FINAL REVELATION | PART 1

-Jiyon-

Siwon memberi kami amplop coklat yang menggembung. Walaupun tertutup, aku bisa mencium aroma di dalamnya. Sangat harum. Mata Kyuhyun berubah menjadi bulat ketika jari-jari lencirnya menggenggam amplop itu. Sebentar lagi kami akan menjadi kaya, pikir Kyuhyun. Yah, aku tidak sependapat dengan apa yang dipikirkan oleh Setan Cho itu. Dia pasti terlalu lelah karena mengurusi urusan yang baru saja terpecahkan. Ah, akhirnya aku bisa mengontrol ‘kelebihanku’ dan membantu masalah yang masih saja berbelit.

Kamsahamnida[1]!” Kyuhyun membungkukkan badannya berkali-kali. Aku menepuk punggungnya dengan keras. Ia meringis tapi masih saja tersenyum lebar.

“Kami akan menghubungi kalian lagi ketika kami membutuhkan kalian.” Siwon menjabat tangan kami berdua sambil tersenyum.

Kyuhyun menarikku keluar dari kantor polisi tersebut. Mafia penculikan anak baru saja dibekuk karena bantuan dari kami. Bukannya sombong, tapi memang kami yang mencari mafia tersebut. Sebut saja kami detektif amatir. Tapi cara mencari versi kami sangat berbeda. Hanya ada aku dan Kyuhyun yang bekerja. Tugasku adalah mencari jejak sesuai dengan kemampuanku. Bukannya sombong, aku malah tidak suka ketika aku mengetahui bahwa aku ini indigo. Sedangkan Kyuhyun tugasnya menganalisis data-data yang telah kuberikan.

Aku berteman dengan Kyuhyun sudah lama, sejak kami masih kecil. Mungkin terlalu kecil untuk dikatakan kecil hahaha. Dari dulu kami juga sering bermain detektif-detektifan. Tapi entah mengapa aku selalu membawa serius permainan itu. Dan kami memang terlatih menjadi detektif sejak kecil. Kami mulai membekuk pelaku-pelaku pencurian uang dikelas, siapa yang merusak auditorium sekolah, sampai siapa yang memberi coklat di hari valentine kepada Sunbae[2] kami yang sangat garang. Kami melakukan semuanya hingga kami benar-benar menjadi detektif.

Kyuhyun membelokkan setir kearah kedai makan bulgogi, “Saatnya pembagian jatah.” Kyuhyun langsung melompat keluar dari mobilnya.

Ia memasukkan amplop itu kedalam saku coatnya yang panjang. Aku mengikutinya dari belakang. Ia memilih tempat duduk sesuka hatinya. Setelah memilih tempat duduk, dengan santainya ia melambaikan tangan menyuruhku duduk di depannya.

“Aku pesan menu istimewa untuk dua orang.” Kyuhyun menutup buku menu tersebut. Belum sempat aku membuka buku itu dan Kyuhyun dengan seenak jidatnya ia memesan menu istimewa? Hell, jangan bilang ia akan membagi dua harga makanan itu. Aku tak sudi!

Aku menendang kaki Kyuhyun, “Aku tak mau membayarnya.”

Kyuhyun terkekeh, “Aku juga tak mau membayarnya.”

“Jangan main-main!” Aku memukul pundaknya dengan geram.

“Ya! Baiklah. Kita taruhan, siapa yang menebak dengan benar dia tidak akan membayar. Berapa uang yang kita dapat kali ini?”

“10 juta won.”

“8 juta won, bagiku. Sebentar aku akan menghitungnya”

Ia mulai merobek kasar ujung amplop yang menggembung itu. Lalu ia mengeluarkan potongan-potongan kertas berharga itu. Ada 10 ikat. Aku menang.

“Kau yang membayarnya,” kataku sambil menepuk pundaknya lalu merampas lima ikat darinya.

Ini honor yang sangat besar. Aku tak pernah menerima honor sebanyak ini. Mau kuapakan uang ini? Mungkin aku akan menghabiskan uang ini untuk membeli kentang sebanyak-banyaknya. Kentang rebus, keripik kentang, pie kentang, sup rumput laut serta kentang, dan yang penting tteokbokki dengan campuran kentang! Pokoknya semua yang mengandung kentang akan kubeli. Nyamnyam. Pikiran itu membuat air liurku hampir jatuh menetes.

“Aiss tidak adil! Kau pasti sudah tau isi amplop itu terlebih dahulu.” Kyuhyun menggertak meja kami pelan.

Aku terkekeh, “Aku tidak sempat mengira berapa ikat. Lagipula kau yang membuat permainannya terlebih dahulu. Aku juga tidak sempat mengira permainanmu kali ini. Salahmu sendiri.” Aku menjulurkan lidahku.

Kyuhyun mendengus, “Baiklah, kita bayar setengah-setengah.”

“Sudah kubilang kan tadi, aku tak mau membayarnya.”

"Aisss! Tidak adil! Kau harus mengeluarkan uang juga!”

“Aiss baiklah. Aku keluarkan 10%.”

“10%? Itu hanya pajak!”

“Baiklah 15%. Aku tak mau membayar hingga setengah.”

“15% itu sangat kecil!”

“Lagipula itukan urusanmu. Kau yang sudah membuat permainan harusnya kau yang bertanggung jawab.”

“Aiss, tapi apa kau tak iba denganku? Baru saja terima honor dan uangnya sudah dipotong? Bantu aku,” rengek Kyuhyun. Ia menarik-narik lengan bajuku.

“Baiklah 20%.”

Bibirnya masih maju.

“25%.”

Mimik wajahnya tambah parah.

“30%. Dan aku tak mau menambahnya lagi.”

Ia memasang wajah ingin menangis, bibirnya mengerucut keatas.

“Tidak peduli kau akan menangis sekeras apa. Aku tidak mau ikut bertanggungjawab atas permainanmu. Aku hanya membantu. Ingat itu.”

“30% itu sedikit.”

“Itu bukan urusanku.”

“Pesanan datang~” Seorang pelayan meletakkan pesanan Kyuhyun diatas meja kami. Banyak sekali! Aku tidak yakin aku bisa menghabiskan setengah dari ini. Awas saja kalau dia tidak menghabiskan ini semua.

“Silakan menikmati.” Pelayan tersebut melayangkan senyuman dan eye smile yang sangat bagus, bukan untukku, ya untuk Kyuhyun.

“Apa kau yakin bisa menghabiskan ini semua?” tanyaku.

Kyuhyun mengendikkan bahunya sambil memajukan bibir bawahnya. Aku ingin sekali menampar wajahnya ketika ia mengeluarkan ekspresi jelek seperti ini. Ia memanggil pelayan tadi lagi. Dengan cepat pelayan itu menuju kearah kami. Well, sepertinya pelayan ini sangat tertarik dengan Kyuhyun. Apa yang menarik dari dirinya?

“Tolong bungkus ini.” Ia menunjuk beberapa piring makanan.

“Ne~” suara aneh pelayan itu dengan cepat kusadari. Pelayan itu membawa piring itu kearah dapur.

“Bukankah tadi itu aegyo?”

Kyuhyun mengangkat alis kanannya, “Aegyo? Jangan mengada-ngada.”

“Sepertinya dia menyukaimu. Aku yakin 100% dia ingin mengatakan ‘Ne oppa~’ tadi.”

“Benarkah?” Wajah Kyuhyun langsung berubah menjadi sumringah, seperti baru mendapatkan pencerahan. Ia tertawa. Tawanya aneh. Dan hanya aku yang tau bentuk-bentuk tawanya seperti apa. Lihat saja nanti apa yang akan dia lakukan kepada pelayan itu.

Aku menyumpitkan makanan lezat itu kedalam mulutku. Lebih baik begitu daripada harus mendengar tawa Kyuhyun yang lama-lama meledak disini. Aku sudah tidak tahu seberapa tebal wajahku sekarang karena merasa tidak malu sedang bersama dengan pria gila ini. Ya biarkan saja. Toh mereka tidak mengira aku gila kan? Dan rasanya makanan yang masuk kedalam mulutku sangat banyak, tidak terasa yang tertinggal sekarang hanya piring yang berminyak. Kyuhyun mengelap mulutnya. Ia memanggil pelayan tadi lalu meminta bill.

Aku sudah menghitung semuanya. Aku harus membayar 30% dari total semuanya. Aku memberi 105.000 won ke Kyuhyun. Ia merampasnya. Lalu ia mengerucutkan bibirnya.

“Noona~ bisakah kau memberi potongan 20% kepadaku?” Ia mengeluarkan aegyonya yang tak bermutu. Ia memijat-mijat lengan pelayan itu. Menjijikkan.

“Ah, tapi..”

“Noona~ Jebal~” Kyuhyun mulai berdiri, “Noona neomu yeppeo~ tolong berikan diskon~ 20% saja~ jebal~ jebal~ jebal~[3].” Tidak ada persetujuan dengan artis yang ia rubah lagunya, dengan seenak jidatnya ia mengubah lagu itu untuk aksi aegyonya. Ia juga mencoba menggerakkan tubuhnya agar bisa mengikuti dance SHINee.

Aku menarik jaketnya. Yang ada dia menginjak kakiku. Sialan sekali.

“Kyuhyun-ssi, hajima[4],” bisikku. Aku sudah terlalu malu disini. Semua mata memandangi kami. Aku ingin memutilasi Kyuhyun sekarang juga. Lalu potongan tubuhnya kuhanyutkan ke Sungai Han.

Dia tak menghiraukanku. Ia malah terus menerus menyanyikan lagu itu sambil menari-nari tidak jelas. Muka pelayan itu semerah kepiting rebus.

“Ah baiklah. Diskon 20%.” Pelayan tersebut menuliskan harga yang sebenarnya.

“Aaaah. Kamsahamnida Noonim![5]” ia memeluk pelayan itu, “Kapan-kapan aku akan mengajakmu kencan.”

Kyuhyun mengeluarkan uangnya. Setelah membungkuk berkali-kali kepada pelayan tersebut, kami langsung berlari ke mobil Kyuhyun. Aku merasa malu tadi, walaupun bukan aku yang melakukannya, tetap saja aku malu. Ia memberi bungkusan makanan tadi.

"Sisakan untukku satu. Ambil dua bungkus. Untukmu dan untuk Halbae[6].”

Aku mengikuti perkataannya. Ia menyetir mobil dalam keheningan. Berbeda sekali atmosfernya dengan Kyuhyun yang tadi. Biarlah. Aku lebih nyaman dengannya yang seperti ini.

**

“Kyuhyun tidak mampir dulu?” Suara Halbae mengejutkanku.

Aku cepat-cepat menutup pintu yang baru saja kubuka, “Tidak. Katanya dia lelah. Ini, dia membelikan untukmu.” Aku memberikan bungkusan tersebut, “Makanlah.”

“Aku sudah makan ramyun tadi.”

“Ramyun? Kau tidak boleh makan ramyun lagi, bukan? Berhentilah memakan makanan instan.” Omelku.

“Haha tidak apa-apa. Sekali-sekali kan tidak akan membahayakan.”

“Kau selalu berkata seperti itu. Aku tidak mau kau sakit.” Jawabku. Aku berusaha menawarkan suara khawatirku.

“Hah sudahlah. Mengapa ini menjadi seperti adegan drama? Beristirahatlah. Jangan berendam terlalu lama.” Halbae masuk kedalam kamarnya.

Hhh. Semua laki-laki itu sama ternyata. Sebuah perhatian yang lebih selalu dibilang aneh dan berlebihan. Tidak, aku hanya melebihkan perhatianku kepada orang-orang yang benar-benar aku sayangi.

Aku segera masuk ke dalam kamarku. Semakin lama rumah ini makin terasa sepi saja. Well, ini bukan rumahku, bukan rumah saudara kerabatku juga. Sejak kecil aku sudah tinggal di panti asuhan ini. Ibuku meninggal sejak aku kecil, katanya. Dan ayahku, entahlah dia sedang berada dimana. Aku tidak pernah tahu cerita aslinya mengapa ayahku tidak ada di Seoul. Cerita orang-orang selalu berbeda. Dan aku rasa tidak ada yang benar.

Mengapa aku bisa mengenal Kyuhyun? Ah itu, orangtua Kyuhyun adalah donator utama panti asuhan ini. Kyuhyun sejak kecil suka bermain disini. Tapi dia tidak sepenuhnya bermain. Ia selalu membuat keributan dengan anak-anak panti asuhan disini. Termasuk denganku. Awalnya aku sangat kesal dengannya karena suka mengganggu rumah-rumahan barbieku dengan mobil remotenya. Aku sangat membencinya dulu. tapi aku tahu kalau Kyuhyun itu bukan anak yang sangat nakal. Ya, ini berkat kemampuan telepatiku aku bisa menilai seseorang.

Suatu ketika Kyuhyun benar-benar menjadi anak yang muram dan pemarah. Aku sangat tau masalahnya. Orangtuanya sedang ada masalah penipuan. Banyak uang mereka yang terlibas dalam hitungan detik. Aku tahu siapa yang mencurinya, tapi aku tak berani untuk mengatakan siapa yang mencuri. Aku selalu memberikan petunjuk kepada Kyuhyun siapa pelakunya. Dan Kyuhyun menerimanya dengan baik, ia mencari petunjuk itu. Dan akhirnya ia benar-benar membekuk siapa yang bersalah. Mulai dari hari itu Kyuhyun menjadi teman baikku. Kami selalu memecahkan masalah bersama.

Bipp bipp…

Nama Kyuhyun tertera dilayarku.

“Hmm?”

“Sedang apa?” tanyanya.

“Berendam.”

“Oh. Tadi Choi Siwon menelponku.”

“Lalu? Dia mengajakmu kencan?”

“Itu tidak lucu, Jiyon-ah.”

“Besok kita disuruh datang ke kantornya.”

“Untuk apa?”

“Entahlah. Katanya penting. Apa kau bisa menerawangnya?”

“Tidak. Aku sedang lelah.”

“Sudah berapa lama kau berendamnya?”

“Baru sekitar 15 menit yang lalu.”

“Yak! Itu sudah sangat lama. Cepat keluar dari sana! Kau bisa terserang rematik!”

“Ya! Jangan mengomeliku!”

“Cepat keluar juga dari sana! Atau aku yang akan kesana dan mengeluarkanmu dari bathtub itu? Kekeke.”

“Yak! Pikiranmu kotor sekali! Baiklah aku keluar dari bathtub sekarang.”

“Aku baru saja membeli kemampuanmu. Aku bisa melihatmu sudah keluar dari bathtub apa belum.”

“Haha kau kira itu lucu?!”

“Tidak. Aku tahu kau sudah selesai berendam apa belum.”

“Baik, aku keluar sekarang.” Aku memainkan air, membuat efek keluar dari bathub.

“Kau berbohong lagi. Apa perlu kita taruhan lagi?”

“Ah baiklah.” Untuk urusan bohong berbohong aku memang tidak bisa. Aku segera keluar dari bathtub itu, “Aku sudah keluar.”

“Baiklah. Aku percaya sekarang. Cepat kenakan bajumu. Apa perlu aku yang memakaikannya?”

“Tidak perlu. Aiss. Sudahlah, kau tidur saja. Lagi pula ini sudah terlalu malam.”

“Tidak. Aku akan tidur setelah kau tidur.” Entah mengapa mendengar pernyataan seperti ini membuat hatiku sedikit luluh lantak. “Cepat terawang aku akan memimpikan apa malam ini.” Sial, baru saja aku melambung dan sekarang aku malah dilempar ke dalam jurang tak berujung.

“Ya! Kau pikirkan saja sendiri!” Klik. Aku mengakhiri percakapan itu. Biar saja dia kebingungan. Aku langsung mematikan ponselku agar Kyuhyun tidak lagi menelponku.

Eoh, apa alasanku untuk kesal terhadapnya? Bukankah itu hanya candaan biasa? Aiss, kenapa aku berubah? Apa mungkin aku PMS? Aiss, mengapa aku jadi tidak bisa mengontrol diriku? Bukankah dari dulu aku selalu mengerti keadaanku? Ini—ini seperti ada sesuatu yang mengontrolku. Aiss, entahlah apa namanya. Aku tidak ingin mengambil pusing, lebih baik aku tidur sekarang.

**

Leherku tercekik. Nafasku tercekat. Aku tak bisa mengontrol nafasku. Aku terbatuk sangat lama. Dan mataku terbuka.

“Aku tidak tahu cara membangunkanmu seperti apa.” Kyuhyun melepaskan jarinya yang menjepit hidungku. Sial. Kuat sekali ia menjepit hidungku.

“Sial.”

“Ssst. Ketika pagi datang kau harus mengucapkan kalimat yang positif. Bukannya mengumpat.”

Aku mendengus.

“Cepat mandi. Dan oh iya, cuci mukamu dengan bersih. Kau tahu? Hidungmu itu sangat berminyak.”

“Kenapa kau bisa masuk ke dalam kamarku?! Halbae tidak pernah memberi izin lawan jenis masuk ke dalam kamar perempuan.”

“Tapi faktanya Halbae menyuruhku membangunkanmu. Cepat mandi! Kau lupa dengan ucapanku tadi malam? Kita hari ini harus ke kantor Choi Siwon. Apa perlu aku yang akan memandikanmu?!”

“Aiss! Jangan berfikir yang macam-macam! Cepat keluar! Aku akan segera mandi dan selesai dalam 15 menit.”

“Baiklah.” Kyuhyun berjalan kearah pintu kamarku. “Aku akan menunggumu selama 15 menit. Lebih dari itu kau harus memberikanku 500.000 won setiap detiknya.” Ia tertawa.

Sial. Sial. Sial. Ya, entah mengapa feelingku sangat tidak enak hari ini. Semoga tidak benar.

**

Siwon menceritakan bagaimana ia bisa menjadi inspektur. Cerita yang cukup menarik. Bukan, yang menceritakan sangat menarik, maka dari itu ceritanya sangat menarik. Huh? Apa yang baru saja aku pikirkan? Hahaha. By the way, lesung pipi yang menghiasi bibir tipisnya itu membuatnya lebih menarik. Ia tampak tampan dengan itu semua. Ia tampan dan pintar.

Seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Tanpa diberi aba-aba pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya. Seorang perempuan dengan rambut panjang di beri highlight coklat terang dengan balutan busana yang modern. Ia tampak cantik dan seksi. Ya! Kyuhyun juga memikirkan seperti itu! Sial.

Brakk.

Tangan Siwon menyenggol suatu map. Map itu jatuh. Tapi Siwon tak mengambilnya. Ia lebih memilih menyambut gadis itu daripada mengambil mapnya. Kyuhyun juga ikut menyambut gadis itu. Sial. Apa yang terjadi dengan dua pria ini? Mengapa mereka tiba-tiba berubah? Huh.

Aku mengambil map itu. Lebih baik membereskan kertas-kertas yang berserakan daripada aku memarahi mereka berdua. Aku menyatukan kertas-kertas tersebut. Aku melihat map itu. Not Yet. Begitu bunyi judulnya. Aku melihat kertas-kertas tersebut. Sebuah kertas dengan warna paling mencolok sangat menarik bagiku sepertinya. Dan aku rasa ada gelombang atom kertas tersebut gelombang paling besar yang aku terima saat ini. Cakra tigaku menangkap gelombang tersebut dengan sempurna. Aku membacanya.

Tahun 1987. Pembunuhan. Tersangka belum ditemukan. Lee Donghae.

“Jangan selidiki kasus itu.”

 


[1] Terima kasih

[2] Senior

[3] Lagu milik SHINee dengan judul Replay

[4] Jangan

[5] Terima kasih kakak

[6] Kakek