamera analogku. Kantor polisi sedang sibuk dengan kasus kematian inspektur pengganti itu, katanya ia dibunuh. Aku tidak membawa apapun.

Feelingku membawaku berjalan kerumah Donghae, padahal aku tahu rumah itu sudah dikosongkan untuk dievakuasi, tapi tetap saja feelingku berbeda ketika kakiku mulai mendekat kerumah itu. Aku masuk kedalam rumah itu tanpa kusadari. Aku mendengar isak tangis, dari kamar. Aku rasa kamar Donghae. Aku memasukinya. Hyukjae sedang menangis sambil memeluk seseorang. Aku mendekatinya. Bajunya penuh darah dan seseorang yang dipeluknya juga berlumuran darah. Bibirnya robek, dadanya tertusuk—tepat di jantungnya—dengan besi berkarat. Dia sudah mati, tapi raut wajahnya masih terpendam keperihan. Yoon Jaemi, istriku. Ia meninggal dengan cara seperti ini, dibunuh oleh seorang yang tak berotak. Hyukjae masih menangisi mayat istriku. Aku tau seberapa besar Hyukjae mencintainya, tapi aku sudah yakin kalau Jaemi mencintai Donghae. Bukan mencintaiku, atau Hyukjae.

Aku tidak bisa melakukan apalagi kecuali melaporkan kasus ini. Aku sempat berfikir akan menguak kasus ini, tapi hati kecilku yang paling dalam berkata tidak. Aku rasa ada kaitannya dengan si pembunuh. Setiap orang yang menyelidiki kasus ini akan berakhir mati mengenaskan. Tidak, aku tidak akan menyelidiki kasus ini, kalau aku menyelidiki kasus ini, aku akan mati. Dan tidak ada yang mengetahui perkembangan anak kami.

Tapi eonninya Jaemi menyuruhku pindah ke Seoul untuk tinggal bersama keluarganya. Eonninya Jaemi belum mempunyai anak, jadi ia kira ia bisa menjaga anakku. Tapi aku menolaknya. Aku lebih menyukai tinggal di Mokpo dan menjaga istriku. Aku akan melihat perkembangan kasus ini, siapa yang akan mati nantinya. Jadi kuputuskan saja kalau aku menitipkan anakku di Seoul. Sampai sekarang aku tidak tahu perkembangan bagaimana anakku. Setelah aku menitipkan anakku, aku tidak bisa berkomunikasi dengan eonninya Jaemi, dan terakhir baru kuketahui bahwa eonninya Jaemi ditemukan tewas di rumah Donghae. Aku rasa eonninya Jaemi ingin menguak siapa yang membunuh dongsaengnya. Dan suaminya tidak memberiku peluang berhubungan dengan anakku. Kami terisolasi.

Sekarang yang mengambil alih perusahaan milik Donghae adalah Hyukjae. Ya, karena tinggal Hyukjaelah yang tersisa di keluarga itu. Namun perusahaan itu semakin melemah karena krisis yang terjadi akhir-akhir ini. Aku rasa sebentar lagi ia akan menggulung tikarnya, dan aku harap Hyukjae mau ikut andil dalam kasus Donghae dan pembunuhan berantai ini. Aku harap Hyukjae bisa membekuk siapa pembunuh sebenarnya. Aku harap.

 

Dipost oleh Kibum Kim
30 Juni 1997

 

Kami terdiam beberapa saat. Dengan cepat Vict mengambil flashdisk yang ada di dalam tasnya lalu mengopi artikel tersebut ke dalam bentuk Microsoft Word dan mendownload foto rumah tersebut. ada yang mengganjal di artikel ini. Entahlah. Aku tidak mau mengambil pusing tentang penulis artikel ini. Gerakan Vict sangat cepat, aku tidak terbiasa dengan situasi terburu-buru seperti ini. Kami kembali ke meja Kyuhyun. Astaga. Di situasi tegang seperti ini dia masih bisa tertidur. Aku menjepit hidungnya. Kyuhyun gelagapan mengambil nafas.

“Kau mengganggu mimpiku! Apa kau tahu aku mimpi apa tadi?!” Kyuhyun membentakku, buru-buru aku harus menutup mulutnya basah. Aku rasa dia mengeluarkan air liur selama ia tidur. Astaga. Menjijikkan.

“Itu tidak penting. Sekarang apa yang harus kita lakukan?”

“Kau—cepat kembali kemasa lalu,” Kyuhyun menggumam.

Aku dan Vict merengut, tidak mengerti dengan apa yang ia katakan.

“Ya! Cepat bayangkan masa lalu.”

Vict mengeluarkan notebooknya, menekan tombol on yang tertera lalu memasukkan flashdisknya dan membuka data yang tadi kami copy. Ia membuka foto yang ia download. Ia melihat kearahku, lalu mengarahkan notebooknya kepadaku.

“Berkonsentrasilah.”

Telepati sampai. Kebetulan sekali sekarang kami sedang di perpustakaan jadi suasana yang kurasa sangat hening. Aku mencoba menenangkan diriku. Lalu aku mengingat setiap inci foto tersebut. foto rumah Lee Donghae. Aku memejamkan mataku perlahan. Mencoba membayangkan rumah Donghae yang terlihat sepi dan suram, banyak mayat yang ditemukan disana. Klap. Konsentrasiku buyar.

Aku mencoba kembali. Menenangkan diri, jangan terburu-buru. Mokpo tahun 1987. Gambaran tangga spiral mulai bisa aku lihat. Lalu aku mendalami lagi konsentrasiku. Konsentrasi. Konsentrasi. Konsentrasi.

“Ini hanya hipnotis. Bayangkan apa yang sedang ingin kau lihat. Bayangkan kalau rumah itu benar-benar ada di depan matamu. 1…2…3…dan kau pun tertidur.” Klap.

Aku merasa di dalam lift yang kecepatannya diatas rata-rata. Lift ini tergoncang sehingga membuat mataku tertutup lebih rapat agar aku tidak bisa melihat bagaimana ruangan ini berputar. Lalu goncangan itu sedikit berkurang sampai aku benar-benar tak bisa merasakan goncangan lagi.

Aku mulai membuka mataku. Aku sedang berjongkok di jalan, kurasa di jalan kompleks perumahan. Dihadapanku ada sebuah rumah sangat besar. Ah, aku sepertinya pernah melihat rumah ini. Aku memutar badanku. Aku tidak pernah kesini, tapi pemandangannya sangat tidak asing bagiku.

“Yoon Jaemi.”

 


[1] Kakak