WHEN THERE IS NO HOPE

Suara berisik para gadis-gadis -bahkan ibu-ibu, berteriak memanggil namanya berkali-kali. Kehadirannya sontak membuat meraka makin histeris. Barikade pengawal nampak kualahan menahan mereka yang hendak mendekat.

"Gimana kemaren, bro?!"

"Biasa aja."

"Come oooon Abi. Let me know. Cakep ngga ceweknya?"

"Biasa aja Nu. Emang lo maunya gimana?"

"Ngga asik lo!"

Abi ngeloyor pergi. Masuk kembali kedalam ruangan dan duduk disebuah sofa empuk setelah dia puas memperlihatkan wajahnya keluar sedikit dan melambai dari balik pintu.

"Tapi kalau diperhatiin bener-bener, dia lumayan juga sih meskipun ngga secantik Risa."

"Risa lagi lo bawa-bawa. Eh nyet! Move oooooonnnnn! Kasihlah dia kesempatan dan diri lo kesempatan buat tau makna dicintai dan mencintai."

 

***

 

ABI (POV)

Mencintai dan dicintai. Seperti apa perasaan itu? Karena yang aku tahu hanyalah... perasaan mencintai tapi tanpa dicintai. Perasaan terluka, hampa, dan kesepian. Meskipun aku tahu, banyak yang mencintaiku diluar sana -bahkan aku bisa langsung mendapatkannya hanya dengan menongolkan kepalaku dari balik pintu, Namun sayang bukan cinta seperti itu yang kucari.

"Dia... sama seperti gue."

Kutangkap ekspresi penuh pertanyaan diwajah Wisnu. "Maksudnya?"

"Dia mencintai orang lain."

Kini Wisnu duduk didepanku. "Dia langsung cerita sama lo?"

"Ngga. Gue hanya ngga sengaja tau." Entah kenapa aku seakan flashback pada saat itu. Saat dimana aku hanya bisa terdiam disudut kamarnya, Melihatnya menangis. "Gue... sama menyedihkannya seperti dia."

"Bro..." Wisnu hendak mengatakan sesuatu namun kupotong. Mungkin dia akan memberikanku saran-saran 'tua'nya itu. Tapi nanti, bukan sekarang.

"Sekarang gue free kan?" kulihat jam. "Sepertinya masih keburu." Ucapku dan langsung bangkit. Ngeloyor kearah pintu.

"Heh mau kemana lo?"

"Ketempat cewek itu. Lo ikut aja! Liat langsung biar lo ga penasaran!" Wisnu nampak ragu. "Woles! Lo ngga ganggu sama sekali. Itu juga kalau lo mau sih."

 

***

 

NADINE (POV)

Aku bahagia. Saaaaaaangat bahagia. Apa yang selama ini aku impi-impikan akhirnya tercapai. Melihat beberapa diantara mereka sudah menduduki bangku-bangku untuk melihat mini fashion showku. Membuat jantungku berdebar tidak karuan. Yaaa meskipun tidak seramai acara fashion runway lainnya, tapi aku tetap bersyukur. Ini adalah langkah pertamaku sebagai seorang perancang busana dengan label sendiri.

"Selamat ya Nadine." Suara lembut seseorang yang sudah sangat aku kenal memanggil dari arah belakangku.

"Ibu. Bapak. Ari kamu dateng?" Tak bisa kututupi keterkejutanku melihat kedatangan Ari. Adik lelakiku yang paling manja tapi sok mandiri. Haah, rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.

"Selamat ya, Mba. Semoga bisnisnya lancar." Dia berikan sebuah karya digital bergambar wajahku dan kuterima dengan senyum yang tidak bisa berhenti menghiasi wajahku. "Itu aku bikin sendiri." Ucapnya gengsi.

"Makasih yaa De. Ngomong-ngomong kalian cocok pake baju itu. Hihi..."

"Iya doong siapa dulu perancangnya. Ohya, jam berapa fashion shownya dimulai?"

"Sebentar lagi Bu."

Aku merengutkan dahi ketika melihat ekspresi wajah mereka menegang. Menatap lurus kearah belakang. Sekujur tubuh mendadak beku. Mungkinkah itu Mas Juna? Please baru kali ini aku tidak ingin dia muncul. Ini bukanlah saat yang tepat.

