Abi & Nadine : Chapter 12

Author : Audria Pohan

 

NADINE (POV)

Suasana foodcourt ini jauh lebih tenang dari biasanya. Iringan musik klasik terdengar jelas. Ditemani semangkok soup jamur dan segelas earl grey tea favoriteku, Aku duduk menatap mas Juna yang sibuk mengunyah steik didepannya.

Dia mendadak diam. Setelah percakapan dengan ibu-ibu tadi moodnya langsung berubah.

"Kita selesaikan makan lalu pergi."

Akhirnya dia bersuara setelah mendiamkanku. Kini Dia mempercepat kunyahannya lalu mulai melahap lagi.

"Keluarkanlah apa yang ada dipikiranmu Mas. Aku akan mendengarkan."

Dia mengatur nafanya yang memburu. Kemudian menenggak air mineral botol.

"Dia bilang hari ini ada praktek. Gak taunya sama Abi." Ucapnya seraya mengelap bibirnya dengan punggung tangan. "Kenapa juga dia harus bohong? Kalo dia mau jalan sama abi ya bilang aja."

Ternyata dugaanku benar, itulah alasan kenapa Mas Juna kesal. Aku pun akan seperti itu kalau aku tahu pacarku tengah berbohong.

"Mungkin Risa hanya ingin me time dengan sahabatnya tapi ngga enak ngomong sama mas Juna. Bisa dibilang ga enak nolak mas. Intinya mereka udah janjian duluan sebelum mas ngajakin Risa. Percayalah, ga ada apa-apa diantara mereka. Mas Juna tenang aja."

"Bukan masalah itu Nad." Dia makin menggebu. Kurasa dia ngga menyadari gebrakan kecilnya membuat orang sekeliling melirik kearah kami. Dia kembali diam. Menatapku. "Kamu ngerasa ga sih, Nad? Sepertinya Abi menyukai Risa."

Mendengar kalimat itu tubuhku kaku seketika. Hatiku seperti dihantam sesuatu. Ya, aku tahu betul hal itu. "Kenapa mas berfikir begitu?"

Sebuah senyum simpul terekam oleh mataku. Senyumnya seakan mengetahui sesuatu. "Hanyaa... firasat cowok."

Firasat cowok.

Ya, aku pun menyadarinya. Rasa peduli Abi pada Risa, bukanlah rasa peduli biasa. Pilihannya untuk melindungi Risa. Bukankah itu sudah sangat jelas?

"Mas aku mau nanya sesuatu." Dia mendadak sigap. Memasang telinganya baik-baik. "Misalnya mas terjebak dalam satu situasi, dimana mas harus menyelamatkan seseorang diantar 2 orang yang harus diselamatkan. Manakah yang akan mas pilih? Menyelamatkan seseorang yang mencintaimu, atau seseorang yang kamu cintai?"

Dia terdiam. Menatapku. Entah apa yang ada dipikirannya. Cukup lama dia memikirkan jawabannya. Entahlah. Mungkin dia enggan menjawab.

"Orang yang aku cintai. Aku memilih menyelamatkannya."

Kini giliranku yang bungkam. Mendadak dadaku seperti tersengat sesuatu. "Ke-kenapa?"

"Karna aku ngga mau kehilangan dia. Akan lebih menyesal kalau aku gagal melindungi orang yang aku cintai. Bukankah begitu?"

Kali ini aku benar-benar tak berkutik. Rasa sesak ini entah darimana asalnya.

"Walaupun orang yang kamu cintai itu belum tentu memiliki perasaan yang sama?"

Dia membisu. Menatapku seolah menganalisa. "Hmm, kalau keadaan seperti itu aku akan menjawab, tergantung situasi. Dalam hal ini, saat berada diposisi itu apakah kita berada dilevel menyerah, atau maju terus terhadap orang yang kita cintai. Ketika kita tau batasan kita, disitu kita bisa memilih akan menyelamatkan yang mana. Kamu pahamkan maksudnya?"

Aku mengangguk kemudian pamit untuk ke toilet. Dalam perjalanan ketoilet, tak henti-hentinya aku berfikir soal jawaban itu.

Dimanakah sesungguhnya posisiku saat ini? Apakah dilevel menyerah atau maju terus? Sosok Abi ngga berhenti terlintas dibenakku. Aku bahkan bisa melihatnya dengan jelas, saat kedua mataku tertutup. Tuhan, apa yang kurasakan ini suka sungguhan atau hanya pelampiasan? Apakah rasa sukaku padanya sungguh muncul atau ini semua hanya obses?

"Kenapa lo bisa ada disini dengan Juna? Gue denger dia sibuk."

Suara khas itu membuatku langsung berbalik. Debaran jantungku tak terkendali seiring langkahnya yang kian mendekat. Ya Tuhan, orang yang baru saja kupikirkan kini ada didepan mataku. Dia seperti medan magnet yang menarikku untuk dekat dengannya. Dia sangat indah. Membuatku tak henti-hentinya melafalkan keagungan Tuhan bila melihatnya. Kini Abi sudah berdiri tepat didepanku.

"Kok lo bengong. Jawab pertanyaan gue!"

Aku masih diam. Mengamati wajahnya, menatap matanya.

Dia nyata. Seseorang yang selama ini menjadi halusinasiku sungguh-sungguh bisa disentuh. Dorongan hatiku terlalu kuat untuk bisa memilikinya dan terlalu sulit untuk melepaskannya sekarang.  "Bi, apakah kita bisa bersama? Kisah kita ini akankah berakhir happy ending atau sad ending? Karna sepertinya akuu beneran su..."

