Sebuah Rencana

ABI (POV)

"Please....stay with me."

Langkah kakiku terhenti. Terkejut? Ya iyalah! Siapa yang nggak terkejut kalau tiba-tiba ada orang yang baru dikenal minta lo untuk stay disisinya! Gila nih cewek!

"Heh, memangnya lo siapa? Baru juga kenal! Mending lo pergi! Bilang sama Risa kalau lo nolak gue. Lo ga cocok dengan gue! Setelahnya, jangan pernah nongolin muka lo didepan gue lagi. Gue ga suka dengan lo, dan gue menolak dengan keras 'comblangan' konyol ini! Paham?"

Apakah kalimatku keterlaluan? Well, kalau dilihat dari ekspresi wajah, sepertinya dia kecewa karena kulihat dia menarik nafas dalam-dalam dan langsung membuangnya sekaligus. "Mungkin Nadine memang akan selalu ditolak. Hahaha. Baiklaah. Kalau begitu aku permisi."

Ya, sepertinya kalimatku keterlaluan. "Nadine tunggu!" panggilku tapi dia tak menggubris dan malah mempercepat langkahnya. Ku kejar dia. Menarik tangannya, berusaha menghentikannya. "Lo-lo nangis?" Aku tidak kalah terkejutnya dengan dia.

Dia mencoba menghindari tatapanku. Berusaha menyembunyikan airmatanya. "Fine. Ikut gue."

Kuraih dan kugenggam tangannya. Menyeretnya yang meronta-ronta masuk kedalam mobil yang sudah terparkir manis didepan lobi.

 

***

 

Nadine (POV)

Dia terus saja menyeretku. Membawaku ketempat terkutuk dalam kamusku.

"Club? Lo ngajak gue ke club?!"

Kucoba melepaskan genggaman tanganku darinya namun genggamannya terlalu kuat. Dia sama sekali tidak bergeming. "Lo gila ya?! Gue gak suka tempat begini!" Dentuman musik keras membuat suaraku semakin bias. Terlambat. Aku sudah memasuki tempat dimana lautan manusia berjoget liar.

"ABI! Lo dateng juga masbroooo!!!"

Suaranya cukup menggelegar ditengah dentuman musik selatan. Kulihat Abi menyapa mereka satu-persatu. Aku ingin kabur tapi kaki seakan terkunci. Hati kecilku mengatakan untuk bertahan sejenak karena aku akan menyesal bila melewatkan moment langka ini. Yup! Aku bertahan karena Segerombolan anak muda itu mayoritas adalah artis.

Aku tahu betul dua perempuan kembar itu. Kakak adik yang tengah naik daun karena film mereka terkenal sampai keluar negeri. Lalu dua lelaki itu. Pasangan gay yang blak-blakan mengakui hubungan mereka. Well, itu hanya peran mereka didalam film kok. Mereka ngga beneran gay. Satu lagi laki-laki yang sedang duduk dibalik meja. Seseorang yang aku tahu dan sering diisukan adalah saingan dari Abi. Sayangnya, dia tidak pernah bisa mengungguli Abi.

"Kenalin, Nadine." Ucap Abi nyaris berteriak.

"Cewek lo?" Ucap salah satu dari si kembar.

"Bukan. Temen."

Well, Setidaknya dia berbaik hati menyebutku dengan kata 'teman'.

Lima belas menit berlalu dan mereka malah asik sendiri. Sementara aku hanya duduk manis mengamati sekeliling. Kuhembuskan nafas berat. Kalau saja aku tahu bakalan berakhir seperti ini, aku ngga akan minta dia untuk stay. Mungkin lompat dari mobil dramatisasi yang keren. Tapi coba lihat dia sekarang. Dia malah joget-joget gak jelas kayak kucing kecebur di air. Terlalu agresif.

"Hai, sendirian aja. Ga ada temennya?"

Ini nih yang bikin males kalau dateng ke tempat begini. "Tuh." Ucapku ketus sambil menunjuk kearah Abi.

"Ooh, segeng sama dia. Pacarnya?" Laki-laki ini bukannya pergi malah makin mendekat. Kini matanya melihatku dari atas hingga bawah lalu keatas lagi. Dasar mata mesum. "Kalau dilihat-lihat sih ga mungkin. Kamu bukan tipenya dia. Tapi tipe aku."

Belum sempat tangannya mendarat diatas pahaku, Abi berusaha merangsak masuk agar bisa duduk diantara kami. "Hai sayang. Baru aku tinggal sebentar masa udah ada yang nyamperin." Ucapnya setelah berhasil duduk didekatku. Dia merangkul mesra seolah-olah aku ini pacarnya.

Kini matanya beralih pada lelaki yang berjarak hanya 50 cm disampingnya. "Pergi."

Tanpa basa-basi lagi, orang itu langsung pergi.

"Makannya jangan sendirian. Kenapa ga gabung aja sih? Kita seneng-seneng disini."

Joget kayak cacing kepanasan gitu namanya seneng-seneng ya? Baru tau gue. Batinku.

"Nih minum." Dia sodorkan segelas minuman berwarna orange.

"Ini apa?"

"Udaah minum aja ga usah banyak nanya. Yang pasti gak bikin mabok."

Kuteguk minuman itu. Hampir setengah gelas kuhabiskan. Setelahnya, hanya ada satu kalimat yang aku ingat. Seharusnya, aku tidak pernah meminumnya.

 

***

 

ABI (POV)

"Heh bangun! Masa baru gitu doang langsung tepar! Heh, Nadine! Bangun!" kutepuk wajahnya agar dia terbangun. "Dasar cewek aneh, masa hanya minum orange campur vodka dikit doang langsung teler. Heh bangun!" Kutepuk wajahnya kembali. Dan tak ada respon. "Mati gue! Heh! Nadine! Bangun!" Kali ini ku guncangkan badannya, sepertinya berhasil.

"Cupu banget sih lo! Bikin orang jantungan aja!"

Dia nyengir. Matanya masih terpejam tapi badannya teruyung sempurna.

"Kamu lebih ganteng dibandingkan diposter. Hihihi... Ini asli ya?" Oke. Fix, dia mabuk. Dia meraba-raba wajahku, mengelus, mencubit pipiku, bahkan mengacak-acak rambutku. Baiklah, kali ini kubiarkan saja dia.

"GUYS!" panggilku pada teman-temanku. "Gue cabut ya."

"Ah cupu lo! Baru jam segini."

"Tuh. Gue harus nganterin dia."

Semua mata melirik kearah Nadine yang sedang senyam senyum sendiri pada gelas didepannya.

 

***

 

ABI (POV)

Sepertinya memang ini rumahnya.

Sebuah rumah tua peninggalan jaman kolonial Belanda. Rumahnya memang tua, namun terawat dengan baik. Catnya biru dan tanamannya pun tumbuh sempurna.

Kutekan bel. Dan tak lama, seorang wanita paruh baya terlihat dibalik pintu.

Kutangkap matanya melebar. Ekspresi wajahnya terperangah tidak percaya. Kuanggap itu hal yang wajar mengingat siapa diriku.

"Maaf ibu ganggu tengah malam."

"YA AMPUN NADINE!!" Ibu itu langsung cemas melihat kondisi anaknya. Ya, aku yakin dia pasti ibunya Nadine karena mereka sangat mirip. "Kok dia bisa sama kamu?"

"Ceritanya panjang bu." Ku jawab dengan penuh sopan santun. "Saya minta maaf."

"I-a-pa bu?" lafalnya nyaris tidak mudah dimengerti. Kini seorang pria paruh baya keluar dengan menggunakan kursi roda. Lagi-lagi dia terkejut melihatku. Bahkan bisa dibilang shock hingga sesak nafas.

Kejadian itu membuatku terperangah.

"Tolong bawa nadine masuk ke kamarnya." Ucapnya sebelum akhirnya berlari menghampiri pria paruh baya itu. Kulihat dia berusaha menenangkan. Sambil membisikan kata-kata. Ku anggukan kepala, meminta izin untuk memasuki rumah mereka dan mencari kamar Nadine. Cukup lelah karena harus membopongnya.

Kini kurebahkan dia diatas tempat tidur. Menutupinya dengan selimut. Memandanginya sekilas. Rasa kesal dan 'iba' berkecamuk jadi satu dalam pikiranku. Kesal karena dia sangat merepotkan. Iba karena aku tahu dia sedang terluka. Well, aku belum memastikan itu benar atau tidak. Tapi, kurasa dia menyukai Juna.

Kulihat sekeliling kamar. Badanku berputar dan terhenti begitu melihat poster besar disudut kamarnya. Itu poster plus tanda tanganku. Ya, jelas sekali. Itu wajahku 1 tahun setelah debut. Mungkin saat itu umurku baru 17 tahun. Terlihat sangat cupu dengan style rambut berponi berantakan. Tanpa sadar aku tertawa pelan. Terlebih mengingat kalimat Nadine ketika dia berceloteh di club. "Kamu lebih ganteng dibandingkan diposter. Hihihi... Ini asli ya?"

Dasar bodoh. Jelas gantengan sekaranglah!

Sekarang aku berpaling. Melihat banyaknya frame yang diletakan diatas meja. Terperangah adalah satu kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang kurasakan ketika isi dari frame itu penuh akan foto Nadine dan... aku.

Kuambil salah satu. Mengamatinya dengan cermat. Sebanyak ini foto yang diambil tapi kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali. Bila dilihat dari foto-foto ini nampaknya kami dekat.

"Bagaimana Nadine bisa bersamamu?"

Sebuah suara membuyarkan seluruh rangkaian pertanyaan dalam benakku. Ibu Nadine sudah berada tepat disampingku. Mengambil perlahan bingkai foto yang kupegang dan menaruh kembali ditempat semula. "Bagaimana kalian bisa bertemu?" tanyanya lagi. Wajahnya luar biasa serius. Haruskah kuceritakan semuanya?

"Ngg..." Aku berfikir. Berusaha merangkai kalimat agar tidak ada kesalahpahaman.

"Ceritakan saja. Apapun yang kamu tahu, Abi."

"Ka-kami baru bertemu hari ini, bu. Sahabatku dan pacarnya yang mengenalkan kami."

"Sahabat? Pacar?"

"Maksudnya sahabatku berpacaran dengan sahabatnya Nadine, bu."

"Sahabatnya Nadine itu... Tata?"

Tata? Siapa tuh? "Oh bukan bu. Bukan Tata. Namanya Juna."

Kulihat ekspresinya menegang. "Juna? Jadi Nadine masih berhubungan dengan Juna?"

Sepetinya dia shock. Bertanya pada dirinya sendiri.

Nampaknya ada sesuatu antara Juna dan Nadine. Jujur, aku penasaran. Mungkinkah kalau aku menemukan 'celah' si Juna, aku bisa memanfaatkannya untuk memisahkan dia dan Risa? Kurasa itu bukan ide yang buruk. "Memangnya Juna dan Nadine pernah ada hubungan apa, bu? Mereka pernah pacaran?"

Matanya menatapku bengis. Kurasa usahaku mencari celah gagal total. Kini dia menghampiri anaknya yang masih tertidur pulas.

"Nadine! Bangun! BANGUN NADINE!" Dia paksa anaknya yang belum 100 persen sadar untuk duduk.

 

***

 

NADINE (POV)

Suara Ibu menggelegar. Menarik kembali nyawaku yang sudah melayang entah kemana. Setengah sadar, Ibu menarikku untuk duduk.

"Kamu masih berhubungan dengan Juna?!"

Rasanya seperti di tampar saat mendengar nama Juna disebut oleh Ibu. Kesadaranku mendadak ditingkat optima.

"Sudah berapa kali Ibu bilang jauhi dia Nadine! JAUHI DIA!"

"Kami hanya berteman, bu. Ga lebih."

"Berteman? TEMAN?! Setelah apa yang dia dan keluarganya lakukan pada kita kamu masih mau 'berteman' dengan dia?!"

"Mas Juna gak salah Ibu! Dia ga salah! Jangan bawa-bawa dia karena perlakuan keluarganya pada kita." nadaku naik satu oktaf.

"Nadine, sadarlah. Jangan biarkan rasa cintamu padanya membuat kamu buta."

"Cukup Ibu! CUKUP!"

"Sadarlah, Nak. Kamu tidak akan pernah bisa memilikinya."

"IBU JAHAAAAAT!!" Kalimat itu meruntuhkan kegigihanku. Mematahkan hatiku.

"Berteman dengannya hanya akan membuatmu semakin terluka, Nadine. Sebaiknya kamu jauhi dia sebelum semuanya terlambat. Atau ibu yang akan bertindak."

Ibu keluar setelah dia puas mengucapkan kalimat kejam itu. Sementara aku? Entahlah, aku melamun. Tak bisa menahan rasa miris dihatiku. Rasa sakit itu muncul kembali. Bendungan air sudah terkumpul sempurna dipelupuk mata, tinggal tunggu saatnya untuk mengalir.

"Lo me-mencintai Juna?"

Suara laki-laki itu semakin membuat duniaku runtuh. Tak berdaya. Dengan sangat terkejut aku melirik kearahnya. Ya, kali ini kau mati Nadine. Apa yang akan kau lakukan? Abi tahu isi hatimu yang sebenarnya.

 

***

 

ABI (POV)

Aku terperangah. Ya! Siapa yang ngga terperangah ngeliat adegan bak sinetron barusan?! Entah harus seneng atau ngga karena karna tau hal ini.

"Lo me-mencintai Juna? Gue ga salah denger, kan?"

Pertanyaanku seperti bom waktu yang akhirnya meledak. Dia terkejut luar biasa. Mungkin karena keberadaanku dikamarnya. Dia terkekeh.

"Iya. Aku cinta dia. Kenapa? Apa itu salah? Kamu akan bilang ke dia kalau aku cinta sama dia?"

"Bolehkah gue begitu?"

Dia tertawa.

Lagi-lagi tertawa miris lalu mengagguk mantap. "Silakan. Bilang aja." Keadaan hening sejenak. Dia mentapku nanar. "Kamu tahu, Bi. Sakit ini, aku udah ga bisa menahannya lagi. Cinta sepihak. Terlaluuu... nyakitin. Menyedihkan ya? Hahaha..."

Lagi-lagi dia tertawa. Tapi, dua sungai kecil itu tak henti-hentinya mengalir.

Ngga ada yang bisa kuperbuat selain berdiri terpaku melihatnya menangis. Ingin mendekat namun sungkan.

Wait!

Aku seperti melihat diriku sendiri saat melihanya. Mungkin, bila aku seorang perempuan, aku sudah menangis sepertinya.

 

***

 

NADINE (POV)

Aku merasa malu pada Abi. Dia sudah memegang kartu AS-ku. Ditambah soal poster dan beberapa fotoku bersamanya yang buanyaknya bukan main. Aaaarrghhh!! Rasanya mau memasukan kepalaku kedalam plastik kalau ketemu dengannya. Dia pasti mengira aku cewek freak yang sangat terobsesi padanya. Well, aku memang pernah 'terobsesi' padanya. Tapi itu dulu. Masa remaja yang labil. Mungkinkah dia akan takut padaku karena hal itu? Ah sudahlah! Masa bodoh dengan anggapannya padaku. Yang penting semalam dia berjanji tidak akan mengatakan soal perasaanku pada Juna ataupun Risa. Ku anggap dia sebagi manusia yang bisa dipegang omongannya. Walau sebenarnya aku ingin dia mengatakan soal perasaanku pada Juna.

"Kayaknya beban hidup makin berat nih."

Suara khas itu bikin aku terlonjak. Baru saja dipikirkan, orang itu sudah ada didepan mataku. Gayanya tengil. Nyengir-nyengir gak jelas.

"Ka-kamu ngapain disini?"

"Gue denger lo opening hari ini. So, that's why Im here."

Dia mulai berkeliling. Melihat-lihat tiap pakaian yang ada. "Not bad." Komentarnya.

"Heh Bi, acaranya nanti malem. Ini masih pagi."

"Gue ga suka rame-rame. Terlalu beresiko. Tanpa perlu gue jelasin 'kenapa' lo pasti ngerti doong." Dia ngeloyor begitu saja tanpa memandangku. Melihat tiap helai pakaian yang digantung.

Yayayaya aku mengerti. Dasar artis!

"Yang ini. Bisa dicoba?" Dia angkat jas resmi motif marble berwarna hitam, putih, dan maroon ditambah garis merah maroon pada kerahnya tepat didepan wajahku. Langsung saja ku ambil jas itu, melepaskan hanger, dan.... menurunkan gulugan kemejanya. Meski dia agak terkejut karena aku tiba-tiba memegang lengannya, tapi toh dia pasrah juga.

Setelah selesai mengancingkan kemeja lengan panjangnya, barulah kupasangkan jas itu padanya. Well, kemeja putih yang dia kenakan begitu cocok dengan jas ini. Reflek kuambil dasi kupu-kupu berwarna maroon lengkap dengan sapu tangannya.

Kini kusematkan dasi itu di lehernya. Dia sempat berdeham sesaat namun aku tidak menggubrisnya sama sekali. Helooo, ga sepatutnya dia salting.

 

***

 

ABI (POV)

Aku tersentak begitu dia langsung memasangkan dasi kupu-kupu itu dileherku. Jarak kami begitu dekat. Saaangat dekat. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya tepat dileherku. Membuat sekujur tubuhku merinding.

"Ehem." Aku berdeham. Menyuruhnya agar tidak terlalu dekat denganku. Tapi sepertinya itu tidak berhasil. Dia masih saja sibuk mengurusi dasi kupu-kupu sialan ini. Kini dia memasukan saputangan kedalam kantong kecil tepat didadaku.

"Hei hei hei! Siapa suruh lo boleh pegang-pegang gue!" Aku berkelit darinya. Lagi-lagi dia tidak memedulikannya.

"Dengan tampilan seperti ini kamu bisa stunning di red carpetSimple. Ga ribet. Tapi tetep elegant dan kekinian. Tinggal celananya aja di sesuain. Kamu jadi keliatan makin tinggi dan langsing dengan model kerah tipis itu. Rambut tinggal styling dikit pasti kece."

Kupandangi diriku dicermin. Tanpa ragu aku mengeluarkan dompet dan memberikannya kartu atmku. "Bisa debit, kan? Gue ambil jas ini lengkap dengan dasi dan saputangannya."

Kulihat dia tersenyum lebar. "Beneran?"

Aku mengangguk. Jujur aku suka dengan style ini.

"Semuanya dua juta lima ratus yaa." Dia berjalan riang menuju kasir.

WHAT?!! Dua setengah juta?!

Buru-buru aku lepas jas itu dan melihat harganya.

"Oi-oi-oi! Nadine!" aku berjalan cepat kearahnya. "Lo mau meres gue? Disini tulisannya sejuta. Kok jadi dua setengah?"

"Tuan Abi. Karena tuan adalah tamu yang spesiaaaaallll banget. Makannya harganya dinaikin dobel."

"Balikin kartu gue!"

"Hahahahaha! Kamu harus liat ekspresi kamu barusan. Aku hanya bercanda, Bi."

Sial. Dia mempermainkan aku. "Oh. Oke. Fine."

Kulihat dia masih terkekeh. "Sepertinya lo udah baikan, Nad."

"Kamu khawatir yaaa?" Dia tersenyum menggoda.

Sial. Salah lagi gue. "Sedikit." Well, sepertinya aku berhasil membalikan keadaan. Karena kulihat dia menegang.

"Thanks ya. Aku seneng dikhawatirin sama artis. Aku terharu. Beneran. Hahahaha..."

Sial. Malah gue lagi yang kena. "Nad." Aku memanggilnya untuk mendekatkan kepalanya padaku. Apa yang akan aku ucapkan ini sudah kupikirkan matang-matang sejak semalam. "pernah terpikir untuk memisahkan mereka?"