"Kita bertemu lagi nih, om, tante."

Syaraf dan ototku mencair seketika. Rasa syukur langsung membanjiri tubuhku. Suara khas itu. Abi, dia disini! Kenapa dia disini? Bukannya dia bilang hari ini dia sibuk? Tapi, yaaaa setidaknya kedatangan dia jauh lebih baik. Saking baiknya, dia berhasil membawa masa ke dalam butikku. Well, kini kami menjadi pusat perhatian. Dia benar-benar seperti medan magnet. Menarik orang-orang untuk mendekat.

"I-iya, Nak Abi." Jawab Ibuku gagap.

Sejenak kubiarkan Abi melontarkan sesi tanya jawab dengan keluargaku, sementara pikiranku terbang entah kemana. Aku tersadar dari lamunanku ketika aku merasakan ada seseorang yang terus melihat kearahku. Dia, seseorang yang tidak kuketahui namanya. Seorang pria tampan yang datang bersama Abi. Kalau dipikir-pikir lebih gantengan dia daripada si Abi.

Siapa dia? Sejak kedatangannya dia terus melihat kearahku.

Aku menangkap keterkejutan dimatanya yang membesar ketika kami bertemu. Bahkan hingga detik ini dia masih terus melihatku. Padahal dia sudah tertangkap basah olehku karena melihat langsung kearahku. Tatapannya seakan meneliti, memastikan sesuatu.

"Kenalin. Dia Wisnu. Manager saya." Akhirnya Abi memperkenalkan lelaki itu.

Meskipun agak kikuk dia memberikan salam pada keluargaku dan... aku.

"Wisnu." Ucapnya seraya mengulurkan tangan.

Kubalas uluran tangan itu seraya menyebutkan namaku. Lagi-lagi dia menatapku tanpa melepaskan genggaman tangannya. Sebenarnya dia kenapa sih?! Apa ada yang salah dengan diriku?

"Nadine, bisa tolong antarkan kami ke kursi? Ibu lelah ingin duduk."

Suara Ibu seperti tamparan untuknya. Dia tersadar dan buru-buru melepaskan genggaman tangannya.

"Aku antar keluargaku dulu ya." Ucapku pada Wisnu dan Abi. "Terimakasih kalian sudah datang. Terlebih kamu Bi. Makasih udah luangin waktu kamu untuk kesini. Padahal aku tau kamu sibuk hari ini. Sekali lagi thanks ya."

 

***

 

ABI (POV)

Apa yang barusan gue liat? Wisnu terpana melihat sosok Nadine. Dia bahkan ngga ngelepasin tangannya. Ngga bisanya dia begitu.

"Nadine, bisa tolong antarkan kami ke kursi? Ibu lelah ingin duduk."

Suara Ibu telah menyadarkannya. Dia nampak salah tingkah sendiri.

Fix dia terpana ngeliat Nadine. Ah, masa iya dia kena sindrom cinta pada pandangan pertama? Ngga mungkin lah! Bininya sama anaknya mau dikemanain!

"Aku antar keluargaku dulu ya." Nadine berucap. "Terimakasih kalian sudah datang. Terlebih kamu Bi. Makasih udah luangin waktu kamu untuk kesini."

Kubalas dengan senyuman termanis andalanku sebelum mereka pergi.

"Heh, nyet! Bae bae lo! Gue bilangin bini baru tau rasa lo!" celetukku langsung tanpa basa-basi setelah Nadine dan keluarganya tidak terlihat.

"Lo serius dia itu cewek blind date lo?"

Sialan si Wisnu. Dia sama sekali gak ngegubris ancaman gue tadi. "Iyaaa. Kenapa? Lo naksir?"

"Gila lo bini gue mau dikemanain!" dia nampak sewot.

"Gue kirain lo lupa sama anak bini."

"Sialan lo!"

 

***

 

WRITER (POV)

Lampu ruangan mendadak padam. Cahaya lampu perlahan nampak dari arah panggung diiringi dentuman musik up-beat. Satu persatu model keluar memperagakan pakaian yang dikenakan. Sementara dibelakang panggung Nadine sibuk menyematkan wardrobe ke tubuh si model. Super keos karena harus berpacu dengan waktu.

