MEGA BINTANG & KSATRIA KUDA

Writer (POV)

Rasanya aneh bila taman yang biasanya ramai, malam ini justru nampak begitu sepi. Seolah-olah mengerti betul bahwa ada seseorang yang membutuhkan ketenangan ditempat itu melebihi siapa pun yang berada disana.

Seorang perempuan duduk termenung pada salah satu anak tangga yang ada ditaman itu. Matanya menerawang jauh, menatap hampa sebuah cahaya kekuningan diseberangnya. Pikirannya bekecamuk. Mengingat-ingat sebuah masa lalu yang begitu indah namun sekarang terasa begitu menyakitkan. Dalam diam dan tanpa ekspresi apapun, sungai kecil mengalir deras diwajah manisnya.

Sebuah suara langkah terdengar sayup, berjalan menghampiri dari arah belakang. Dia menoleh dan sudut matanya menangkap sepasang sepatu Doc. Mart yang dikenalnya dengan baik lalu kembali melengos.

"Kenapa mencintai seseorang harus menyakitkan seperti ini?"

***

2 hari sebelumnya.

Writer (POV)

Orang-orang nampak sibuk menata sebuah ruangan berukuran sedang dengan beragam furniture. Mereka semua berkerja secaara gesit begitu mendapat perintah dari seorang gadis yang berdiri tepat ditengah hiruk pikuk orang lalu lalang.

"Tolong taruh mannequin itu disana!" Perintahnya pada seorang lelaki muda berotot. Setelah mannequin ditaruh ditempat yang diinginkan, dia kembali mengamati seisi ruangan.

"Menurut aku lebih cocok ditempat semula." Sebuah suara pria mengejutkannya. Sontak dia memutar badannya kebelakang lalu tersenyum bahagia begitu matanya menangkap sebuket bunga matahari dan sekotak ice cream. "Selamat atas launching butiknya, Nadine." Ucap pria itu seraya tersenyum lebar.

***

Nadine (POV)

Dia disini! Dia disiniii! Ya Tuhaan, rasanya ingin langsung aku peluk dia. Aku rindu sekali padanya. Lelaki yang super sibuk itu ternyata bisa juga meluangkan waktunya untuk menemuiku ditengah jam kerja seperti ini.

"Selamat atas launching butiknya, Nadine."

Kupandangai sebuket bunga baby breath dan sekotak es krim mahal favoritku. Sepertinya dia tidak lupa dengan moodboosterku.

"Makasiih ya, Mas Juna. Tumben, seorang dokter hebat seperti kamu bisa keluar siang bolong begini?"

Aku menerima semua pemberiannya dan langsung beranjak menghampiri sebuah meja, lalu mengganti bunga yang sudah layu dengan yang baru. Dia mengikutiku tanpa berkomentar.

"Untuk seseorang yang spesial kenapa ngga sih." Godanya. Aku hanya bisa tersenyum malu. Hal itu makin membuatnya tersenyum lebar.

"Tapi launchingnya kan masih lusa. Masih 2 hari lagi."

"Aku hanya ingin jadi orang pertama yang ngucapin sebuah pencapaian besar dalam hidup seseorang yang saaaaaangat spesial buat aku."

Kali ini aku tidak bisa tersenyum mendengar kata 'orang spesial' lebih dari sekali. Kalimat tolol itu seakan menamparku dengan keras. Karena kalimat itu ga lebih dari sekedar omong kosong dan harapan palsu belaka.

"Hmm eh Nad, besok kamu ada waktu ga? Aku mau ajak kamu makan malem."

Moodku yang sempat turun sesaat langsung naik lagi ke puncak. "Bisa! Bisa! Aku kosong kok besok! Tumben banget ngajakin aku makan malem. Dinner romantis ya?" God, Im soooo excited!

"Yup! Diner paling romantis yang belum pernah kamu bayangin."

"Serius?!"

"Serius! Aku, kamu, Risa, daaaann...."

Wait, barusan dia bilang.... "Risa?" potongku. "Aku kira hanya kita bedua."

"Nope, dan masih ada satu orang lagi." Dia tersenyum menggoda. "Seseorang yang saaangaat spesial buat kamu, Nadine. Kamu bisa histeris kalau ketemu langsung dengan dia."

"Sangat-spesial-buat-aku?" ucapku terbata. "Siapa?" karna yang aku tahu hanya satu orang spesial dihidupku dan telah membuatku jatuh cinta, yaitu kamu, Juna.

***

Writer (POV)

"ABI! ABI! ABI! ABI!"

Panggung megah, jeritan histeris yang kebanyakan dari para wanita, dibarengi dengan lampu sorot warna-warni semakin menyempurnakan penampilannya. Setiap sudut kamera merekam gerak-geriknya. Sebuah layar besar memantulkan wajahnya yang rupawan dengan lesung pipi yang menggoda. Pesona dan kharismanya ketika berada ditas panggung telah menyihir banyak orang.

Penyanyi itu menutup penampilannya dengan ucapan terimakasih lalu berlari perlahan menuju backstage.

"Air." Pintanya pada salah seorang asisten. Dengan sigap asisten itu memberikannya sebotol air mineral sementara semua orang memberikan tepuk tangan dan ucapan atas penampilannya. Well, dia hanya meresponnya dengan tersenyum simpul sambil membungkukan badan.

"Abi!" teriak seorang perempuan memanggil namanya. Sontak sekujur tubuhnya kaku seketika.

***

Abi (POV)

Aku dengar suara itu memanggilku. Suara yang paling aku ingat dihidupku. Hanya mendengar suaranya saja sudah membuatku bersemangat kembali. Aku merindukan suara itu.

"RISA!" Kuhampiri gadis itu dan langsung memeluknya. Aku benar-benar merindukannya. Aku rindu sosoknya, aku rindu.... aroma parfumnya yang mengharuskanku untuk menekan libidoku hingga titik terendah. Kini aku lepaskan pelukanku. Karna kalau terlalu lama akan sangat membahayakan.

"Hei Mister Populer. Apa kabar?" sapanya.

Ya Tuhaaan, bolehkah aku mengagumi ciptaanmu yang satu ini. Kecantikannya luar biasa. Rambut tebal kecoklatan dan lembut bagaikan ice cream coklat yang yummy. Kaki jenjang, betis bagus, Kulitnya yang mulus, halus, dan putihnya itu loooh semakin membuat penampilannya sempurnaa. Oh my God!

"Aku tau aku cantik. Ga usah segitunya juga kali liatinnya. Hahaha." Risa tersipu malu namun berucap bangga.

Aku tertawa. Lega karena sifatnya tidak berubah sama sekali. "Iya-iya. Kamu emang selalu cantik. Hari ini kamu ga praktek?"

Dia menggeleng. "Lagi kosong. Ohya, besok malem kamu ada acara ga? Aku mau ajak kamu makan malam."

"Of course! I'm free and available!" apakah aku terdengar murahan karna langsung mengiyakan ajakannya? Ah ya sudahlah ya! "Tumben. Dalam rangka apa nih?"

"Kamu inget kan waktu itu kamu pernah bilang kalau kamu minta aku untuk cariin kamu pacar? Nah, sekarang aku udah ada calonnya! Besok aku mau kenalin kamu sama dia."

Aku terperangah mendengar jawabanya. "Duh kalau karena itu, Sori gue ga bisa." Ucapku dan langsung pergi sementara dia mengikutiku dari belakang sambil terus memohon agar aku mau datang ke makan malam konyol itu. "Pliiiis mau yaa, ya, ya, ya?"

"Risa-Risa-Risa-RISA! Dengerin gue dulu! Saat itu gue ga serius ngomong gitu sama lo! Kenapa lo nanggepinnya serius sih! Gue hanya bercanda!" Aku berusaha mengklarifikasi meskipun aku tahu ini sudah terlambat.

"Ayolah Biii. Please." Pintanya makin memelas. itu. "Dia cantik loh Bi, fashion designer. Lulusan sekolah fashion terbaik di negri ini. Anaknya pinter koook, baik. Come oonnn. Mau yaa. Kenalan aja dulu kalau ga cocok ya udah."

Aku mulai jengah. Kesabaranku habis tepat ketika kami memasuki ruang tunggu yang disiapkan khusus untukku. "Kenapa harus aku?! Kenapa harus dia?! Kenapa bukan kamu?! Kenapa bukan kita, Risa?! Aku dan kamu!"

Risa terperangah. Matanya menatap langsung, mengamati wajahku dengan ketidakpercayaan. "Besok malem, Skye, jam 8. Harus dateng. Atau kita ngga usah ketemu lagi."

Aku diam terpaku, melihat Risa yang berjalan menjauh, lalu menghilang dibalik pintu. Aneh. Seharusnya aku yang marah. Tapi kenapa malah sebaliknya?

Kuluapkan kekesalanku pada kursi yang berada dijangkauan kakiku. Tak peduli bila bunyi gaduh itu terdengar hingga keluar.

***

Writer (POV)

Nadine terperangah begitu mengetahui orang yang akan dikenalkan Juna padanya. Rasanya aneh atau bahkan seperti mimpi. Mungkin bagi sebagian perempuan kesempatan itu adalah anugrah, bahkan mukjizat yang ngga dateng setiap hari bahkan seumur hidupnya. Siapa yang gak mau dikenalin sama penyanyi papan atas dan dikasih tiket buat jadi pacarnya. Its more than just a dream. Jadi temennya aja udah bersyukur apa lagi pacar!

Tapi, itu semua gak berlaku buat Nadine. Kabar itu seperti virus mematikan yang langsung melumpuhkan semua organ dalamnya. Membuatnya tak bisa berfikir, bernafas, bahkan mati rasa.

Nadine menatap pria didepannya.

"Tidakkah kamu sadar kalau aku cinta sama kamu?" Ucapnya dalam hati.

"Kenapa bengong, Nad? Seneng ya! Ga percaya kan kalau Abi si penyanyi favorit kamu itu ternyata sahabatnya Risa. Kalian emang beneran jodoh kali. Kemakan omongan sendirikan. Hahaha. Gimana? Pasti ngga nolak dong."

Nadine masih terperangah. Matanya mulai memanas. Kesedihan luar bisaa menghinggapinya. Dia kepalkan tangannya, mengumpulkan tekad kedalamnya. "Hahaha! Ya iyalah, masa aku nolak. Mau bangeeettt!!! Kapan? Dimana?"

"Besok malem, Skye, jam 8. Harus dateng."

"Pasti!" Nadine memaksakan senyumnya. Taklama Juna pun pergi. Meninggalkan Nadine yang berdiri terpaku. Tak sampai semenit airmata yang sejak tadi tertahan langsung tumpah mengalir di pipinya.

***

Disebuah kafe disekitar Kuningan, Abi duduk melamun menatap secangkir latte didepannya. Pikirannya berkecamuk, menimang-nimang apakah dia akan datang atau tidak dalam blind date akal-akalan sahabatnya, Risa. Cewek pintar dan feminim itu nampaknya masih belum sadar bahwa Abi menyukainya. Ataukah Risa hanya menutup mata dan berpura-pura tidak tahu. Entahlah, sejauh ini Abi hanya bisa bertanya-tanya.

"Jangan ngelamun dong broooo!" Seseorang mengejutkannya. "Mikir apaan sih lo? Berat banget kayaknya." Kini seorang laki-laki berbadan macho berwajah tampan oriental -bahkan jauh lebih tampan dari pada Abi, sudah duduk didepannya. "Ceritalah sama gue!"

Abi menghela nafas berat. "Risa, bro."

"Tuhkan udah gue duga! Kalo lo manggil gue dengan tampang berlipet begitu ujung-ujungnya pasti si Risa lagi, Risa lagi. Kenapa lagi dia?"

"Dia mau jodohin gue dengan temen pacarnya."

"Serius?! Bagus dong! Cakep kagak?"

"Mana gue tau! Ketemu aja belom."

"Kalau gitu ketemuan dong."

Abi tersentak. "Jadi lo ngedukung gw sama cewek ga jelas itu?"

"Bisa dibilang gitu. Masalahnya gini, lo mau sampe kapan ngarepin si Risa? Dia ngelirik lo aja ngga! Ini udah saatnya lo move-on Bi. Banyak cewek diluar sana yang jauh lebih baik dari Risa! 10 tahun lo cuma naksir sama dia, tapi lo liat sekarang. Dia malah sama cowok lain. Dia anggap lo hanya temennya doang ga lebih dari itu!"

"Wisnu!" tegur Abi. "Gue ga butuh ceramahan lo. Yang gue butuhin adalah bantuan lo sebagai manager gue, bilang ke Risa kalau gue ada jadwal pas hari itu."

Wisnu mengangkat kedua tangannya. "Sori bro, kali ini gue ga mau bantu lo. Hadapi, jangan terus menghindar."

Wisnu pun langsung pergi meninggalkan Abi yang kesal sendiri. Tak lama handphonenya begetar. Sebuah pesan singkat masuk dan dia langsung membukanya. Dari Risa.

Aku kirim foto gadis itu. Say hello to Nadine. She is cute, isn't she? ^^

See you tomorrow.

Tepat dibawah pesan singkat itu tepampang jelas wajah Nadine. Senyum gadis itu adalah hal pertama yang dia lihat. Matanya perlahan melebar. Dia remas lapisan baju tepat didada kirinya. Merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Namun entah apa.

***

Disebuah warung sushi tenda pinggir jalan, Nadine melahap sushi terakhirnya tanpa memedulikan seseorang didepannya yang hanya bisa menggelangkan kepala melihat kelakuannya. "Kalau gue jadi lo, gak bakalan gue sia-siain kesempatan itu."

"Masalahnya dihati gue udah ada orang lain, Ta. Mau dia Gong Yoo Oppa juga gue ga peduli." Ucap Nadine pada Tata, sahabatnya.

"Yakin?"

"Hehehe, ga jadi deh. Dia pengecualian. Hahahaha!" Nadine menyeruput ocha-nya.

Tata berdecak. Dia mencibir sebentar lalu kembali serius. "Nad, 10 tahun lo cuma cinta sama Juna, dan selama itu juga lo bertepuk sebelah tangan. Mau sampai kapan, Nad lo begitu terus? Gue ingin lo bahagia. Coba bukalah hati lo untuk lelaki lain. Inget umur Nad."

"Kampret lo Ta. Gue masih muda kali! Membuka hati itu ga semudah yang lo kira."

"Gue tau." Tata mengubah posisi duduknya. Dia Nampak bersemangat untuk topik kali ini. "Tapi Nad, coba deh lo bayangin. Abi, Si penyanyi favorit lo. Penyanyi solo pria terbaik di negri ini bakal blind date sama lo! Gilaaaa Nadiiiiinneeee! Sumpah yaa gue iri banget sama lo. Seandainya itu guee."

"Ya udah kalau gitu lo aja gih!" Nadine mencibir.

"Eits, demi lo gue ngalah. Hahaha! Ga ada kebetulan yang sangat kebetulan seperti ini, Nad. Mungkin lo jodoh dengan si Abi itu. Hahaha. Seperti cerita-cerita 'kebetulan' yang sering lo ceritain ke gue."

Nadine terdiam sesaat. "Abi terlalu tinggi ga sih Ta? Yaaa lo tau sendiri dia gimana. Seleranya pasti tinggi. Gue mah ga bakalan dilirik. Ibaratnya, kalau pun gue sukaaa banget sama dia tapi ternyata dia sama sekali ga suka sama gue, ya sama aja bohong. Apa bedanya dengan yang sekarang?"

***

"Jelas bedalah bro. Setidaknya, lo udah mencoba mencintai orang lain selain Si Risa. Lagian ini kan baru ketemuan. Kalau suka ya lo lanjut, kalau lo ga suka ya ga usah. Sesimpel itu. Kenapa lo kayak kebakaran jenggot gitu sih? Biasanya juga lo woles woles aje."

Seorang laki-laki mengangkat bola bowling tepat didadanya. Matanya menatap pin-pin dengan mantap, lalu mulai berjalan perlahan sembari melepaskan bola dari tangannya. Bola itu mengelinding dan mengenai pin-pin tepat sasaran.

Abi meneguk minuman dingin elektrolitnya. "Gua ga suka aja caranya, Van."

"Lo ga suka caranya atau sebenernya lo hanya takut?" Abi menyrenyitkan dahinya tanda tak mengerti. "Takut kalau lo bisa atau akan mencintai orang lain selain Risa. Begini deh bro, lakukan seperti yang gue bilang tadi. Kalau suka lo lanjut, kalau ngga ya lo anggap aja dia sebagai temen. Kelar kan. Lagian nih ya, belum tentu juga dia naksir sama lo. Hahaha!"

"Anjir lo!" Abi sumeringah.

Novan kembali mengambil bolanya. "Coba Bukalah hati lo untuk orang lain."

Abi kembali meneguk minumannya, memikirkan apa yang dikatakan Novan barusan. "Membuka hati."

***

Abi (POV)

Membuka hati?

Konyol. Aku pernah membuka hati sekali, tapi malah terjebak hingga saat ini. Awalnya, Risa hanyalah seorang teman curhat. Dia seniorku saat di SMA dulu. Saat itu, 11 tahun lalu aku dikhianati oleh mantan pacarku. Dia selingkuh padahal kami sudah berpacaran cukup lama. Aku terpuruk dalam kebencian pada mantanku itu. Hingga akhirnya Risa datang. Dia menawarkan pundaknya untukku. Entah apa yang ada dipikirannya, entah bagaimana dia mengetahuinya, dia datang disaat yang tepat. Saat dimana aku benar-benar membutuhkannya.

"Heh cumi! Lo malah bengong! Giliran lo nih!" suara Novan menyadarkanku.

"Oh ya. Sebentar." Kuteguk habis minuman elektrolitku dan membuangnya ditempat sampah.

 

***

 

Writer (POV)

Kaki jenjang yang beralaskan heels pink menyala memberikan hentakan mantap. Suara langkah terdengar hampir sepanjang lorong mall yang cukup sepi. Kali ini, seorang perempuan berparas cantik, bertubuh tinggi langsing dan berkulit putih itu berjalan dengan penuh percaya diri. Memimpin di depan sementara dua orang pria dan wanita mengikutinya dari belakang.

"Oppaodiya?" tanyanya pada seorang pegawai begitu dia sampai. "Mian. Abi Oppa dimana?"

"Disana." Pegawai itu menunjuk tempat Abi dan Novan berada. Perempuan itu hendak beranjak namun ditahan oleh pegawai itu. "Boleh foto bareng?"

"Ya. Sure."

***

Kini giliran Abi bermain. Dia bersiap untuk melempar bola sebelum sebuah sapaan menghentikan seluruh kegiatannya. "Abi Oppa!"

Abi menoleh lalu tersenyum. "Hana! Kamu udah balik?"

Tanpa babibu perempuan cantik bernama Hana itu langsung memeluknya. "Neo-reul bogosipheo."

Bukannya merasa risih karena orang-orang disekitar sudah bersiap dengan hape mereka, Abi malah menikmati moment itu. "Hahahaha! Udaaah jangan meluk terlalu kenceng aku ga bisa nafas." Ucapnya seraya menepuk-nepuk bahu Hana.

"Biariin aku kangen tauuuu." Ucap Hana dengan manja.

Novan yang sejak tadi diam seperti patung akhirnya bereaksi dengan memisahkan paksa keduanya. "Lo berdua pasti jadi headline besok pagi. Jangan bikin mereka salah paham."

"Loh memangnya kenapa? Mereka pasti seneng kok. Iya kan, Oppa." Hana membela diri. Abi hanya tersenyum simpul. "Oh iya. Oppa lagi ga sibuk kan? Ayo kita makan bareng. Kalau kak Novan mau ikut, sebaiknya ga usah deh. Aku mau dinner romantis berdua sama Abi oppa."

Tanpa ragu Hana langsung menarik Abi yang sama sekali mengikuti tanpa perlawanan meninggalkan Novan yang berwajah masam.

***

Nadine (POV)

Kedatangan Juna tadi siang membuatku benar-benar malas untuk melakukan apapun. Yang aku pikirkan hanyalah kasur-kasur-kasur dan kasur. Aku ingin sekali tidur, dan ketika aku terbangun aku sudah melupakan semua yang terjadi. Tapi, apakah semudah itu melupakan semua? Terlebih soal akal-akalan 'comblang' yang membuatku tak bisa berfikir jernih.

Kini kuhampiri sebuah poster yang cukup besar disudut kamar. Poster Abi.

Cukup lama kupandangi poster itu. Antara percaya dan tidak. Sadar-sadar aku tengah membelai wajah penyanyi itu. Meskipun itu hanyalah sebuah poster, entah kenapa aku merasa nyata.

"Apa kamu ingat aku, Abi? Kita pernah beberapakali bertemu. Bertemu dalam ketidaksengajaan. Bertemu diluar perencanaan kita. Saking seringnya seperti itu, aku sempat berfikir bahwa sebenarnya kita ini jodoh. Apalagi setelah hari ini. Perjodohan kita. Hahahahaha." Asli, aku geli sendiri mendengar kalimat yang ku ucapkan. Terlalu ngarep! Bisa-bisanya aku berkata hal bodoh itu -lagi. Hei sadarlah Nadine, masa remajamu sudah lewat! Hentikan ngayal tingkat tertinggimu itu!

***

Writer (POV)

Abi menyalakan keran shower bersiap untuk mandi. Tak memerlukan waktu lama hingga uap putih mengepul diudara. Memanjakan diri dibawah hujan air hangat setelah lelah beraktifitas benar-benar menyegarkan. Well, raga boleh saja rileks tapi sayang tidak dengan otaknya.

Otaknya masih berpikir keras. Diapun merasa heran kenapa dia bisa berfikir sekeras itu padahal ini bukanlah 'perkenalan' yang pertama. Seharusnya dia sudah mulai terbiasa. Tapi kali ini berbeda. Ada suatu hal yang membuat dia tak bisa berhenti berfikir. Foto gadis yang Risa kirimkan padanya terus terngiang dikepala. Wajah itu Nampak tidak asing. Seperti pernah bertemu, namun entah dimana. "Aaaaaaahhhh! Lo pasti udah gila! Ngapain lo mikirin cewek yang sama sekali belum pernah lo temuin!"

***

Jam setengah delapan malam Nadine sudah berada direstaurant yang dijanjikan. Dengan balutan overall jeans, kaos belang-belang pink, serta rambut sebahunya yang di catok lurus membuatnya terlihat muda dan cantik. Tepat pukul delapan malam Risa dan Juna datang. Well, seperti biasa. Risa stunning sekali malam ini dengan gaun kotak-kotak pink pastel tanpa lengan plus make-up tipis yang makin mempercantik penampilannya. Bertolak belakang dengan penampilan Nadine yang cuek nyaris tanpa make-up. Saat itu pun Nadine tersadar, dia sangat jauh berbeda dengan Risa. Maka wajar, Juna tidak akan meliriknya sama sekali.

Kini Nadine menatap laki-laki didepannya sedang tersenyum manis pada Risa yang berada tepat disampingnya. Pemandangan menyayat hati yang paling dibenci oleh Nadine. Menguras energi.

Tak terasa 30 menit berlalu Nadine manahan rasa perihnya. Meskipun sesekali Nadine tertawa bersama, tapi didalam hatinya dia menjerit. Seandainya dia bisa pergi, maka dia akan memilih untuk pergi dan tidak usah terhimpit situasi yang membuatnya nampak begitu menyedihkan.

"Si Abi kemana sih lama banget!" Seru Risa membuyarkan semua perasaan melankonis Nadine. Bola matanya menangkap gerakan Risa yang buru-buru mengambil handphone dan menekan nomor.

"Udahlah Yang, gapapa kita nunggu aja sebentar lagi. Mungkin dia mendadak ada urusan dulu baru kesini." Ucap Juna. Dia rangkul kekasihnya itu dengan sebelah tangannya.

***

Nadine (POV)

Tuhaaaan, please bawa aku pergi dari sini. Aku bisa melihat bunga-bunga berhamburan, keluar dari dalam tubuh mereka. Pemandangan itu, keakraban nan romantis itu benar-benar membuatku muak dan... sakit.

Abi, dimana dia? Aku lebih memilih melewati akward moment bersamanya daripada harus terjepit di situasi seperti ini. Apakah dia menolak perjodohan konyol ini? Astaga, apa aku sebegitu buruknya? Ya, mungkin dia sudah datang tapi kabur karena melihatku yang biasa aja. Maksudnya, tidak ada menarik-menariknya.

"Sorry. Gue telat. Ada yang harus gue kerjain dulu."

Suara itu! Aku kenal suara itu!

ABII!! Dia datang! Itu beneran Abi kan?

Sadar-sadar aku sudah berdiri tepat didepannya. Bertanya pada diri sendiri, sejak kapan aku berdiri dari dudukku. Well, sepertinya ekspresi keterkejutanku itu membuatku skip sesaat.

Aku senang dia datang. Entah kenapa melihatnya saja sudah membuatku lupa akan kesakitanku.

"Ka-kamu dateng. Aku kira kamu ga akan dateng." Ucapku. Akhirnya, setelah kami saling tatap beberapa saat.

Dia tersenyum. Memperlihatkan lesung pipinya. Yap, Im paralize. Tuhaan, kenapa dia gantengnya pake banget. Dia memang lebih ganteng kalau dilihat langsung.

"Aku Nadine." Kujulurkan tanganku.

"Ya, gue tau." Ucapnya datar dan langsung duduk. Dia hiraukan uluran tanganku.

"ABI!" kudengar Risa membentak. Saat itu aku tersadar bahwa mereka masih ada.

"Lo mau kemana, Ris? Cakep amat! Ngedate?"

Kulirik Abi, matanya menatap lurus kearah Risa yang sudah bermuka masam. Tapi jujur, aku pun tertarik dengan pertanyaan yang Abi lontarkan. Kini aku kembali duduk. Mengamati sejoli yang ada didepanku.

"Ya, hari ini kami memang mau ngedate. Merayakan satu tahun hubungan kami."

Juna akhirnya bersuara. Namun aku bisa merasakan getaran kemarahan yang tertahan di dalam nada suaranya.

Terkejutkah aku akan kalimat yang dilontarkan Juna? Entahlah, yang aku tahu aku merasakan sesak didalam dada. Sakit ini lagi. Aku harus bisa menahannya... lagi.

"Awalnya kita akan pergi setelah mengenalkan kalian. Bila semua berjalan dengan baik."

Abi terkekeh. Seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Tenang saja. Semua akan berjalan dengan baik. Kalian pergi saja!" Abi langsung memotong.

"I-iya. Lebih baik kalian berdua pergi. Ngga usah menghiraukan kami." Aku beranjak dari duduk. Berusaha menggiring mereka menuju lift. Sesaat aku berfikir, lebih cepat mereka pergi itu lebih baik.

"Nadine. Kamu ga usah maksain kalau kamu ngerasa ga nyaman sama dia." Juna berucap lembut sebelum dia memasuki lift.

"Iyaaa. Itu biar jadi urusan aku. Sekarang Mas Juna dan Risa pergi aja. Happy anniversary."

Kuberikan senyum terbaikku hari ini sebelum pintu lift itu tertutup.

**

RISA (POV)

Aku dengar helaan nafas berat dari sampingku begitu Nadine sudah tidak terlihat lagi.

"Gadis itu bener-bener." Ucapannya tertahan. Kurasa dia sedang memikirkan kelanjutan yang tepat. "Terlalu baik makannya jadi bodoh!"

"Maaf yaa. Ideku buat jodihin mereka kayaknya ngga berhasil."

Dia menoleh kearahku lalu tersenyum. "Bukan ngga berhasil, tapi belum berhasil. Abi bodoh kalau dia nolak Nadine."

Aku merangsak memeluknya perlahan. "Amin semoga si Abi cepet sadar."

"Hahaha. Udaah jangan dipikirin. Ngomong-ngomong soal Abi, kayaknya dia suka sama kamu deh."

"Ah sok tahu kamu!" sanggahku buru-buru.

"Habis dia sinis banget. Kamu ngga liat tadi dia gimana?"

"Udah ah jangan bahas itu. Mending fokus sama anivan kita." Kueratkan pelukanku. Mencoba mengalihkan topik, karena aku paling malas kalau di singgung masalah itu. Karna aku tahu, bagaimana perasaan Abi padaku.

***

Nadine (POV)

Terdiam beberapa saat. Menekan rasa sakit di dada. Menahan airmata. Kutarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Mengumpulkan tekad untuk kembali masuk kedalam. Menemui Abi yang menungguku didalam.

Eh? Dia ga ada! Abi ngga ada! Dimana dia? Toilet?

"Anu, mba liat Abi? Tadi dia duduk disana."

"Oh barusan keluar mba."

Keluar? Sejak kapan?

Buru-buru aku mengambil tas dan segera menyusulnya. Benar saja dia sudah berdiri didepan lift dan melangkah memasukinya.

"Abi tunggu!" cegahku begitu dia hendak menutup pintu lift. Buru-buru aku berlari masuk kedalam.

Keadaan saaaangat senyap. Dia diam. Benar-benar diam. Aku yakin kentut sepelan apapun akan kedengeran.

"Aku tahu sebenernya kamu nolak perjodohan ini."

Kulihat dia tersenyum senang seolah berkata 'bagus deh kalo lo tau'.

"Tapi, gimana kalau aku setuju?"

"A-apa?! Lo gila ya?!" dia terkejut. Benar-benar terkejut.

"Sejujurnya, aku fans kamu. Hihi. Jadi menurut kamu aku akan ngelepasin kesempatan ini begitu aja?" Abi terdiam. Matanya menatap lurus kearahku. Pintu lift terbuka. "Ups, sepertinya kita udah sampe." Aku keluar dengan riang gembira. Sementara dia masih mematung didalam. "Mau kemana kita?"

Lagi-lagi dia terkejut dan berjalan cepat kearahku. "Kita?" Dia mencibir. "You wish." Dia kembali berlalu.

"Please....stay with me."

Aku tahu ini nyeleneh. Tapi saat ini aku memang membutuhkanmu. Karena pikiran itu selalu saja mengganguku. Apa yang mereka lakukan sekarang? Makan malam romantis? Nonton film? Atauu bercumbu? Astagaaa!

Pemikiran itu membuat dada dan kepalaku serasa mau pecah. Saat ini, kamulah obatku.

 

To be continue.

___________________________________

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved.