FINAL REVELATION | PART 4

Author : Nia Destari

 

Seseorang memanggil nama “Yoon Jime”. Semua menolehkan kepalanya, menuju ke satu titik dimana ahjussi itu berdiri. Lee Hyukjae. Raut wajahnya masih sama. Senyumnya yang mengembang masih sama. Dan tegap badannya pun masih sama walaupun—aku rasa—umurnya hampir menginjak kepala lima. Hanya saja di wajahnya sudah ada kerutan yang menghiasi serta rambut berwarna putih satu-satu. Ia mendekatiku.

 “Yoon Jime? Ah. Aku bukan Yoon Jime, Ahjussi.” Kataku sambil tersenyum tenang, tidak mengeluarkan ekspresi berbohong karena aku sangat tahu kalau Hyukjae bisa membaca ekspresi.

 “Annyeonghasimnikka. Kyuhyun imnida.” Kyuhyun membungkuk. “Aku kemari dengan Yong Jiyon.”

 “Annyeonghasimnikka. Yong Jiyon imnida.” Giliranku yang membungkuk. “Aku adalah putri dari Yoon Jime.” Kataku sambil tersenyum tipis.

 “Annyeonghaseyo,” Hyukjae membungkuk, “Tapi kau—benar-benar mirip dengan Yoon Jime! Mana mungkin aku bisa melupakan sepupu Jaemi.”

Aku kembali tersenyum tipis. Gaya berbicaranya masih sama. Tunggu, dia bilang sepupu Jaemi? Sejak kapan? Dan bukankah aku hanya membayangkan masa lalu? Mengapa Hyukjae ingat nama samaranku dimasa lalu? Apa aku benar-benar masuk di masa lalu?

 “Ayo masuk.”

Kami memasuki rumah tersebut. Gaya rumah tersebut tidak berubah. Wajah Lee Donghae yang sedang tersenyum terbayang dipikiranku. Astaga, aku lupa kalau dia sudah meninggal. Hyukjae memerintahkan kami untuk duduk di sofa itu, sofa yang sangat besar. Sangaaaat besar. Ia tak pernah menggantinya, sepertinya.

 “Apa kabarnya Yoon Jime? Sudah lama tak mendengar kabarnya. Ia menghilang begitu saja ketika Jaemi melahirkan.” Hyukjae memulai pembicaraan. Oh ternyata ketika aku kesana bukan ditahun 1987, melainkan di tahun 1986 karena Jaemi dan Kibum baru saja melangsungkan pertunangan mereka. Dan Jaemi melahirkan di pertengahan 1987, jadi tak mungkin Jaemi hanya mengandung selama kurang dari 6 bulan.

 “Ah itu, Eomma baik-baik saja. Dia banyak menceritakan tentang kalian.”

 “Kalian?” Hyukjae pergi ke dapur sebentar. Sepertinya mengambil jamuan.

 “Ya~ Tentang Kau, Donghae, Kibum, dan Jaemi.”

Hyukjae datang kembali dengan dua gelas jus apel. Masih jus apel?! “Mwo? Kau juga tak suka jus apel?” Tanya Hyukjae.

“Yap. Sama dengan Eomma. Kami membenci apel.”

Hyukjae tertawa lalu mengambil segelas air putih untukku. Kyuhyun meminum segelas jus apel itu. Dalam beberapa teguk saja gelas itu sudah tampak bocor. Lalu ia menyerobot jatah jus apelku. Hyukjae meletakkan segelas air putih diatas meja.

 “Jus apelnya enak sekali, ahjussi!” Puji Kyuhyun. Dan aku rasa ia mengatakan hal seperti itu karena ia kehausan.

 “Itu apel asli Mokpo. Dulunya dari perkebunan keluarga Lee.”

 “Mwo? Memangnya sekarang itu bukan perkebunan keluarga Lee lagi?” Tanyaku.

Ia menggeleng sambil tersenyum, “Semenjak krisis global di tahun 1997-1998 usaha perkebunan apel keluarga Lee menurun drastis. Inflasi dimana-dimana. Belum lagi semenjak kepergian Donghae usaha ekspor apel Mokpo kami menurun. Tidak ada yang bisa kuperbuat dan akhirnya aku yang menggulung tikar usaha keluarga besar kami. Ya, satu-satunya yang bisa kuperbuat adalah tetap menjaga rumah ini.” Suaranya mulai bergetar. Aku bisa merasakan kepedihan yang ia rasakan.

 “Sudah-sudah lupakan. Aiss mianhae aku jadi mengotori suasana,” Ia tersenyum sangat lebar, “Apa tujuan kalian kemari? Berbulan madu?”

 “Bulan madu?” Kyuhyun terkekeh, “Aku? Dia? Kami berbulan madu?” Kyuhyun tertawa dengan sangat keras. Aku menginjak kakinya diam-diam.

 “Tidak. Kami bukan pasangan suami-istri yang ahjussi bayangkan. Ibuku menyuruhku untuk bertemu dengan Kibum. Ia menitipkan pesan ketika aku meminta izin berlibur ke Mokpo bersama teman-temanku. Eung, dimana rumah Kibum? Aku kira ini rumah Kibum. Ternyata bukan.” Aku pura-pura menggaruk-garukkan kepalaku agar terlihat bingung.

“Oh. Kau ingin bertemu Kibum? Jinjja? Setahuku setelah Jaemi meninggal ia jarang menerima tamu. Jangankan itu. Ia sering mengurung dirinya di dalam rumah. Aku, sahabatnya, saja tidak tahu apa yang ia lakukan di dalam rumah itu. Rumah Kibum ada di dekat sini. Kau tinggal lurus saja, ketika sudah diujung kau bisa belok kiri dan cari rumah dengan halaman yang paling luas.”

Ternyata Kibum belum pindah, batinku.

Gomapseumnida, ahjussi! Kami akan kerumah Kibum sekarang.”

**

“Kau yakin ini rumah Kibum?” Kyuhyun meyakinkanku berulangkali. Tapi tetap saja aku menjawab iya.

“Pemilik rumahnya saja jarang keluar, bagaimana ia mau mengurusi rumahnya?” Aku lebih meyakinkan Kyuhyun.

Rumah Kibum lebih parah dari rumah Hyukjae. Tidak. ini tidak bisa dikatakan rumah lagi. Padahal aku kira rumah Kibum akan menjadi desain rumah yang paling diincar saat itu. Dan sekarang ia malah membalikkan fakta. Pohon besar yang tampaknya tak pernah ditebang membuat suasana rumah itu semakin suram. Belum lagi dahan-dahannya yang panjang bergelantungan menjuntai ke tanah yang kotor sekali. Sampah dedaunan dimana-dimana. Dan biar kutebak. Kibum tak pernah mengganti cat rumahnya dari terakhir aku lihat. Astaga.

“Kau yang mengetuk.” Perintah Kyuhyun.

“Kenapa harus aku? Kau saja. Kau kan pria.” selaku.

“Memangnya harus pria? Kau kan yang mengenalnya.”

“Tapi aku sekarang sedang berakting tidak mengenali siapapun. Aiss, tolong.”

“Aku takut. Aku ingin buang air kecil.”

 “Maka dari itu cepat ketuk pintunya dan kau bisa menumpang ke toilet.”

Kyuhyun memutar bolamatanya. Ia berjalan terlebih dahulu. Ia mengetuk pintu yang hampir saja rapuh dimakan rayap. Perlahan pintu yang sebentar lagi runtuh itu terbuka. Seorang ahjussi ada dibalik pintu, melihat kami secara diam-diam. Sudah berapa tahun ia tak mencukur rambut-rambut yang ada di wajahnya? Ia tampak kumal, tidak seperti Kibum yang dulu. Rambutnya berubah menjadi panjang menjuntai tak terurus.

 “Nuguseyo[1]?” Tanyanya sambil menatapku, “Jime-ssi?”

Aku tersenyum, “Aku bukan—“

 “Ahjussi, bisakah aku menumpang ke toilet? Aku ingin…..ssss itu. Sudah tidak tahan lagi.” Kyuhyun menggigit bibirnya. Aiss anak ini mengotori suasana reuni saja.

Kyuhyun menyeruak masuk, ia menarik Kibum untuk menjadi pengarah ke toilet. Aku masuk saja, mencari sofa. Sofa kayu yang sudah berlapuk ada dihadapanku. Sofa ini sudah tidak layak lagi untuk diduduki. Aku memilih berdiri saja. Kibum kembali ke hadapanku. Ia masih memaparkan wajah kebingungan.

Aniya. Aku bukan Yoon Jime. Aku anak dari Yoon Jime.”

Ia membulatkan bibirnya. Kau mirip sekali dengan Jaemi, pikirnya. Aku bisa membaca pikirannya terlintas begitu saja. Aku tersenyum. Pasti rasanya sangat pahit ketika orang yang paling kita cintai meninggal dibunuh oleh pembunuh yang membunuh orang-orang disekelilingmu.

 “Sudah 26 tahun, bukan? Kau sudah tahu siapa ‘pelakunya’?” Tanyaku langsung.

Ia terbelalak, “Dari….dari mana kau mengetahui ini?”

                Aku tersenyum tipis, “Bisakah kau merahasiakan ini? Ibuku diam-diam ingin menguak kasus ini. Jangan sampai rahasia ini terbuka. Kau ingin tahu siapa yang membunuh istrimu bukan?”

“Tidak. Tidak boleh. Kau sebaiknya pulang saja. Ibumu dalam daftar pencarian yang akan dibunuh selanjutnya.”

Alisku menyatu. Aku akan dibunuh? Darimana dia tahu?

“Lebih baik kau cepat pulang sekarang. Kau tidak akan tahu bagaimana ibumu dibunuh. Ditusuk dengan besi panas atau ia akan memotong kepala ibumu.”

Oh, aku rasa dia masih suka berhalusinasi tentang istrinya.

“Aku pernah berfikir aku akan menguak kasus tersebut. tapi ternyata aku salah. Aku tidak ingin mati mengenaskan seperti korban-korban lainnya dan membuat kegaduhan lagi. Semakin banyak yang menguak kasus semakin banyak korban yang berjatuhan. Lagipula Jaemi pasti akan merasa sedih ketika ia mengetahui bahwa aku mati bodoh meninggalkan anak kami.”

“Tapi anak kalian tak bersamamu—“

“Dia bersamaku.” Kibum menaikkan suaranya.

“Dimana anakmu tinggal?”

“Di Seoul. Aku sudah lupa alamatnya dimana.”

Hul. Percuma saja aku berbicara dengannya. Sepertinya aku  salah orang. Kibum masih mengidap depresi berat. Jadi apapun yang ia katakan ia pasti akan mengingat kejadian itu. Aku menegakkan kepalaku. Kibum berjalan mendekatiku. Ia menatapku lekat-lekat. Semakin dekat dan dekat. Ia menjulurkan tangannya kearah wajahku. Ia memegang pipiku sambil menutup matanya. Perlahan ia menangis dan memanggil nama Jaemi. Huh, semirip itukah aku dengan Jaemi? Aku menutup mataku lama, mencoba merasakan apa yang ia rasakan.

“Apa yang sedang kau lakukan, bajingan?!” Kyuhyun menarik Kibum dan menghantamnya, “Kau ingin membuatnya celaka kan?! Makan ini!” Ia terus menghujam Kibum dengan pukulan. Dan Kibum terus saja mengeluh kesakitan.

“Kyuhyun! Apa yang kau lakukan?! Hentikan!” Aku menarik tubuh Kyuhyun dengan keras.

Kyuhyun menarik lenganku, “Ayo pulang.” Lalu Kyuhyun menarik sebuah kantung plastik yang menggembung.

“Hei! Barang bukti itu mau kau kemanakan?! Dasar pencuri!”

Blam. Kyuhyun menutup pintu itu dengan keras bahkan aku bisa melihat satu engselnya patah karena tenaga Kyuhyun yang terlalu kuat. Ia menarikku agar masuk ke dalam mobil. Setelah aku masuk, ia memakaikan seat-beltku dan mulai menghipnotisku.

Dan tiba-tiba aku sudah ditransfer kesini. Di depan rumah Jaemi, 13 September 1986.

**

“Jime-ssi, ppali!” Aku membuka mataku. Jaemi memanggilku untuk mendekat kearah mobil Kibum. Sepertinya ia mengajakku untuk ke suatu tempat. Aku segera berlari kearah mobil itu lalu masuk ke dalamnya.

“Kita mau kemana?”

“Kau lupa? Bukannya kau berjanji akan menemaniku untuk fitting baju?”

“Aiss ne.” Aku menepuk jidatku agar berpura-pura lupa.

Ternyata ditahun 1986 Mokpo sudah memiliki daerah pusat perbelanjaan busana. Ah, ini bisa disebut dengan mall kecil. Tapi wilayah ini cukup unik. Aku hanya bisa melihat kilasan ini di foto saja dan sekarang aku bisa menjejakkan kaki disini. Kibum dan Jaemi masuk ke salah satu toko yang memaparkan manekin berbaju hanbok. Astaga manisnya hanbok-hanbok ini.

“Jaemi-ssi, bolehkah aku hanya diluar saja? Sepertinya aku mulai tertarik dengan gaun-gaun tradisional disini.”

“Aigo aigo.” Jaemi terkekeh. “Baiklah. Sepertinya sebentar lagi aku akan mendapat undangan pernikahan.”

“Aiss.” Aku memajukan bibir. Lalu mereka berdua masuk ke dalam toko itu.

Aku mengitari daerah pertokoan itu. Ternyata ini benar-benar seperti mall zaman dahulu, dan aku berada didaerah untuk mempersiapkan pernikahan. Mulai dari gaun sampai perhiasan untuk pernikahan pun ada. Dan yang paling menyenangkan disini adalah sebuah dinding yang sangat tinggi dan berisi foto-foto pasangan yang sudah menikah dengan gaun-gaun yang lucu. Aiss, muka mereka tampak bahagia sekali. Ada satu petak yang masih kosong. Aku membaca tulisan yang ada disana. Kim Kibum & Yoon Jaemi, Sept 15 1986. Ah, arasseo. Itu tanggal pernikahan mereka dan mereka akan berfoto menggunakan hanbok yang mereka pakai nanti. Ah, manisnya.

Aku menolehkan kepalaku. Ini semacam kebetulan atau takdir? Donghae memasuki salah satu toko perhiasan. Eung? Dia akan membeli perhiasan untuk siapa? Apa dia sudah menemukan pengganti Jaemi? Perlahan aku mulai mendekati toko tersebut, mengintip apa yang sedang Donghae lakukan disana secara diam-diam.

“Aku ingin menjual ini.” Donghae mengeluarkan kotak kecil berwarna peach. Ia membukanya. Sebuah cincin.

“Tapi sebulan yang lalu kau baru membelinya. Apa ada yang rusak? Kau bisa menggunakan kartu garansinya jika mau. Atau menukarkan dengan cincin lain.”

“Tidak ada yang rusak. Aku hanya ingin menjual cincin ini.”

“Oh. Baiklah.”

Lalu si penjual mengeluarkan beberapa lembar uang dan Donghae menerimanya. Donghae membalikkan badan. “Kau? Sedang apa kau disini?”

Mati, aku tertangkap basah. “Oh, itu. Aku sedang melihat-melihat disekitar sini. Kau sedang apa disini?”

“Tidak.” Ia berjalan mendahuluiku.

“Oh ya, bagaimana dengan lukamu kemarin?”

Gwaenchana. Hanya luka kecil.”

Aku mengikutinya berjalan. “Luka kecil? Tapi itu gergaji berkarat.”

Gwaencahana. Buktinya aku masih bisa berjalan.”

“Ah syukurlah.” Sepertinya ia benar-benar tidak kenapa-kenapa, “Kau mau kemana?”

Ia melihatku. “Entahlah. Kau mau ikut denganku?”

Senyumku mengembang. Lalu aku menganggukkan kepalaku dengan antusias. Kami masuk ke dalam mobil Donghae. Dan dia membawa mobil ini entah kemana. Sepertinya ia mengikuti aliran air yang ada disini. Ini, seperti Sungai Han. Tapi aku rasa tidak. Ah, ini seperti pemandangan yang ada di hadapan rumah Jaemi. Indah sekali. Ia memarkirkan mobilnya dibawah pohon. Ia keluar dan membukakan pintu untukku. Sungguh, ia pria yang paling mengesankan bagiku. Kyuhyun saja jarang memperlakukanku seperti ini walaupun aku teman dekatnya.

Ia duduk menyender dibawah pohon. Aku mengikutinya. Ia melempar batu ke air. Aku pun mengikutinya.

“Mengapa kau mengikutiku?”

Aku mengendikkan bahu, “Karena aku tidak tahu ingin melakukan apa.”

Ia tersenyum, “Bagiamana kalau taruhan?” Ia melemparkan sebuah batu. Jaraknya sangat jauh.

“Woaaaa!!! Daebak!!”

“Siapa yang kalah harus mentraktir. Setuju?”

Aku menganggukkan kepalaku. Ia mengambil batu dan menimbang-nimbangnya. Aku memilih batu disekitarku.

“Bersiap? Mulai!”

Kami mulai melemparkan batu itu bersamaan. Ah sial. Aku kalah. Ya, pasti aku kalah. Tenaga Dongahe lebih besar dari tenagaku. Tadi saja dia melempar batu jauh sekali.

“Aiss, tenagamu seperti kuda. Jauh sekali batumu melayang!”

“Haha, itu tidak seberapa. Batu lemparan Hyukjae lebih jauh daripada batu lemparanku. Aku hampir tidak pernah bertaruh seperti ini dengan Hyukjae saking hebatnya dia. Hebat bukan?”

Mulutku menganga. Donghae terkekeh. Raut wajahnya masih menggambarkan kekecewaan.

“Kau…kenapa?” Tanyaku hati-hati.

Dia menatapku lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Jangan berbohong. Kau tau? Kau itu penipu yang tak pandai berbohong.”

“Haha, penipu yang tak pandai berbohong? Seperti apa itu?”

“Ya seperti kau.”

Ia tertawa keras, “Aigo aigo, aku hampir tidak pernah merasakan tertawa keras seperti ini lagi.” Ia menatapku. Aku menatap matanya dengan jelas. Aku bisa membaca apapun yang sedang ia lihat dariku. Kau seperti reinkarnasi dari Jaemi, batinnya. Uh, semirip itukah kami? Aku tersenyum.

“Kau—tidak jadi.” Katanya sambil memalingkan muka.

“Aku? Mirip dengan seseorang? Mirip dengan Jaemi?” Tembakku.

Ia terkekeh.

Aku menatapnya yang sedang terkekeh, “Kau mencintainya tapi mengapa—“

Ia mengendikkan bahu, “Jaemi lebih memilih Kibum.” Lalu ia memainkan batu-batu yang ada disekitarnya.

“Kau yang terlambat.”

Ia melihatku, menatap lekat-lekat.

“Coba saja kau melamarnya terlebih dahulu. Pasti ia akan memilihmu.”

“Tidak. Aku yakin memang takdirnya Jaemi bersama Kibum.”

“Bagaimana rasanya?”

Ia menghela nafas, “Tidak ada rasa. Aku tidak dapat merasakan apa-apa disaat aku melihatnya tersenyum, tapi senyumannya bukan untukku.”

Ingin sekali aku menggenggam tangannya untuk memberikan sedikit kesan menenangkan. Perlahan tanganku mulai mendekati tangannya, menyentuhnya, dan menggenggamnya. Ia melihatku lalu tersenyum.

“Jangan sedih. Karena jika kau sedih dia juga ikut sedih. Jika kau senang dia juga ikut senang. Jika kau tersiksa dia juga ikut tersiksa. Walaupun kau tak bisa melihatnya.”

Ne. Arasseo.” Ia mengelus ubun-ubunku lalu meletakkan kepalaku dibahunya. Nyaman.

“Mengapa kita sedekat ini? Baru rasanya aku mengenalimu.” Ucapku sembarangan. Ya memang seperti itu keadaannya. Aku dan Kyuhyun saja tidak pernah sedekat ini.

“Hahaha. Kau sudah kuanggap sebagai adikku ketika Jaemi banyak menceritakan tentang sepupunya sebelum kau datang.”

“Hahaha. Keterlaluan sekali anak itu.” Aku mulai merasakan kenyamanan di dekatnya. Yah, tapi hanya disini saja. Di masa depan aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Mengingat hal itu, entah mengapa dadaku semakin sesak.

“Ayo pulang.” Ia berdiri dari posisinya. Merapikan bajunya dan menjulurkan tangannya. Aku menggenggam tangannya. Ia menarik tubuhku agar bisa berdiri. “Mau kuantarkan kemana?”

“Umm, kerumah Jaemi saja.”

“Baiklah.” Ia memijat-mijat tangannya sebelum menyetir.

Ternyata tempat ini memang dekat dengan rumah Jaemi. Tidak sampai 5 menit, kami sudah ada di depan rumah Jaemi. Aku keluar dari mobil Donghae, tak lupa aku berterimakasih. Jaemi menghampiriku.

“Aiss. Aku kira kau hilang ditengah jalan, Jime-ssi. Kau tak tahu betapa khawatirnya aku.”

Aku hanya terkekeh sambil menggaruk tengkukku. Dan tiba-tiba bahuku kembali berguncang. Mati. Aku tidak boleh menghilang secara tiba-tiba di depan mereka. Jaemi masih saja mengomel didepanku. Bahuku semakin berguncang. Keseimbanganku hampir hilang.

Gwaenchanayo, Jime-ssi?”

A-aniya. Aiss.” Aku langsung berlari ke tempat yang sepi. Aku terjatuh diaspal, dan tiba-tiba kepalaku menjadi tidak pusing lagi.

**

“Seberapa nyenyak tidurmu?” Suara Halbae menggelegar.

Aku sudah ada di sofa rumah Halbae. Kyuhyun dan Vict menunduk. Ada apa ini? Muka Vict sangat pucat. Sepertinya ia sakit. Ia memegang perutnya dari tadi. Ia menggembungkan pipinya sesekali dan seperti menahan sesuatu. Ia mendongak.

“Aku mau muntah.” Ujarnya.

Ia berdiri lalu menarikku. Aku menunjukkan dimana toilet. Kyuhyun menguntit kami dari belakang. Vict masuk ke toilet dan memuntahkan isi perutnya. Kyuhyun mengambil air mineral botol yang berada di dekatnya. Kyuhyun terlihat sangat khawatir. Karena jika kau sedih dia juga ikut sedih. Jika kau senang dia juga ikut senang. Jika kau tersiksa dia juga ikut tersiksa. Walaupun kau tak bisa melihatnya. Aku teringat kata-kataku. Vict tidak bisa melihat Kyuhyun yang sangat khawatir terhadapnya bukan? Apa…….Kyuhyun benar-benar menyukai Vict?

“Minum ini dulu.”

Vict mengangguk.

“Ayo kita pulang. Sepertinya kau kelelahan karena tadi malam kita tak habis bercerita.”

Vict mengangguk kembali. Ia memakai jaket yang Kyuhyun berikan.

“Jiyon-a, kami akan pulang. Beristirahatlah.” Ia menepuk pundakku lalu menggandeng Vict keluar. Ia tak lupa berpamitan dengan Halbae.

Entah mengapa atmosfer yang aku rasakan kali ini sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Aku terhuyung lemas memasuki kamarku.

“Apa yang kau lakukan selama di Mokpo?” Suara Halbae membuatku berhenti bergerak.

 

To be continue...