Didepan panggung, dari jarak yang cukup dekat, Wisnu memerhatikan setiap pakaian yang model kenakan. Bibirnya berkerut, menilai dari atas sampai bawah. Melipat kedua tangannya didepan dada, bahkan sesekali mengambil gambar dengan kamera ponselnya.

"Bakatnya berkembang pesat." Komentarnya pada dirinya sendiri.

"Yup. Anak berprospek tinggi. Tinggal gimana dia di manage aja." Sebuah suara menimpal. Saat Wisnu menoleh, Risa sudah ada disampingnya.

Wisnu terdiam sesaat. Mencerna perkataan Risa. Meskipun Risa ngga ada maksud apapun dalam ucapannya barusan, namun itu telah memberikanya sebuah ide. "Thanks input lo, Ris." ucap Wisnu seraya menepuk bahu Risa.

Dari balik pintu backstage Abi mengamati Nadine yang sibuk dengan dunianya. Sebenarnya ini bukanlah hal yang pertama bagi Abi melihat ke keosan dibackstage. Namun entah kenapa dia merasa senang. Well, mungkin harus diluruskan, Abi senang melihat orang-orang yang passionate disetiap bidang yang dijalanin. Dia merasa aura seseorang benar-benar bersinar terang saat dia melakukan hal yang disukainya dengan bersungguh-sungguh.

"Katanya lo sibuk," Sebuah suara datar namun nampak seperti gelombang listrik yang menghentakkannya. "ngga taunya disini."

Abi berbalik dan mendapati Juna berdiri tegap didepannya.

Abi tersenyum, memperlihatkan kedua lesung pipinya. "Kalau begitu mulai sekarang gue akan luangin waktu buat dia. Sesibuk apapun jadwal gue. Gue akan ada kalau dia membutuhkan gue."

Wisnu terkekeh. "Bagus! Jadi kita ga perlu mencemaskan banyak hal. Karena memang ini yang gue dan Risa mau. Ngeliat lo berdua bisa deket, syukur-syukur bisa sampai jadi." Kali ini dia tutup kalimat dengan senyuman.

Tapi tidak dengan Abi.

Ada sedikit kemarahan membuncah didalam dadanya. "Bersyukur? Lo yakin?"

Juna mengangguk. "Ya."

Jawaban Juna terdengar lucu ditelinga Abi. Entah kenapa dia merasa itu sebuah kebohongan.

Disaat yang bersamaan, tanpa mereka berdua sadari, Nadine mengamati mereka ditengah kesibukannya mengurus para pakaian model. Tangannya bergerak, namun matanya tak berhenti melirik kearah mereka. Ketakutan membanjiri tubuhnya kala Juna menampakan wajah. Pasti akan segera tiba, keributan itu pasti akan segera tiba.

"Mungkin sebaiknya lo balik, Jun." Abi kembali bersuara setelah Juna memutuskan untuk berjalan mendekat kearah Nadine. Dia menahan bahu lelaki itu dengan tangannya.

Juna reflek berbalik. Menatapnya penuh tanya.

"Saat ini bukan saat yang tepat. Kalau lo memang mau nyelesaiin masalah lo dengan keluarganya Nadine silakan. Tapi bukan malam ini. Tolong, jangan rusak malam Nadine."

Juna terkekeh. "Jadi lo beneran nguping?" Abi membisu. "Oh, apa sekarang lo mau mencoba menjauhkan Nadine dari gue? Karena kalau itu beneran terjadi, gua akan melakukan hal yang sama pada lo dan Risa." Juna berucap tegas.

Rahang Abi mengeras. Ucapan Juna luar biasa kelewatan. "Kalau lo memang peduli sama Nadine, tolong lo dengerin kata-kata gue. Pergi sekarang, dan jangan sampai keluarganya liat lo."

Mereka saling bertatap dalam keheningan, meski diluar sana suara dentuman terdengar jelas. Berkecamuk dengan pikiran mereka masing-masing. Dengan tujuan mereka masing-masing.

 

Abi.

Meskipun dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi diantara Juna, Nadine, dan keluarganya sekaligus mengharapkan ada sebuah pencerahan hari ini -karena niat kedatangannya kemari adalah 'menyaksikan' apa yang akan terjadi. Tapi, setelah bertemu Juna dan terlibat perbincangan 'singkat' dengannya, telah mengubah seluruh rencana awalnya. Kini sandiwara untuk meyakinkan Juna bahwa dia 'peduli' pada Nadine jauh lebih penting dari pada apapun.

 

Juna.

Ada sedikit kemarahan didalam hatinya. Entah karena ucapan Abi yang sebenarnya ada 'benar'nya juga atau karena ada hal lain. Hal lain yang dia sendiri tidak tau.

 

"Sebaiknya lo pergi sekarang, sebelum semua terlambat." Kini Abi pergi melewatinya, mengambil buket bunga yang ada ditangan Juna, kemudian berjalan mendekati Nadine yang baru saja keluar dari panggung berhamburan bersama para model. Show telah usai. Banyak buket bunga bertengger manis ditangannya.

"Selamat!" Seru Abi. "Cool! Lumayan buat pemula!" Dia berikan buket bunga baby breath itu pada Nadine. "Dari Juna. Katanya selamat. Dia harus balik karena ada pasien skarat." Abi nyengir lebar.

"Begituuuu." Nadine memandangi bunga kesukaannya. Hatinya berharap bunga itu langsung diberikan padanya. "Jadi ini yang kalian bicarakan tadi?"

Abi mengangguk ragu. Iyain aja biar cepet.

Nadine menghela nafas. "Semoga ulasan dimedia positif ya, Bi. Tadi banyak loh media yang dateng. Seneng deh! Hihihi! Jadi deg-degan. Oh iya, tadi ada juga dari Vouge dan Elle! OMG mereka datenggggg!!!! Ih gila aku jadi makin deg-degan! Mereka bakalan bilang apa yaa." Nadine nyerocos antusias.

Abi tersenyum. Matanya menatap Nadine lurus.

Dia teringat kembali saat perjalanan menuju acaranya Nadine.

Ditengah macetnya ibu kota, didalam sebuah mobil sedan BMW berwarna putih series terbaru, dia sibuk menelepon teman-teman persnya. Mengajak mereka untuk datang ke fashion shownya Nadine. Tak henti-hentinya dia berceloteh, sampai-sampai Wisnu yang nyupirin jengah sendiri.

"Pokoknya kece. Recommended banget! Ini bisa masuk ke rubik lo yang new comer itu. Bisa lah diperhitungkan! Lo dateng aja dulu, reviewnya terserah lo. Iyaaaa gw pertaruhkan nama gue, kalo dia cupu, gue bakalan nyanyi 30 menit di wedding lo gratis. Kalo perlu lo pasang foto gw diundangan lo, kasih tulisan "special guest' gitu. Gimana? Hahaha.... sip deal ya. Gw tunggu, awas kalo ga dateng. Ok, bye! "

Dia tutup teleponnya dan kembali meng-scroll layar handphone, mencari target selanjutnya.

"Lo mending jadi marketing aja, bro. Sumpah, jago banget jualannya! Tapi bisa ngga, lo ngga bawa-bawa nyanyi gratis?"

"Nope! Itu jurus mutahir gue."

"Abi-Abi. Segitunya banget bantuin orang. Jarang-jarang gue liat lo begini. Kenapa?"

Kata 'kenapa' mebuat Abi terdiam. Jarinya langsung berhenti, dan kemudian menaruh handphonenya diatas paha.

 

Kembali kemasa kini. Saat diaman Abi masih menatap Nadine.

"Kenapa? Ada yang salah dengan aku?" Tanya Nadine.

Abi menggeleng. "Gue juga ngga tau. Hahahaha!"

Nadine ikut tertawa. Namun sedikit maksa karena dia merasakan keanehan. Tapi yasudahlah.

"MBA NADINE!" Seseorang datang tergesa-gesa. Dia Ari, adik Nadine.

Kedatangannya bikin Nadine dan Abi jadi pusat perhatian -meskipun sebenarnya mereka sudah menjadi pusat perhatian sejak tadi.

Ari langsung menundukan kepala, memberi etiket kesopanan pada Abi. "Maaf mas Abi, saya pinjam dulu mba Nadinenya." Setelah mengucapkan itu, Ari langsung menarik tangan Nadine keluar dari backstage. Kepergiannya dilepas dengan tatapan 'makin' penasaran dan ingin tahu dari orang sekitar. Termasuk Abi.

 

***

 

NADINE (POV)

Jantungku seakan lepas dari tempatnya.

Debaran yang tidak teratur, nafas yang tercekat, suara yang membisu.

Apa yang aku takutkan benar-benar terjadi.

Kakiku lemas melihatnya.

Melihat Mas Juna berlutut didepan ayah dan ibu. Wajahnya tertunduk sangat dalam sementara ibu berkacak pinggang dengan gagahnya. Tidak jauh dari tempat Mas Juna, berdirilah Risa. Dia luar biasa tercengang. Tidak tahu harus berbuat apa. Badannya mematung namun mata tak hentinya melihat mereka berdua secara bergantian.

Oh Tuhan, apa yang barusan aku lewatkan.

"Jangan pernah sekalipun kamu muncul dihadapan kami!" Bentak ibu. "Jauhi anak kami! PERGI DARI KEHIDUPAN KAMI!!"

"IBU!!" Bentakku. Kuhampiri mereka -lebih tepatnya menghampiri Ibu. "Ibu jangan bilang seperti itu. Tolong hentikan ibu. Sabar." Pintaku memelas.

"Nadine anakku, mau sampai kapan kamu berharap padanya? Meskipun sekarang kamu punya segalanya, tapi dimata dia dan keluarganya kita tetap sama. Tolong buka matamu naaaak. Dia bukan lelaki ya pantas untukmu."

"Cukup Bu." Ada kegeraman dalam nada bicaraku. Aku takut apa yang aku sembunyikan selama ini terbongkar dengan mudahnya. "Cukup." Tuhan, tolong buat Ibu mengerti dan mampu membaca ekspresi serta pikiranku untuk tidak mengatakan apapun lagi.

"Nadine, dengarkan ibu baik-baik. Apa yang selama ini kamu sembunyikan, dia sudah mengetahuinya. Jauh-jauh-jauh lebih lama dari yang kamu tahu. Bukan begitu, Juna?"

Tunggu! Apa maksudnya ini?

"Mengetahui apa?" Tanyaku pada Mas Juna dan juga ibu.

Tak ada satupun dari mereka yang menjawab. "MENGETAHUI APA?!"

"Mengetahui perasaanmu padaku, Nadine." Mas Juna berdiri perlahan, menatapku penuh dengan rasa bersalah.

"Apa?" ucapku nyaris tak bersuara.

Rasanya seperti dihantam pukulan bertubi-tubi kesekujur tubuh. Sesaknya merasuki dada. Bernafaspun terasa sulit.

Dia tahu. Mas Juna tahu perasaanku padanya. "Sejak kapan?"

"Nad, ayo kita bicarakan ini berdua saja. Tidak disini." Bujuk Mas Juna. Dia pegang lenganku namun langsung kutepis mentah-mentah.

"Se-jak ka-pan?" tanyaku geram dengan gigi terkatup.

Dia terdiam.

"Ayo kita pergi Bu Pak. Sepertinya mereka butuh privacy." Kudengar samar suara Abi. "Tolong bu, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka." Abi berbisik tapi suaranya terdengar sangat jelas. Aku yakin, dari nada bicaranya yang saaaaangat sabar, Ibu pasti menolak untuk diajak keluar.

Tak lama, dia berhasil membawa orang-orang pergi. Kini hanya ada aku dan Mas Juna didalam ruangan.

"Sejak kapan?" tanyaku sekali lagi.

"Saat kamu SMA. Entahlah mungkin sejak kamu SMP aku sudah menyadarinya."

"Apa?" suaraku tertahan, nyaris tidak terdengar.

Tuhan, tidakkah Kau mau mengambil nyawaku saat ini juga. Ini menyakitkan. Sangat menyakitkan. Aku tidak tahu harus berkata apa. Ingin menangis, namun tidak bisa. Aku tidak boleh cengeng didepannya. Tidak untuk saat ini. Aku harus terlihat tegar.

"Kenapa? Kenapa Mas Juna..."

"Kamu sudah seperti adik buatku."

"Apa? Adik?" pekikku tidak percaya. "Apa aku terlihat seperti adik buatmu? Apa sikapku selama ini adalah sikap seorang adik?!" Nadaku meninggi.

"Ya. Adik. Aku sayang kamu seperti adikku sendiri. Aku ngga mau kehilangan kamu hanya karena 'cinta' yang ngga seharusnya ada."

Tuhaaaaaaannnn. Kenapaaaaa?

"Cinta yang ngga seharusnya ada? Maksudnya?"

Dia mengangguk.

"Iya. Karena 'cinta' seperti itu yang justru membuat jarak diantara kita. Aku ga mau kamu menjauh hanya karena 'cinta' itu. Lebih baik aku menutup mata, supaya kamu bisa terus ada disamping aku."

Aku merasa sekelilingku berputar. Alasan itu, akuuu...

"Maaf Nadine... Maafin keegoisan aku."

Mas Juna mendekat. Setiap dia melangkah maju, aku melangkah mundur.

"Kamu..." Kalimatku tertahan. "Apakah kamu pernah melihatku sebagai seorang wanita?

"Apa?" dia seolah terkejut dengan pertanyaanku.

"Jawab! Apa itu sulit?"

Dia terdiam. "Berulang kali aku ingin ingin memikirkanmu sebagai seorang wanita, tapi aku tidak bisa. Kamu, sudah seperti adik buatku. Maaf."

Sudah berakhir. Kisah cintamu sudah berakhir, Nadine. Apa yang selama ini kamu pertanyakan terjawab sudah. "Makasih atas jawabanmu, Mas. Aku pergi dulu." Tanpa perlu menunggu reaksinya, aku berjalan cepat pergi meninggalkannya.

 

***

 

ABI (POV)

Setelah mengantarkan kedua orangtua Nadine beserta Adiknya menjauh, aku berniat kembali keruangan itu. Rasa penasaranku terkalahkan oleh rasa iba padanya. Aku tahu betul bagaimana perasaan Nadine saat ini.

Perasaan sedih, marah, dan kecewa.

Sesaat aku berfikir, apakah Risa juga tahu yang sebenarnya soal perasaanku padanya?

Ya, aku yakin bahwa sebenarnya dia tahu. Namun, sepertinya aku akan lebih siap mental dalam menghadapi kenyataan itu dibandingkan Nadine.

"Makasih atas jawabanmu, Mas. Aku pergi dulu."

Itu suara Nadine. Tak lama derapan langkah heelsnya terdengar. Kami berpapasan. Kulihat dia, hidung dan matanya memerah menahan air mata.

"Lo ngga papa, kan?" ucapku ragu. Sedetik kemudian aku membodohi diriku karena melempar pertanyaan konyol. "Apa yang bisa gue bantu?" Buru-buru aku merevisi pertanyaan konyol itu.

"Please, bawa gue pergi dari planet ini. Terlalu nyesek disini."

Airmata yang sejak tadi dia tahan akhirnya mengalir juga.

Apa yang kulakukan? Otot dan syarafku tidak mau bergerak sesuai perintah dari otak. Otakku memerintah untuk mengajaknya pergi, tapi otot dan syarafku malah melakukan hal lain.

Aku menariknya masuk kedalam pelukanku. Memeluknya semakin erat seiring isakan tangis yang kian mengiris.

"Gue adalah planet lo yang lain, Nad."

Aku merasakan tangannya mulai memelukku balik. Well, kuanggap itu sebagai ucapan terimakasih. "Udah jangan nangis." Kini kutepuk-tepuk bahunya. Berharap isakannya mereda.

Retina mataku menangkap Juna dan Risa berdiri berdampingan tak bergeming. Melihat kearah kami. Apa yang ada dalam pikiran mereka? Terlebih Juna. Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia nampak kesal melihat kearahku?

 

To be continue.

___________________________________

Thankyou for read this story!

Yuk komen dan mantion-mantionan langsung dengan writer soal cerita ini di IG-nya Fill The Blank Space yang ada feed khusus chapter ini.

See yah! ^^v

Written by : Audria Pohan

IG : Audriapohan

 

All content rights reserved.