Dia tersenyum dengan tenang lalu berkutat dengan mesin transaksi. "Sering."

"Terus lo nunggu apa lagi. Gue akan bantu lo sampe mereka pisah."

Dia menatapku sesaat, dan lagi-lagi tersenyum. Sepertinya dia orang yang mudah sekali tersenyum. "Ngga usah, Bi. Makasih. Aku ngga mau menyeret orang lain dalam masalah ini."

"Kenapa? Gue ikhlas kok bantuinnya." Karena gue juga mau mereka berdua putus.

"Bukan masalah ikhlas atau ngganya. Aku hanya ngga mau merusak kebahagiaan mereka aja kok. Kalau memang Risa adalah orang yang bisa membuat Mas Juna bahagia. Kenapa aku harus merampas kebahagiaan itu?" dia menghela nafas. "Aku pernah berfikir untuk merusaknya. Tapi aku takut bumerang yang aku lemparkan justru berbalik nyerang aku. Nantinya, malah aku yang terluka hebat dan justru lebih menyedihkan daripada saat ini. Mungkin aku harus belajar mengikhlaskan."

Aku terdiam. Haruskah aku berbuat hal yang sama dengannya? Mengikhlaskan Risa?

 

***

 

NADINE (POV)

Mencoba memisahkan Mas Juna dan Risa? Itulah yang sedang aku lakukan sekarang. Aku sedang berusaha memanipulasimu Abi. You are my big fish. Sejak semalam aku telah memikirkan hal ini. Melihatmu berdiri dipojok telah memberikanku sebuah ide. Bagaimana bila aku memanfaatkanmu untuk membuat Mas Juna merasa 'kehilangan' diriku? Tentu saja aku tidak akan merasa rugi apapun. Aku bertekad akan membuatmu jatuh cinta padaku, Abi. Bila aku memang harus kehilangan Mas Juna, bukan berarti aku harus kehilanganmu juga, kan?

"Apakah aku mengganggu keasikan kalian?" Suara itu tak pernah berhenti membuatku merinding.

"Mas Juna? Kenapa bisa ada disini?" Aku terkejut. Jelas sekali aku terkejut dengan kedatangannya. Dia datang tanpa ada pemberitahuan dan permintaan apapun dariku. Mungkin aku bisa menghitung dengan jari kedatangan 'tiba-tibanya' itu, terlebih setelah dia jadian dengan Risa.

"Sepertinya aku terlalu khawatir." Dia berucap singkat. Menatap lurus kearah Abi. Kulihat Abi tersenyum. Nyaris terkekeh.

"Lo pikir gue bakalan ngapain Nadine, Juna?"

Mas Juna menghela nafas. Kemudian tersenyum. "Sepertinya semua berjalan lancar. As Risa said."

Kulihat Abi tertegun dan tak lama kembali tersenyum. "Ya. As she said."

Apa sih yang sebenarnya mereka bicarakan. Sepertinya hanya aku yang tidak mengerti.

Kuputuskan untuk berjalan menghampiri Mas Juna. "Selagi Mas Juna disini. Ada yang ingin kubicarakan." kutuntun dia pada sebuah ruangan khusus didalam butikku. Sebuah ruangan ganti yang dilengkapi sofa berwarna mint. "Duduk Mas Juna." Perintahku padanya. "Aku ambil minuman dulu."

Aku tersentak begitu melihat Abi berdiri di depan pintu. Kuberi isyarat tangan agar dia mundur dan memberikanku celah untuk lewat lalu berjalan cuek menuju pantry kecil dibalik ruang tunggu. Mengambil sebuah gelas sebelum menuangkan orange juice kemasan.

"Heh. Kalian mau mesum ya diruangan tertutup begitu?"

Aku hendak memukulnya dengan gelas ditanganku namun kutahan. "Sembarangan kalau ngomong."

"Terus ngapain? Dia lo kasih duduk disitu. Nyaman. Enak. Dikasih minum lagi. Lah gue?"

"Ssssttt. Udah diem aja. Btw thanks yaa udah belanja disini. Nanti dateng lagi yaaa. Hihi"

Aku melesat pergi membawa segelas orange dan masuk kedalam ruang ganti, menutup pintu, dan meninggalkan Abi diluar sana.

 

***

 

ABI (POV)

Bener-bener si Nadine itu. Apa sih yang ada dipikirannya?

Kucoba mendekati pintu itu lagi. Menempelkan kuping. Mencoba menangkap perbincangan mereka. Masa bodoh dengan anggapan para karyawan yang melihatku. Ada yang senyam senyum ga jelas, ada yang berbisik-bisik. Biarlah mereka berbuat semau mereka. Aku sudah terbiasa dengan itu.

"Sepertinya ada sesuatu medesak yang perlu dibicarakan. Ada apa?"

Baiklah suara laki-laki itu sudah pasti suara Juna. Dia memulai pembicaraan.

"Mungkin lebih baik mas Juna tidak usah datang nanti malam."

Serius tuh si Nadine? Nyablak juga dia!

 

***

 

NADINE (POV)

Aku menangkap keterkejutan diwajah Mas Juna. Aku pun tak percaya pada diriku sendiri karena berani berucap kasar seperti itu. Tapi, kurasa ini yang terbaik.

"Tolong jangan berfikir yang macam-macam. Sepertinya ibu masih marah padamu. Aku hanya ngga mau kamu..."

"Tunggu." Dia menyondongkan badannya padaku. "Ibu masih marah? Dia belum berubah? Dia masih membenciku setelah sekian lama?"

Aku mengangguk mantap. "Iya. Mendengar kalau kita masih berteman dia langsung marah. Aku ngga tahu bagaimana jadinya bila ibu melihatmu. Bertemu denganmu. Aku hanya ngga mau kamu terluka karena ucapan kasar Ibu."

Keadaan berubah hening. Dia nampak berfikir.

"Aku akan tetap datang."

"Ta-tapi.."

"Aku akan meminta maaf langsung padanya. Mungkin dia masih marah karena selama ini aku belum melakukannya. Aku rasa inilah saat yang tepat."

"Akan banyak orang yang hadir Mas Juna. Bila ibu melihatmu ditempat, dia akan mempermalukanmu saat itu juga."

"Kalau memang itu bisa membuatnya memaafkanku, kenapa tidak. Percayalah Nadine, aku sudah menyiapkan mentalku untuk ini. Kamu tidak perlu khawatir."

"Baiklah. Kalau memang itu maumu."

 

***

 

ABI (POV)

Aku masih sangat penasaran permasalahan yang ada diantara mereka berdua. Apakah masalahnya begitu pelik sampai harus melibatkan 2 keluarga? Mungkinkah mereka sebenernya pernah berpacaran? Bahkan mau menikah?! Tapi keluarga Juna menentang dan itu menyakiti keluarga Nadine. Well, itu bisa saja. Kuanggap itu sebagai salah satu cerita yang masuk akal.

Tiba-tiba pintu terbuka dan Juna sudah berada tepat didepanku. Yakin sekali poseku ini sangatlah konyol. Pose menguping.

Damn!

"Lo nguping?" Juna straight to the point.

"Ngga!" sanggahku. "Gue nyari Nadine."

Kulihat dia menggeleng. Dan kulihat Nadine masih duduk. "Nad! Gue mau beli baju ini." Buru-buru kuambil baju apapun yang ada didekatku.

"Lo kan bisa langsung ke karyawannya." Lagi-lagi Juna berkomentar.

"Gue mau Nadine yang melayani gue. Bukan yang lain."

Usai mengucapkan itu, aku merangsak masuk menghampiri Nadine. Menggenggam tangannya dan menyeretnya menuju meja kasir.

"Nih. Gue mau beli yang ini." Kuberikan baju itu padanya sambil mata melirik kearah Juna. Dia masih membatu ditempatnya semula. Mengamati kami.

"Tapi inikan baju cewek."

Hah? Baju cewek?! Sial aku tidak menyadarinya. "Itu buat Hana. Sebagai gift kalau dia udah balik ke Indonesia. Gue rasa itu cocok buat dia."

"Ooohh. Okei." Nadine melakukan tugasnya tanpa berkomentar.

Kulirik Juna dan dia masih belum bergerak.

"Gimana kalau hari ini kita makan siang? Aku yang traktir." Suara Nadine membuatku langsung menoleh kearahnya.

"Apa?" aku terperangah. Seakan teringat sesuatu, aku menoleh kembail kearah Juna. Dia masih ditempatnya. Tak bergeming. Mengamati. Mendengarkan. "Lo nanya ke gue?"

"Ya iyalah. Kamu ada waktu?"

"Gue sibuk! Siang ini gw ada job." Jawabku langsung tanpa perlu mikir panjang.

"Okeii, mungkin lain kali."

Dia berikan bungkusan berisi baju padaku lalu tersenyum. "Makasih."

"Gimana kalau kita aja makan siang bareng, Nad. Itu kalau kamu mau."

Kulihat Juna berjalan mendekat. "Gimana?"

Kini kuamati Nadine. Terlihat jelas dia bimbang. Sementara Juna menunggu jawabannya.

"Well, gue berubah pikiran. Kita brunch aja deal?" Kuhampiri Nadine, menarik tangannya untuk ikut denganku. Melewati Juna yang hanya diam mematung melihat kami pergi.

 

***.

 

NADINE (POV)

Shock! Jantungku nyaris melompat karena genggaman tangan ini.

Kurasakan tangan besar dan hangat menyentuh kulitku. Bahkan dapat kurasakan hangatnya hingga ke hatiku. Dia terus menyeretku sampai depan mobilnya hingga akhirnya membuka pintu.

"Masuk." Perintahnya. Aku menatapnya penuh tanya. "Udah gak usah banyak mikir. Mending sekarang lo masuk sebelum gue berubah pikiran."

Tanpa banyak ba bi bu aku langsung masuk.

Dari kejauhan kulihat Mas Juna mengamati kami. Terus mengamati kami sampai mobil benar-benar diluar jangkauan matanya.

Well, membaca body language Mas Juna tadi, sepertinya apa yang aku rencanakan memang harus dijalankan. Aku ngga bisa mendapatkan siapapun kalau hanya menunggu. Tidak Mas Juna, tidak juga Abi. Saat ini aku harus bisa membuat Mas Juna merasa kehilangan diriku. Dengan memanfaatkan Abi. Karena entah kenapa -sebenarnya dari dulu, aku sudah merasakan bahwa Mas Juna juga menyukaiku. Jauh di dalam lubuk hatinya, hanya saja dia belum menyadarinya. Kini sudah saatnya aku membuktikan itu.

 

***

 

ABI (POV)

Ini aneh. Situasi ini. Dengan dia duduk disebelahku.

"Lo fans paling beruntung. Lo tau itu?" Kupecahkan keheningan. Mengingat dia diem terus. "Ga pernah sekalipun gue ngebiarin fans naik mobil gue dan lo adalah yang pertama. How lucky are you. You know that?"

Kulihat dia tertawa pelan. "Ya. I'm so luckyLucky banget. Makasih yaaa. Aku ga akan lupain ini. Dan makasih juga, kamu udah bawa aku keluar. Meski aku sendiri ngga tau apa alasan kamu ngelakuin itu. Nggg,, apa karena kasian?"

Reflek aku menoleh kearahnya. Kutatap dia. Menangkap ekspresi wajah innocentnya. Membuatku menelaah kembali apa alasanku yang sebenarnya. "Mungkin, saat ini bukan saat yang tepat buat lo keluar berdua dengan dia."

Kulihat dia tersenyum. "Makasih yaa. Sepertinya kamu tau jalan pikiran aku."

Mungkin saat ini alasan itulah yang paling ingin kamu dengar, Nad. Tapi alasan yang sebenernya adalah karena aku ingin melihat reaksi Juna, dan radarku menangkap kejanggalan yang kucari. Aku hanya perlu memperkuatnya.

 

To be continue.

___________________________________

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved.