Kotak Pandora by Christanti Yosefa

Di akhir musim dingin tahun 1950,  Anna Mary-Lee sedang berjalan di sepanjang jalan pertokoan Fifth Avenue di Manhattan, New York, Amerika Serikat. Ia berjalan terseok-seok pada dini hari, sekitar pukul satu malam. Anna sempat berhenti di salah satu toko untuk sekedar duduk, dan akhirnya tertidur sebab ia begitu mabuk dan mengantuk berat.

Sekitar pukul sembilan pagi ia terbangun di sebuah tempat mirip gubuk kecil yang nyaris pantas disebut rongsokan, dan matanya menyambut sepiring panekuk dan segelas susu hangat yang tampaknya mulai mendingin. Ia lalu mengambil piring panekuk itu dan mencuil kecil panekuknya menggunakan garpu, dan mengunyahnya pelan. Panekuk itu nyaris tidak ada istimewanya, hanya kue dadar yang terbuat dari terigu dan telur ayam. Rasanya hambar. Anna menaruh kembali panekuk itu dan meminum susunya.

Seorang bocah perempuan masuk kedalam gubuk itu, menemuinya dan tersenyum padanya.

“Selamat pagi,”sapanya kemudian. Anak itu memiliki rambut brunette yang cantik, di pipinya terdapat bintik-bintik kecil. Matanya berwarna cokelat gelap, dan rupanya anak itu masih berumur 12 tahun.

“Selamat pagi, bocah kecil. Mengapa kau datang ke rumahku?”

“Anda salah, Nyonya. Ini rumah saya. Kemarin Anda tertidur di depan pertokoan Fifth Avenue, dan saya membawa Anda kemari. Anda kemarin mabuk berat.”

“Ha! Aku baru ingat. Aku terlalu banyak minum kemarin. Dasar Brian sialan, ia tak mengantarku pulang. Jadi aku pulang sendirian di tengah salju begitu. Dan Derek, dia malah mengusirku saat itu,”umpat wanita itu. “Tapi terimakasih, Nak, atas tumpangannya. Dan juga panekuknya. Saranku, beri sedikit gula atau madu supaya ada rasanya.”

Anak itu tersenyum. “Uangnya hanya cukup buat beli susu. Saya pikir Anda kedinginan,”

“Yeah, begitu saja juga enak,”kata wanita itu. “Aku harus pergi. Aku ingin segera menampar si Brian sialan itu. Terimakasih sekali lagi, Nak,”

“Berhati-hatilah, Nyonya. Di luar masih begitu dingin.” Anna menatap bajunya. Terlalu terbuka jika dipakai di musim dingin.

“Aku akan mengambilkan sweater ibuku. Mungkin bisa membantumu,”

“Ah, sekali lagi terimakasih, bocah manis. Siapa namamu?”

“Judy White, Nyonya.”

“Aku Anna. Dah,”

Anna Mary-Lee segera berlalu dengan terburu-buru setelah menerima sweater dari tangan Judy, si bocah manis itu. Judy menatap wanita itu, yang berangsur-angsur hilang di tengah salju.

Malam harinya, sekitar pukul sebelas malam, di tikungan Fifth Avenue, Judy melihat Anna kembali. Anna sedang duduk duduk di emperan toko, memeluk tubuhnya yang menggunakan sweater milik Ibu Judy.

Judy perlahan mendekati wanita itu, Anna Mary-Lee.

“Hai, Nak!”sapa Anna. “Baru tadi pagi kita bertemu, sekarang kita bertemu kembali. Kenapa setiap malam kamu selalu disini?”

“Hai, Nyonya,…”

“Ehm, namaku Anna Mary-Lee. Aku belum memperkenalkan diriku, ya. Hahaha…”Anna tertawa lebar. Matanya menyiratkan kelelahan yang amat sangat. Bahkan setengah tertutup. Ia begitu mengantuk. Tubuhnya sempoyongan meskipun sedang duduk. Ia rupanya begitu mabuk berat. Mulutnya sungguh bau. Gila, habis berapa gelas wanita ini?

“Nyonya Anna,”jawab Judy. “Aku baru akan pulang ke rumah. Ini Natal. Toko mainan sangat sibuk. Aku tidak akan membiarkan Tuan Costner bekerja sendirian. Seharusnya aku pulang sejak jam delapan tadi. Tapi kau tahu, kan. Ini Fifth Avenue. Pertokoan tersibuk di dunia ini. Kalau yang waktu itu, aku akan berangkat kerja pagi-pagi. Tuan Costner sudah begitu tua. Ia melarangku bekerja pagi hingga malam. Aku biasanya datang jam sepuluh. Tapi aku berhutang budi padanya. Aku tidak akan membiarkannya kelelahan.”

“Ehm, si tua Costner. Dia menawariku bekerja padanya. Tapi aku menolaknya.”

Judy terdiam.

“Jadi, kau bekerja padanya?”tanya Anna lagi.

“Ya, aku harus menghidupi diriku sendiri.”

“Mana orangtuamu?”

“Entah. Terakhir aku melihat ibuku pergi ketika aku berusia 10 tahun. Ayahku bahkan sudah menghilang sejak lama.”

“Kau tak bersekolah?”

“Tentu saja bersekolah.”

“Tapi, kau kan’ bekerja?”

“Ya, pihak sekolah tahu keadaanku,”

“Hidup ini memang keras, Nak.”

“Ya,”jawab Judy. “Lalu, mengapa kau selalu disini?”

“Aku terlibat dalam sindikat-yang-kau-tak-mengerti di Gerard Night Club.”

“Kau terlalu banyak minum, Nyonya,”

“Aku tahu. Tapi rasanya memang enak,”

“Itu kan’ tidak baik,”

“Hei, Nak, apa kau tahu kisah Kotak Pandora?”

“Ya,”jawab Judy.

“Semua telah terlanjur. Ketika kotak itu terbuka, semua kesedihan, kemiskinan, kecelakaan, kepahitan, telah keluar dan menyelimuti seluruh dunia. Kisah dengan akhir yang paling menyakitkan.”

“Kurasa kau belum selesai menceritakannya, Nyonya,”

“Apa?”

“Kau tidak tahu keseluruhan ceritanya, kan?”

“Tentu saja aku tahu. Akhirnya menyedihkan,”

Judy tertawa. “Akhir yang terbaik dan kau melewatkannya,”ucapnya.

Anna terdiam.

“Pandora membuka kotak itu dan seperti yang kau bilang – segala kepahitan, kesesakan, kemiskinan, penyakit, kematian, telah keluar dan menjejali seluruh dunia. Tapi ada sesuatu yang tertinggal dalam kotak itu, Nyonya. Ketika Pandora melihatnya, yang tersisa itu ialah, harapan.”

Anna terkejut. Matanya menatap Judy lekat-lekat. Anna pun berdiri. Ia merasa ada sesuatu yang menusuk dirinya ketika anak kecil itu menatapnya dengan tatapan dewasa, dan keadaan menjadi berbalik saat ia merasa ialah anak kecil yang sesungguhnya.

“Waktunya memperbaiki diri,”ucapnya kemudian. “Harapan itu masih ada, kan?”

“Selalu tersedia harapan ditengah kemustahilan,”jawab Judy.

“Jadi, apa kau masih berharap ibumu datang?”

“Mungkin bukan itu, aku lebih berharap hidupku lebih baik dan bisa membantu Tuan Costner,”

“Mari pulang, Nak. Antar aku besok ke Tuan Costner. Aku sekarang tahu harapanku,”

“Menjadi rekan kerjaku?”

“Hahaha,”Anna tertawa. “Mungkin itu salah satunya. Tapi yang lebih penting, aku ingin hidupku lebih baik.”

Senyuman menghangatkan musim dingin yang telah dilalui dua orang yang masih berharap itu – yang selalu percaya adanya harapan ditengah kemustahilan.

***

Anna Mary-Lee meninggal tiga tahun setelah pertemuannya dengan Judy White, setelah melewati bertahun-tahun terikat dalam obat-obatan terlarang, pergaulan bebas dan minuman keras. Ia diketahui mengidap AIDS, dan tiga tahun terakhirnya telah dihabiskan menjadi keluarga kecil bahagia, sang kakek – Freddy Costner, sang anak – Anna dan sang cucu – Judy. Bertahun-tahun kemudian Freddy Costner masih bisa melihat Judy menjadi seorang dokter sebelum akhirnya menutup mata di tahun 1964.

 

----------------------------------------

Thankyou for read this cerpen!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Christanti Yosefa

IG : @christantiyosefa