Now You See Me | Cerpen

Author : Talitha Syahda Amany

 

Aku meneguk minuman itu sekali lagi. Berusaha mendapatkan sensasi yang ditawarkannya. Minuman itu terasa manis di lidahku dan menimbulkan rasa panas terbakar di tenggorokan. Kalau boleh kubandingkan, minuman ini mirip dengan minuman bersoda namun dengan rasa yang lebih baik. Aku menelannya dalam-dalam. Rasanya lebih baik daripada tegukan pertama. Kuletakkan minuman itu di meja yang terletak persis di samping kananku. Aku tak sanggup menandasnya habis.

“Udahan? Kok nggak habis?” Mia – sahabatku – menyenggol lenganku dengan pelan, membuat minuman yang dipegangnya erat hampir menumpahkan isinya.

Aku menggeleng sembari mengingat-ingat rasanya, “Nggak enak. Nggak cocok sama tenggorokan gue,” aku mengelus-elus leherku yang terasa panas.

“Ooh,” ia kembali meneguk minuman di gelasnya. Ia hampir menandasnya habis. Hanya tersisa sedikit di gelasnya. Sepertinya, Mia menyukai minuman itu.

“Eh, coba liat deh. Itu siapa sih?” Mia kembali menyenggol lenganku, kali ini lebih keras. Ia menunjuk seseorang yang tengah berdiri berhadapan dengan Kylie – temanku yang mengadakan pesta besar-besaran ini, ia tengah merayakan ulang tahunnya yang ke 19. Aku mencoba melihat dengan seksama. Dan tak perlu waktu lama, aku menemukan siapa yang dimaksud Mia.

“Aneh, cowo itu dari tadi liatin lo terus, padahal kayanya dia lagi sama cewenya. Siapa sih dia? Lo kenal? Genit banget,”

Mia benar. Dia melihatku. Dia menatapku. Dan saat ini, aku tengah menatapnya. Kami bertatapan dan mata kami beradu. Dan ia tengah berdiri di samping kekasihnya yang terus sibuk mengobrol dengan Kylie sehingga tak menyadari perilaku laki-laki itu. Tapi aku menyadarinya – dan Mia.

Mia memandangku heran, melihatku terus memandangi laki-laki itu, seperti yang ia lakukan padaku. “Lo kenal dia?”

Aku mengalihkan pandanganku pada Mia, “Dia Rafa, sahabat gue sejak kecil. Kita selalu satu sekolah, bahkan sampai sekarang, sampai kuliah,”

“Dan apa yang terjadi sama lo dan Rafa? Perasaan lo nggak pernah ngenalin dia sama gue, bahkan gue nggak tau kalo namanya Rafa,” Mia berbicara dengan nada serius. Aku menghela nafas, “Ya, lo bener. Pernah ada skandal antara gue sama dia. Kita itu sahabatan sejak kecil, gue kenal betul keluarganya dan dia juga akrab sama keluarga gue. Kita sering main bareng, bahkan keluarga kita pernah main bareng. Gue selalu merasa nyaman sama dia, sebagai sahabat gue. Tapi gue nggak pernah menyangka bahwa hubungan ini bakal berujung menjadi hubungan yang lebih dari persahabatan. Kita pacaran.

“3 tahun lalu gue pacaran sama Rafa, tapi hubungan itu ngga berlangsung lama. Kira-kira hanya setengah tahun. Gue justru merasa jauh ketika kita pacaran. Dia berubah. Kita nggak seakrab dulu lagi. Dan gue sering banget cekcok sama dia. Sampai akhirnya, sebuah kebenaran terungkap. Rafa selingkuh dari gue. Dia suka sama cewek lain. Dia mengakui itu. Kita putus. Dan setelah itu, semuanya berubah. Seakan-akan gue nggak pernah deket sama dia. Kita nggak pernah lagi ngobrol apalagi sampai main bareng. Bahkan sampai ulang tahun gue yang ke 17 pun dia nggak dateng. Gue sakit. Sakit banget. Gue sempat ambruk beberapa hari. Tapi, sejak saat itu – sejak saat gue melihat Rafa dengan pacarnya – gue tau bahwa gue nggak bisa terus-terusan begini, mengharapkan dia dalam tangis. Dia bertindak seolah-olah dia nggak kenal gue, maka itulah yang gue lakukan padanya,” lanjutku.

Mia memandang laki-laki itu lagi, namun ia telah pergi. Dan ia tak menghiraukannya. “Jadi, itu alasan kenapa lo nggak pernah cerita ini ke gue? Karena lo berpura-pura nggak kenal sama dia? Dan lo berusaha mengubur dalam-dalam semua kenangan lo sama Rafa?”

“Kurang lebih begitu,” aku mengangguk-angguk. “Gue sekarang udah nggak peduli sama dia – udah sejak lama. Gue punya kehidupan sendiri, dan dia juga. Kita udah ngga bisa berjalan beriringan lagi. Dan gue rasa, ini jauh lebih baik,”

Mia menatapku lekat-lekat, ia tersenyum. Senyum yang menggambarkan rasa iba dan belas kasihan atas apa yang terjadi padaku 3 tahun lalu. Namun, dibalik senyumnya itu, ia seakan ingin berkata “gue tau lo kuat, dan gue bakal terus disini sama lo”. Mia bukan tipe orang yang mengasihani orang lain, tapi justru menguatkan. Dan lewat senyumnya itu, aku merasa lebih kuat.

***

Kringg.. Kringg..

“Halo, Mah. Iya ini aku lagi di supermarket. Iya Mamah tenang aja, aku udah beliin semua pesanan Mamah. 15 menit lagi aku sampai rumah. Oke,” aku menutup telepon dari Mamah.

Dengan sedikit keberatan, aku mengangkat keranjang belanja yang sedari tadi kutenteng. Aku tak menyangka akan seberat ini. Tau gini, gue tadi bawa troli aja. Dengan susah payah, aku berusaha membawanya ke kasir. Baru beberapa langkah, aku berhenti sesaat. Seorang wanita tengah berjalan ke arahku sembari melihat-lihat barang-barang di sekitarnya. Tenggorokanku tercekat. Aku ingin berbalik arah dan menjauhinya. Namun, terlambat. Ia keburu melihatku. Senyum merekah di bibirnya yang tipis. Ia mempercepat langkahnya – seakan ia ingin mencegatku – dan menghampiriku.

“Eh, Bella. Apa kabar?” ia memelukku erat.

“Baik-baik aja, Tante,” kataku sedikit gugup. “Tante Lina gimana? Sehat-sehat aja kan? Lalu Om? Deva?”

Rafa? aku melanjutkan dalam hati. Sedikit aneh saat kau mempertanyakan keadaan anggota keluarga tanpa mempertanyakannya secara lengkap.

Ia memegang lenganku, “Iya, Tante sehat. Om sama Deva juga baik-baik aja. Wah, sudah lama ya nggak ketemu sama Bella. Kamu jarang main, sih. Sekarang sudah nggak pernah main malah. Sudah gede ya jadi malu main bareng sama Rafa,”

“Ah nggak juga, Tante,” aku tertawa kecil – tertawa yang sangat dipaksakan. “Sibuk sama urusan masing-masing. Jadi nggak pernah sempat main,”

“Deva juga sering nanyain kamu, lho. Kayanya dia kangen berat sama kamu. Ayo main ke rumah,”. Tiba-tiba, sesosok laki-laki datang dengan membawa keranjang belanja, sama sepertiku. “Nah, ini dia. Rafa, ini Bella, temen kamu kan? Sudah sombong dia sekarang, maklum saja ya, Bell,” Tante Lina yang merupakan ibu Rafa tertawa kepadaku.

Aku hanya tersenyum menatap Rafa. Mataku menangkap mata Rafa. Mata itu masih sama sejak terakhir kali aku menatapnya di pesta Kylie kemarin malam. Aku benar-benar merindukan mata itu.

“Oh, Tante. Aku duluan ya, soalnya udah ditunggu Mamah di rumah. Mari, Tante,” aku berjalan melewati mereka berdua dengan sopan.

Aku bergegas menuju kasir. Aku ingin buru-buru meninggalkan tempat ini. Jangan sampai Tante Lina memergokiku di kasir dan mengajakku mengobrol lagi. Dan jangan sampai aku bertemu Rafa lagi. Sudah cukup 2 tatapan mata darinya. Menyadarkanku akan apa artinya aku sekarang baginya. Aku hanya bagian kecil dari masa lalunya. Masa lalu yang tak sepenuhnya diingatnya – dan mungkin sudah dilupakannya.

Setelah memberikan uang kembalian, wanita yang bekerja sebagai kasir itu memberikan barang belanjaanku yang telah terbungkus plastik. Aku menyambarnya dan segera meninggalkan tempat itu.

“Bella!” sebuah suara membuatku berbalik badan.

Rafa, ucapku dalam hati. Ingin rasanya aku membalikkan badanku dan berlari meninggalkannya yang tengah berjalan ke arahku. Ia masih sama seperti dulu. Gaya berjalannya, suaranya, raut wajahnya, masih sama. Aku berdiri mematung seakan-akan tengah menunggu kedatangannya.

“Hei, gimana kabar lo?” ia berada di depanku sekarang, mungkin hanya berjarak sekitar 1 meter.

Gimana kabar lo? Setelah lo selingkuhin gue dan 3 tahun ninggalin gue, lo cuma nanya itu?

“Ada apa?” jawabku ketus.

“Mau mampir ke rumah nggak?” ia mencoba bersikap santai.

Aku mengernyitkan kening dan hampir tertawa. Lo tiba-tiba ngajakin gue ke rumah? Buat apa? Buat memanipulasi segalanya di depan nyokap lo? Ngga guna. “Bukannya gue udah bilang, nyokap gue lagi nungguin di rumah, gue harus buru-buru pulang,”

“Ooh,” ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Besok mau main nggak? Nonton bola atau ke bioskop gitu?”

Dia nggak lupa apa yang gue suka. Mungkin cuma itu yang dia inget.

“Gue lagi sibuk, banyak paper. Lain kali aja,” aku membalikkan badanku. Berjalan menjauhinya. Entah kenapa, aku merasa sedikit lega. Berada di dekatnya membuatku gelisah.

Kejadian itu membuatku tak bisa berkonsentrasi pada paperku. Dia benar-benar mengingatkanku pada segalanya. Segalanya. Aku sudah bersusah payah mengubur itu semua dalam-dalam. Dan dengan mudahnya ia membongkar semuanya melalui sebuah obrolan singkat. Apa maunya? Hal itu yang terlintas di benakku. Kenapa tiba-tiba dia ramah ke gue? Kenapa tiba-tiba dia nawarin gue buat mampir ke rumahnya? Kenapa tiba-tiba dia ngajakin gue nonton bola atau ke bisokop? Permainan apa yang lagi dia mainkan?

***

Teriknya matahari siang ini membuatku berjalan tergesa-gesa. Aku tak suka terlalu lama terpapar panas. Berulang kali aku mengumpat, menyumpahi halaman kampus yang begitu luas, membuatku harus berada di bawah sinar matahari lebih lama. Kalau saja aku tak berjanji pada Mia tadi malam, aku pasti akan rela menunggu sekitar satu atau dua jam lagi di perpustakaan kampus. Menunggu matahari sedikit meredup.

Aku mengelap keringatku yang menetes di pelipis. Aku benci panas. Aku benci keringat. Kurasakan badanku yang basah karena keringat mengucur deras. Rasa-rasanya, ingin sekali menumpahkan air dingin ke seluruh badanku.

“Hei,” Rafa tiba-tiba berdiri di depanku, mencegatku.

Aku mendongak menatapnya, “Apa?”

“Mau nemenin ngopi nggak?”

Lagi-lagi aku ingin tertawa mendengar tawarannya, dia benar-benar kaku dan lupa bagaimana cara mengajakku pergi, “Ngopi? Siang-siang gini? Sorry aja deh,”

Ia kikuk. “Kalau gitu, kita ngadem aja gimana? Kemana aja deh terserah lo biar kita bisa ngadem. Panas nih,”

“Lo lupa ya sama pacar lo?” ucapku spontan.

Dia tertawa kecil, “Nggak. Sandra lagi main sama temennya. Dia nggak mau nemenin gue minum. Jadi gue ngajakin lo,”

“Ooh,” aku mengangguk-angguk, “Jadi, berhubung Sandra nggak bisa, terus lo ngajakin gue? Dan lo pikir gue mau jadi spare part pacar lo?”

“Nggak gitu juga, maksud gue –“

“Bella!” Mia berlari mendekatiku. Ia terengah-engah. Nafasnya tak teratur. Namun, nafasnya kembali normal ketika ia melihat laki-laki yang berdiri di depanku.

“Lho, kok dia. Kok lo lagi sama dia sih?” telunjuk Mia menunjukku, lalu berganti ke Rafa.

“Temen gue, Mia,” aku memperkenalkan Mia pada Rafa, meskipun aku tak yakin Rafa ingin mengenalnya.

Mia menatapku sebentar, lalu mengulurkan tangan dengan malas, “Mia,”

“Rafa,” Rafa membalas uluran tangan Mia.

“Eh, Bell. Ngomong-ngomong lo nggak lupa kan mau ke rumah gue? Lo udah janji lho,” Mia menepuk pundakku dengan keras.

Aku memandangnya dengan senyum kemenangan. Mia, makasih, lo bener-bener menyelamatkan gue. “Ya, gue nggak lupa kok. Gue harus cabut sekarang,” Aku menatap Rafa, lalu berjalan meninggalkannya.

“Lo lagi ngapain sama dia? Udah baikan? Sejak kapan? Kok bisa?” sederet pertanyaan muncul dari mulut Mia setelah beberapa meter berjalan.

“Dia ngajak gue main,” aku memandang Mia, “Lucu ya. Gue juga pengin ketawa. Bayangin, tiba-tiba cowok yang udah ninggalin lo selama 3 tahun, dateng dan tanpa  ba-bi-bu ngajak lo main disaat dia sendiri punya pacar,”

Mia berdehem, “Sebenernya sih wajar menurut gue, dia kan temen lo. Sahabat lo,”

“Iya. Itu hal yang wajar banget buat 2 orang yang sahabatan. Tapi kalo buat 2 orang yang pernah deket dan pernah singgah di hati? Itu beda aja, Mi. Apalagi kalo sampe temen-temen SMA Rafa tau gue lagi main sama dia. Eh gila itu Rafa jalan bareng sama Bella, padahal udah punya Sandra, nggak tau diri banget si Bella. Gue ngga mau denger itu. Gue nggak se-hina itu,” aku menirukan suara entah siapa.

“Lo aja kali yang negative thinking,” Mia berjalan mendahuluiku, “Yuk,”

***

Aku tak mau berlama-lama di rumah Mia. Sebelum jarum jam menunjuk pukul 4 sore, aku sudah keluar dari rumah Mia. Aku berjalan kaki menyusuri jalan raya. Hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit untuk sampai di rumah. Biasanya, Mia akan mengantarku pulang. Tapi kali ini, dia tak bisa, jadi aku pulang sendiri. Dan aku tak pernah mempermasalahkannya. Apalah arti berjalan 10 menit. Lagipula, aku menikmati suasana sore itu.

Aku hampir sampai di gang rumahku ketika beberapa orang berkerumun di pinggir jalan. Seperti biasa, itu pasti kecelakaan. Aku memperhatikannya sembari berjalan. Mencoba melihat kondisi si korban, apakah terluka parah atau tidak. Aku tak bisa melihatnya secara jelas, namun naluriku mendorongku untuk mendekati kerumunan itu. Seorang laki-laki berjaket hitam terkapar di jalanan. Luka di kepalanya terus mengeluarkan darah. Jaketnya sobek-sobek dan punggung tangannya lecet.

“Rafa!” aku menjerit spontan. Jantungku berdegup kencang. Tanganku gemetaran menarik jaketnya, berusaha membangunkannya. Air mataku hampir menetes. Tak sanggup lagi melihatnya.

“Mbak! Mbak kenal sama laki-laki ini?” seorang Bapak yang kukira tukang ojeg di ujung gang menanyaiku yang tengah dilanda panik.

“Iya pak! Dia teman saya pak! Tolong carikan kendaraan! Kita harus bawa dia ke rumah sakit sekarang!” kataku tanpa mengalihkan pandanganku dari Rafa. Rafa, lo kenapa sih? Kenapa lo kecelakaan? Air mataku menetes di jaketnya.

Aku berhasil membawa Rafa ke rumah sakit dengan bantuan Bapak ojek dan beberapa orang lain yang mengerumuni Rafa tadi. Rafa langsung masuk ke ruang UGD dan aku tak boleh masuk untuk menemaninya. Aku sudah menelepon Tante Lina dalam perjalananku menuju rumah sakit. Aku harap dia tak akan pingsan di rumah begitu mendengar kabar yang kuberitakan.

Aku tengah terduduk di depan ruang UGD dengan mata sembap ketika Tante Lina dan Deva – adik Rafa – datang tergopoh-gopoh. Aku langsung memeluk Tante Lina, tak tau harus menumpahkan ketakutan dan kesedihan ini pada siapa lagi. Tante Lina menangis di pelukanku, air matanya terasa hangat di bahuku. Aku tak bisa menangis lagi. Mataku terasa kering. Aku terlalu banyak menangis sebelum mereka datang, ketika hanya ada aku dan Rafa, dan aku melihatnya terluka parah. Aku melepaskan pelukanku lalu bergantian memeluk Deva. Ia menangis. “Kak Bella, Kak Rafa –“ kata-katanya terpotong. Suaranya menghilang di telingaku. “Kak Rafa akan baik-baik saja, kamu nggak perlu khawatir. Kak Bella disini,” aku mengelus punggungnya, berusaha menenangkannya.

“Terima kasih, Bella. Terima kasih sudah menyelamatkan Rafa,” ucap Tante Lina di tengah tangisannya, membuatku merasa iba.

Aku memeluknya lagi, “Rafa akan baik-baik aja, Tante. Aku janji, Rafa akan baik-baik aja. Dia anak yang kuat,”

Aku melepaskan pelukanku ketika seorang dokter yang menangani Rafa keluar dari ruang UGD. Ia melepas kacamatanya dan menyelipkan di saku jas dokternya.

“Bagaimana keadaan Rafa, dok?” tanya Tante Lina dengan suara gemetar. Aku tak sanggup lagi mendengarnya. Aku memeluk Deva, menguatkannya.

“Syukurlah, dia baik-baik saja. Hanya ada luka ringan di kepalanya dan lecet di beberapa bagian tubuhnya. Pendarahannya sudah terhenti. Ia akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap,” dokter itu lalu pergi meninggalkan udara kelegaan bagi kami.

Aku menarik nafas lega. Deva memelukku semakin erat. Aku mengelus kepalanya dan tersenyum padanya.

“Tante, gimana keadaan Rafa, Tante? Apa dia baik-baik saja. Ya Tuhan, ini nggak mungkin terjadi,” seorang gadis datang tergesa-gesa dan langsung memeluk Tante Lina begitu ia sampai.

“Semuanya baik-baik saja, Sandra. Hanya luka ringan di kepalanya. Dia akan segera keluar dari UGD,”

Gadis itu menarik nafas lega dan melepaskan pelukannya. Dan secara tak sengaja, ia melihatku. Ia menatapku beberapa saat – mengingat-ingat wajahku – dan bertanya, “Kamu siapa?”

Sebuah pertanyaan yang tak bisa kujawab. Bibirku terkatup rapat. Tenggorokanku tercekat. Siapa aku?

“Ini Kak Bella, temannya Kak Rafa,” celetuk Deva yang masih memelukku. Aku menghela nafas. Deva menyelamatkanku. Menyelamatkanku dari pertanyaan yang tak bisa kujawab.

“Ooh. Sini, sayang,” Sandra memeluk Deva – atau lebih tepatnya meminta Deva untuk memeluknya – sehingga Deva melepaskan pelukannya dariku.

Aku merasa asing disini. Siapa aku? Aku bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang begitu sedih ketika melihat Rafa terluka, sehingga berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya. Dan dia selamat. Tugasku sudah selesai. Aku berjalan perlahan-lahan meninggalkan mereka bertiga – Tante Lina, Deva, dan Sandra – yang tengah menunggu Rafa dikeluarkan dari ruang UGD. Setidaknya, aku sudah merasa lega karena Rafa selamat.

Tak ada keinginan dalam diriku untuk sekadar datang ke rumah sakit, menjenguk Rafa, menanyakan keadaannya, berbincang dengan Tante Lina, bercanda ria dengan Deva. Itu terlalu berisiko. Sandra sudah mengenaliku, ia tau namaku. Pasti akan aneh apabila aku datang menjenguk Rafa. Aku tak berhak untuk menjenguknya. Jadi, ketika orang tuaku pergi ke rumah sakit pada malam harinya, aku berpura-pura sibuk dengan paperku – seperti kepura-puraan yang selalu kulakukan.

Dan aku mengubah keputusanku ketika pagi hari, sekitar pukul 6 pagi, Tante Lina meneleponku. Mengabarkan bahwa Rafa sudah siuman dan kondisinya membaik.

“Ia baru sadar tadi pagi, sekitar pukul 5. Kondisinya semakin membaik. Papah Rafa juga sudah kembali dari Singapura,” ucap Tante Lina dari seberang. Suaranya tak gemetar lagi seperti saat Rafa masih di ruang UGD.

Tanpa sadar, aku tersenyum, “Syukurlah, kalau begitu Tante. Semoga dia cepat keluar dari rumah sakit,”

Dia. Aku bahkan tak ingin menyebutkan namanya.

“Oh, iya, Bell. Rafa barusan menanyakan kamu. Dia ingin kamu datang kesini dan berbicara denganmu,”

Aku terpaku mendengar kata-kata itu, “Tapi –“

“Sandra sibuk hari ini. Dia bilang baru akan datang ke rumah sakit selepas jam 6 sore. Kamu bisa kesini sebelum berangkat kuliah,” seakan-akan Tante Lina mengerti apa yang aku pikirkan.

Tanpa berpikir panjang, aku berkata, “Baiklah,”

Jadilah, aku datang ke rumah sakit sekitar pukul 8. Dengan berbekal parcell buah untuk Rafa dan 3 porsi sarapan untuk Tante Lina, Om Anwar – papah Rafa, dan Deva. Aku buru-buru beranjak dari tempat tidur ketika Tante Lina meneleponku tadi pagi, dan memasak ala kadarnya untuk kubawa ke rumah sakit. Di perjalanan menuju rumah sakit, aku mampir membeli beberapa macam buah.

Tante Lina, Om Anwar, dan Deva tengah duduk di kursi tunggu depan kamar inap Rafa ketika aku datang. Mereka menyambutku dengan ramah.

“Tante, ini aku bawakan sarapan untuk Tante, Om, sama Deva. Ala kadarnya sih Tante,” kuulurkan sekantung plastik yang berisi makanan itu kepada Tante Lina.

“Wah terima kasih. Pasti kamu masak sendiri ya,”

“Langsung masuk aja, Bell. Rafa sudah nungguin kamu dari tadi,” Om Anwar menyuruhku masuk.

Dengan ragu-ragu, aku membuka pintu dengan pelan dan menutupnya kembali – mungkin kami butuh privasi untuk hal ini. Rafa menyambutku dengan senyuman. Wajahnya terlihat begitu pucat meskipun tak ada luka. Aku berjalan mendekatinya. Lalu kuletakkan buah-buahan yang dibalut dalam bentuk parcell di meja kecil dekat tempat tidur Rafa. Lalu aku duduk di samping Rafa yang terbaring lemah.

“Udah baikan?” tanyaku sedikit jutek.

Ia tersenyum, “Makasih ya, lo udah nolongin gue,”

Aku mengangguk tanpa menatapnya. “Gue minta maaf. Coba aja kemaren gue mau nemenin lo ngopi, mungkin lo ngga bakal kecelakaan kaya gini,”

“Nggak lah,” sahutnya cepat. Suaranya masih terdengar begitu lemah. “Justru gue bersyukur, lo nolak buat nemenin gue kemaren. Andai aja lo ikut, lo pasti udah masuk rumah sakit juga kaya gue,”

Aku menunduk. “Ada apa lo manggil gue kesini?”

“Gue mau minta maaf sama lo,” ucapnya lirih. “Atas semua yang udah gue lakuin ke lo. Gue udah nyakitin lo selama bertahun-tahun. Gue udah ngekhianatin lo. Gue udah jahat sama lo, gue –“

“Kalo lo manggil gue kesini cuma buat minta maaf, gue udah maafin lo.” aku memotong ucapannya dengan cepat, tak mau berlama-lama.

“Emang lo nggak pengin ngobrol sama gue?” ia menatapku dalam-dalam. “Boleh nggak gue kangen sama lo?”

Lagi-lagi, aku diberi pertanyaan yang tak bisa kujawab. Aku diam tak bergeming. Menatap matanya sekilas, lalu membuang muka.

“Gue kangen pas kita nongkrong bareng, entah itu di kafe atau di pinggir jalan sekalipun. Gue kangen pas kita nonton film horror di bioskop, terus lo teriak-teriak karena lo ketakutan. Gue kangen pas lo tiba-tiba muncul di samping gue, terus nyerocos panjang lebar dan nggak gue dengerin,” seulas senyum muncul di wajahnya.

“Gue kangen sama lo, Bell,” tangan kanannya mencoba mencari tanganku, lalu menggenggamnya erat. Kehangatan telapak tangannya menjalari seluruh tubuhku. Buru-buru aku tersadar lalu kulepaskan genggamannya.

“Udahlah, yang penting sekarang lo fokus dulu sama kesehatan lo. Muka lo masih pucat,” aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Tak mau terjebak dalam ucapannya.

“Lo udah ketemu Sandra? Dia macem-macem sama lo?”

Aku menelan ludah dalam-dalam. Teringat ketika ia menatapku dengan tatapan yang tak dapat kujelaskan, lalu bertanya “siapa kamu?” dan aku tak bisa menjawabnya. “Nggak. Gue cuma ketemu sebentar. Dia khawatir banget sama lo,”

“Dan lo nggak khawatir sama gue?”

“Rafa, dengerin gue,” lidahku terasa kaku saat menyebut namanya. “Gue nggak tau maksud lo apa ngomong ini semua sama gue sekarang, disaat Sandra nggak ada disini. Gue nggak mau ambil pusing soal itu. Gue cuma minta lo fokus sama kesehatan lo dulu, baru setelah itu lo mikir yang lain-lain. Gue masih banyak urusan, harus pergi sekarang.”

Aku langsung beranjak pergi meninggalkan Rafa. Terlalu banyak pertanyaan di otakku sekarang dan terlalu rumit untuk dicerna. Sebelum semuanya membekas di hati dan pikiranku, kubuang jauh-jauh segala hal yang barusan kudengar, kulihat, dan kurasakan. Aku tak mau terjebak di lubang yang sama untuk yang kedua kalinya. Gue bukan Bella yang dulu lagi.

***

Akhir-akhir ini, tugas dan skill lab menuntutku untuk lebih banyak menghabiskan waktuku di kampus. Aku bahkan sampai melupakan kebiasaanku untuk melihat jadwal bioskop setiap hari untuk memastikan ada film yang bagus atau tidak untuk ditonton. Mungkin sudah 2 bulan aku tak menginjakkan kakiku di bioskop. Mamah setiap hari bertanya padaku kenapa aku selalu pulang malam, dan aku harus menjelaskan alasan yang sama padanya setiap hari, karena memang tak ada alasan lain. Ia akan meneleponku berulang-ulang kali ketika aku belum pulang di atas pukul 9 malam. Namun, malam ini, aku sudah dalam perjalanan pulang ketika Mamah meneleponku. Ia memintaku buru-buru pulang, padahal jam masih menunjukkan pukul setengah 8 malam. Aku pulang lebih awal karena aku merasa lelah dengan rutinitas sehari-hari dan butuh tidur lebih lama.

Lilin-lilin yang berjajar membentuk jalan setapak menyambutku ketika aku membuka gerbang. Lilin itu berusaha menghalangi jalanku masuk ke rumah, mengalihkan perhatianku pada sebuah taman kecil di depan rumahku yang dibangun Papah ketika aku masih berusia 5 tahun. Disana, terdapat sebuah bangku kecil yang ditempatkan tepat di samping kolam ikan. Penasaran, aku mengikuti lilin-lilin itu. Rafa berdiri menyambutku ketika aku berjalan menghampirinya. Lilin-lilin itu mengantarkanku pada Rafa.

“Apa ini?” tanyaku ketus, seperti biasa.

“Kejutan?” ia tersenyum datar.

Hatiku tertawa keras, “Wow, gue nggak terkejut,”

“Kenapa lo nggak pernah datang ke rumah sakit lagi? Jenguk gue atau sekadar tanyain kabar gue,”

Aku melipat kedua tangan di dada, “Apa pentingnya? Yang penting lo sekarang udah sehat, udah sembuh,” aku melihat tak ada lagi perban yang melingkari kepalanya, hanya bekas luka yang samar-samar terlihat. “Lo cuma mau tanya itu? Gue ngantuk, capek, mau tidur ,” aku membalikkan badan dan berjalan meninggalkannya.

“Tunggu,” dia menahan tangan kananku, “Gue pengin ngomong sama lo,”

Aku membalikkan badan, “Lo lagi ngomong sama gue,”

“Gue putus sama Sandra,” ucapnya seakan-akan ingin membuatku terkejut. Aku menatapnya ringan. “Lo putus sama Sandra, dan lo ngabarin gue. Buat apa?” ucapku sinis.

“Denger,” ia menarik tanganku, membuat tubuhku lebih dekat dengannya. Aku bisa merasakan nafasnya. “Gue tau gue udah nyakitin lo. Gue selingkuhin lo terus gue ninggalin lo. Gue bersikap seolah-olah gue nggak peduli sama lo. Dan gue khilaf. Gue bener-bener pengin minta maaf sama lo. Gue bener-bener cowok goblok yang ninggalin lo gitu aja. Gue pengin nebus kesalahan gue. Gue nggak mau lo jadi benci sama gue dan bersikap dingin kaya gini. Gue kangen Bella yang dulu. Dan –“

Ia menatapku lekat-lekat. Aku menangkap matanya. Mata itu. Mata yang selalu kurindukan. “Dan gue pengin lo jadi partner hidup gue,”

Aku menatap matanya dengan penuh tanya. Matanya tak berubah. Ia memandangku penuh harap. Aku menunduk, tak sanggup lagi untuk menatap matanya. Matanya terlalu suci untuk kusakiti. Aku melangkah mundur. “Gue nggak bisa,” kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulutku.

“Lo itu sahabat gue. Dan akan selamanya menjadi sahabat gue. Gue udah belajar bahwa persahabatan nggak bakal sama lagi ketika kita memutuskan untuk merubahnya menjadi rasa cinta. Gue nggak mau itu terjadi. Gue nggak mau persahabatan kita berubah. Gue nggak mau salah satu dari kita pada akhirnya akan saling menyakiti. Karena gue nggak sanggup buat nyakitin lo, dan gue nggak sanggup disakitin sama lo,” aku menatap matanya lagi.

Ia melangkah mendekatiku dan menyelipkan jarinya di antara jariku, “Gue janji gue nggak bakal nyakitin lo lagi, ninggalin lo lagi. Gue janji nggak –“

Jari telunjukku menutup bibirnya, “Gue tau lo nggak bakalan nyakitin gue, nggak bakal ninggalin gue, sebagai seorang sahabat. Sejahat apapun lo sama gue, selama kita adalah sahabat, gue nggak akan pernah merasa tersakiti, karena gue tau lo ngga akan benar-benar pergi,”

“Lo tau? Ketika gue liat lo jalan bareng Sandra, gue nggak merasa tersakiti. Gue nggak merasa cemburu. Karena gue tau, lo nyaman sama dia, lo bahagia sama dia. Tapi gue nggak pernah suka sama sosok Sandra, karena yang gue liat, suatu saat nanti dia bakal nyakitin lo, dan saat itu juga mungkin gue bakal membenci dia,” lanjutku.

“Lo benar. Dia selingkuh di belakang gue, dan gue udah ngerasain gimana sakitnya di selingkuhi,” jawabannya membuatku tercengang. Rafa selingkuhin gue dan Sandra selingkuhin Rafa.

“Rasa sayang gue sama lo itu terlalu lebih hanya untuk sekadar menjadi pacar. Menjadi sahabat – menurut gue – jauh lebih penting daripada menjadi pacar. Maka dari itu, gue minta lo janji sama gue, kita akan jadi sahabat. Entah sampai kapanpun,” aku mengacungkan jari kelingkingku ke hadapannya.

Rafa terdiam sejenak, ia menghela nafas panjang dan menatapku. Lalu, ia mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku, “Gue, Rafa, berjanji akan menjadi sahabat Bella untuk entah sampai kapanpun. Karena rasa sayang gue ke Bella terlalu lebih hanya untuk sekadar menjadi pacar,”

Aku menatap kedua kelingking kami yang saling bertautan. Aku tersenyum. Rasaku bercampur aduk kini. Lega, bahagia, sedih, kecewa, sakit. Dari awal, aku tau bahwa Rafa bukanlah sosok yang pantas untukku. Dia bukan hakku. Dia hak orang lain. Dan aku juga bukan haknya. Aku terlalu menyayangi Rafa, aku menganggapnya seperti kakakku sendiri. Apakah ada seorang kakak yang menikah dengan adiknya? Seperti itulah aku dan Rafa, kita selalu bersama namun tidak akan pernah bersatu. Dan suatu hari nanti, akan ada saatnya aku menjatuhkan hatiku pada seseorang, yang kuyakini itu bukan Rafa, dan tidak akan pernah lagi.

____________________________

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v