Kasur Ayah | Cerpen

Author : Alin Nabilah

 

Matahari sudah bersembnyi sejak empat jam yang lalu. Aku yang dari tadi sudah berkutat dengan buku-buku yang penuh dengan masalah kehidupan, mulai merasa lelah. Kuletakkan kembali buku-buku itu ke tempatnya. Kuraih remote televise yang tak jauh dari tempat dudukku. Kujelajahi setiap channel, tapi tidak ada yang menarik perhatinku. Akhirnya kulangkahkan kakiku ke kamar, dan kuhempaskan tubuhku ke atas kasur.

Malam semakin larut, alam diam seolah bungkam. Hanya derik jangrik yang dapat kudengar. Kucoba untuk memejamkan mata, namun percuma. Mataku tak bisa diajak berkompromi. Kutatap langit langit kamarku dalam keheningan malam. Lamat-lamat kudengar suara ibu yang sedang menasehati ayah agar jangan merokok diatas kasur.

Mbok ya jangan merokok kalau mau tidur, yah. Buat besok saja, kan masih ada hari. Lagian merokok kalau mau tidur itu kebiasaan buruk, tidak baik, dan MEMBAHAYAKAN”nasehat ibu.

“Bahaya gimana sih bu ?”, tanya bapak.

“Nanti kalau ayah tidur, dan rokok ayah masih menyala terus rokok ayah masih menyala kan jadi BERBAHAYA” jelas ibu.

“Enggak bakal Bu, nanti kalau ayah sudah ngantukkan ayah buang dulu rokoknya” kilah Ayah.

“Namanya juga ngantuk Yah, mana mau repot-repot buang rokok dulu” jawab ibu.

“Sudahlah Bu, TIDAK MUNGKIN” timpal Ayah mantap.

Yoweslah terserah Ayah saja, resiko ditanggung penumpang” kata ibu dengan dongkol.

Di kamar terkikik-kikik aku mendengarnya. Ayahku memang perokok berat, walapun sudah diberitahu berkali-kali, tetap saja Ayah setia dengan kegiatan merokoknya. Bahkan aku penah menakut-nakuti Ayah tentang kematian yang disebabkan oleh merokok. Tapi justru aku yang keki karena jawaban Ayah.

“Kamu tahu Munawwir tetangga depan rumah?” tanya Ayah setelah aku menakut-nakutinya tentang bahaya merokok.

“Tahu yah, yang meninggal minggu lalu itu kan, memangnya kenapa?” jawabku penasaran.

“Munawwir itu tidak pernah merokok, umurnya pun masih 20 tahun, tapi buktinya dia juga meninggal”. Aku keki berat setelah mendengar jawaban Ayah, aku bingung harus menjawab apa, tapi aku tak mau kalah. Kujawab saja setahuku.

“Ya itukan sudah takdirnya Yah” jawabku ragu-ragu.

“Lha kamu pikir Ayah tidak punya takdir?” tanya Ayah dengan menunjukkan senyum kemenangan yang muncul diwajahnya.

“Tau ah gelap, terserah Ayah deh”. Begitulah, jadi daripada aku membuang-buang waktu dan energiku, lebih baik aku mengalah saja.

 

Kulirik jam dinding di kamar, jarum panjang sudah mengarah ke angka sembilah, sedang jarum kecil singgah di antara angka sepuluhdan sebelas. Mataku mulai memberat, segera kurapalkan do’a, dan aku mulai perjalanan alam bawah sadarku.

 

“Ayo cepat cepat”. Trak trak trak. Bunyi-bunyi itu mengusik tidur nyenyakku. Jam dinding menunjukkan pukul satu malam. Apa-apa an in, ribut-ribut tengah malam ,batinku. Segera aku turun dari ranjang, kutengok keluar kamar. Dan aku terkejut dibuatnya. Di luar rumah terpapar kasur Ayah yang sudah dipenuhi dengan Si jago merh di setiap sudutnya.

Kakak dan Ibu mondar mandir mengangkut air dikaleng. Aku heran, aku tak melihat Ayahku. Kemana Ayah gerangan?. Kulangkahkan kaki ku keluar rumah, dan kulihat Ayah hanya berdiri memandangi kasurnya. Tampaknya Ayah tak percaya dengan apa yang terjadi.

“Yah bantu dong, ini kan ulah Ayah” kata Ibu sambil mengambili air di kaleng. Ayah segera masuk ke rumah, beberapa detik kemudian keluar lagi.

“Kalengnya habis Bu” kata Ayah panik.

“Pakai apa saja yang bisa dibuat untuk membawa air Yah” jawab Ibu tak kalah panik. Aku segera masuk ke dalam rumah untuk mencari selang, belum sampai aku menemukannya, aku mendengar suara ibu yang marah-marah. Kuambil langkah seribu ke TKP. Kulihat ibu sedang mengomeli Ayah.

“Mana bisa padam Yah kalau pakai itu” jawab Ibu penuh kegeraman.

“Lha ini kan bisa untuk membawa air seperti kata Ibu tadi” jawab Ayah polos.

“Aduh, kalau Ayah pakai itu, sampai tahun depan pun belum padam” celetuk Ibu dongkol.

Perlahan kudekati Ayah, kulihat benda apa yang ada di tangannya, yang bisa membuat Ibu marah-marah. Setelah aku melihatnya, hampir aku tertawa disela-sela kepanikan dini hari ini. Tebak apa yang ada di tangan Ayahku? Sebuah semprotan pewangi baju. Hebat bukan?