"Lo ngomong apa sih Nad? Hentikan perasaan lo. Gue yakin itu hanya sementara karna lo baru aja patah hati. Jujur gue ga mau akhir kisah lo sad ending lagi, jadi... hentikan perasaan lo dari sekarang sebelum terlambat. Karna gue ngga mau ngasih luka dihati lo Nad."

Rasanya seluruh udara berubah menjadi CO2. Membuatku kesulitan untuk bernafas. Rasa sesak itu kembali memenuhi dada. Kemudian diiris oleh belati yang tak nampak.

Mencoba menelaah kembali kata-katanya. Namun hasilnya tetap sama. Dia menyuruhku untuk ngga menyukainya, karna kalau aku benar-benar menyukainya, maka hanya luka yang akan aku dapat. Itu berarti, aku ditolak. Ya, untuk kesekian kalinya. Harusnya aku tahu diri. Kenapa juga mengucapkan kelimat tolol itu. Bukankah tadi pagi jelas-jelas dia mengacuhkanku.

"Lo masih belum jawab pertanyaan gue. Kenapa lo bisa ada disini sama orang yang katanya lagi sibuk?"

"Siapa yang bilang mas Juna sibuk? Risa?" Dia menatapku dalam diam. Seperti menunggu jawabanku. "Sebelumnya mas Juna mengajak Risa untuk makan siang. Tapi, Risa bilang lagi praktek. Makanya, disinilah aku sekarang. Cuma anehnya ternyata sekarang dia disini. Dengan kamu. Benarkan?"

Kali ini dia mengerutkan dahi. Entah terkejut, atau berfikir.

"Sepertinya kamu menyadari sesuatu, Bi. Apa kita memiliki pemikiran yang sama? Perlu kuperjelas lagi?"

Mengucapkan beberapa kalimat tadi membuatku seperti seorang antagonis. Jujur aku kesal. Ingin marah, bahkan menangis. Tapi, aku ngga bisa.

"Looo... berusaha nutupin sesuatu kan? Jangan-jangan Lo berdua selingkuh?"

"Apa?!" Aku terkejut bukan main. Aku ngga nyangka otaknya sedangkal itu. "Eh! Gue masih waras! Ngapain juga gue rebut pacar orang! Mending gue punya sad ending sama lo daripada harus jadi selingkuhan!"

Nadaku naik 1 oktaf. Sungguh tolol sekali tuduhannya. Membuatku kehilangan kesabaran. Untung kondisi lorong toilet ini lagi sepi. Setidaknya kami tidak menarik perhatian banyak orang.

Kini gilirannya bungkam.

"Kita ngga tau siapa diantara mereka yang berbohong dan siapa yang jujur. Aku percaya apa yang mas Juna ceritakan dan kamu percaya pada apa yg Risa ceritakan. Jadi tolong, jangan cepat tarik kesimpulan. Mengerti?"

Dia masih diam. Menatapku.

"Kalau begitu aku pergi dulu. Kebelet." Kuputuskan untuk meninggalkannya duluan. Karna kalau terlalu lama aku akan semakin ingin didekatnya.

"Nad." Satu penggillan membuatku berbalik dengan cepat.

"Tolong hentikanlah sebelum terlambat. Buang jauh-jauh Perasaan lo itu. Jangan sia-siain waktu lo buat gue. Menyerahlah. Karna gue hanya akan memberikan sad ending buat lo. ."

Ya Tuhan. 
Belum apa-apa ini sudah sangat menyakitkan.
"Ke-kenapa? Kenapa kamu ngga mau kasih aku kesempatan?"

"Karna gue tau endingnya bakal seperti apa, Nad. Percuma. Jadi, tolong hentikan sebelum terlambat."

Nafasku menderu. Berusaha menenangkan hati dan pikiran. Sementara dia dengan santainya pergi meninggalkanku yang terluka. Mataku memanas. Tumpukan air itu ngga bisa kubendung lagi.

Selanjutnya aku harus bagaimana? 
Apakah ini semua harus berakhir disini?

Tuhan, tolong aku.

 

*****

 

WRITER (POV)

Abi menghampiri Risa yang menunggunya di lounge. Membuka dompet dan langsung mengeluarkan uang 150 ribu. Risa berdecak kemudian mengambil uang itu.

"Padahal aku mau traktir kamu tapi malah digantiin. Dasar! Ga berubah dari dulu!"

Abi hanya tersenyum. Memperlihatkan lesung pipinya. Saat ini dia bahagia karna Risa ada didepannya, namun entah kenapa ada kegusaran didalam hatinya.

Pernyataan perasaan Nadine -yang entah sudah keberapa kali, terus terngiang ditelinganya. Bahkan ekspresi Nadine yang terlihat biasa-biasa saja namun menaruh luka tersirat jelas dimatanya, dan itu terus berputar diotaknya.

Sebuah Line menyadarkan dia dari lamunan. Kini dia rogoh saku celananya dan melihat isi pesan itu.

Oh si Anya. Batinnya.

Heh curut! 
Lo utang cerita ya sama kita-kita.

Cerita apaan sih?

Lo masuk lambe nih!

Handphone Abi langsung dipenuhi dengan screencapturean yang membuat matanya terbelalak. Dia sampai ngezoom berkali-kali. Foto-foto itu, foto saat dia 'bersitegang dengan Tian.'

"Ada apa sih Bi?" Tanya Risa penasaran. Tapi Abi ngga ngegubris. Karna kesal, Risa ambil handphone itu dari tangannya. "Loh ini bukannya Nadine ya?"

"Iya." Jawabnya singkat sembari memgambil kembali handphonenya.

"Cowok itu siapa?"

"Hanya seseorang."

"Diemin aja nanti juga reda sendiri."

Abi mengangguk kemudian kembali autis dengan hpnya. Kini dia buka instagram dan langsung disambut dengan bejibun notif komentar, likes hingga new followers. Itu merupakan hal yang biasa baginya.

Dia jelajahi isi notif, membaca secara cepat komentar-komentar yang masuk sebelum akhirnya sebuah telepon dari Wisnu menghentikan kehektikannya itu.

"Gue lagi mau nonton. Kenapa Nu?"

"Lo bikin heboh apa lagi sih? Notif fanbase lo rame banget! Mereka pada nanyain apa bener lo pacaran dengan cewek itu? By the way, cewek itu Nadine ya?"

"Iya."

"Ya ampun Abiiii Abii. Coba lo cek tkp deh! Parah banget komennya! Dan setelah lo cek, gue saranin lo langsung telepon Nadine. Eh jangan, langsung lo samperin si Nadine. Oke?"

Abi menjawab hanya dengan sebuah gumaman. Setelah telepon ditutup dia langsung menuruti apa kata Wisnu. Dengan akun 'mata-mata' miliknya dia buka IG si lambe dan mendapati foto-foto serta video yang baru saja dia lihat.

Dia buka komen pada foto itu yang tembus 3 ribu dan isinya membuat dia tercengang. Hampir semua berkata pedas sambil mencari tau siapa perempuan "sialan" yang udah bikin 2 laki-laki itu bersitegang. Mereka semua mengenali Abi dan Tian tapi tidak dengan perempuan itu. Karna hal ini pula akhirnya Abi mengetahui bahwa Tian adalah orang yang eksis disosial media.

Ih pake pelet apaan sih tuh cewe sampe bisa di rebutin sama 2 cowok ganteng?! Padahal cantik juga ngga.

Duuh ijk ada disitu tuh liat langsung. Ampe speachless ngeliat tu dua cogan perang dingin. Tapi abi yang menang karna berhasil bawa tu pere pegi. Gila! Padahal tu pere biasa ajaa bok. Ga ada pantes-pantesnya dengan Abi atopun Tian.

Tdnya gw pikir si Abi doyan pisang. Ga taunya doyan apem. Syukur deh.

Dan masih banyak lainnya. Baru kali ini dia merasa tertarik membaca komentar-komentar itu sebelum akhirnya komentar itu berubah menjadi lebih ganas saat identitas cewek misterius itu diungkapkan oleh sebuah akun.

Anditandita. Kuy coba cek ignya tu pere deh. Itu kyknya designer @ dinenasuprapto. Hmm emang beneran b aja sih. Lebih pantesan si Abi sama dr. Risa daripada sama tu pere.

Akun tersebut memposting kurang dari 30 menit yang lalu. Dan dari situ setiap komentar mereka dimantion langsung ke Nadine. Sampai sampai si pemilik akun lambe ngamuk dilapaknya sendiri.

JANGAN TAG ORANGNYA WOY!!

 

***

 

NADINE (POV)

Tanganku gemetar saat membaca komen-komen yang masuk padaku. Ini keterlaluan, sangat keterlaluan. Aku sama sekali ngga menyangka dampaknya akan seperti ini. Bukankah ini sudah pernah diposting beberapa hari yang lalu, tapi kenapa baru sekarang?

Ya Tuhan!

Akun itu memposting sebuah video baru yang membuatku tercengang. Video itu, video saat aku dan Abi bertemu dilorong toilet tadi.

Tanganku gemetar. Meyakinkan diri untuk menonton video itu.

"Kalau begitu aku pergi dulu. Kebelet."

"Nad. Tolong hentikanlah sebelum terlambat. Buang jauh-jauh Perasaan lo itu. Jangan sia-siain waktu lo buat gue. Menyerahlah. Karna gue hanya akan memberikan sad ending buat lo."

"Ke-kenapa? Kenapa kamu ngga mau kasih aku kesempatan?"

"Karna gue tau endingnya bakal seperti apa, Nad. Percuma. Jadi, tolong hentikan sebelum terlambat."

Aku tercengang luar biasa.
Rasa sakit kali ini menjadi beratus-ratus kali lipat daripada sebelumnya. Sebuah ungkapan perasaan yang berujung penolakan kini diketahui hampir 3 juta orang di Indonesia. Membuatku nampak seperti orang bodoh.

"Kayaknya ni pere yang ngebet sama Abi. Ngaca kale mending cakep."

"Ini mah dah pasti tu pere yang kebelet sama si Abi. Kasian yaa udah ditolak, sekarang orang2 dah pada tau. Ckck pray for @dinenasuprapto."

"Tampang b aja ngarepin Abi. Bangun woy!"

"Sabar ya mba @dinenasuprapto. Masih banyak ikan di samudra."

"Awas aja klo ni pere ampe lari ke Tian gegara di tolak ma si ertong!"

"Si mak lambe tega juga ya ngepost video beginian. Kasian kan orangnya. Pasti malu banget. Yang sabar ya mbaa."

Aku tertawa miris dengan airmata yang masih mengalir. Mencoba mengatur nafasku yang memburu hingga akhirnya aku tersungkur menekan dadaku berkali-kali. Rasa sakit ini, menjadi luar biasa sakit kala seseorang meneleponku tapi bukan dari Abi melainkan... Tata.

 

****

 

WRITER (POV)

Abi terbelalak melihat video terbaru unggahan si mak lambe. Dia besarkan volumenya dan dialog itu terdengar jelas meski samar.

"Bang**t!" Umpatnya. Wajah putih bersihnya itu mendadak merah.

"Kenapa lagi sih Bi? Udah ah ga usah liatin itu. Studionya udah dibuka. Ayo kita nonton aja! Hal-hal begitu tar juga reda sendiri."

Tanpa ragu Risa menarik Abi untuk mengikutinya masuk ke studio.

"Tapi ini gila Ris!" Dia tepiskan tangan Risa. "Gue ga bisa cuma diem tanpa ngelakuin apapun!"

"Terus kamu mau apa?!" Nada bicara Risa naik. "Bikin konfrensi pers? Ngarang cerita buat nutupin masalah?"

Abi diam. Berfikir.

"Seseorang yang hampir ga pernah punya skandal seperti kamu, akan menjadi sasaran empuk mereka saat kamu kesandung skandal sekecil apapun. Klarifikasi ngga akan bikin mereka diam untuk ngorek kehidupan pribadi kamu."

Abi masih diam. "Sori Ris, gue harus ketemu Nadine."

"Heh! Abi!" ucap Risa setengah teriak namun Abi ngga menggubrisnya dan mulai berlari.

 

***

 

Juna masih menunggu Nadine. Berkali-kali melihat jam tangan. Mengamati sekeliling. Dia sruput minuman hingga abis.

Minuman dan makanan sudah habis, tapi orang yang ditunggu tak kunjung datang. Berkali kali dia telepon namun selalu sibuk.

"Kemana sih nih anak. Sembelit atau gimana sih?"

"OMG! Ini bukannya cewek yang makan bareng dokter itu ya?" Suara bisikan yang ga seperti bisikan terdengar dari arah belakang.

"Lah iya! Anjir, dia nembak Abi? Seriusan?!"

Kalimat terakhir itu bikin Juna menoleh dan langsung menghampiri segerombolan wanita yang sedang fokus pada salah satu handphone milik mereka.

"Boleh saya lihat?" Ucap sambil menarik handphone dari tangan wanita berbaju kuning.

Sontak matanya melebar. Dengan gesit dia buka seluruh postan.

"Thanks." Ucapnya seraya mengembalikan handphone itu pada si pemilik kemudian bergegas mencari Nadine.

 

***

 

"Argh, brengsek!" Umpat Tian langsung pada handphone yang nyaris saja jadi almarhum karna hendak dibanting.

Dengan cepat dia menekan nomor 1 yang langsung terhubung dengan Nadine.

"Nomor yang anda ..."

"Damn it!" Dia coba telepon namun masih sama. "Kenapa lo harus matiin hape sih Nad?!" Dia coba lagi. Dan masih sama.

"Arrgghh!! Seharusnya gua singkirin lo dari awal, PENYANYI SIALAAAN!!"

Dia banting handphone yang kini sudah mendarat mulus disofa hitam ruangannya. Bergegas dia telepon asistennya untuk segera menyiapkan mobil kurang dari 5 menit. Setelah selesai memberi perintah, dia ambil sebuah handphone flip jadul dari dalam laci kemudian memencet nomor 1.

"Kerahin seluruh anak buah lo buat nyari calon istri gua! 10 menit lo harus kasih gue kabar! PAHAM?!"

 

*****

 

Abi tiba ditempat terakhir dia meninggalkan Nadine. Mencari hingga kedalam toilet wanita. Dia bahkan ngga peduli dengan teriakan beberapa wanita didalam sana. "JANGAN AMBIL GAMBAR APAPUN!" Bentaknya pada seorang wanita yang sudah mengeluarkan handphone. "Nad lo didalem?" Ucapnya seraya menggedor satu-satunya bilik toilet yang terkunci. "Keluarlah. Kita selesaikan ini sama-sama. Kita cari jalan keluarnya. Oke?"

"Apa 'Nad' yang kamu cari memakai sweater warna marun dengan rambut coklat kemerahan?" tanya perempuan yang tadi hendak mengeluarkan hp.

"Iya bener!" Buru-buru Abi hampiri perempuan itu. "Kamu melihatnya? Dimana?"

Perempuan itu berusaha mengingat. "Aku melihatnya tersungkur. Kupikir dia terserang sesuatu tapi ternyata dia menangis. Oh, setelah menerima telepon dia langsung turun. Itu sekitar 15 atau 20 menit yang lalu."

"Thanks." Ucap Abi dan langsung pergi. Berharap Nadine masih ada dimall. Dia berlari secepat yang dia bisa. Berlari menuju lobi. Kalau perkiraannya benar, seharusnya Nadine masih berada disana. Dan benar saja, dia melihat Nadine yang masih mengantri taxi. Buru-buru dia percepat langkah kakinya seiring taxi Nadine yang sudah mendekat.

Dia tahu betul itu Nadine meski sudah mengganti pakaian serta menutup kepalanya dengan sebuah topi hitam.

"Lo mau kemana?" Abi tahan pintu taksi sebelum Nadine berhasil menutupnya. Aksi spontannya itu membuat Nadine kaget bukan kepalang. "Kenapa handphone lo matiin?" Kali ini Abi memaksa masuk, membuat Nadine harus bergeser. Antara percaya dan tidak dengan apa yang dilihatnya. "Antarkan kami ke Radio dalam pak."

Seakan tersadar akan satuhal, Nadine buru-buru membuka pintu berusaha untuk keluar. Namun gerakannya kalah cepat dengan Abi yang menahannya dan langsung menutup pintu bahkan menguncinya.

 

***

 

NADINE (POV)

Gerakannya yang sangat cepat membuatku kaku seketika. Tangan kanannya mencengkram lenganku, sementara tangan kirinya menarik tuas pintu dengan cepat lalu menguncinya. Jarak kami mendadak sangat dekat. Aku bahkan bisa mendengarkan hembusan nafasnya yang cepat. Dia menoleh, menatap langsung tepat dimataku. Jarak kami terasa sangat dekat hingga aku bisa melihat guratan halus dipinggir matanya. Saking dekatnya aku sampai menahan nafas.

"Percuma pake beginian. Gue tetep bisa langsung mengenali lo." Dia ambil topiku dan langsung memakainya. "Jalan pak. Ke Radio Dalam."

"Tolong berhenti didepan pak."

"Jangan dengerin pak. Kita jalan terus." Dia genggam tanganku dengan kuat dan semakin kuat ketika aku memberontak. Mencoba melepaskan tanganku darinya. "Gue ngga akan ngelepasin ini sebelum sampai sana. Kita selesaikan ini sama-sama, Nad. Kita cari jalan keluarnya."

"Gimana caranya?"

"Aku sedang pikirkan."

Setelah mengucapkan itu dia tenggelam dalam diam. Matanya menerawang melihat jalan didepannya. Yakin sekali otaknya sedang berfikir keras.

"Maaf, gara-gara aku kamu jadi batal nonton."

Abi menoleh. "Iya. Gara-gara kamu." dia menjawab dengan lembut.

Mungkin ini hanya perasaanku saja tapi, saat ini dia berbeda. Nada bicaranya, raut wajahnya, dan juga sorot matanya.

Kurasa komentar kejam itu ada benarnya. Bahwa akulah yang 'ngebet' dengan Abi. Aku yang biasa-biasa saja menginginkannya lebih dari apapun yang aku inginkan didunia ini. Dengan genggaman tangan ini saja telah membuatku lupa bahwa tadi aku menangis karnanya. Namun genggaman ini pula yang membuatku tersadar bahwa ini hanya sementara. Karna ketika dia melepaskannya, aku akan terbangun. Haruskah aku melepaskannya? Atau malah membiarkannya?

"By the way, lo tau dari mana gue nonton?"

"Tadi ada segerombolan ibu-ibu yang habis foto bareng kamu & Risa. Mereka juga minta foto bareng dengan Mas Juna, dan mereka cerita."

"Dasar ibu-ibu." Abi ngedumel.

"Bi." Panggilan pelan itu membuatnya menoleh. "Aku ngga akan lari atau berusaha mengarang cerita untuk memperbaiki semua. Apa yang terjadi sekarang, itulah faktanya. Walaupun fakta itu menyakitkan, bahkan membuatku nampak memalukan, tapi aku ngga mau menutupinya dengan kebohongan. Karna menyukaimu, bukan hal yang memalukan."

Perlahan tapi pasti Abi melepaskan genggaman tangannya. Melihat dia menjauhkan tangannya membuat dada ini kembali sesak.

"Kamu ngga perlu menjadi seseorang yang tiba-tiba memedulikanku kemudian kembali berubah menjadi seseorang yang acuh. Jangan siksa diri kamu dengan berpura-pura peduli padaku. Aku mohon jangan buat aku mengharapkan yang tidak-tidak."

Karna dengan sikap kamu yang seperti itu akan membuatku semakin terluka.

"Apa?" dia tercengang.

"Aku ngga papa kok. Yang seharusnya memberikan penjelasan itu aku. Bukan kamu. Ini udah jadi keputusan aku dan aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri.." Kucoba untuk tersenyum meski ekspresinya tak menggambarkan apapun. "Tolong berhenti pak." Pintaku. Tanpa banyak bantahan dari Abi, pak sopir langsung meminggirkan mobilnya.

"Biar gue yang turun." Ucap Abi seraya menahan bahuku lalu bergegas turun. Kupandangi dia yang berjalan dipinggir trotoar. Lebih tepatnya aku memandangi punggungnya yang semakin lama semakin menjauh lalu menghilang.

"Bapak bisa merahasiakan pembicaraan kami kan?" Tanyaku pada sopir paruh baya itu.

"Bisa neng. Neng ngga papa kan? Soalnya saya perhatiin, dari tadi neng kayak mau nangis. Neng pasti suka ya sama mas tadi?"

Entah kenapa mataku kembali memanas. "Suka banget pak." Aku tertawa getir. "Tapi dia ngga suka sama saya. Hahahaha."

"Mungkin dia belum sadar aja kalau dia suka sama neng."

"Sepertinya ngga pak. Itu mustahil."

"Ngga ada yang mustahil neng. Percaya deh. Selama mau usaha mah. Berdoa juga jangan lupa neng."

Aku mengangguk. Membiarkan airmata itu kembali membasahi pipi. "Iya."

 

****

 

Saat ini jarum jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Setengah jam aku berkutat dengan handphone. Membaca hampir seluruh komen bahkan DM instagram yang masuk ke hpku. Followersku mendadak menjadi ribuan orang dalam sekejap. Sepertinya mereka penasaran dengan kehidupanku.

Berkali-kali ku scroll tampilan IG. Komen-komen itu terus memenuhi notif. Berulang kali aku memikirkan hal nekad ini. Mau ngga mau aku harus melakukannya.

"Hai." Sapaku kikuk begitu tau cukup banyak yang menyaksikan IG liveku dimenit pertama dan terus bertambah setiap detiknya.

"Disini aku ingin menanggapi apa yang terjadi dengan sejujur-jujurnya. Ngga ada hal yang mau aku tutup-tutupin. Perempuan difoto dan video pengakuan itu memang benar akulah orangnya. Sebenernya itu bukan pertama kali aku mengatakan bahwa aku menyukai Abi. Berkali-kali aku mengatakannya namun jawabannya tetap sama."

Bibirku mendadak kelu ketika sebuah pemberitahuan bahwa akun terverifikasi milik Abi join dalam liveku. Kemunculannya membuat heboh. Dan semakin heboh saat akun terverifikasi milik Tian ikut bergabung. Taklama berselang, beberapa nama yang kukenal ikut bergabung. Diantaranya mas Juna, Risa, Tata, dan beberapa teman 1 gengnya Abi.

"Patah hati? Pasti." Aku menjawab satu pertanyaan yang muncul dilayar. "Sebelumnya Aku pernah mencintai seseorang diam-diam. Memendam perasaan diwaktu yang saaangat lama. Kemudian penantian panjang itu berakhir sia-sia. Jujur aku kesal. Sangat kesal. Aku kesal pada diriku sendiri, dan aku menyesal. Menyesal karna ngga banyak usaha yang bisa kulakukan untuk membuatnya menyukaiku. Atau paling tidak, seharusnya dari awal aku bisa jujur tentang perasaanku padanya tanpa perlu menantinya terlalu lama. Karna itu, saat ini aku ngga mau mengulangi kesalahan yang sama."

"Saat aku bertemu dengan Abi, rasanya seperti mimpi. Aku yang pada awalnya hanya bisa melihatnya dari tv, instagram, atau mendengar suaranya diradio, kemudian dipertemukan langsung dan memiliki kesempatan untuk dekat dengannya. Bukankah aku fans yang beruntung?"

Aku diam sesaat. Memikirkan kalimat yang tepat sambil membaca komen yang bermunculan.

"Aku merasa Tuhan telah mempertemukan kami disaat yang tepat. Disaat aku terluka karna seseorang. Dia datang, menawarkan bahunya, memberikan pelukan yang melebihi obat penenang. Dia selalu berusaha melindungiku dari seseorang yang 'berbahaya'. Meskipun dia tau itu juga berbahaya baginya tapi dia ngga peduli. Dia adalah seseorang yang akan mati-matian melindungi orang yang dia sayang. Keren kan?"

Lagi-lagi komen berbondong-bondong masuk.

Kak Abiii komen dong. Diem aja nih.

Ih ceritanya kayak drama ya. Bohong kali nih.

Siapa orang yang berbahayanya kak?

Duh Siapa sih orang yang Abi sayang kak? Siapa yang ingin dia lindungi? Ih bikin penasaran

"Kalian tenang aja, Bukan aku kok orangnya. Dia ngga pernah meny....." aku menghentikan kalimat itu. Karna mengucapkannya sangatlah menyakitkan. "Ada orang lain yang ingin Abi lindungi dan aku rasa Abi lebih menyayanginya. Sesungguhnya, saat awal mengetahuinya aku pun menyadari.... perasaanku kali ini bertepuk sebelah tangan lagi. Tapii, aku selalu menepisnya. Karena aku percaya, dia akan menyukaiku. Kalau saja dia mau memberiku kesempatan."

Aku tertawa. Menertawakan kebodohanku membuat kepedihan memenuhi ruang dadaku.

"Bodoh ya? Awalnya aku pun sempat berfikir, mungkin perasaan ini hanya pelampiasan atau obses seperti yang sering dikatakannya padaku? Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya bukan. Aku... benar-benar menyukainya. Kalian pasti heran. Begitupun aku. Sepertinya aku ngga butuh waktu lama untuk menyukainya."

Mataku kembali berkaca-kaca. Rasa perih itu sekejap memenuhi dadaku. Kuatur nafas agar airmata ini ngga mengalir.

"Abi." Panggilku. Aku yakin dia melihatku disuatu tempat. "Mulai sekarang, aku akan menuruti permintaanmu. Aku... akan mengakhiri perasaan ini. Aku akan disampingmu, sebagai teman atau rekan kerja. Maaf, membuatmu ngga nyaman belakangan ini."

Aku terdiam. 
Membaca komentar yang beraneka ragam. 
Tapi sebenarnya aku menunggu komentar dari Abi.

Makannya mbak ojo baper.
Cowok baik ke situ belum tentu naksir.

Komen itu seketika mengusikku.

"Baper? Yaaa mungkin aja terlalu baper." Aku tertawa. "Konyol yaa? Aku sadar, aku ngga secantik Olivia Jensen, Isyana, atau bahkan dr. Risa. Aku hanya wanita pas-pasan seperti apa yang kalian katakan. Tapi, apakah wanita biasa-biasa ini ngga boleh menyayangi seseorang seperti Abi? Apakah perempuan jelek ini ngga boleh menginginkan Abi berada disisinya? Tolonglah kesampingkan soal penilaian fisik, soal pantes ngga pantes aku untuk Abi atau pun Tian. Tolong, berhentilah mencelaku. Kalian pikir aku ngga malu apa video itu kesebar gitu aja? Kalian pikir aku ga sedih? Udah patah hati, dicela 1 Indonesia, dikatain jelek, dikatain ga pantes, ini lah itu lah. Empatilah sedikit. Kebanyakan yang nyela aku disosial media itu cewek, coba bayangin kalo kalian diposisi aku? Harusnya bisa lebih pekalah. Karna kita sama-sama perempuan. Mungkin kalian yang mencelaku ngga pernah ngerasain patah hati ya? Saya doakan semoga kalian bahagia selalu."

Entah kenapa aku mendadak menggebu-gebu. Kuluapkan saja kekesalanku sekalian. Sampai sampai banyak yang berkomentar memintaku untuk bersabar. Namun ga sedikit juga yg masih menyerangku.

Biarkan orang lain beranggapan kamu jelek. Tapi buat aku kamu cantik. Selalu cantik.

Tianluki berkomentar. Membuatku terperangah.

Keluarlah, Nad. Aku menunggumu didepan. Ijinkan aku untuk jadi sandaranmu kali ini. 
Tolong, beri aku kesempatan untuk mendekatimu.

Aku masih membeku. Ucapan Tian membuatku bingung harus bagaimana. Apakah baru saja dia 'mengatakan' perasaannya secara ngga langsung?

Ya Tuhan, komen-komen itu semakin menggila. Tian telah memberikan sebuah statement yang menciptakan suatu kesimpulan.

OMG!! KAK TIAN NAKSIR NADINE?!

 

*****

 

WRITER (POV)

Tian berdiri didepan pintu store sambil terus melihat Nadine yang terdiam lewat layar handphonenya. Dia sengaja menunggu diluar, padahal bisa saja dia menerobos masuk kedalam, mengingat store Nadine masih bertuliskan OPEN.

Dengan hati yang berdebar-debar bahkan nervous gak karuan, dia menunggu Nadine beranjak dari mejanya. Namun yang didapat hanya wajah datar Nadine.

Please, Nad keluarlah. Aku menunggumu.

Dia ketik kembali dan langsung mengirimnya. Terserah apa tanggapan orang. Dia ngga peduli.

"Baiklah. Aku akan turun."

Sebuah senyum lebar ngga bisa menutupi kebahagiaannya begitu Nadine memberikan tanggapan positif dan langsung mengakhiri livenya.

"Hai." Sapa Tian begitu Nadine sudah berada didepannya. Melihat Nadine baik-baik saja membuatnya lega namun juga kesal. "Aku hampir gila nyariin kamu tau ngga!" Bentaknya tiba-tiba.

Dengan satu tarikan cepat, Tian masukan Nadine kedalam pelukannya. "Tapi setidaknya kamu ngga papa. Aku pikir bakal kehilangan kamu lagi." Dia pererat pelukannya membuat Nadine kesulitan untuk bernafas.

Dari seberang jalan raya, Abi berdiri mematung didekat mobilnya. Dia keluarkan hp dari saku celana, kemudan mencari sebuah nomor. "Ri, lagi dimana?" Sapanya langsung tanpa basa-basi. "Gue rasa lo harus ke store Nadine sekarang. Karna Tian ada disana."

Setelah mendapatkan reaksi cepat tanggap bahwa Ari akan segera datang, Abi pun kembali masuk kedalam mobil. Mengamati mereka dari kejauhan.

Mulai sekarang, aku akan menuruti permintaanmu. Aku... akan mengakhiri perasaan ini. Aku akan disampingmu, sebagai teman. Maaf, membuatmu ngga nyaman belakangan ini.

Ucapan Nadine tak luput dari ingatannya. "Bodoh."

Ada orang lain yang ingin Abi lindungi dan aku rasa Abi lebih menyayanginya. Sesungguhnya, saat awal mengetahuinya aku pun menyadari.... perasaanku kali ini bertepuk sebelah tangan lagi. Tapii, aku selalu menepisnya. Karena aku percaya, dia akan menyukaiku. Kalau saja dia mau memberiku kesempatan.

"Kesempatan?"

Abi mendadak sigap saat Nadine dan Tian masuk kedalam. Seketika kegelisahan itu timbul. Otak, syaraf, otot, dan hati bertolak belakang. Menimbang-nimbang, haruskah dia menghampiri mereka atau tidak?

"Si Ari kemana sih lama banget?!"

 

*****

 

Nadine memberikan segelas orange requestan Tian, kemudian duduk berhadapan dengannya. Aura awkward terpancarkan dari masing-masing mereka. Tian yang biasanya mendominasi pembicaraan mendadak diam tak berkutik.

Nadine pun diam. Entah kenapa dia merindukan Abi lebih daripada sebelumnya. Pikirannya dipenuhi oleh lelaki itu. Lelaki yang dia harapkan segera menghubunginya setelah menonton IG live-nya.

"Nad,"

Panggilan Tian menyadarkan Nadine. "Y-ya. Kenapa?"

"Udah sampai mana progres suitnya?"

"Oh iya. Udah selesai dijait sih. Aku ambil dulu ya."

Tanpa banyak bicara, Nadine langsung kelantai atas memgambil stelan jas. Sementara Tian menunggu dengan gelisah. Dia membodohi dirinya sendiri. Kesal karna apa yang disampaikannya bertolakbelakang dengan hatinya.

"Tolol banget sih! Ngapain juga nanyain jas?!" Ucapnya pada bayangan dirinya dicermin.

"Tian, ini stelannya." Kedatangan Nadine yg tiba2 membuatnya terlonjak. Dengan tampang polos Nadine memberikan jas itu. "Masih belum sepenuhnya beres sih. Tapi bisa kamu coba dulu. Jadi biar aku pasin lagi. Sekalian revisi."

Tian mengikuti perintah Nadine. 5 menit berselang, dia keluar dari dalam fitting room.

"Woaah." Nadine terkagum. Melihat Tian dari atas, bawah, keatas Lagi.

"Aku keren ya?" Ucap Tian bangga.

"Hahahahaha!! Iyaaa deeh. Coba sini aku liat." Nadine mendekati Tian. Mengamati jas itu dengan seksama. "Lekuk pinggangnya harus dibentuk lagi. Ngomong-ngomong, kayaknya kamu kurusan deh."

"Masa?"

Nadine melingkarkan pita meteran pada bagian pinggang. Tindakan spontan Nadine itu bikin Tian membatu. Jarak mereka yang terbilang dekat bikin dia girang gak karuan. Dia perhatikan Nadine, melihat detail wajahnya. Mulai dari alis, bulu mata, bola mata yang terlihat coklat terkena pantulan lampu, hidung yang proposional, hingga bibir pink dengan pulasan lipgloss tanpa lipstik. Aah, dia benar-benar menyukai kecantikan natural Nadine.

"Nad." Panggilnya. Nadine reflek mendongak membuat Tian makin bisa keseluruhan wajahnya dengan jelas. Sulit baginya menahan keinginan untuk mencium Nadine saat itu juga.

Kini dia rengkuh wajah Nadine dengan kedua tangannya. Hal itu bikin jantung Nadine berdebar ga karuan saat wajah Tian semakin mendekat.

"Seharusnya Ega belajar cara merawat wajahnya biar sebagus kamu." Ucap Tian sambil berlalu. "Mungkin kalian harus ngobrol bareng."

"Ega? Siapa?"

"Adikku yang merangkap jadi sekretaris. Kamu udah pernah ketemu dia, kan?"

Nadine mengangguk. "Dia terlihat cantik."

"Ngga. Dia kebanyakan make-up. Kamu harus lihat isi meja riasnya dia." Tian bergidik. Hal itu membuat Nadine tertawa. "Tiap bulan pasti ada aja yang dibeli. Heran. Oh, Aku jadi teringat saat kamu datang ke kantorku. Dia masuk tergesa-gesa keruanganku memberi tahu bahwa kamu datang. Dia terlihat bahagia. Dia merindukanmu tapi harus berpura-pura tidak mengenalmu. Sama sepertiku." Tian mendadak serius. Dia terdiam, otaknya bekerja ekstra untuk menyusun kalimat yang tepat. "Jujur aku takut Nad. Takut kalau kamu bakalan ngejauhin aku, atau memandang jijik, bahkan ngeri. Tapi, sekarang aku bisa sedikit bernafas lega. Thanks ya Nad, udah ada disini. Thanks, atas sikap baik kamu."

 

***

 

NADINE (POV)

Aku ngga sebaik apa yang Tian pikirkan. Aku sempat menghindarinya dan ingin melarikan diri saat mendengar suaranya. Aku selalu ketakutan, bahkan hingga detik ini. Rasa paranoid itu sulit hilang. Aku belum bisa merasa nyaman berada didekatnya. Meskipun dia orang yang menyenangkan, tapi entah kenapa aku ngga bisa.

"Ada yang kamu pikirkan?" Tian mengejutkanku, padahal suaranya terkontrol sempurna. "Sepertinya aku tau apa yang kamu pikirkan."

"Memang apa yang kupikirkan?"

"Jangan mencari tau masalalu kita melalui Ega. Karna dia akan diam sepertiku. Kamu hanya perlu memercayai bahwa aku bukanlah orang jahat. Itu sudah lebih dari cukup."

"Entahlah. Saat ini sulit bagiku untuk memercayai itu walaupun sesungguhnya aku mau. Aku hanya penasaran akan hal-hal yang aku lupakan."

"Tolong Nad." Dia potong kalimatku. "Aku mohon dengan sangat. Jangan cari tau ingatan kamu. Lebih baik kita seperti ini. Memulainya dari awal."

"Iyaaaa." Alangkah baiknya mengiyakan dulu untuk sementara.

"Ya sudah. Aku pulang ya Nad. Sepertinya saat ini kamu butuh waktu untuk sendiri. Besok dan seterusnya aku akan sering mampir."

Kubalas hanya dengan sebuah anggukan.

Kini mobil range hitam itu sudah pergi. 
Saatnya aku berkutat dengan diri sendiri. 
Kucek handphone, jam menunjukan pukul 21.30 dan masih ngga ada satu pun pesan Abi terlihat di hpku. Konyol. Sebenarnya apa yang kuharapkan darinya? Mengingatnya membuat hatiku kembali mencelos. Apapun yang terjadi nanti, aku harus bisa menahan perasaanku padanya. Karna aku sudah berjanji untuk berada didekatnya sebagai teman.

Kutekan nomor Abi karena menunggunya tidak akan menghasilkan apapun. Dengan hati berdebar aku menunggu apakah dia mengangkat teleponku atau tidak.

"Hai Bi." Sapaku sedikit kikuk dengan jantung yg berdetak 3 kali lebih cepat saat dia mengangkatnya. "Lagi apa? Sibukkah?"

"Nope. Kenapa Nad?"

Mendengar suaranya yang datar, membuat hati ini perih. Dia seperti tidak peduli. "Kamu melihat liveku tadi?" Tanyaku langsung pada inti. Dia bergumam, memberikan arti Ya. "Apa kamu ingin memyampaikan sesuatu?"

"Ngga ada. Mungkin lo mau sampaikan sesuatu lagi?"

Ya Tuhan, jawabannya.

"Be begitu." Dalam hitungan detik aku kehilangan kata. Perihnya hati ditambah airmata yang nyaris tumpah, telah menyumbat pita suaraku. "Maaf karna udah bikin situasi yang ngga nyaman. Maaf atas kelancangan aku selama ini. Sekarang, kita bisa berteman ataupun sekedar menjadi rekan bisnis. Aku akan mengingat itu dengan baik. No more feeling. Hihi..."

"Maaf ya Nad. Gue ngga bisa nerima perasaan lo."

Air mata yang kubendung, tumpah juga. Kalimat ini adalah jawaban terjelas yang bisa kudengar.

"Hahaha its oke. Ngga papa kok Bi. Beneran. Aku bisa menerima jawaban itu. Makasih yaa. Oh ya, aku harus bersiap untuk tutup toko. Bye! See you!"

Sepersekian detik aku menatap hampa handphone ditanganku. Lock screen foto kami pun perlahan menghilang.

Ku elus dadaku perlahan. Menarik nafas. Mengontrol emosiku yang kacau balau. Aku hanya ingin bilang, malam ini aku ingin menangis sejadi-jadinya.

 

To be continue....

_____________________________

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved