FINAL REVELATION | PART 3

Author : Nia Destari

 

“Yoon Jaemi.”

Ah, aku ingat nama itu. Nama istri Kibum Kim. Tapi, bukankah istrinya sudah meninggal dunia? Apa aku hanya mendengar halusinasi pikiranku saja yang sedang terbawa arus tokoh-tokoh kasus yang akan aku ungkap? Aku memutarkan badanku. Tampak seorang pria sedang memanggil perempuan yang berjalan di depannya. Perempuan itu menoleh.

“Hmm?” Jawabnya. Telepati sampai. Perempuan itu mencoba tersenyum walaupun hatinya sakit. Ia tersenyum, tetapi matanya tidak.

“Berbahagialah.”

“Ya, aku merasa perempuan paling bahagia sedunia.” Ia tertawa hambar.

Pria itu tersenyum. Walaupun aku melihatnya dari samping, aku tahu kalau senyumannya itu sangat menawan. Ia tersenyum dengan tulus. Matanya terus mengekori perempuan yang ada di depannya. Oh, aku seperti menonton drama secara langsung. Mereka seperti menukar telepati, dan aku hanya bisa menerima gambaran telepati mereka saja. Ah, apa mungkin mereka menukarkan telepati melalui perasaan? Bisakah seperti itu? Wow, mata mereka seperti membicarakan sesuatu.

“Jaemi—“ Suara lembut itu memecah keheningan diantara mereka. Ia memainkan alisnya, lalu tersenyum. Astaga. Aku lebih suka senyuman pria ini daripada pria yang tadi.

“Kibum-ssi, kau darimana saja? Aku menunggumu sedari tadi.”

Oh, pria itu yang bernama Kibum? Ah, betapa bodohnya si Jaemi itu jika ia benar-benar tidak mencintai Kibum. Jaemi menggandeng lengan Kibum. Mereka saling bertatapan. Tatapan mereka berbeda dari tatapan Jaemi dan pria tersebut. Kibum mengalihkan pandangan.

“Ah ya, aku dan Jaemi harus cepat kembali. Kami harus menyiapkan acara pertunangan kami.” Kibum tersenyum kearah pria tersebut.

Pria tersebut mengangguk sambil tersenyum. Lalu Jaemi dan Kibum membalikkan badan menghadap matahari senja dan meninggalkan bayangan yang lama-kelamaan menjadi panjang, panjang, dan perlahan menghilang. Pria itu masih terus melihat kearah mereka dari depan rumahnya—sepertinya sih begitu. Aku mulai mendekati rumah itu setelah memata-matai mereka. Ah aku ingat. Apa pria itu Donghae? Sepertinya dia Lee Donghae. Pria itu membalikkan badan menuju rumahnya. Aku mempercepat langkahku. Seorang pria masuk ke pekarangan rumahnya lebih cepat. Ia sedang mengunyah, mungkin mengunyah permen karet. Gayanya sok sekali. Dia tampak sangat angkuh. Ia membuang permen karetnya sembarangan.

“Donghae-ssi!” Panggilku dan pria sok itu bersamaan.

Donghae berbalik. Ia melihat Pria sok itu duluan lalu berbalik kearahku.

“Kau memanggilku?” Ia berjalan mendekatiku.

Mati. Apa yang harus aku lakukan?!

“Ada perlu apa?” Tanyanya sekali lagi.

“Aku haus.” Derp. Aku barusan mengatakan apa? ais ais mulutku tidak bisa dikontrol.

Ia mengerutkan alisnya.

“Aku haus—maksudku—maksudku bolehkah aku meminta air minum?”

Ia tersenyum tipis, “Boleh. Ayo masuk.” Ia membalikkan badan.

Ah! Ternyata Lee Donghae ini baik sekali! Tampak pria sombong itu mengomel kepada Donghae. Tapi Donghae menanggapi dengan tenang lalu menepuk pundak pria sombong itu.

“Hei—“ mereka berdua menoleh kearahku, “Eung—Kau menginjak permen karet.”

Donghae melihat kearah telapak sepatunya. Lalu ia berdecak, “Terimakasih sudah memberitahu.”

Aku tersenyum tipis.

“Hyukjae, berikan dia air minum.”

Oh, ternyata namanya Hyukjae. Hyukjae melihatku dari ubun-ubun hingga tumitku. Ada yang aneh?

“Ayo masuk.”

 Setelah itu aku dipersilahkan duduk di sofa yang sangaaaaaat besar. Oh, mungkin sofa ini sedang happening dikalangan pengusaha besar seperti keluarga Lee ini. Hyukjae datang dengan air minum berwarna putih kecoklatan. Euwh. Aku tahu itu minuman apa.

“Ini.” Ia langsung memberikanku segelas jus apel.

“Kamsahamnida.” Aku mengambil gelas itu.

 “Kau tidak suka jus apel?”

Klap. Jujur saja, aku sangat membenci—sangat benci daripada kecoa yang beterbangan masuk ke dalam bajuku—jus apel. Apel, buah yang sangat aneh. Sangat sangat aneh sehingga aku tak suka rasanya. Apalagi kalau buah itu dimodifikasi menjadi makanan atau minuman. Dan bagaimana caranya mengetahui bahwa aku tidak menyukai jus apel?

“Tenang, aku bukan paranormal yang bisa membaca pikiran orang. Aku hanya bisa membaca ekspresi seseorang.”

Oh begitu.

“Kau tidak suka jus apel mengapa kau berterimakasih? Mengapa kau tidak mengatakan tidak suka saja?”

"Eung, bukankah kita harus berterimaksih dengan apa yang orang berikan kepada kita walaupun kita tidak menyukainya?”

"Jadi kau mau minum apa?”

“Air putih saja.”

Hyukjae kembali kearah dapur, sepertinya. Donghae masuk ke dalam ruangan ini sambil menjinjing sepatunya. Sepertinya ia pria yang sangat perfeksionis dan bersih. Ia meletakkan sepatunya di rak sepatu dekat sebuah pintu. Ia berjalan kearahku.

“Sadarlah! Ketika bahumu berguncang kau sudah harus sadar!” Aku dapat mendengar suara Kyuhyun yang gemetar. Eung? Datang dari mana suara itu?

"Siapa namamu?”

 “Itu—“ Aku mulai merasa bahuku dipukul-pukul oleh seseorang. Kepalaku mulai pusing, “Yoon Jime.” Ucapku sembarang.

 “Maaf, aku harus pulang.”

Aku keluar dari rumah itu. Aku berlari kearah pohon besar yang ada di dekat rumah Donghae. Aku bersembunyi disana. Kepalaku sangat pusing. Bahuku tergoncang dengan hebat. Aku berjongkok sambil memegang kepalaku yang sedang sakit. Perlahan aku mulai bisa melihat tangga spiral ada di hadapanku. Aku turun dari tangga tersebut. lalu tangga itu bergerak liar dan semakin lama gerakannya semakin cepat sehingga aku tak bisa melihat keadaan tangga itu lagi. Dan aku terjatuh.

Aku membuka mataku.

“Jadi bagaimana?” Tanya Kyuhyun dengan wajah penuh peluh.

**

“Jadi besok kita akan ke Mokpo?” Tanya Kyuhyun ragu-ragu. “Ini terlalu dini.”

“Terlalu dini apanya?”

“Well, aku takut dengan apa yang Siwon—“

“Percayalah denganku. Kita tidak akan kenapa-kenapa.”

“Sukses!” Vict masuk tiba-tiba ke dalam mobil Kyuhyun. Ia membawa sebuah map yang lumayan besar. Bisa kutebak isinya apa. Data-data Lee Donghae. Vict memang kutugaskan untuk mengambil data Lee Donghae tadi. Kurasa kalau aku yang mengambilnya Siwon akan mencapku sebagai gadis abnormal yang suka sekali mengejar maut, dan ia tidak akan mengontrakku lagi untuk mengusut kasus. Parah.

“Kau tahu bagaimana rumahnya bukan? Alamat sudah ada ditangan kita dan kau harus memperhatikan baik-baik rumah Donghae itu.”

“Baiklah. Besok pukul 8 kita sudah berangkat. Arasseo[1]?”

Ne[2]!” Vict menjawab dengan semangat.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya, “Ne~” Suaranya melemas. Ia mulai melajukan mobilnya.

“Jangan lemas seperti itu. Kita harus optimis!”

“Ya….. Baiklah.”

Disepanjang jalan, kami—aku dan Vict tentunya—senang sekali mengerjai Kyuhyun sampai ia terlihat lemas. Kami menakut-nakutinya dengan berbagai cara. Well, aku baru tahu kalau Kyuhyun ini ternyata paling takut dengan ‘kecelakaan’. Yah, siapa yang ingin terjadinya kecelakaan? Feelingku berkata kami akan baik-baik saja. Feelingku pasti benar. Dan ternyata Kyuhyun sudah mengantarkanku ke rumah Halbae terlebih dahulu.

**

“Nomor yang anda hubungi sedang sibuk…” Aku mendengar kalimat itu berulang kali. Sedang sibuk? Aiss. Tidak biasanya Kyuhyun menelepon seseorang disaat seperti ini. Ada sesuatu yang harus aku katakan kepada Kyuhyun. Aku mencobanya sekali lagi. Masuk. Hanya saja tidak diangkat. Aiss. Apa lebih baik aku ke rumahnya saja?

“Kau mau kemana?” Tanya Halbae ketika aku baru sadar kalau aku sudah bersiap-siap untuk kerumah Kyuhyun.

“Ke rumah Kyuhyun. Sebentar saja, tidak akan sampai pukul 10 malam.”

“Baiklah. Hati-hati dijalan.” Ia menyeruput ramyun ke dalam mulutnya.

“Halbae, sudah kukatakan berapa kali, jangan makan ramyun instan lagi.”

“Hehe, tidak apalah. Ini ramyun yang sering dimakan oleh almarhum istriku.”

“Aiss terserahlah. Kalau kau lapar kau katakan saja padaku. Aku akan memasakkan sesuatu. Aku pergi dulu.”

Aku mengeluarkan sepedaku di garasi. Lalu mengayuh pedal sepedanya sampai aku benar-benar sampai dirumah yang besar itu. Mobil Kyuhyun terparkir di luar garasi. Sepertinya ia baru saja kembali ke rumahnya. Aku memarkirkan sepedaku di depan pagar yang tinggi menjulang ini. Aku membuka pagar rumah Kyuhyun, aku tidak perlu lagi menekan bel saking seringnya aku kemari. Aku langsung saja masuk ke dalam rumah itu.

Kyuhyun dan Vict sedang tertawa di ruang makan keluarga Kyuhyun. Dimana tuan Cho? Kyuhyun dan Vict sepertinya sedang makan malam. Dan lihat, Kyuhyun mengelap noda yang ada diujung bibir Vict. Aku dapat merasakan ada besi 500 ton jatuh tepat mengenai dadaku sehingga dadaku menyesak dan sulit bernafas. Mengapa seperti ini rasanya?

“Ya Jiyon-ssi! Kemarilah!” Vict memanggilku. Aku hanya bisa tersenyum tipis. Aku mendekati mereka yang sedang tertawa lebar.

“Kau sudah makan malam?” Tanya Kyuhyun.

Aku menggeleng. Tapi entah mengapa melihat mereka bermesraan perutku terasa sudah penuh. Ditambah dadaku menyesak. Kyuhyun menyodorkanku sepiring nasi.

“Makanlah.”

Aku kembali menggeleng, “Aku tidak lapar.”

Kyuhyun mengerutkan alisnya.

"Ada yang perlu aku katakan.” Nada bicaraku berubah menjadi serius sampai aku tak dapat melihat senyuman mengembang di sudut bibir Vict. “Besok, ketika kita diperjalanan, tolong kau hipnotis aku agar aku bisa mengenal Lee Donghae lebih dekat dan mengingat dimana rumahnya berada.”

“Oh, baiklah.” Ia kembali makan lalu menatap Vict. Aku rasa Kyuhyun benar-benar jatuh cinta kepada Vict. Tapi mengapa rasanya ...

”Hei ada nasi di rambutmu.” Kyuhyun mengambil sebutir nasi yang lengket di rambut Vict.

“Ah…gomawo.”

Kyuhyun menyegir lebar.

“Aku pulang dulu, aku ingin membeli kimchi beku untuk Halbae.” Aku segera beranjak dari ruang makan itu.

"Mau kuantar?” Tawar Kyuhyun.

 "Tidak.” Keputusanku bulat dan cepat. Aku langsung keluar dari area yang membuatku sesak napas sampai ingin mati.

Aku kembali mengayuh pedal sepedaku menuju supermarket terdekat untuk membeli kimchi beku. Aku tidak tega meninggalkan Halbae bersama dengan ramyun-ramyun instan miliknya. Demi apa pun aku sangat sayang kepada Halbae, walaupun dia bukan kerabatku tapi aku merasa dia salah satu bagian dari darahku. Kalau tidak ada dia, aku tumbuh dengan siapa?

Setelah membeli kimchi beku, aku langsung pulang. Aku sudah tidak tahan untuk beraktivitas lagi. Lebih baik aku mengistirahatkan tubuhku beserta pikiranku untuk menyambut hari petualangan besok.

**

Aku memasang seat-belt dengan benar. Kali ini entah mengapa Kyuhyun menyuruhku duduk di jok depan. Ah biasanya Vict yang duduk disitu. Ia menatapku terus-terusan, dan aku merasa ada yang salah denganku hari ini.

“Wae?” Aku menatapnya.

Ia mengambil tissue lalu mengelap sedikit bedakku dan make up yang ada. “Jangan membohongiku kalau kau tidak tidur tadi malam.”

Aiss, “Aku tidur tadi malam.”

Tapi hanya 3 jam? Hhh. Apa itu yang namanya tidur?”

Aiss sudahlah jangan memperbesar masalah yang kecil. Cepat hipnotis aku sekarang.”

Aku mulai memejamkan mataku, membayangkan rumah Lee Donghae yang sangat besar dengan nuansa tahun 1987. Kyuhyun mulai mengucapkan ‘mantra-mantra’ yang entah darimana ia dapat. Sebuah tangga spiral yang bergerak seperti escalator mulai ada dihadapanku. Aku ingin menginjaknya, belum sempat lagi jempolku menginjak tangga itu, lantai yang kupijak sekarang mulai bergetar. Getarannya perlahan semakin menguat dan tiba-tiba lantai ini seakan terbang menembus atmosfer diatas kepalaku. Tubuhku terguncang. Kepalaku terasa berat akibat tekanan udara berbeda jauh.

Aku mulai membuka mataku. Lagi-lagi aku berjongkok di depan rumah Donghae. Terlihat sepi. Jalanan juga terlihat sepi. Aku mulai menapaki kakiku di pekarangan rumah Donghae, mencari-carinya. Tampaknya tidak ada seorang pun dirumah ini. Aku membalikkan badan.

"Ya!” Akhirnya aku bisa mendengar suara seseorang dibelakangku. Aku menoleh.

 “Hyukjae-ssi! Ah, kau tau dimana Donghae?”

Ia mengerutkan alisnya, “Untuk apa kau mencari Donghae?”

Astaga, apa yang harus aku katakan?

“Ya! Aku rasa sesuatu yang sangat penting dan kau tidak bisa memberitahuku kan?” Tebaknya.

Aku mengangguk saja. Hyukjae tersenyum lebar. Ia tampak humoris seperti itu.

 "Dia ada dirumah Jaemi. Jaemi melangsungkan pertunangannya hari ini.” Ia melemas.

 "Oh? Eung, aku tidak tahu dimana rumah Jaemi-ssi. Bisa kau tunjukkan?”

"Ah, mianhae[3]. Ada pekerjaan di ‘ladang apel’ kami. Aku harus cepat kesana. Aku akan menunjukkan arahnya saja.”

“Okay.”

Ia berjalan mendekatiku. Boots yang ia pakai tampaknya sangat besar, tidak singkron dengan kakinya yang kurus.

“Dari jalan ini kau lurus saja. Diujung jalan sana belok kiri lalu temui rumah yang banyak tamunya.” Ia memeragakan cara berjalan dengan sangat lucu. Aiss, Hyukjae sangat humoris rupanya. Beruntung sekali Jaemi dicintai tiga pria sekaligus. Bukan hanya tampan saja, tapi mereka punya kelebihan masing-masing. Dan yang masih belum aku temui jawabannya, mengapa Jaemi mencintai Donghae?

“Ah~ ne. Gomawo Hyukjae-ssi.”

Ia tersenyum. Aku langsung berjalan menuju rumah Jaemi. dan gotcha! Aku rasa selama berjalan tadi aku melayang, cepat sekali sampainya. Rumah Jaemi tidak besar. Sederhana dengan cat warna peach dan halaman yang hijau mengelilingi rumah itu. Aku bisa merasakan kehangatan dari rumah itu. Dan ya! Aku bisa melihat Lee Donghae dari luar sini. Aigo, tampaknya ia lemas sekali. Bukan, ia kecewa. Aku mendekatinya.

“Yoon Jime!” Aku merasa terpanggil, padahal itu bukan namaku. Yoon Jaemi mendekatiku dengan wajah sumringah. “Ah, terimakasih sudah mau datang.” Ia menepuk pundakku pelan.

Aku tersenyum tipis, “Kau cantik sekali hari ini. Maaf aku datang terlambat tidak bisa membantumu memakai make up tadi haha.” Ucapku sembarangan.

Kibum datang lalu tersenyum kearahku. Astaga senyumannya manis sekali. Ia melingkari tangannya di pinggang Jaemi. mereka tampak serasi. Tapi sayang, cinta Kibum ternyata bertepuk sebelah tangan. Jaemi tidak benar-benar mencintai Kibum.

“Oh ya, apa kau melihat Lee Donghae?” tanyaku.

"Lee Donghae?” Wajah Kibum langsung berubah, “Ah ya, tadi aku melihatnya. Tapi aku tidak tahu dia sekarang dimana.”

“Oh baiklah.” Jawabku singkat.

“Ah~ Kibum-ssi. Akhirnya kau menemukan jodohmu juga haha.” Seorang laki-laki paruh baya mendekati Kibum. Lalu mereka tertawa bersama. Kibum membawa tamu laki-laki paruh baya tersebut menjauh dari aku dan Jaemi.

"Donghae sedang berjalan-jalan disekitar sini.” Kata Jaemi.

 “Ah~ Gomawo sudah memberitahu.” Aku membungkukkan tubuhku sedikit.

 “Kau mengenalinya?” Ia bertanya dengan nada sedikit tak percaya, “Ah ya~ kalau kau tak mengenalinya mana mungkin kau menanyakan dimana dia. Paboya[4]~”

 Aku hanya bisa cengengesan, tidak tahu ingin berkata apalagi.

 “Kalau kau mau, tolong jaga dia—“

 “Jaemi-ssi! Kemarilah!” Kibum memanggilnya. Ia menoleh lalu berbalik lagi kehadapanku.

 “Gomawo~” Ia menepuk pundakku lagi.

 Tolong jaga dia? Gomawo? Maksudnya apa? Jaemi menghilang dari hadapanku, ia langsung berdampingan dengan Kibum lagi. Baiklah. Aku harus mencari Donghae sekarang. Aku berusaha menyelip dari celah-celah kerumunan manusia yang tengah berpesta. Aku berhasil keluar dari pekarangan rumah Jaemi. dan aku mulai berjalan disekitaran rumah Jaemi. Ah~ betapa terkejutnya aku melihat pemandangan disekitar rumah Jaemi. Dipinggiran jalan, berhadapan dengan rumah Jaemi, ada waduk buatan dihiasi pohon-pohon besar di pinggirannya. Astaga aku sudah jarang sekali melihat yang seperti ini di Seoul.

“Argh!”

Seperti suara teriakan yang ditahan. Ah! Aku mengenal suara ini. Suara Donghae? Aku langsung berlari kearah sumber suara tersebut, memecahkan kepenasarananku yang terus saja mengendap di dalam otak. Benar. Donghae. Ia terjatuh lemas di pinggir jalan yang sama denganku. Ada bercak darah.

Gwaenchanayo[5]?”

"Ani[6]. Akh!” Ia memegang kedua kakinya yang bersimbah darah. Ada gergaji karat yang berlumuran darah tergeletak disampingnya.

Aku membantu ia berdiri dan memapahnya ke pohon terdekat untuk menjadi sandarannya.

"Apa gergaji itu mengenaimu?”

Dongahe masih mendesah kesakitan. Ia mengangguk pelan. Aku menarik dasinya dengan paksa dan mengikatkan dasinya itu ke salah satu kakinya.

"Tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan kotak antiseptik kepada Jaemi.”

Belum sempat aku berdiri, aku sudah bisa melihat Jaemi mencoba mengatur nafasnya yang sengal. Ia langsung duduk disamping Donghae. Wajahnya sangat khawatir. Ia langsung membuka kotak antiseptik tersebut, menuangkan setetes demi setetes cairan antiseptik keatas kapas. Kibum dan beberapa orang mendekati kami. Jaemi dengan lugas membersihkan luka yang ada dikedua kaki Donghae. Dan sesekali Donghae mengeluh kesakitan.

Gwaenchanayo?” Kata Kibum dengan nada sangat khawatir.

Donghae menggeleng.

“Cepat antar Donghae ke rumah. Kau panggilkan dokter.” Jaemi melihatku dengan tegas.

"Aku? Aku tidak tahu dokter disini.”

“Tidak perlu, kita langsung ke dokter saja. Bantu aku memasukkannya ke dalam mobilku.” Kata Kibum dengan sigap.

Jaemi langsung memapah Donghae, begitu juga dengan Kibum. Dan bebeberapa orang juga ikut membantu. Kejadian ini begitu cepat. Aku jadi pusing menerima peristiwa ini. Aku berjalan paling belakang, menganalisis kejadian tadi. Gergaji itu masih tergeletak diatas aspal. Bagaimana gergaji ini bisa mengenai kaki Donghae? Mana mungkin Donghae secara tidak sadar menginjak gergaji sebesar ini? Dan kalau pun Donghae menginjak gergaji ini, mengapa yang luka bukan telapak kakinya? Aku melihat keadaan sekitar. Ini tidak masuk akal. Sungguh tidak masuk akal. Aku mendekati semak-semak di seberang sana. Semakin mendekat rasa penasaranku semakin meninggi. Aku mencoba membuka semak-semak itu. Aku benar-benar terkejut ketika aku mendapati sobekan kain diantara dahan-dahan yang tajam.

Sial. Bahuku berguncang. Kepalaku mulai pusing. Dan aspal tempat kuberpijak bergetar hebat. Aku memejamkan mataku. Dan rasanya tubuhku seakan jatuh kedalam jurang tak berujung. Buru-buru aku membungkukkan tubuhku dan memejamkan mataku dengan erat.

“Jiyon-ssi.” Suara itu membuatku berani untuk membuka mataku.

Aku membuka mataku. Wajahku penuh peluh. Aku melihat keadaan sekitar. Sudah sampai?

“Apa ini rumah—“ Kyuhyun menggeser posisinya, “Lee Donghae?”

Rumah Lee Donghae dihadapanku sangat berbeda ditahun 1987. Sangat berbeda. Cat rumah itu mengusam. Bahkan aku tidak tahu sudah berapa lama rumah itu tidak dicat. Pekarangan rumahnya berserakan dengan sampah daun yang mengering. Rumah yang dihadapanku bukan lagi memegang title rumah Lee Donghae, title yang sangat cocok adalah rumah hantu. Ya, rumah hantu.

"Kata masyarakat disekitar sini, Lee Hyukjae yang meninggali rumah ini sekarang.” Lanjut kata Vict yang masih duduk di jok belakang.

“Ayo keluar.” Kyuhyun menarik tanganku. “Kita cari Lee Hyukjae.”

Aku keluar dari mobil Kyuhyun. “Bagaimana dengan Vict?”

"Ia akan mendokumentasikan apa yang kita kerjakan. Ia akan memfoto kegiatan kita dari dalam.” Jelasnya sambil menutup pintu mobilnya.

“Yoon Jime?”

 


[1] Mengerti

[2] Ya

[3] Maaf

[4] Bodohnya

[5] Tidak apa-apa?

[6] Tidak